Shanaya berdiri di tepi taman halaman rumahnya, angin malam membelai sayap-sayap keabadiannya yang tersembunyi. Bintang mendekatinya, matanya memancarkan cinta yang tak terbantahkan. "Shanaya, aku tahu kita berbeda, tapi aku tidak peduli. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu," katanya dengan suara lembut.
Shanaya menoleh, mencoba menyembunyikan air matanya "Bintang, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Aku...aku bukan seperti kamu. Aku memiliki rahasia yang tidak bisa kamu terima..." Shanaya mengangkat tangan, menghentikan Bintang yang ingin mendekat. "Tolong, jangan membuat ini lebih sulit daripada yang seharusnya. Aku tidak bisa menjadi yang kamu inginkan..."
Bintang terlihat hancur, tapi dia tidak menyerah. "Aku tidak peduli dengan apa yang kamu sembunyikan, Shanaya. Aku hanya ingin kamu..."
Apakah Shanaya akan membuka hatinya untuk Bintang atau justru pergi ke langit ketujuh dan meninggalkan Bintang seorang diri di malam yang sunyi ini? Ikuti terus kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8. "Perayaan Ulang Tahun Shanaya"
Pada malam perayaan ulang tahun Shanaya yang ke-20 tahun, restoran ternama yang dipilih olehnya bersama geng Bintang sore tadi kini ruangan itu sudah dipenuhi dengan dekorasi elegan dan suasana yang meriah.
Teman-teman sekolahnya, termasuk Thalia, Joe, dan yang lain, sudah hadir dan menunggu kedatangan Bintang, yang entah kenapa belum juga muncul. Shanaya, yang mengenakan gaun berwarna biru muda yang cantik, terlihat sedikit gelisah karena Bintang adalah salah satu orang yang paling dia tunggu-tunggu.
"Di mana Bintang, ya? Tumben-tumbenan gitu ketua geng ngilang..." tanya Thalia, yang duduk di sebelah Shanaya
"Gue gak tahu, dia gak ngebales chat gue," jawab Shanaya, yang mulai merasa sedikit khawatir
Namun, tepat saat itu, pintu restoran terbuka, dan Bintang muncul dengan senyum yang misterius di wajahnya. Ia mengenakan setelan kemeja denim dilengkapi akses sepatu sneakers.
"Gue ada di sini, dan gue punya kejutan buat loe, Shan..." seru Bintang, sambil memegang sebuah kotak kecil beludru berwarna merah dan juga buket bunga yang begitu indah berwarna merah di tangannya
Shanaya yang penasaran, membuka kotak bludru itu, dan terkejut melihat sebuah kalung cantik di dalamnya
"Happy birthday, Shan..." seru Bintang, sambil membelai lembut puncak kepala Shanaya
Semua orang di restoran terkejut dan kagum saat Bintang memiringkan kepala Shanaya ke kiri dan memberikan kalung cantik itu.
"Wah, Bintang...Kalungnya cantik banget..." seru Thalia, yang tidak bisa tidak bereaksi
Shanaya sendiri masih terkejut, matanya terpaku pada kalung itu. Kalung dengan liontin permata batu rubi yang dari penampilannya terlihat harganya tentu tidak murah.
"Bintang... ini... wow," ucap Shanaya, suaranya sedikit bergetar
Bintang tersenyum, matanya tidak lepas dari Shanaya.
"Gue pengen lebih deket sama loe lebih dari sekedar teman, Shan. Gue suka loe, dan gue pengen kita coba jadi lebih dari itu..."
Restoran menjadi sunyi, semua orang menatap Shanaya, menunggu reaksinya. Shanaya, yang masih terkejut, mengambil napas dalam-dalam.
"Bintang...gue... gue gak tahu apa yang harus gue katakan. Gue butuh waktu untuk mikir, okay?" ucap Shanaya bingung dengan perasannya sendiri
Bintang terlihat sedikit terkecewakan, namun dia mencoba untuk memahami. "Gak apa-apa, Shan. Gue tunggu jawaban loe kapan aja tunggu loe siap aja..."
Shanaya tersenyum lembut, dan Bintang memiringkan kepalanya ke kiri lagi, kali ini dengan lebih lembut.
Semua orang di restoran terharu dengan aksi romantis yang dilakukan oleh Bintang, mereka tidak bisa tidak tersenyum melihat Shanaya dan Bintang yang semakin dekat.
"Aww, mereka berdua so sweet banget..." seru Thalia, yang memelakkan Joe dengan gembira.
Joe hanya tersenyum, matanya tidak lepas dari Shanaya dan Bintang.
Namun, tidak semua orang merasa sama. Geng Zaneta, yang duduk di pojok restoran, tidak bisa tidak merasa muak dengan adegan itu.
"Ngeselin banget sih Bintang, mau pamer kemesraan mulu sama si curut satu itu, heran gue apa bagusnya coba si curut itu..." ucap Zaneta, suaranya cukup keras sehingga beberapa orang di sekitarnya mendengar
Olivia dan Firly hanya mengangguk, mereka juga tidak suka dengan Bintang yang semakin dekat dengan Shanaya.
"Gak usah kayak gitu juga, Zan jaga image dikit dong banyak orang disini. Gue malu jadi pusat perhatian orang mulu kalo loe berulah," bisik Olivia, yang tidak ingin menarik perhatian
Firly hanya menggelengkan kepalanya pelan, "Gue gak percaya Bintang bisa kayak gitu, padahal dia cuma cewek biasa yang kampungan..." Zaneta hanya tersenyum sinis
"Gue gak akan kalah, gue akan tunjukin siapa yang paling cantik di sini..."
Sementara itu, Shanaya dan Bintang masih berada di tengah-tengah restoran, tidak sadar dengan drama yang sedang berlangsung di pojok sana.
Tiba-tiba, seorang pemuda cupu yang berpenampilan aneh dengan kacamata bulat berukuran besar yang duduk di sebelah geng Zaneta, berdiri dan mendekati mereka.
"Eee... Zaneta, boleh aku ngomong sama kamu sebentar?" tanya pemuda itu, suaranya bergetar-getar
Zaneta yang sedang tidak mood, menatap pemuda itu dengan mata yang berkilat tajam, "Apa?" jawabnya singkat
Pemuda itu tidak menyadari bahwa Zaneta sedang tidak baik moodnya saat ini, dia terus berbicara dengan nada yang berisi rayuan.
"Aku... aku cuma mau bilang kalau kamu cantik banget malam ini, Zaneta. Aku... aku suka sama kamu..." ucapnya dengan polos
Zaneta yang sudah tidak sabar, memiringkan kepalanya ke kiri, "Gak usah ngomong omong kosong, gue gak suka sama loe. Pergi loe, dasar cupu!" bentuknya pada pemuda itu
Pemuda itu terlihat kecewa, tapi dia tidak menyerah. "T-tapi... aku... aku bisa buat kamu bahagia, Zaneta..." ucapnya seperti anak kecil berusia 5 tahun
Zaneta yang sudah mencapai batas kesabaran, berdiri dan menatap pemuda itu dengan mata yang berapi-api.
"Gue bilang gak, gak usah ganggu gue! Pergi loe sekarang juga!" bentak Zaneta mengusir Ray dari hadapannya
Pemuda itu akhirnya mundur, wajahnya memerah karena malu.
Olivia dan Firly yang duduk di sebelah Zaneta, tidak bisa tidak tertawa.
"Haha, Zaneta, loe gak bisa dirayu ya?" ujar Olivia, sambil tertawa
Zaneta hanya memiringkan kepalanya ke kiri, "Gak lucu, gue gak mood..."
Bintang, Shanaya, dan teman-teman lainnya yang melihat adegan itu, tidak bisa menahan tawa.
"Haha, Zaneta kena batunya tuh..." ujar Bintang, sambil tertawa keras
Shanaya juga tidak bisa menahan tawanya lagi kali ini, "Gak bisa dirayu, Zan..." ledeknya
Thalia yang duduk di sebelah Shanaya, memiringkan kepala ke kiri.
"Gue gak percaya Ray bisa kayak gitu, dia ternyata normal juga ya seleranya lumayan tinggi juga ya?"
Joe yang duduk di sebelah Thalia, hanya tersenyum. "Ray cuma mau coba peruntungannya aja lagian Ray cukup ganteng kok asalkan dia gak berpenampilan cupu kayak gitu, dia pinter juga IPK nya tinggi daripada kita semua..."
Zaneta yang sudah merasa cukup dipermalukan, menatap ke arah mereka dengan mata yang berapi-api.
"Gak usah ketawa, kalian ngeselin banget sih!" ucapnya sembari menghentakkan kakinya ke lantai
Olivia dan Firly yang masih tertawa, mencoba untuk menenangkan Zaneta.
"Santai aja lagi, Zan, cuma lelucon kecil doang kok, Ray kan cuma badut hahaha..."ucap Olivia sembari membelai lembut bahu kiri Zaneta
Ray yang masih berdiri di sana, wajahnya memerah karena malu, akhirnya memutuskan untuk pergi begitu saja.
"Aku...aku pergi dulu," ucapnya, sebelum berlari keluar dari restoran
Semua orang kembali tertawa, kecuali Zaneta yang masih merasa benar-benar dipermalukan malam ini.
Acara berikutnya adalah pidato Shanaya, yang membuat semua orang kembali bersemak. Shanaya berdiri di depan mikrofon, dengan senyum yang sedikit goyah.
"Terima kasih, teman-teman, atas kehadiran kalian di hari ulang tahunku yang ke-20 ini," ucapnya, dengan suara sedikit bergetar
"Gue mau ngucapkan terima kasih juga ke ayah gue, yang tidak bisa hadir di sini malam ini. Tapi, gue tahu ayah gue lagi nonton siaran langsung ini, jadi gue mau ngucapin terima kasih, ayah," Shanaya melanjutkan, sambil menatap ke arah layar yang menampilkan wajah Pak Tirta
"Terima kasih, ayah, atas kado spesialnya. Shanaya sangat menyukainya," Shanaya berkata, sambil tersenyum
"Aku juga pengen buat vlog khusus untuk ayah, jadi tunggu ya, ayah," ucapnya, sambil mengambil ponselnya dan mulai merekam
"Halo, ayah! Terimakasih buat kado spesial yang ayah berikan hari ini, Shanaya sangat menyukai kado yang ayah berikan. Terima kasih, ayah, atas semua yang ayah lakukan untukku. Aku cinta ayah..." Shanaya berkata, sambil mengirimkan vlog itu ke ayahnya
Semua orang di ruangan itu tersenyum, dan Bintang tidak bisa tidak begitu dekat dengan Shanaya.
"Loe beruntung banget memiliki ayah seperti Pak Tirta, Shan," ucapnya, sambil tersenyum
Shanaya tersenyum kembali, "Gue tahu, Bintang. Gue sangat beruntung..."
Zaneta dan gengnya tampak mulai bosan dengan apa yang disaksikannya saat ini. Zaneta tampak memutar bola matanya jengah bahkan bergumam pedas.
Zaneta yang menikmati minuman orange jus ditangannya, kini memutar bola matanya jengah, "Lebay...kapan sih acaranya berakhir, sumpah muak banget gue lihatnya..."
Acara ulang tahun Shanaya akhirnya mencapai penghujung, dan teman-teman mulai berpamitan untuk pulang. Bintang menawarkan untuk mengantar Shanaya pulang, Shanaya pun setuju. Mereka berdua berjalan keluar dari restoran, dengan Bintang memegang tangan Shanaya dengan mesra.
"Makasih, Bintang, atas hari ini," ucap Shanaya, sambil tersenyum
Bintang tersenyum kembali, "Santai aja kali, Shan. Gue senang bisa jadi bagian dari hari spesial loe..."
Mereka sampai di parkiran mobil. Bintang menyuruh Felix untuk membawa mobil itu balik.
"Fel, loe bisa bawa mobil gue balik kan , gue mau anter Shanaya pulang soalnya udah malem," ucapnya, sambil memberikan kunci mobil kepada Felix
Felix mengangguk, dan Bintang serta Shanaya naik ke mobil milik Shanaya.
Bintang tersenyum, dan mobil honda Brio berwarna merah itu mulai bergerak dengan kecepatan santai. Mereka berdua menikmati perjalanan malam ini, dengan musik yang lembut dan suasana yang santai.
Bersamboo dulu... 😅🌷🌹