NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri

Kebangkitan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kebangkitan pecundang / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KI 19

Di ruko yang semalam Miranda jadikan tempat tidur, suasana pagi mulai hidup. Jalan kecil di depannya sudah ramai oleh kendaraan yang melintas, bercampur suara pedagang yang saling bersahutan menawarkan dagangan.

Sebuah mobil Avanza memasuki area parkir ruko milik Riko. Mesin mobil dimatikan, lalu seorang pria muda berusia sekitar tiga puluh tahun turun dari balik kemudi. Wajahnya tampak segar meski matanya masih menyisakan lelah perjalanan.

“Mas Doni kemarin ke mana saja,” sapa seorang wanita penjual jamu yang mangkal tak jauh dari ruko, ucapnya ramah.

“Kemarin habis pulang kampung, Mbak,” jawab Doni sambil tersenyum kecil.

“Mau jamunya, Mas,” tawar wanita itu lagi.

“Oke, jamu masuk angin ya,” jawab Doni. Sebenarnya ia tidak terlalu ingin membeli, tetapi ia selalu berusaha menghargai orang-orang yang berjuang mencari nafkah dengan jujur.

Setelah meminum jamu, Doni berjalan ke bagasi belakang mobil. Ia mengeluarkan pelan, ember, dan sapu ijuk. Tangannya bergerak otomatis, kebiasaan setiap kali ia lama meninggalkan ruko.

“Sudah beberapa hari ini aku tidak buka. Pasti kotor seperti biasanya, banyak pengemis menginap,” ucapnya pelan sambil membawa peralatan bersih-bersih.

Langkah Doni terhenti. Ia tertegun melihat lantai teras ruko yang bersih, nyaris tanpa debu atau sisa sampah. Tidak ada bau apek seperti yang ia bayangkan.

“Loh, siapa yang membersihkan ya,” gumam Doni heran.

Ia meletakkan ember dan sapu di lantai, lalu mengeluarkan kunci dari saku celananya. Rolling door dibuka perlahan. Saat pandangannya menyapu lantai, matanya tertumbuk pada sesuatu di dekat pintu.

“Apa ini,” gumam Doni ketika melihat secarik kertas terlipat rapi.

Ia mengambil kertas itu, lalu membukanya perlahan. Tulisan di dalamnya langsung menarik perhatiannya.

“MOHON MAAF. SAYA IZIN MENGINAP DI DEPAN RUKO ANDA DAN MENGGUNAKAN AIR UNTUK MINUM DAN SALAT,”

“Tulisannya rapi sekali,” gumam Doni. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. Ia melipat kembali kertas itu dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke saku kemeja.

“Air digunakan untuk salat, tentu saja aku mengizinkan,” ucapnya pelan.

Doni lalu mulai menata barang dagangan. Ruko kecil itu menjual ponsel, kartu perdana, dan pulsa. Tangannya cekatan, meski pikirannya masih tertuju pada pesan tadi.

“Sebenarnya siapa yang menulis pesan itu. Baru kali ini ada tunawisma sesopan ini,” gumam Doni, rasa penasarannya kian besar.

Ia berhenti, lalu menoleh ke arah sudut ruko. “Sebaiknya aku cek CCTV,” gumamnya.

Doni duduk di kursi, menghadap monitor. Rekaman diputar mundur. Dari pukul delapan malam sampai pukul dua dini hari, teras rukonya tampak kosong.

“Oh, wanita pemulung rupanya,” gumam Doni ketika waktu menunjukkan pukul 02.04. Di layar terlihat Miranda datang, membersihkan lantai ruko, lalu menggelar tikar.

“Apa ini,” gumam Doni. Rahangnya mengeras saat beberapa pria muda datang dan berhenti di depan rukonya.

“Sialan. Jadi semalam rukoku disambangi geng motor,” ucap Doni kesal sambil mengepalkan tangan.

Dadanya berdegup kencang ketika para pemuda itu masuk ke area ruko. “Brengsek, geng motor ini selalu bikin ulah,” gerutunya.

“Bagaimana dengan nasib wanita ini. Apa dia akan dianiaya,” gumam Doni. Entah kenapa, rasa khawatir menyelinap di dadanya.

Matanya membesar saat melihat Miranda mengacungkan pisau dan mengusir mereka. Perasaan lega dan kagum bercampur jadi satu.

“Hebat juga. Padahal dia sendirian melawan sepuluh orang,” gumam Doni.

Ia terus menonton rekaman itu. “Untung saja ada wanita ini. Kalau tidak, tokoku bisa saja dijarah. Sekarang memang lagi marak ulah anarkis geng motor,” ucap Doni sambil menggenggam mouse.

Adegan berikutnya membuat hatinya miris. Miranda terlihat meminum air keran.

“Kenapa dia minum air keran,” gumam Doni lirih. “Sepertinya aku harus menyediakan galon di depan ruko. Lebih baik dijaga para pengemis daripada diganggu geng motor,” ucapnya.

Rekaman berlanjut hingga subuh. Doni terenyuh melihat Miranda melaksanakan salat di teras rukonya.

“Luar biasa wanita ini. Hidupnya sulit, tapi dia tidak meninggalkan salat. Kalau dia menginap lagi di sini dan aku bertemu dengannya, akan kusuruh tinggal di ruko saja,” ucap Doni pelan.

Ia tersenyum sendiri saat melihat rukonya dibersihkan, hingga Miranda sempat menatap ke arah kamera.

Doni segera memundurkan rekaman, mem-pause layar, lalu memperbesar gambar.

“Kenapa wajahnya mirip Ibu,” gumamnya.

“Siapa dia,” gumam Doni lagi.

Jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil tangkapan layar video itu dan menyimpannya. Matanya meneliti wajah perempuan itu dengan saksama.

“Siapa dia sebenarnya. Kenapa mirip sekali dengan Ibu. Kalau bayi Ibu yang hilang, seharusnya dia masih muda. Usianya harusnya di bawahku,” ucap Doni lirih.

Dadanya terasa sesak oleh pertanyaan yang tiba-tiba muncul tanpa jawaban.

Dan lamunannya harus terhenti saat beberapa pelanggan datang, Doni melayani dengan sepenuh hati.

..

..

..

“Sepertinya hari ini aku tak seberuntung semalam,” gumam Miranda setelah sekian lama berjalan menyusuri jalanan, tetapi tidak mendapatkan besi, kertas, maupun kardus seperti yang ia harapkan. Karung di punggungnya terasa semakin berat, bukan karena isinya, melainkan karena kelelahan yang perlahan menggerogoti tubuhnya.

Miranda kembali melangkah pelan. “Kalau aku harus beli dari mereka rasanya sayang sekali. Cak Roni membeli dengan harga lima ribu, sedangkan mereka mau menjual dengan harga empat ribu lima ratus. Ada selisih lima ratus. Ah, sayang sekali. Tapi bagaimana lagi, mungkin ekonomi memang sedang sulit. Dulu juga aku mengumpulkan kardus di rumah. Kalau ada pengepul keliling, aku jual,” pikir Miranda sambil menunduk.

Kakinya terus melangkah tanpa tujuan pasti. Tangannya tetap gesit memungut satu demi satu rongsokan yang ia temui di pinggir jalan, meski hasilnya tak seberapa. Hingga akhirnya, ia sampai di sebuah proyek bangunan. Rasa lelah tak lagi bisa ditahan. Miranda duduk di bawah pohon beringin yang rindang, membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak.

Di tempat itu, telinganya menangkap percakapan beberapa pria yang sedang beristirahat.

“Gila ya, nyari sarapan saja harus pakai ojek. Sekali naik ojek lima ribu, pulang pergi sepuluh ribu. Harga nasi uduk tujuh ribu. Lebih mahal ongkosnya. Pakai aplikasi harganya di atas lima belas ribu, mana lama lagi,” ucap seorang pria sambil menghisap rokoknya.

“Iya, mana kita belum makan siang lagi. Padahal ini di kota besar. Kenapa sulit sekali cari makan,” ucap pria yang satunya.

Dari logat mereka, jelas bahwa keduanya adalah perantau. Mendengar keluhan itu, sebuah ide tiba-tiba terlintas di benak Miranda. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memberanikan diri mendekat.

“Pak, kalau boleh tahu, bapak beli nasi uduk di mana,” tanya Miranda dengan suara sopan.

Pria yang memakai helm hijau menoleh menatap Miranda. “Belum ada besi rongsokan, Mbak. Nanti seminggu lagi banyak besi potongan. Datanglah ke sini,” jawab pria itu. Ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Miranda. Nada suaranya terdengar sinis, tetapi Miranda memilih tidak menghiraukannya. Baginya, ini adalah peluang yang tidak boleh disia-siakan.

“Saya enggak cari besi, Pak. Saya mau jual nasi uduk. Saya antar ke sini, gimana,” tawar Miranda.

Kedua pria itu tampak ragu.

Miranda langsung berkata, “Saya jual sepuluh ribu, gimana. Bapak bisa hemat tujuh ribu. Tukang ojek juga jarang ke sini. Bapak bisa duduk tenang. Biar saya yang repot. Urusan sarapan biar jadi urusan saya,” ucap Miranda dengan penuh percaya diri..

Suasana mendadak hening. Dua pria itu saling pandang.

Miranda mulai ragu. Matanya tanpa sadar melihat bajunya yang lusuh dan sandalnya yang berbeda warna serta merek. Rasa minder langsung menekan dadanya.

“Sepertinya mereka akan menolak,” pikir Miranda.

Salah satu pria memandang Miranda dari atas ke bawah. Tatapan itu membuat tubuhnya gemetar. Ia merasa kecil dan tidak pantas berada di sana.

Dengan nada tegas, pria itu berkata, “Oke. Kamu beli saja di ujung Gang Batu. Ada warung nasi uduk Bu Salamah. Itu langganan kami. Jaraknya satu koma lima kilometer dari sini. Kamu harus datang sebelum jam nol enam tiga puluh.”

Miranda tertegun. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Jantungnya berdegup kencang. Ini pertama kalinya ia diberi kesempatan berdagang.

Dengan mata berbinar dan senyum yang sulit disembunyikan, Miranda berkata, “Baik, Pak. Terima kasih atas kepercayaannya.”

Dua pria itu kembali saling pandang. Mereka merasa heran melihat perempuan asing yang begitu bahagia hanya karena diberi kesempatan kecil.

“Di sini ada dua puluh orang. Kamu harus bawa nasi dua puluh bungkus sama airnya,” lanjut pria itu.

Miranda terdiam sejenak. Uangnya jelas tidak cukup. Namun, ia tetap mengangguk, memaksa keyakinan tumbuh di hatinya. “Siap, Pak.”

Walau masalah kekurangan uang untuk memesan nasi uduk belum jelas dapat dari mana, Miranda sadar dirinya hanyalah wanita gembel. Ia tidak punya saudara di Jakarta dan tidak memiliki KTP. Orang lain mungkin sulit mempercayainya. Namun, Miranda tetap memilih yakin pada satu hal, “setiap masalah pasti ada solusinya.”

1
nunik rahyuni
kok ikut tegang thor 🤣🤣 sdh ikut ngos ngosan lari tp di gantung /Sleep/
Sunaryati
Miranda kamu akan ada jalan menuju sukses karena menolong Dino dan ibunya
nunik rahyuni
duh jenenge kok podo...🤣🤣🤣 jenenge pasaran..😁
nunik rahyuni: /Joyful//Joyful//Joyful/ klo mau msh ada stok nama yg antik thor..nama bahari tu yg akiranya nik kya anik ...nanik..hanik..yanik .menik
total 2 replies
nunik rahyuni
Cerita yg bagus bikin nguras esmosi..mirip dg zaman q masih jahiliyah 😁😁😅
Sunaryati
Semoga langkahmu lancar, sepertinya pemilik ruko itu saudaramu Miranda
nunik rahyuni
lanjut kk ...makin seru
Asphia fia
itu mah Miranda dijadikan budak yg di byr Thor BKN istri
gemes bgt baca ceeitanya
nunik rahyuni
semangat terus berkarya 💪💪💪💪
nunik rahyuni
lanjut thorr double up klo boleh...suka j baca cerita rakyat jelata g selalu ceo coe atau oce / eco 🤣🤣🤣
nunik rahyuni
tega nya..mknya belajar lah menyanyangi diri sendiri
nunik rahyuni
sumpal mulutnya pake lap kompor mertua kya itu ..sayur nya tak kasih racun tikus ben innalillah
nunik rahyuni
awak capek kerja cm di kadih tempe kok ra pinter jadi orang to mir masak karo ngemplok sing enak enak yg lain kasih sisanya saja wong pemalas
santi damayanti: terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
nunik rahyuni
kok kya anak tk...sesayang sayang nya sm laki q emoh yen kokon kya itu..dia punya kaki punya tangan kok kya orang cacat
santi damayanti: terimakasih
total 1 replies
nunik rahyuni
tahanya smpai 10 th..aq j yg bru sebulan di ikuti mertua ja sdh mo tak racun😁
Sunaryati
Jadi kismin sebentar lagi karena dikuras calon istri
Sunaryati
Kau akan dipecat karena pengadaan mesin dan pekerjaan kamu kacau tidak ada yang beres setelah bercerai dengan Miranda. Semoga Miranda diperkerjakan di ruko tempat ia bermalam
santi damayanti: terimakasih sudah berkunjung dan membaca
total 3 replies
Sunaryati
Arka mengingat Miranda karena sudah tidak punya babu gratis
Sunaryati
Doa orang terdzolimi semoga segera terkabul
Sunaryati
Semangat Miranda kamu orang baik, semoga segera terentas dari kemiskinan
Sunaryati
Semoga langkahmu dilancarkan dan menemukan orang baik yang bisa membawa kesuksesan hidupmu dunia akherat, Nak Miranda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!