Novel Keempat belas🌶
(area 🌶. no bocil-bocil please)
Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Cinta itu Ilusi
Bian tak percaya. Theo meninggalkannya begitu saja? Bian pun menghubungi Theo.
"Halo, Yang," sahut Theo entah di mana dari sambungan telepon.
"Yang, kamu kenapa pergi?" cemberut Bian.
"Maaf, Yang. Tadi Mama minta aku cepet pulang. Ada perlu sebentar. Kamu udah selesai? Aku jemput ya sekarang?" tawar Theo.
"Rumah kamu jauh dari sini. Belum lagi macet banget di jam-jam segini. Udah aja kamu gak usah kesini lagi. Biar aku telepon daddy aja."
"Jangan, Yang. Please..."
Lalu terdengar suara wanita. "Udah dong teleponnya. Kamu..." .
"Yang, nanti aku telepon lagi." Lalu sambungan telepon pun terputus.
Bian merasa aneh. Suara siapa itu? Apa mungkin ibunya Theo? Tapi nada bicaranya kenapa seperti itu? Terkesan manja untuk sebuah larangan dari seorang ibu yang sedang menegur anaknya.
Apa jangan-jangan...
Bian langsung menepis pikiran itu. Tidak mungkin Theo berselingkuh. Cowok itu sangat posesif terhadapnya. Tidak mungkin itu terjadi.
Aku percaya sama Theo, ujar Bian dalam hati.
Kemudian ia mengganti pakaiannya dan menghapus make up dari wajahnya. Ia akan menunggu Theo menjemputnya.
[Bian]: Aku nunggu kamu dateng di kafe depan. Aku gak akan minta daddy jemput.
Dikirimlah pesan itu pada Theo, lalu Bian menunggu kedatangan Theo di kafe yang berada tak jauh dari tempat pemotretan itu. Duduklah Bian di salah satu meja sambil memesan segelas es teh tanpa gula.
Satu jam berlalu. Bian masih sabar karena ia tahu rumah Theo dengan tempatnya berada ini sangatlah jauh. Ia kembali membuka ruang obrolannya dengan Theo. Belum ada balasan dari Theo. Bahkan Theo belum membuka pesannya. Bian menjadi gelisah.
Kemudian sebuah notifikasi masuk. Segera Bian meraih ponselnya yang ia simpan di meja. Ia kira itu balasan dari Theo, ternyata sang ayah yang mengirim pesan.
[daddy]: Nak, kamu masih di mana? Kenapa belum pulang?
Radit nampak khawatir. Bian pun merasa bersalah. Tapi ia tak mau membuat nama Theo menjadi buruk di mata sang ayah.
[Bian]: Bentar ya, Dad. Bian lagi bareng sama Theo. Ini nongkrong dulu di kafe. Gak apa-apa ya?
Bian pun mengirimkan foto gelas berisi es teh kepada Radit.
[daddy]: Ya udah jangan lama-lama. Ini udah jam berapa, besok kamu masih harus sekolah.
[Bian]: Iya, Dad. Bentar lagi Bian pulang. Daddy tenang aja, Theo bakal anter Bian sebelum jam 8 malam.
Dikirimkannya pesan itu pada sang ayah. Bian kembali gelisah. Ia pun memutuskan untuk menelepon Theo. Namun beberapa kali dihubungi, tak ada jawaban. Bian menghela nafasnya panjang.
Setengah jam berlalu. Theo masih tak ada kabar. Bian masih berada di sana dengan gelas es teh tanpa gula kedua sudah Bian habiskan.
"Ke mana sih..." gumam Bian kecewa.
"Bian?"
Bian mendongak dan melihat Saga berdiri tak jauh darinya. Ia menghampiri Bian. "Ngapain kamu di sini?" tanya Saga yang kini duduk di hadapan Bian.
Mood Bian semakin buruk melihat Saga di situasi seperti ini.
"Siapa yang nyuruh lo duduk di situ?" ketus Bian.
"Galak banget sih kamu sama kakak sendiri," protes Saga.
Bian tercengang. Jadi sekarang Saga mengakui dirinya adalah kakak dari Bian? "Sekarang lo adalah Kakak gue?"
"Kan emang Kakak itu kakak kamu," tegas Saga. "Kamu bukannya lagi pemotretan? Dianter sama cowok kamu 'kan?"
"Gak usah banyak tanya." Bian melotot galak.
"Saga," panggil seseorang yang baru saja datang. Bian dan Saga mendongak dan nampak seorang perempuan cantik dengan setelan kantoran menghampiri mereka. "Ini...siapa?"
"Kenalin, adik sambung gue, Bian," ujar Saga memperkenalkan. "Bi, ini Leona, temen Kakak."
Bian tersenyum tipis sekali lalu melihat ke arah lain.
"Kamu Bianca pacarnya Theo 'kan?" tanya Leona.
Sontak Bian menatap ke arah Leona dengan wajah heran. "Iya, Mbak ini...?"
"Aku sekretarisnya Bu Julia, ibunya Theo." Leona memperkenalkan.
Wajah Bian berubah dari jutek menjadi penuh harap. "Mbak Leona sekretarisnya mamanya Theo? Mbak tahu gak Theo sama mamanya lagi bareng atau enggak?" tanya Bian antusias bercampur gelisah.
"Apa? Jadi kamu di sini sendirian? Si Theo pergi ninggalin kamu?"
"Berisik," desis Bian.
"Iya dari sekitar tiga jam yang lalu, Theo jemput Bu Julia dan mereka pergi," terang Leona. "Kamu di sini nunggu Theo?"
"Iya, Mbak. Tapi dia gak ada kabar." Bian sedikit lega. Setidaknya Theo bukan pergi bersama perempuan lain. Theo bersama dengan ibunya.
"Harus dikasih pelajaran nih anak majikan lo, Le," ujar Saga dengan nada geram dan sedikit canda. "Masa dia nyuruh adik gue nunggu kayak gini?"
Sedikitnya hati Bian menghangat karena ucapan Saga. Setidaknya ada yang bersimpati padanya. Baru kali ini Bian dibuat menunggu seperti ini. Bian merasa kesal sendiri. Kenapa ia harus mengalami hal ini? Menunggu tanpa kejelasan, tapi jika pulang sendiri pun ia tak mau.
"Le, gue anter adik gue dulu ya?" Theo meminta izin.
Sontak Bian menimpali. "Gak usah, ngapain lo mau anter gue segala?" sentak Bian. "Lo mau nama Theo jadi jelek di depan bokap gue?"
"Kamu kok malah mikirnya kayak gitu? Kakak cuma pengen anterin kamu. Daddy pasti khawatir sama kamu. Besok juga kamu masih sekolah, sekarang udah jam segini. Udah Kakak anterin."
Bian tidak bisa tidak setuju. Tapi di sisi lain mau sampai kapan Bian menunggu Theo? Setidaknya Bian tahu Theo tidak macam-macam. Dia pasti mendapatkan aturan yang lebih tegas dari ibunya karena kejadian bolos kemarin. Bian sekarang malah menyesal setuju pada ide Theo untuk bolos waktu itu. Sekarang ibu Theo pasti memaksa Theo untuk belajar lebih rajin lagi. Apalagi Theo selama ini dikenal sebagai siswa dengan nilai yang selalu bagus.
Begitu pikir, Bian.
Tanpa menunggu jawaban Bian, Saga meraih tangan Bian. "Gue anterin dulu ya. Lo kalau mau balik, balik aja."
"Ya udah gak apa-apa. Sampai ketemu ya, Ga."
Kemudian Bian membiarkan tangannya digenggam Saga dan berjalan di belakang Saga menuju ke mobilnya. Akhirnya Bian berada di mobil Saga, duduk di kursi penumpang dan termenung melihat ke luar jendela.
"Mungkin dia ada perlu," hibur Saga.
Bian menghargai itu. Saga membuat Bian semakin berpikir positif pada Theo. Namun...
"Perlu sama cewek lain."
Seketika Bian menyesal sudah berpikir positif pada Saga. Ia lupa betapa red flag cowok ini.
"Jangan terlalu dipikirinlah. Biarin dia seneng-seneng sama cewek lain. Kamu juga 'kan sering seneng-seneng sama Kakak."
"Ralat, ya. Lo yang seneng-seneng. Bukan gue," ketus Bian. "Lagian lo gak akan ngerti. Lo gak pernah ngerasain gimana rasanya jatuh cinta sama seseorang."
"Cinta itu cuma ilusi, Bi. Gak nyata."
"Kalau gak pernah jatuh cinta diem aja. Gak usah sok ngasih pendapat."
Saga pun diam tak menyahut lagi. Ia hanya menanggapinya dengan tawa gemas.
Di rumah, saat sudah cukup larut, saat Bian akan tidur, Bian mendengar pintu kamarnya diketuk. Ia pun membukanya. Saga berdiri di sana di ambang pintu kamarnya.
"Mau apa, lo?" tanya Bian.
"Gue mau ngehibur lo."
Dahi Bian mengkerut. Kemudian Saga masuk dan menutup pintu kamar Bian dan langsung saja menciumnya.
mending td ga usah ditolongin aja, biar kamu terbebas dr obsesi ibu yg ga ada akhlaknya itu