Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Rea.. Itu calon suami kamu sama wanita lain, mengapa kamu malah diam saja?" Mamanya hanya heran melihat ekspresi diamnya Rea.
"Dia itu bawahan di kantornya, ma!"
"Terus kalau bawahan, bisa pergi jalan malam-malam begini?"
"Mungkin mereka.. "
"Gak ada mungkin-mungkin. Ayo kita ikuti mereka!" Mamanya Rea duluan naik ke mobil.
Rea akhirnya pasrah ikut naik ke mobil dan mengikuti Sean dan Senja dari belakang.
_
_
Sean menepikan mobilnya di parkiran taman. Malam ini taman cukup ramai dengan pengunjung dan ada beberapa pedagang kaki lima yang a sedang jualan mainan anak-anak dan makanan di dalam taman.
"Senja..kamu cari ke sana dan aku cari sebelah sini." ucap Sean dan Senja mengangguk.
Mereka menyusuri setiap sudut taman dan terus bertanya ke setiap orang apa ada yang melihat Angkasa.
Setelah beberapa menit mereka akhirnya bertemu lagi dengan hasil nihil. Karena Angkasa belum bertemu.
" Bagaimana?" Tanya Senja dengan mata sembab.
Sean hanya bisa menggeleng lemah.
"Ya Tuhan.." Lirih Senja tak kuasa menahan air matanya.Dia takut terjadi sesuatu terhadap Angkasa.
"Kamu.." Tanpa sadar Sean memegang kedua bahunya Senja. Karena jujur saja dia tak bisa melihat Senja yang menangis seperti ini.
"Bagaimana ini Sean..Angkasa ku,anakku..kemana dia?"
"Aku tau Senja. Aku yakin kita pasti bisa menemukan Angkasa."
"Kita cari sekali lagi!" Ajak Sean dan Senja mengangguk.
Karena sudah berulang kali memutari taman dan masih tak menemukan Angkasa. Sean terpaksa membujuk Senja untuk pulang dulu dan untuk mencari Angkasa biar dia saja.
Saat mereka kembali ke parkiran,Rea dan mamanya sudah berdiri di dekat mobilnya Sean. Tatapan Rea penuh kecurigaan terhadap Senja,karena ini cukup aneh menurutnya jika hubungan Sean dan Senja hanya sebatas teman SMA saja.
"Sean..kamu ngapain malam-malam begini dengan Senja?" Tanya Rea tegas,penuh dengan kekecewaan.
"Mbak Rea..ini gak seperti yang mbak fikiran!" Senja terlebih dahulu ingin memberikan penjelasan tak ingin Rea salah paham.
" Aku bertanya sama Sean,bukan sama kamu Senja!" jawab Rea menatap tajam Senja. Membuat Senja kehilangan kata-kata.
"Rea..aku hanya membantu Senja." Jelas Sean.
"Sean..kamu itu udah punya calon istri. Masa iya kamu jalan dengan wanita lain dengan alasan membantu. Itu alasan kuno!" Potong mamanya Rea.
"Tante..Aku berkata jujur. Anak Senja hilang. Aku ketemu dia di jalan sedang mencari anaknya,jadi aku membantu dia mencari anaknya!" Jawab Sean menjelaskan.
"Lah.. kenapa dia gak sama bapak anaknya mencari dan kenapa mau pergi sama kamu? Apa suaminya gak akan salah paham?" jawab mamanya Rea,membuat Rea shock.
" Ma.."Tegur Rea.
" Bapak anaknya sudah meninggal,ma!" Ucap Rea pelan ke telinga mamanya.
"Apa?" Mamanya Rea yang awalnya emosi,akhirnya diam dan tak berkomentar lagi .
" Pak Sean.. terimakasih sudah membantu saya. Saya akan cari sendiri Angkasa. Saya tak mau ada kesalahpahaman seperti ini." ucap Senja.
" Mbak Rea..jangan khawatir,saya dan pak Sean tak ada hubungan apapun. Dia berkata jujur. Dia hanya membantu saya mencari anak saya!"
"Senja,maaf.." lirih Rea.
" Hmm.."Senja mengangguk dan memilih pergi sendirian. Bahkan panggilan Sean pun dia abaikan. Baginya,menemukan Angkasa hal yang paling utama saat ini. Dan soal Sean dan Rea,biarkan Sean saja menjelaskan semuanya kepada Rea.
***
Senja memutuskan pulang ke rumahnya.Dia berharap kalau Angkasa mana tau sudah pulang.
Saat dia tiba di depan halaman rumahnya,dia melihat sebuah mobil yang cukup ia kenali.
Senja bergegas masuk ke dalam rumah,dan ternyata Angkasa tertidur di pangkuannya Dirgantara.
" Pak Dirgantara?" Senja menatap tak percaya.
" Ssstttt..." Dirgantara meletakkan telunjuknya di bibirnya agar Senja memelankan suaranya.
Senja mengangguk dan keluar duluan.
Setelah dirasa tidurnya Angkasa sudah nyenyak,Dirgantara membaringkan tubuh Angkasa ke atas kasur sederhana. Lalu dia menusuk Senja yang sudah duluan ke luar dan duduk sendirian.
"Senja..kamu dari mana saja? Aku dan Angkasa menunggu kamu dari tadi." Ucap Dirgantara biasa saja.
"Mengapa Angkasa bisa bersama anda?" Senja langsung berdiri dan menatap Dirgantara.
"Apa anda benar-benar mau menggunakan anak saya demi mencapai tujuan anda?"
"Berapa kali saya bilang,saya hanya ingin hidup tenang berdua dengan anak saya."
"Senja..kamu salah paham!" Jawab Dirgantara cepat.
"Saya tak sengaja bertemu anak kamu. Saya melihat dia sendirian duduk di jalan sambil menangis .Karena saya tau dia anak kamu,makanya saya membawa dia. Saya tak punya tujuan apapun dan hanya membantu mengantarkan anak kamu pulang."
"Anda bertemu dia sendirian di jalan?"
Dirgantara mengangguk.
" Maaf,saya menuduh anda yang macam-macam."
" Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa anak kamu bisa sendirian malam-malam begini di jalan?" Tanya Dirgantara penasaran.
"Angkasa hanya sedang kesal." Jawab Senja singkat.
" Kamu bohong!"
" Anak kamu sudah menceritakan semuanya tadi."
"Lantas aku harus apa? Selama ini kami baik-baik saja, Angkasa tak pernah menanyakan sosok ayahnya. Tetapi tadi dia malah bertanya dan ingin melihat kuburan ayahnya. Bahkan dia termakan omongan teman dan ibu temannya."
" Saya juga tak ingin anak saya seperti ini . Tapi takdir yang harus saya jalani dengan Angkasa, sudah seperti ini." lirih Senja.
" Saya tau! Angkasa hanyalah anak kecil yang polos. Dia gak bersalah,tetapi rasa ingin taunya tentu tinggi. Apalagi dia melihat teman seumurannya memiliki sosok ayah." Ucap Dirgantara memahami kegelisahan Senja.
"Kamu yang harus sabar menghadapi semua ini." Lanjut Dirgantara.
" Saya memang harus kuat pak Dirgantara. Karena sebelum saya melahirkan Angkasa,saya sudah tau resiko apa yang akan saya tanggung kedepannya. Omongan orang,caci maki,dan suatu saat ketika anak saya mencari tau kebenaran ayahnya dan saya juga harus siap memberitahu kan semuanya."
" Tapi saya tidak mau,kehadiran anak saya hanya akan membuat keluarga mereka kembali merendahkan saya dan anak saya. Cukup sekali dia merendahkan harga diri saya dan meragukan anak saya dan saya tak ingin mendengar untuk yang kedua kalinya atau seterusnya."
"Saya tak berharap anak saya diakui sebagai keturunan mereka. Saya hanya ingin hidup tenang saja dan melupakan luka itu semua."
Dirgantara hanya diam dan menatap punggung Senja yang berdiri di depannya menatap langit. Ternyata Senja merupakan wanita yang cukup berlapang dada dan tidak dendam. Bahkan lukanya sudah begitu dalam,tetapi memilih menjauhi orang yang menorehkan luka lebih baik daripada tetap terlibat dengan orang-orang tersebut.
" Andai aku bisa berlapang dada seperti kamu Senja. Mungkin dendam di dalam hatiku ini tak akan sebesar ini terhadap mereka semua!" lirih Dirgantara dalam hati.