Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saint Othelo
Kuil Matahari pada malam hari tampak sunyi. Aula penyembahan masih diterangi oleh cahaya lentera dan lilin yang menyala di tiap sudut, memantulkan bayang-bayang panjang di dinding.
Di tengah aula berdiri sebuah patung besar Dewa Kehidupan—wajahnya tampan, tersenyum lembut dan tubuhnya terpahat kokoh. Di sekeliling patung itu ada sebuah kolam jernih dengan teratai putih yang tumbuh subur. Malam ini, seluruh kuncup teratai mekar bersamaan dan mengeluarkan cahaya.
Di hadapan patung Dewa Kehidupan, seorang pria berambut putih sebahu bersimpuh dengan mata terpejam. Jubah putihnya memantulkan cahaya lilin, membuat sosoknya tampak suci dan tak tersentuh. Ia berdoa dengan khusyuk, nyaris tak bergerak.
Ketika seluruh bunga teratai mekar sempurna, pria itu membuka mata perlahan. Sepasang iris emasnya berkilau terkena pantulan cahaya lentera.
Othelo menghela napas panjang sambil memandangi teratai-teratai yang mekar. Bunga teratai putih adalah simbol suci di Kuil Matahari—mereka tidak pernah layu, dan hanya mekar ketika sesuatu terjadi.
“Kau akhirnya kembali. Pengorbananku tidak sia-sia di kehidupan sebelumnya,” gumamnya lirih.
Ia meraih sebuah kompas kecil antik yang tergantung di lehernya. Ketika tutupnya dibuka, jarum kompas berputar liar, bergerak tanpa arah seperti tertiup angin tak terlihat. Beberapa detik kemudian, jarum itu berhenti—mengarah lurus ke utara.
Othelo menutup kompas, bangkit berdiri, dan menundukkan kepala pada patung Dewa Kehidupan.
“Dewa Kehidupan … bantu aku mengembalikan segalanya seperti semula.”
Begitu ia berbalik meninggalkan aula, lentera-lentera mulai padam satu per satu. Lilin mulai redup lalu padam, hingga aula pemujaan tenggelam dalam kegelapan total. Di kolam, teratai-teratai putih kembali menguncup seolah tak pernah mekar.
Untuk menuju ruang dalam, Othelo melewati halaman belakang kuil yang sunyi. Ia sudah hendak melangkah lebih jauh ketika mendadak langkahnya terhenti. Matanya menoleh ke sebuah ruangan yang masih menyala remang-remang.
Ekspresinya berubah suram. Mata emasnya menyipit tajam. “Pendosa itu … semakin tenggelam dalam dosa di kehidupan ini.”
Tanpa menoleh lagi, Othelo melangkah pergi, meninggalkan halaman belakang yang kembali sunyi.
......................
Di salah satu kamar kuil yang seharusnya menjadi tempat istirahat bagi imam suci, suasana malam justru dipenuhi suara samar—napas tersengal, desahan yang terputus-putus namun sensual dan ranjang kayu yang berderit pelan. Suara-suara itu memenuhi ruangan, menegaskan bayangan dua insan yang bergerak di balik cahaya lentera.
Pakaian pria dan wanita tergeletak berantakan di lantai, menjadi bukti dari perbuatan yang tidak seharusnya terjadi di tempat suci tersebut.
Di tempat tidur, seorang Holy Priest—Desmond, pria paruh baya yang terkenal mesum—membungkuk di atas seorang wanita. Bayangan tubuh mereka menari di dinding, tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi.
“Nyonya Baroness …,” desah Desmond, suaranya serak penuh kepuasan dan keangkuhan. “Kurasa sudah lama suamimu tidak memberimu perhatian.”
Wanita itu hanya menggenggam erat seprai putih, bahunya bergetar. Ia tidak menjawab, seolah seluruh logikanya tertelan kabut panas. Kebutuhan, kesepian dan ketidaksetiaan berbaur menjadi satu.
Desmond tidak memperhatikan apa pun selain dirinya sendiri. Bayangan tubuhnya terus bergerak—ritmenya semakin cepat dan sama sekali tidak mencerminkan kesucian seorang pendeta.
Beberapa saat kemudian, suara napas dalam memenuhi ruangan. Hanya cahaya lentera yang berkedip, menyorot dosa yang baru saja dilakukan.
Wanita itu terbaring diam, napasnya belum stabil. Desmond merapikan jubahnya dengan malas, lalu mendekatinya sambil tersenyum licik.
“Tenang saja,” katanya, menatap wajah wanita itu. “Aku tidak lupa janjiku. Suamimu yang sakit itu akan kubantu … tentu saja sesuai kesepakatan kita.”
.....
Keesokan paginya, Kuil Matahari kembali dipenuhi kekhusyukan. Di aula penyembahan, Othelo sudah bersimpuh di depan patung Dewa Kehidupan, menjalankan doa pagi dengan ketenangan yang sudah menjadi rutinitasnya.
Satu per satu, para imam suci dan imam suci wanita masuk. Mereka mengenakan jubah putih gading khas Kuil Matahari. Lalu ikut berdoa.
Setelah selesai berdoa, beberapa dari mereka sempat berbincang singkat dengan Othelo sebelum akhirnya pergi. Hanya satu yang tidak ikut meninggalkan aula, yang tak lain adalah Desmond.
“Ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan denganku?” tanya Othelo, tanpa membuang waktu.
Desmond tersenyum ramah yang terasa terlalu dipoles.
“Ini mengenai permohonan seorang wanita muda dari keluarga Baron. Suaminya sakit keras dan membutuhkan bantuan Anda untuk menyembuhkan penyakitnya.”
“Kau juga tahu,” balas Othelo tenang. "Bahwa aku tidak bisa menyembuhkan seseorang yang sudah berada di ujung hidupnya.”
Desmond menautkan jari-jarinya, nada suaranya berubah lebih berat. “Saint Othelo, saya mengerti batasan Anda. Namun akhir-akhir ini situasi di Istana Kekaisaran sedang tidak stabil. Anda juga telah menolak undangan Kaisar beberapa kali tahun ini. Ingat, Anda bukan hanya Saint di kuil ini, tapi juga imam suci agung. Permaisuri Melvada pun akan membutuhkan perawatan Anda suatu hari nanti …”
Nada itu terdengar seperti peringatan terselubung—tapi Othelo sama sekali tidak terpengaruh. “Permaisuri Melvada tidak sakit,” ujarnya tenang. “Dia hanya bingung.”
“Saint Othelo—”
“Secara alami,” potong Othelo dengan datar. “Permaisuri Melvada akan sadar ketika hari itu tiba.”
Sorot mata emasnya menatap lurus, dalam dan tajam seperti jurang tanpa dasar. Kata-kata Desmond seketika lenyap dari lidahnya, seperti ditelan oleh tatapan itu.
Othelo memandangnya lama, seolah menembus rahasia terdalam yang Desmond sembunyikan. “Ruanganmu masih terang hingga larut malam. Apa yang sedang kamu lakukan?”
Desmond seketika tegang, wajahnya kaku. “Ah … ya. Itu … hanya mengevaluasi laporan dari para tamu yang datang berdoa.”
Hening sesaat. Othelo tidak mengatakan apa pun, tetapi atmosfer di sekitar mereka menjadi canggung.
Akhirnya, Othelo mengalihkan pandangannya. “Aku akan meminta Richardo melihat kondisinya. Jika penyakit suaminya tidak terlalu parah, cukup beri air spiritual yang telah kuberkati. Ia akan pulih secara bertahap.”
Desmond menghela napas lega. “… Tidak bisakah Anda turun tangan sendiri untuk menyembuhkannya?”
Othelo menatapnya sekali lagi, tenang namun tajam. “Aku sedang berpuasa.”
Desmond membeku. Itu artinya petunjuk Dewa telah turun, pikirnya.
Setelah mendapat jawaban yang ia inginkan, Desmond akhirnya membungkuk dan meninggalkan aula penyembahan.
Ketika langkah pria itu menghilang di balik pintu, Othelo masih memandang punggungnya. Matanya menyipit dan suaranya turun menjadi gumaman dingin.
“Aku mulai muak dengannya.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beatrice menghabiskan sepanjang hari berkeliling Istana Adipati Agung bersama Estevan. Ia dibuat terpukau oleh taman bunga yang tertata rapi, rumah kaca luas dengan satu set meja-kursi bergaya klasik, kolam ikan yang jernih, labirin kecil dari pagar tanaman, hingga perkebunan apel yang harum.
Di antara semua itu, bangunan yang paling mencuri perhatiannya adalah perpustakaan besar keluarga—ruang dua lantai yang dipenuhi rak-rak kayu gelap, menjulang dari lantai hingga langit-langit.
Bahkan ada penjaga perpustakaan khusus yang membungkuk hormat saat mereka lewat.
“Perpustakaan ini biasanya hanya bisa dikunjungi olehku dan Ayah,” jelas Estevan sambil menuntunnya menaiki tangga spiral. “Ada beberapa buku yang berkaitan dengan keluarga Carlitos dan Istana Kekaisaran. Tidak semua orang boleh menyentuhnya.”
Mereka sampai di lantai dua. Ketika penjaga perpustakaan sibuk di bawah, Estevan langsung menariknya ke dalam pelukan hangat.
“E-Evan …” Beatrice terperangkap di dadanya, tubuhnya menegang.
Pria itu menundukkan wajah, suaranya rendah dan nyaris seperti keinginan yang tertahan. “Apakah kamu sengaja merayuku sepanjang jalan, huh?”
“Siapa yang merayumu?” Beatrice buru-buru menyangkal—meski pipinya memerah.
Padahal ia tahu betul apa saja yang ia lakukan. Menyentuh jarinya sekilas, tidak sengaja jatuh ke arahnya, memberi kecupan ringan sambil menyentuh dada bidangnya … dan entah mengapa, setiap sentuhan kecil itu selalu memantik reaksi cepat pada diri Estevan.
Namun setiap kali pria itu ingin menahannya dan mencium bibirnya, selalu saja ada pelayan yang muncul dari balik tiang atau sengaja lewat membawa nampan. Membuat Estevan menahan diri lagi dan lagi—sampai rahangnya terlihat tegang sejak tadi.
Tangannya kini berada di pinggang Beatrice, mengusap lembut namun penuh dominasi. “Siapa yang tadi terus menyentuhku sana-sini?”
“Aku cuma … tidak sengaja jatuh,” jawab Beatrice, pura-pura polos.
“Oh, begitu?” Estevan terkekeh pendek, tatapan keemasannya mengunci wajahnya. Ada bahaya kecil di balik senyuman itu. “Kamu menyalakan api sepanjang jalan, Bee. Haruskah kamu memadamkannya sekarang?”
Beatrice pura-pura batuk. “Aku sedang tidak sehat.”
“Mm. Aneh sekali … kamu makan dua kali lebih banyak dariku hari ini.” Estevan memintal beberapa helai rambut almond-blondenya dengan santai.
“Dokter bilang aku tidak boleh melakukan olahraga berat!” balas Beatrice cepat.
Estevan menaikkan alis, senyum samar terukir di bibirnya.