Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 BABY
Khay berdiri di tengah kamar asrama yang selama ini menjadi tempatnya pulang. Matanya menyapu setiap sudut ruangan tempat ia tertawa, menangis, begadang mengerjakan tugas, hingga berbagi cerita dengan sahabat-sahabatnya. Hari ini… ia harus pergi.
Perlahan, Khay memasukkan pakaian terakhir ke dalam koper. Tangannya bergerak pelan, seolah enggan mengakhiri semuanya.
Di belakangnya, Vani, Rika, dan Sinta hanya diam.
Suasana terasa berat. “Khay…” suara Vani bergetar,
“jadi kamu beneran pergi hari ini?”
Khay menoleh, lalu tersenyum ceria seperti biasanya, berusaha mencairkan suasana “Kalian ini,” ucapnya ringan, “aku cuma keluar asrama, bukan keluar kampus.”
Sinta langsung mendekat dan memeluk Khay erat. “Tapi rasanya beda…” gumamnya. “Biasanya kita selalu bareng.”
Rika ikut menyusul, menyilangkan tangan di dada dengan wajah cemberut “Siapa nanti yang bakal kita ganggu tengah malam?” protesnya.
“Siapa yang bakal nemenin kita makan mie instan jam dua pagi?” tambah Vani dengan wajah sedih.
Khay tertawa kecil, meski hatinya ikut terasa sesak.
“Kalian lebay banget sih,” katanya sambil menepuk bahu mereka satu per satu. “Aku masih di kampus. Masih bisa ketemu tiap hari.”
“Tapi gak satu kamar lagi…” gumam Sinta pelan.
Khay menghela napas, lalu meraih tangan mereka bertiga “Denger ya,” ucapnya lembut tapi tegas, “aku gak kemana-mana. Kalian tetap sahabat aku. Mau aku tinggal di mana pun… itu gak akan berubah.”
Ketiganya terdiam. “Kalian tuh keluarga aku di sini,” lanjut Khay dengan senyum hangat. “Jadi jangan kayak mau ditinggal selamanya gitu.”
Vani mengusap matanya. “Ih, jadi pengen nangis
beneran…”
“Udah, jangan nangis!” Khay langsung panik. “Nanti aku ikut nangis lagi.”
Rika mendengus pelan. “Yaudah sih… tapi kamu harus sering-sering balik, ya!”
“Iya!” sahut Sinta cepat. “Dan jangan lupa traktir kita!”
Khay tertawa. “Nah itu dia tujuan utama kalian ternyata.”
“YA IYALAH!” jawab mereka kompak. Suasana yang tadinya sedih perlahan berubah hangat kembali.
Tak lama kemudian, mereka mulai mengangkat barang-barang Khay keluar kamar.
Koper, tas, dan beberapa kardus kecil dibawa bersama-sama menuju halaman asrama.
Sebuah mobil mewah sudah terparkir di sana.
Dan di sampingnya Seorang pria berdiri dengan santai.Tinggi, Tegap. Dengan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
Revan.
Vani yang pertama kali melihat langsung membeku. “Itu… itu…” bisiknya.
Sinta menyenggol lengannya. “Ya ampun… itu cowok apa lukisan hidup sih?!”
Rika bahkan tidak berkedip sama sekali. Matanya terpaku “Gila…” gumamnya pelan. “Aura-nya beda banget…”
Semakin mereka mendekat, semakin jelas pesona Revan Cara berdirinya Wibawanya.
Dan ketenangan yang justru membuatnya terlihat semakin… menarik. “Khay…” bisik Vani dengan suara tertahan, “itu… suami kamu?”
Khay menghela napas panjang “Iya.”
“YA AMPUN!” Sinta hampir berteriak.
Rika masih diam, menatap tanpa berkedip “Ini bukan om-om…” gumamnya pelan. “Ini… ini level sultan.”
Khay langsung memutar mata “Sudah-sudah, kalian jangan menatapnya terus,” protesnya.
“Gimana gak ditatap?!” balas Vani. “Cakep banget!”
“Iya, aku jadi paham kenapa kamu gak bantah gosip kemarin,” tambah Sinta.
Khay langsung menatap mereka tajam “Heh!”
Sementara itu, Revan yang menyadari kehadiran mereka perlahan melepas kacamata hitamnya. Matanya menatap ketiga gadis itu dengan tenang.
Lalu… ia tersenyum tipis.
“Kalian pasti sahabat Khay.”
Ketiganya langsung mengangguk cepat “I-iya…”
“Iya, kami sahabatnya…”
“Iya banget…”
Revan mengangguk pelan “Terima kasih sudah menjaga Khay selama ini.”
Kalimat itu sederhana Tapi cara Revan mengucapkannya membuat mereka bertiga langsung meleleh.
“Lain kali aku akan traktir kalian makan siang,” lanjutnya. “Sekarang aku harus pergi dulu.” Nada suaranya tetap dingin.
Namun justru itu yang membuat Vani, Rika, dan Sinta semakin heboh.
“YA AMPUN, DINGIN BANGET TAPI MANIS!”
“Khay kamu beruntung banget!”
“Aku mau satu kayak gitu!”
Khay langsung menarik koper dengan wajah kesal.
“Mas, ayuk,” ajaknya cepat.
Revan hanya tersenyum kecil lalu membuka pintu
mobil untuk Khay.
Khay masuk dengan wajah masih sedikit memerah karena ulah sahabat-sahabatnya.
Di dalam mobil, suasana mendadak hening Khay melirik Revan dari samping.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Revan yang menyadari itu akhirnya menoleh “Ada apa?”
Khay langsung pura-pura melihat ke depan “Gak ada.”
Beberapa detik berlalu. Namun Khay kembali meliriknya.
Kali ini dengan tatapan penuh selidik Revan menahan senyum.
“Kamu kenapa?” tanyanya lagi.
Khay akhirnya bersuara “Gimana?” tanyanya singkat.
Revan mengernyit “Gimana apa?”
Khay memanyunkan bibirnya sedikit “Senang ya dipuji-puji sama sahabat aku?”
Revan terdiam sejenak Lalu… Ia tersenyum tipis.
“Oh…” gumamnya pelan. “Jadi ini masalahnya.”
Khay langsung menoleh “Apaan sih?”
Namun sebelum Khay sempat menarik tangannya, Revan sudah lebih dulu meraihnya Menggenggamnya.
Lalu… mengangkat tangan itu dan menciumnya dengan lembut.
Deg.
Jantung Khay langsung berdegup kencang. “Di hatiku,” ucap Revan pelan, suaranya rendah dan dalam, “hanya ada kamu.”
Khay menahan napas.
“Dan hanya akan ada kamu… baby.”
Gleg.
Khay menelan ludahnya sendiri.
Baby?
Otaknya seperti berhenti bekerja sesaat Wajahnya langsung memerah Panas, Sangat panas. Ia menunduk, tidak berani menatap Revan.
“Baby?” gumamnya dalam hati.
Revan meliriknya sekilas, tersenyum tipis melihat reaksi istrinya.
Sementara Khay… Masih sibuk menenangkan jantungnya yang tidak mau diajak kompromi.