Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pagi di kediaman Mahendra tak pernah lagi terasa hangat bagi Hana. Cahaya matahari yang menerobos masuk melalui jendela besar di ruang makan seolah kehilangan sinarnya, hanya menyisakan bayang-bayang dingin yang jatuh di atas lantai marmer.
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa di koridor selalu diikuti oleh helaan napas berat dari Arlan, sebuah pola yang sudah dihafal Hana selama setahun terakhir. Napas itu bukan lagi napas lelah karena bekerja, melainkan napas yang membawa beban kekecewaan yang tak terucap.
Hana sedang menata piring-piring porselen saat pintu depan diketuk dengan keras, bukan ketukan tamu yang sopan, melainkan ketukan penguasa. Belum sempat Hana melangkah, suara nyaring Ibu Mira, dia adalah ibu mertua Hana, suara itu sudah menggema di ruang depan.
"Hana! Kamu masih memberikan Arlan kopi hitam?" Ibu Mira masuk ke ruang makan tanpa permisi. Tas bermereknya ia letakkan kasar di atas meja, sementara matanya menyapu hidangan sarapan dengan tatapan yang sangat tidak puas. "Ibu sudah bilang berkali-kali, buatkan dia jus tauge dan madu. Arlan harus sehat, staminanya harus terjaga kalau kalian mau punya anak! Kopi hanya akan merusak kualitas sperma Arlan!"
Hana menunduk dalam, tangannya meremas pinggiran celemeknya hingga buku-buku jarinya memutih. "Sudah saya siapkan di dapur, Bu. Tapi Mas Arlan tadi sendiri yang minta kopi karena merasa kurang tidur."
"Kurang tidur karena apa? Karena terlalu banyak berpikir?" Ibu Mira duduk di kursi utama - posisi yang seharusnya milik Arlan - dengan gaya otoriter. "Lima tahun, Hana. Teman-teman Ibu sudah menimang cucu kedua, bahkan ada yang sudah ketiga. Ibu harus menaruh muka di mana setiap kali ada arisan? Mereka selalu bertanya dengan nada mengejek, 'Kapan Hana hamil?' atau yang lebih parah, 'Apa Hana mandul?'"
Kata 'mandul' itu menghantam Hana tepat di dada, lebih tajam dari sembilu. Ia merasa udara di paru-parunya mendadak habis. Sebutan itu seolah-olah menghapus seluruh pengabdiannya selama ini.
Ia hanya bisa diam, membiarkan mertuanya menumpahkan segala kekesalan yang sebenarnya sudah menjadi kaset rusak dalam hidupnya.
Di sudut ruangan, Arlan hanya diam. Ia terus menatap layar ponselnya, seolah-olah perdebatan antara istri dan ibunya hanyalah deru angin lalu. Tidak ada pembelaan. Tidak ada genggaman tangan penenang. Bagi Arlan, diam adalah caranya untuk menghukum Hana atas rahimnya yang sunyi.
"Ibu sudah bicara dengan dokter spesialis terbaik di Singapura semalam," Ibu Mira melanjutkan, suaranya kini merendah namun lebih menekan. "Dia bilang, jika dalam lima tahun tidak ada hasil, maka masalahnya mungkin sudah permanen. Arlan adalah anak tunggal, Hana. Dia penerus Mahendra Group. Kamu tidak bisa seegois ini dengan membiarkan silsilah keluarga kami terputus hanya karena... kekuranganmu."
Hana memberanikan diri menatap mertuanya. "Saya sudah melakukan semua prosedur, Bu. Mas Arlan juga tahu betapa sakitnya proses yang saya jalani setiap bulan."
"Sakit? Kamu pikir rasa malu Ibu tidak sakit?" Ibu Mira mendengus. Ia melirik Arlan yang masih tak bergeming. "Arlan, kamu dengar Ibu kan? Jangan hanya diam seperti patung! Kamu itu laki-laki, kamu punya hak untuk menentukan masa depanmu. Ibu tidak akan membiarkanmu menua tanpa ada yang memanggilmu 'Papa'."
Arlan akhirnya meletakkan ponselnya. Ia menatap Hana, tapi tatapannya bukan lagi tatapan cinta yang Hana temui lima tahun lalu. Tatapan itu terasa asing, dingin, dan penuh kalkulasi. "Ibu benar, Hana," ucap Arlan singkat. "Kita tidak bisa begini terus."
Hana merasa jantungnya mencelos. "Apa maksudmu, Mas?"
"Semalam, Maura menelepon Ibu," sambung Ibu Mira dengan nada yang tiba-tiba berubah ceria, seolah-olah baru saja menyebutkan nama malaikat penolong. "Dia wanita yang sangat pengertian. Dia tidak keberatan jika harus masuk ke keluarga ini demi memberimu keturunan, Arlan. Dia bilang, dia sangat menghormati posisi Hana sebagai istri pertama."
Nama Maura kembali disebut. Hana teringat pembicaraannya dengan Arlan kemarin. Ternyata, rencana ini sudah disusun rapi di belakang punggungnya.
Maura bukan sekadar rekan kerja yang bersedia, tapi dia adalah pion yang digerakkan oleh ibu mertuanya untuk menggulingkan posisinya secara perlahan.
"Maura itu cerdas, Hana. Dia lulusan luar negeri, keluarganya terpandang, dan yang paling penting, dia subur. Kakak-kakaknya semua punya anak banyak," Ibu Mira menambahkan dengan senyum kemenangan. "Jadi, jangan pasang wajah sedih begitu. Kamu seharusnya bersyukur ada wanita sebaik Maura yang mau berbagi beban denganmu."
Berbagi beban? Hana ingin tertawa histeris mendengar istilah itu. Maura tidak sedang berbagi beban, dia sedang berbagi suami, berbagi ranjang, dan berbagi masa depan yang seharusnya hanya milik Hana dan Arlan.
"Mas... apa kau benar-benar sudah memikirkan ini?" suara Hana bergetar hebat. Ia mencari sisa-sisa nurani di mata Arlan. "Kau bilang kau mencintaiku. Kau bilang aku rumahmu."
Arlan bangkit dari kursinya, merapikan jasnya dengan gerakan yang kaku. "Aku memang mencintaimu, Hana. Tapi cinta tidak bisa membangun dinasti. Maura adalah solusi logis yang kita miliki sekarang. Ibu sudah menyiapkan apartemen untuknya sementara, tapi setelah menikah siri minggu depan, dia akan tinggal di sini. Di rumah ini."
Keputusan itu dijatuhkan seperti vonis mati. Ibu Mira tersenyum puas, ia meraih tasnya dan berdiri. "Bagus, Arlan. Akhirnya kamu sadar. Hana, siapkan kamar tamu yang paling besar untuk Maura. Jangan sampai dia merasa tidak nyaman. Ingat, dia akan membawa calon cucu Ibu."
Setelah Ibu Mira pergi, keheningan kembali menguasai ruang makan. Hana menatap Arlan yang hendak melangkah keluar rumah untuk berangkat ke kantor.
"Apa kau mencintai Maura, Mas?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Hana.
Arlan menghentikan langkahnya di ambang pintu, namun ia tidak menoleh. "Cinta atau tidak, itu tidak penting lagi sekarang, Hana. Yang penting adalah dia bisa memberikan apa yang tidak bisa kau berikan. Terimalah kenyataan ini jika kau masih ingin berada di rumah ini."
Arlan melangkah pergi, meninggalkan Hana sendirian di meja makan yang luas itu. Sup ayam yang tadi panas kini benar-benar mendingin, persis seperti hati Hana yang mulai membeku.
Di tengah kehancurannya, Hana bersumpah satu hal - jika keikhlasannya dianggap sebagai kelemahan, maka suatu saat nanti, ia akan menunjukkan pada mereka bahwa 'istri yang tak berguna' ini bisa berdiri tegak tanpa bayang-bayang nama Mahendra.
Namun untuk saat ini, Hana hanya bisa terduduk lemas, menatap kursi kosong yang sebentar lagi akan ditempati oleh Maura. Inilah awal dari neraka yang dibungkus dengan nama keluarga.
...----------------...
Next Episode...
~
Haaay para pembaca setia Miss Ra, gimana nih cerita Hana dan Arlan? Bagus gak?
Kalau kalian suka, jangan lupa jempol, beri jejak komentar terbaiknya yaa...
Sampai jumpa di Up selanjutnya, i love u sekebon buat kalian semua..
See You...
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.