Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30 Skipp sore/Rumah Masa Depan di Pojok Sawah
Matahari sore yang mulai condong ke barat menciptakan semburat cahaya emas di hamparan sawah hijau yang membentang luas. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah dan padi yang menenangkan, jauh dari hiruk-pikuk suara santri di pesantren.
Mobil Gus Azkar berhenti tepat di depan sebuah rumah bergaya minimalis dengan sentuhan kayu jati yang kental. Rumah itu berdiri kokoh di pojok jalan setapak, dikelilingi oleh pagar tanaman bunga melati yang harumnya menyerbak tertiup angin sore.
Rina turun dari mobil dengan bantuan Gus Azkar karena kakinya masih sedikit pincang. Ia memandang bangunan di depannya dengan mata berbinar. Rumah itu tampak sangat asri, dengan teras luas yang langsung menghadap ke arah matahari terbenam.
"Mas... rumahnya gak besar dan gak kecil, pasti adem ya," ucap Rina sambil menghirup udara segar sedalam-dalamnya. Ia merasa seolah beban di pundaknya terangkat seketika saat melihat ketenangan di tempat ini.
Gus Azkar tersenyum puas melihat binar bahagia di wajah istrinya. Ia merangkul pinggang Rina dan membimbingnya naik ke teras. "Sesuai janji Mas, kan? Di sini tidak akan ada yang mengusikmu. Hanya ada kita berdua."
Gus Azkar membuka pintu utama yang terbuat dari kayu jati ukir. Saat pintu terbuka, hawa sejuk langsung menyambut mereka. Di dalamnya, perabotan tertata rapi dengan nuansa hangat. Namun, perhatian Rina teralihkan pada sebuah ruangan di sudut yang pintunya terbuka sedikit.
"Mas, itu ruangan apa?" tanya Rina penasaran.
Gus Azkar terkekeh, ia menuntun Rina menuju ruangan itu. "Buka saja sendiri."
Saat Rina mendorong pintunya, ia terkesiap. Ruangan itu memiliki cermin besar yang menutupi salah satu dindingnya, persis seperti studio tari. Lantainya berbahan parket kayu yang halus, dan ada sebuah sound system berkualitas tinggi di pojok ruangan.
"Mas tahu kamu suka berekspresi lewat gerakan. Daripada kamu sembunyi-sembunyi di kamar asrama, Mas siapkan tempat ini. Kamu bisa goyang sepuasmu di sini, mendengarkan lagu DJ-mu kencang-kencang tanpa ada yang protes," bisik Gus Azkar di telinga Rina.
Rina langsung berbalik dan memeluk Gus Azkar dengan sangat erat. "Mas! Ini beneran buat aku? Mas nggak marah aku goyang-goyang?"
Gus Azkar membalas pelukan itu, ia menenggelamkan wajahnya di leher Rina. "Tentu saja tidak, asalkan—seperti yang Mas bilang kemarin—hanya Mas satu-satunya penontonmu. Dan ingat, ruangan ini kedap suara, jadi mau sekeras apa pun kamu menyetel musik... atau sekeras apa pun kamu berteriak nanti malam, tidak akan ada tetangga yang dengar."
Wajah Rina yang tadi terharu seketika berubah menjadi merah padam saat menangkap maksud tersembunyi dari ucapan suaminya. "Mas Azkar! Baru nyampe loh ini!"
"Baru nyampe bukan berarti tidak bisa 'pemanasan' kan, Sayang?" goda Gus Azkar sambil mengangkat Rina ke dalam gendongannya lagi, membawa istrinya menuju kamar utama yang pemandangannya langsung menghadap ke sawah yang mulai menggelap.
Gus Azkar melangkah lebar membawa Rina masuk ke dalam kamar utama. Ruangan itu didominasi warna krem dan kayu hangat, dengan sebuah ranjang king size yang tampak sangat empuk di tengahnya. Jendela besarnya langsung menyuguhkan siluet hamparan sawah yang mulai diterangi cahaya bulan.
"Kamarnya cukup besar, kan, Sayang?" tanya Gus Azkar sambil mendudukkan Rina dengan sangat hati-hati di tepi kasur.
Rina melihat sekeliling, matanya menyisir setiap sudut ruangan yang tertata apik. "Iya, Mas... bagus banget. Tapi..." Rina mulai mengipasi lehernya dengan tangan.
Wajahnya terlihat sedikit berkeringat, entah karena suhu udara sore itu atau karena rasa gugup yang sejak tadi menyelimutinya. "Kok gerah ya, Mas? Aku izin mandi duluan ya, biar seger."