sebuah kehancuran adalah sebuah derita bagiku, seperti kutukan akan kelakuan berat masa laluku. nyatanya itu hanyalah sebatas prasangka. _Ailavati Keysa Maharani.
wajah datar tampak acuh adalah penguat ku, aku terlalu takut untuk dikasihani sebagai alasan pertemanan ku. hidupku telah luluh lantah atas kehancuran.~Alga Mahensa Putra
Di sinilah kisahku dimulai.
Aku Aila Putri cantika yang memiliki trauma akan masalalu, yang di pertemukan dengannya Alga Mahensa Putra.
Pria yang memiliki parasa tampan dan berwajah datar.
Akankah Aku bisa bersamanya?
Apakah ego kita yang akan sama sama menyakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetya_nv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kebenaran
Di penghujung jalan, di bawah sinar rembulan aku menatap langit malam yang terlibat indah. Jeda kali ini kuharap aku menemukan kebenaran. Dia berjanji akan menemuiku malam ini. Tapi entah mengapa batinku selalu gelisah menemukan jawabannya.
"Sudah lama? " pertanyaan Alga dari belakangku membuat ku menoleh.
"Tidak, mengapa kamu menyuruhku kemari Al? " tanyaku pada Alga yang datang dari arah belakangku. Dia masih sama, Tatap tampan dengan tubuhnya yang atletis. Kaos putih yang dipadukan celana hitam yang dia kenakan begitu pas melekat pada tubuhnya.
Aku sempat terpana melihatnya di ada di depan mataku. Namun, aku sadar untuk tidak jatuh dalam pesonanya kembali.
"Aku tahu kamu menjauhiku karena Naina. " jawabnya sambil duduk di sebelahku. Dia menghela nafas kasar. Aku diam tanpa menyahutinya. Inilah hal yang membuatku tak nyaman.
" sudahlah Al, sekarang waktunya kamu mencari kebahagiaanmu. Jangan karena janjimu pada Reihan kamu jadi terbebani olehku. "
"Mengapa kamu selalu berpikir seperti itu? " jawaban Al yang membuatku gemas . Aku membuang nafas dengan kasar.
"Aku bisa sendiri dan aku baik baik saja. Jadi stop menemaniku hanya memastikan aku baik baik saja. " aku berkata dengan frustasi. Entah bagaimana aku harus menjelaskan berulang kali padanya.
"kamu pura pura gak tahu apa hanya aku saja yang berharap? " Alga dengan segala perkataan yang membuatku bingung. Aku diam memalingkan wajahku.
"Al, aku melakukan harus melakukan ini. Aku tak mau berharap. Itu jauh lebih menyakitkan." suara batinku.
Aku ingin menjerit karenanya, dia tak pernah ingin pergi. Seperti halnya aku, yang takut untuk benar benar pergi. Perasaan ini sudah terlalu jauh.
"stop Al. " teriakku.
Aku berdiri dari posisiku yang nyaman. Aku menatap langit kembali. Di atas sana rembulan tersenyum seperti menyalurkan rasa bahagianya.
"Kamu memintaku untuk berhenti." Teriaknya sambil mengacak acak rambutnya yang membuatnya semakin terlihat tampan. Dia berdiri berjalan ke sana kemari menyiratkan kebingungannya untuk kembali berkata.
"Aku tahu kamu menolak kita dekat seperti ini. Bukan kamu tidak suka. Tapi kamu ingin mematikan yang tumbuh di sana, hatimu. " ujarnya sambil menunjuk hatiku. Bukan hati lebih tepat dia menggali perasaanku.
"stop Al, kamu tak tahu apa apa. " Aku berteriak, air mataku luruh. Ucapannya tepat mengenai egoku. Aku benar ingin membunuh rasa yang tumbuh. Aku takut rasa ini akan membuat kekecewaan.
Dia menarik tanganku, diletakkannya di depan detak jantungnya. Jantung itu berdetak tak semestinya.
"kamu merasakan bukan? " tanyanya sambil menatap mataku lekat. Aku mencoba memalingkan wajahku menghindarinya. Tapi, dia menangkup wajahku. Pandangannya menelisik mencari sesuatu yang dia cari. Jantungku kembali berdetak tak karuan melihat pandangannya.
"stop Al, jangan kamu beri aku harapan Al. Aku takut kembali kecewa dengan harapanku. " kataku lirih. Aku menyerah dengan semua ini.
Aku kalah dengan perasaanku sendiri. Aku memeluknya erat tanpa aba aba. Aku menyembunyikan tangisku dalam pelukanku.
"Aku mencintaimu Al, lebih dari yang kamu kira. " ucapku di sela tangisku.
"Aku jauh lebih mencintaimu Ai, rasanya aku hampir gila karena kamu menjauh dariku. " ucapnya sambil mengelus pucuk kepalaku. Dekapannya terasa hangat dan menenangkan.
"jangan menjauh Ai. Rasanya kosong, aku takut. " ucapnya di tengah pelukan ini.
Aku menghabiskan malam ini bersamanya melihat bintang yang mulai gemerlap. Aku tersenyum saat memandang seseorang yang berada di sampingku.
"Naina adalah kembaranku Ai, Aku terpisah dengannya karena kami di adopsi orang yang berbeda." ucap Alga dengan tiba tiba.
"maksudnya Al? " aku bertanya dengan bingung. Setahuku Alga adalah putra tunggal dari seorang Mahesa Putra.
"Mama mengadopsi ku dari panti saat masih bayi. Dan ini adalah fakta baru yang kutemui." jawabnya.
Hari itu, Alga pulang dari sekolah terlambat. Seperti biasa orang tuanya yang bertemu selalu ribut. Alga melangkah dengan gontai melewati kedua orang tuanya yang masih saling berteriak.
"di mana letak sopan santunmu Alga Mahensa Putra" teriak ayah Alga.
Alga acuh tanpa mau menjawabnya. Langkahnya yang sempat terhenti di lanjutannya. Tapi teriak ayahnya membuatnya kembali menoleh.
"Inilah wil jika kamu main pungut anak di panti asuhan. Salah kamu Wil yang tak bisa melahirkan penerusku sendiri. " terikan ayah Alga membuat dia terkejut dan berhenti melangkah.
"Jadi ini yang membuat kalian selalu ribut. Kenapa yang harus kamu pungut aku, bukan yang lain" teriak Alga
"Alga sayang, mama memang mengapdosimu tapi mama sayang kamu. Kamu anak mama meskipun bukan darah daging mama" kata mama Alga sambil meraih tanganya. Alga menepisnya dan berlalu pergi.
Alga mendinginkan pikirannya di balkon kamarnya. perasaannya campur aduk mengetahui fakta yang membuat dia merasakan pedih di hatinya
Lama dia melamun pintu kamarnya di buka perlahan oleh seseorang. Orang itu menatap Putra yang di sayanginya dengan pandangan sayu. Air matanya kembali menetes mengingat apa yang di sembunyikannya.
"Alga maafkan mama, mama tidak ingin menutupi. " ucap mama Alga dengan menunduk menahan tangis. Alga yang melihat mamanya menangis duduk di sampingnya menolehkan kepalanya melihat sang mama.
"Alga sudah menduga ma, tapi mengapa mama tidak bilang sama Alga? " Alga bertanya kepada sang mama mengapa mamanya menutupi satu fakta tentang dirinya.
"karena mama bilang sama keluarga besar papamu bahwa kamu darah daging kami" ucapan mama Alga membuatnya lebih terkejut. Jemarinya mengepal, amarahnya memuncak namun dia tahan. Mamanya yang di sayang membohongi semua orang termasuk dirinya.
"maaf karena mama selalu mereka rendahkan membuat mama bertindak tak wajar. mama salah Alga tapi mama juga tak mau kehilangan kamu. " Mamanya membuat Alga tak berdaya dengan kata katanya.
"Alga maaf, mama juga memisahkan kamu dengan kembaranmu. Karena keluarga ayahmu tak mau ada anak perempuan di keluarga Mahesa. " bagai di sambar petir ucapan sang mama membuat dia tertunduk luruh di atas lantai balkon kamarnya. Dia ingin melampiaskan amarahnya. Tapi rasa sayang untuk sang mama membuat dia urung.
"pertemukan aku dengannya ma dan tinggalkan papa. Aku akan memaafkan mama" jawabnya dengan sorot mata yang tajam. Sang mama mengangguk menyetujui ucapan sang anak. Bagaimanapun Alga harus mengetahui saudaranya. Rumah tangganya yang sudah retak pun percuma di lanjutkan.
Mulai dari sanalah Alga menemukan Naina, saudara kandungnya.
Cerita Alga membuatku menangis tersedu, dia yang terlibat begitu tegar ternyata menyimpan luka yang jauh lebih menyakitkan. Papanya yang selalu melemparkan kata kasar padanya membuatnya menjadi Alga yang kuat dan Keluarga papanya yang seakan membuangnya membuatnya acuh pada sekitar. Kini dia tahu kebenarannya yang menyiksakan luka seumur hidupnya.