NovelToon NovelToon
Kupilih Dirimu

Kupilih Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 26 Diusir, Dihinakan, Dipermalukan

Pagi itu belum juga terang ketika pintu kontrakan diketuk keras.

Bukan ketukan sopan.

Tapi ketukan yang seperti mau merobohkan kayu tipis itu.

“Pak Bagas! Bu Pipit!”

Bagas terbangun.

Pipit sudah duduk lebih dulu.

Mereka saling pandang.

Keduanya tahu.

Hari ini datang.

Bagas membuka pintu.

Pemilik kontrakan berdiri dengan wajah tidak enak tapi tegas.

“Maaf, Pak. Saya sudah kasih waktu dua minggu. Tapi ini sudah masuk bulan ketiga.”

Bagas menunduk.

“Saya minta waktu seminggu lagi.”

“Tidak bisa, Pak. Saya sudah ada penyewa baru. Hari ini rumah harus kosong.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Pipit memegang ujung bajunya sendiri.

“Pak, paling tidak sampai sore?”

Pemilik rumah menghela napas.

“Sampai jam lima. Setelah itu saya ganti kunci.”

Tidak ada marah.

Tidak ada teriak.

Justru itu yang lebih menyakitkan.

Karena ini bukan kebencian.

Ini bisnis.

Dan orang miskin selalu kalah di bisnis.

Jam sepuluh pagi.

Barang-barang mereka sudah dikemas dalam dua koper dan tiga kardus.

Hanya itu.

Hidup yang dulu penuh lemari, meja kerja, sofa empuk…

Sekarang muat di sudut gang.

Tetangga berdiri melihat.

Bu Siska berbisik ke Bu Tuti.

“Kasihan sih… tapi ya salah sendiri.”

Pipit mendengar.

Tapi ia tidak menoleh.

Ia angkat kardus kecil berisi peralatan dapur.

Bagas mencoba angkat koper besar.

Tangannya gemetar.

Bukan karena berat.

Tapi karena malu.

Ia dulu pemilik mobil.

Sekarang berdiri di pinggir jalan seperti orang terlantar.

Jam lima kurang lima menit.

Pemilik kontrakan datang lagi.

“Kunci, Pak.”

Bagas menyerahkan.

Klik.

Bunyi gembok baru terkunci.

Dan di situlah satu-satunya atap mereka hilang.

Belum selesai.

Siang itu juga.

Pesan masuk dari grup keluarga.

“Datang ke acara ulang tahun Oma. Jangan bikin malu dengan nggak hadir.”

Bu Marni.

Bagas membaca pesan itu lama.

Pipit menatapnya.

“Mas, kita nggak usah datang.”

Bagas terdiam.

“Aku tidak mau mereka bilang aku kabur.”

Mereka akhirnya datang.

Dengan pakaian sederhana.

Tanpa mobil.

Naik ojek online.

Rumah Oma megah seperti biasa.

Mobil-mobil terparkir rapi.

Bagas dan Pipit turun di depan pagar.

Beberapa sepupu melihat.

Bisik-bisik mulai terdengar.

“Datang juga ya.”

“Berani banget.”

Mereka masuk.

Suasana pesta ramai.

Lampu gantung menyala indah.

Kue besar di tengah ruangan.

Bu Marni berdiri paling depan.

Saat melihat Bagas…

Senyumnya tipis.

“Oh, datang juga?”

Nada itu bukan sambutan.

Itu sindiran.

Bagas menyalami Oma.

Oma hanya mengangguk.

Tidak sehangat dulu.

Tiba-tiba salah satu sepupu, Rendy, bersuara keras.

“Eh Gas! Dengar-dengar sekarang nganggur ya?”

Beberapa orang tertawa kecil.

Bagas tersenyum kaku.

“Sedang cari peluang baru.”

Rendy mendekat.

“Peluang? Jadi ojek online?”

Tawa lebih keras.

Pipit mengepalkan tangan.

Bu Marni ikut menambahkan.

“Sudah jangan ditanya. Nanti dia minder.”

Suara itu manis.

Tapi isi racun.

Bagas mencoba tetap berdiri tegak.

“Kami cuma datang untuk Oma.”

Bu Marni menatap Pipit dari ujung rambut sampai kaki.

“Bajunya sederhana sekali. Kamu nggak malu datang ke acara keluarga besar begini?”

Pipit menahan napas.

“Saya datang untuk menghormati Oma, Bu. Bukan untuk pamer.”

Sunyi sebentar.

Lalu Bu Marni tertawa.

“Lihat, Gas. Istrimu masih bisa ngomong tinggi.”

Beberapa tante mendekat.

“Memang perempuan kalau nggak bisa jaga suami ya begini jadinya.”

“Dari dulu sudah kelihatan tidak cocok.”

Kata-kata itu ditembakkan seperti peluru.

Tidak ada yang menyela.

Tidak ada yang membela.

Dan puncaknya datang.

Rendy tiba-tiba bersuara keras di depan semua tamu.

“Gas, katanya kamu dihapus dari kartu keluarga ya? Berarti kamu sekarang yatim administratif dong?”

Tawa meledak.

Sakit.

Itu bukan lagi bercanda.

Itu menghina.

Bagas menegang.

Wajahnya memerah.

Pipit melangkah maju sedikit.

“Cukup.”

Suasana hening.

Semua menoleh.

Pipit berdiri dengan dagu terangkat.

“Kalian boleh hina kami miskin. Boleh hina kami gagal. Tapi jangan hina hubungan darah hanya karena tanda tangan.”

Rendy mencibir.

“Wah, berani ya.”

Bu Marni mendekat cepat.

“Kamu jangan sok suci di rumah ini!”

Dan tanpa diduga—

Bu Marni menepis tangan Pipit.

Tidak keras.

Tapi cukup membuatnya terhuyung.

Semua melihat.

Tidak ada yang bergerak.

Bagas melihat itu.

Dan sesuatu dalam dirinya retak.

Ia melangkah maju.

“Jangan sentuh istri saya.”

Sunyi total.

Rendy mendekat, menantang.

“Kalau disentuh kenapa?”

Darah Bagas mendidih.

Tapi ia tahu.

Kalau ia pukul Rendy—

Mereka akan bilang ia kasar.

Ia biadab.

Ia memang pantas dibuang.

Tangannya gemetar.

Air matanya hampir jatuh.

Bukan karena takut.

Tapi karena sadar—

Ia tidak punya posisi apa-apa di rumah itu.

Bu Rahayu berdiri di sudut ruangan.

Melihat semua.

Tapi tidak berkata apa pun.

Dan itu lebih sakit dari tamparan.

Bagas menatap ibunya lama.

Berharap satu kalimat saja.

“Sudah.”

“Cukup.”

Tapi tidak ada.

Hanya tatapan kosong.

Bagas menggenggam tangan Pipit.

“Ayo.”

Mereka berjalan keluar.

Di belakang mereka terdengar suara tawa kecil.

Bisik-bisik.

“Drama.”

“Cari perhatian.”

Pintu tertutup.

Dan untuk kedua kalinya hari itu—

Mereka resmi tidak punya tempat pulang.

Di luar, hujan turun lagi.

Lebih deras dari pagi.

Bagas berdiri di bawah langit kelabu.

Barang-barang mereka masih di sudut gang kontrakan lama.

Belum tahu mau ke mana.

Pipit berdiri di sampingnya.

“Mas…”

Bagas menatap kosong.

“Aku gagal lindungi kamu.”

Pipit memeluknya.

“Kita masih berdiri. Itu cukup.”

Tapi tidak.

Tidak cukup.

Karena harga diri Bagas hari ini dihancurkan di tiga tempat.

Di rumah.

Di pesta.

Dan di depan umum.

Malam turun.

Mereka duduk di halte.

Dua koper di samping.

Orang lalu lalang.

Tidak ada yang peduli.

Bagas menatap jalan kosong.

Dan dalam hatinya—

Ada sesuatu yang berubah.

Bukan lagi sekadar sedih.

Tapi luka yang mulai mengeras.

Dan luka yang mengeras…

Suatu hari akan berubah jadi sesuatu yang tidak bisa dihentikan.

1
Mas Bagus
tenang kak, hidup adalah perjuangan.. tetep semangat...
partini
buset dah ini di gempur dari samping atas bawah macam udah jatuh tertimpa tangga plus pohonnya
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid
partini
berjuang bersama istri dari O,kamu sekolah kan udah pernah pegang kendali biar pun gagal so jadi kan itu pelajaran yg akan menuju kesuksesan buktikan kamu mampu ,ada istri yg full support tapi nanti udah sukses mendua cari lobang lain is no good maaf bacanya loncat thor
Mas Bagus: siap...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!