Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29.
Santi dan Aurley langsung menoleh ke arah jalan. Jantung Aurely berdetak lebih kencang saat kedua matanya sudah melihat bagian depan mobil Rizky..
“Ayo Rel!” suara Santi agak keras dan ia segera membalikkan tubuhnya, berlari ke jalan.
“Yah.. Bun.. Mas Rizky sudah datang!” teriak Aurely.
“Iya Ayah juga sudah siap.” Ucap Pak Baskoro bergegas melangkah.
Ibunya Aurely juga melangkah tergesa di belakang suaminya.. Aurely cepat cepat pamit pada Ibunya dan segera berlari ke jalan.
Mobil telah berhenti di tepi jalan di depan rumah kayu Aurely. Jantung Aurely kini berdetak lebih keras lagi. Bukan karena Elin dan Elang yang tidak muncul dari pintu depan mobil. Akan tetapi di balik kaca depan, Aurely melihat Ibu Retno duduk dengan tenang di jok depan di samping Rizky.
Aurley dengan tangan gemetar memegang lengan Ayahnya, “Yah itu Bu Retno.” Ucap lirih Aurely berjalan di samping Ayahnya. “Mamanya Mas Rizky.” lanjutnya
“Ooo bagus kalau begitu, Ayah akan minta izin pada beliau. “ ucap Pak Baskoro dengan suara tenang.
Mobil itu berhenti sempurna. Mesin masih menyala pelan. Rizky turun lebih dulu, senyumnya hangat seperti biasa, tapi matanya sempat melirik ke arah ibunya, seolah memastikan sesuatu.
“Pagi, Pak,” sapa Rizky sambil menunduk hormat ketika melihat Pak Baskoro mendekat.
“Selamat Pagi, Mas,” jawab Ayah Aurely sambil membalas anggukan. Tangannya sedikit kaku, tapi sorot matanya tetap tenang.
Pintu depan dibuka dari dalam. Ibu Retno turun dengan gerakan anggun yang sederhana. Baju kerjanya elegan rapi, tas kerja tersampir di bahu. Matanya menyapu halaman rumah kayu itu, berhenti sejenak di wajah Aurely, lalu ke Pak Baskoro.
“Selamat pagi,” ucapnya ramah.
“Selamat Pagi, Bu,” jawab Pak Baskoro sopan. “Maaf, saya numpang sebentar. Anak saya sudah minta izin… sampai jalan raya saja.”
Ibu Retno tersenyum tipis. Senyum orang yang terbiasa berada di posisi memberi keputusan. “Oh, ini Pak Baskoro, Ayahnya Aurely ya?” katanya. “Rizky sudah cerita. Silakan, Pak. Tidak masalah.” Ucapnya, “dan Bapak bisa turun di pasar.”
Aurely mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Tangannya sedikit mengendur dari lengan Ayahnya.
“Terima kasih, Bu,” kata Pak Baskoro tulus. “Saya sampai jalan raya saja tidak apa apa.”
“Mobil juga mau ke pasar dulu, mengantar saya ke kios catering di Pasar. Wiwid belum bisa ke sana.” jawab Ibu Retno ringan. “Tak perlu sungkan. Kerja di pasar itu berat. Saya tahu.”
Kalimat itu membuat Ayah Aurely menoleh sebentar. Ada kilat kecil di matanya, bukan kaget, tapi seperti dihargai.
Aurely lebih kaget lagi, karena sikap Bu Retno benar benar beda. Tidak seperti sikap yang diberikan kepada dirinya.
Mereka pun naik ke dalam mobil. Ayah duduk di kursi belakang bersama Santi dan Aurely.
Di dalam mobil aroma masakan menguar. Di jok paling belakang ada tumpukan box box besar transparan berisi lauk pauk dan sayur. Ada sayur gudeg kering, ada sambel goreng ati-kentang, kering tempe, perkedel, tahu tempe. Semua itu diambil Rizky dari rumah produksi satu. Akan dibawa di kios cabang baru di dekat kampus.
Mobil mulai melaju pelan meninggalkan rumah kayu itu.
Mobil Rizky melintas perlahan di depan rumah Pak Sastro.
Nurul berdiri di balik pagar besi, tangannya mencengkeram jeruji. Matanya mengikuti mobil itu sampai hampir menghilang dari tikungan.
“Pak… Pak…” panggilnya keras.
Pak Sastro keluar ke teras sambil membawa cangkir kopi. Rumahnya tampak cukup bagus, hasil dari masa lalu yang tak pernah benar-benar ia ceritakan dengan jujur. Namun banyak tetangga tahu. Pak Baskoro dan almarhum Kakeknya Aurely yang membantu. Pak Sastro adalah tetangga, namun masih ada hubungan kerabat meskipun jauh.
“Apa?” tanyanya datar, matanya menyipit ke arah jalan.
“Aurely dijemput lagi sama Mas Rizky,” jawab Nurul. Lalu dengan suara lebih rendah, penuh rasa tak suka, ia menambahkan,
“Pak Baskoro juga ikut di mobil itu.”
Pak Sastro terdiam sejenak. Tangannya berhenti di udara sebelum menyeruput kopi.
“Hm,” dengusnya. “Enak ya hidup mereka.”
Nurul melangkah mendekat, wajahnya masam.
“Iya, Pak. Kok bisa sih? Mereka itu baru susah sebentar, sekarang sudah mau naik lagi.”
Nada suaranya tajam. “Apalagi Aurely baru beberapa hari di sini sudah didekati Mas Rizky.”
Pak Sastro menatap jalan kosong itu lebih lama dari perlu. Rahangnya mengeras.
“Namanya juga orang yang selalu minta belas kasihan,” katanya dingin. “Dulu ayahnya dibantu. Sekarang anaknya yang panen hasil.” Ucapnya memutar balikkan fakta. Padahal almarhum kakek Aurley dan Pak Baskoro yang membantu dirinya dulu.
Nurul mengepalkan tangan.
“Mas Rizky juga aneh. Kenapa sih mau dekat-dekat sama dia?”
Ada dengki terang-terangan di matanya. “Padahal… Aurely itu sekarang bukan siapa-siapa.”
Pak Sastro tersenyum tipis, bukan senyum senang.
“Sabar,” katanya pelan, tapi nadanya penuh arti.
“Orang yang cepat naik, biasanya jatuhnya juga cepat.”
Nurul akhirnya tersenyum. Senyum kecil yang pahit.
Sementara itu mobil Rizky terus melaju..
Beberapa menit pertama sunyi. Hanya suara mesin dan jalan pagi yang masih sepi. Rizky sesekali menatap Aurely dari spion depan, dan menoleh sekilas ke arah Mamanya. Dalam hati Rizky terus berdoa agar Snag Mama terus bersikap baik pada keluarga Aurely .
Sesaat kemudian..
“Pak,” suara Ibu Retno memecah keheningan, “belum lama tinggal di sini ya?” lanjutnya sambil menoleh ke belakang.
“Iya Bu, belum lama. Kami harus kembali ke sini. Di desa, di rumah Ayah saya yang sudah lama kami tinggalkan.” Jawab Pak Baskoro dengan santun, “Sebagai pendatang baru kami minta maaf jika sikap kami ada salahnya.” Lanjut Pak Baskoro sambil memeluk Aurely dari samping.
Aurely menunduk masih teringat sikapnya yang tidak baik pada Rizky dan kedua bocil.
Bu Retno mengangguk, “Iya Pak, kalau ada masalah jangan sungkan. Saya bisa memahami posisi Pak Baskoro.” Ucap Bu Retno pelan. Kedua matanya kini tampak memerah, “saya tahu ekonomi dunia sedang tidak stabil. Suami saya juga terkena imbasnya..” lanjutnya. Lalu ia menoleh ke arah Rizky..
“Kami dua tahun ini juga dalam perjuangan untuk bangkit. Untung dibantu Wiwid adik saya..” ucap Bu Retno jujur. “Papanya Rizky malah harus ke luar Jawa Pak, karena perusahaan tempat dia bekerja di sini juga bangkrut.”
Aurely terdiam kini ia mengerti Rizky dan keluarganya pun mengalami hal yang sama. Jatuh. Dan mereka tidak menyerah. Bahkan keluarga harus terpisah untuk sementara.
Tanpa Aurely sadari ia menggenggam erat tangan Ayahnya.. Ada rasa syukur di hatinya Sang Ayah dan Bunda nya masih setiap hari ada didekatnya.
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting