Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: KUNCI TERSEMBUNYI
#
"Tunggu," Arjuna angkat tangan sebelum Pixel mulai ngetik. "Kita gak bisa asal coba. Kita harus pikir ini dengan kepala dingin."
"Kepala dingin?" Pixel natap dia kayak dia gila. "Ayahmu baru aja mungkin mati. Kita diburu seluruh kota. Dan kau bilang kepala dingin?"
"Justru karena itu kita harus kepala dingin," jawab Arjuna, meski suaranya bergetar. "Kalau kita panik, kita salah. Kalau kita salah tiga kali, semua pengorbanan ayah sia-sia."
Sari duduk di lantai, kepalanya di tangan, mikir keras. "Pak Hendrawan selalu bilang dia bukan orang yang kompleks. Dia bilang dia suka hal-hal simple. Jadi passwordnya kemungkinan besar sesuatu yang simple tapi meaningful."
"Nama anak dia," kata Bu Lastri tiba-tiba. Semua noleh ke dia. "Maaf, Bu gak bermaksud ikut campur. Tapi Bu kenal Pak Hendrawan cukup lama. Dan satu hal yang Bu tau, dia cinta anaknya lebih dari apapun di dunia ini."
"Arjuna," gumam Pixel. "Password cuma 'Arjuna'?"
"Coba," kata Arjuna.
Pixel ngetik: A-r-j-u-n-a
Enter.
Layar berkedip. Muncul tulisan: "PASSWORD SALAH. TERSISA 2 PERCOBAAN."
"Sial," Pixel mundur dari laptop kayak benda itu bakal meledak. "Salah."
"Tenang," Sari pegang bahunya. "Masih ada dua kali. Pikir lagi."
"Mungkin pake angka," kata Arjuna. "Tanggal lahir ku? 15 Maret 2004. Jadi Arjuna150304?"
"Atau nama lengkap," tambah Bu Lastri. "Arjuna Wibowo."
"Atau tempat lahir," Pixel mulai panik sekarang. "Atau nama ibu kau. Atau gabungan semuanya. Kemungkinannya terlalu banyak!"
"Tunggu," Sari berdiri. "Tunggu. Kita liat ini dari sudut pandang yang salah."
"Maksudmu?"
"Maksudku, ini bukan password untuk Arjuna," Sari mulai mondar-mandir. "Ini password untuk enkripsi data tentang Adrian. Data yang Pak Hendrawan kumpulin selama sepuluh tahun. Jadi passwordnya mungkin bukan tentang Arjuna. Tapi tentang Adrian."
"Tentang Adrian gimana?" tanya Pixel.
"Tentang kelemahan Adrian," jawab Sari. Matanya mulai nyala dengan sesuatu. "Pak Hendrawan bilang setiap orang punya kelemahan. Dan kelemahan Adrian adalah..."
Dia berhenti. Natap Arjuna.
"Adalah apa?" tanya Arjuna.
"Adalah cinta," bisik Sari. "Adrian pernah bilang ke aku waktu dia lagi mabuk suatu malam. Dia bilang dia pernah cinta. Cinta beneran. Bukan ke ibuku. Tapi ke orang lain. Orang yang dia gak bisa dapetin. Orang yang kabur dari dia."
"Siapa?"
"Profesor Ratna Dewi," jawab Sari. Semua diam. "Dia dosen Adrian dulu. Dosen kriptografi. Adrian jatuh cinta sama dia tapi dia gak balas. Malah dia ekspos salah satu skema bisnis Adrian yang ilegal. Adrian coba bunuh dia tapi dia kabur."
"Profesor Ratna," gumam Pixel. "Nama itu familiar. Aku yakin aku pernah denger."
"Pak Hendrawan pernah sebut dia," kata Arjuna tiba-tiba ingat. "Waktu di Desa Lembah Kabut. Dia bilang ada satu nama yang masih hidup. Saksi masa lalu Adrian. Dan nama itu..."
"Profesor Ratna Dewi," mereka bilang bersamaan.
"Jadi password nya Ratna?" tanya Pixel.
"Coba," kata Sari.
Pixel ngetik: R-a-t-n-a
Enter.
Layar berkedip lagi. "PASSWORD SALAH. TERSISA 1 PERCOBAAN. PERINGATAN: DATA AKAN TERHAPUS PERMANEN JIKA SALAH LAGI."
"SIAL!" Pixel pukul lantai. "Salah lagi! Kita cuma punya satu kesempatan lagi!"
"Tenang," Arjuna coba tenang meski jantungnya mau copot. "Tenang. Kita bisa."
"Gak bisa!" Pixel teriak. "Kita gak tau passwordnya! Kita cuma nebak-nebak! Dan nebakan terakhir kita akan tentuin apakah semua ini sia-sia atau gak!"
"Maka kita gak bisa asal nebak," kata Sari. Dia duduk lagi di depan laptop. Natap layar dengan intensitas yang menakutkan. "Kita harus tau. Bukan nebak. Tau."
"Gimana kita bisa tau?" tanya Pixel frustasi.
"Dengan nemuin Profesor Ratna," jawab Sari. "Dia yang bikin enkripsi ini. Atau setidaknya dia yang ajarin Pak Hendrawan cara bikin enkripsi. Dia pasti tau passwordnya."
"Tapi kita gak tau dia dimana," kata Arjuna. "Ayah bilang dia hilang setelah pensiun dini."
"Hilang bukan berarti gak bisa dilacak," Pixel mulai ngetik di tab lain, search engine. "Beri aku lima menit."
Lima menit jadi sepuluh. Sepuluh jadi dua puluh. Pixel search dimana-mana. Database universitas. Media sosial. Catatan publik. Forum akademis.
"Gak ada," katanya akhirnya dengan putus asa. "Dia kayak hantu. Terakhir kali namanya muncul adalah sepuluh tahun lalu pas dia resign dari universitas. Setelah itu? Nothing. Menghilang total."
"Orang gak bisa menghilang total," kata Bu Lastri. "Pasti ada jejak. Pasti ada orang yang tau."
"Tunggu," Sari ambil laptop dari Pixel. Buka tab baru. "Adrian punya database pribadi tentang orang-orang yang dia anggap ancaman. Aku sempet liat waktu aku hack sistemnya. Database itu ada di server yang beda, terpisah dari yang lain. Aku download sebagian tapi gak sempet liat isinya."
Dia buka folder terenkripsi yang beda. Yang ini passwordnya dia tau: tanggal lahir Adrian. Egois sampai passwordnya tanggal lahir sendiri.
Folder terbuka. Dalemnya penuh file PDF. Ratusan. Masing-masing nama orang.
"Cari Ratna," kata Arjuna.
Sari ketik di search box. Muncul satu file: RATNA_DEWI_PRIORITAS_TINGGI.pdf
Dia buka.
Di dalemnya ada foto wanita paruh baya. Cantik meski udah ada uban di rambutnya. Mata tajam di balik kacamata. Wajah yang terlihat cerdas.
Di bawah foto ada biodata:
NAMA: Ratna Dewi
UMUR: 52 tahun
PROFESI: Mantan Profesor Kriptografi Universitas Indonesia
STATUS: KABUR
LOKASI TERAKHIR: Unknown
TINGKAT ANCAMAN: EKSTRIM
CATATAN: Mengetahui detail operasi awal. Memiliki kemampuan untuk dekripsi semua sistem. HARUS DITEMUKAN DAN DIELIMINASI.
"Ekstrim," bisik Pixel. "Dia anggap seorang profesor tua sebagai ancaman ekstrim."
"Karena dia tau terlalu banyak," kata Sari sambil scroll ke bawah. Ada log upaya pelacakan. Puluhan. Ratusan. Selama sepuluh tahun Adrian coba lacak Ratna tapi selalu gagal.
Log terakhir:
TANGGAL: 15 Januari 2026
SUMBER: Informan Kota Pesisir Senja
INFO: Target terlihat di pasar lokal membeli ikan. Memakai jilbab coklat dan kacamata hitam. Tinggal di daerah nelayan, rumah nomor tidak teridentifikasi.
TINDAKAN: Tim investigasi dikirim. Target kabur sebelum kontak. Jejak hilang lagi.
"Kota Pesisir Senja," kata Arjuna. "Kota yang sama dimana markas The Black Serpent."
"Dia sembunyi di tempat paling berbahaya," gumam Pixel. "Genius. Adrian gak akan expect dia ada di sana karena itu teritorinya sendiri."
"Tapi itu juga artinya kita harus balik ke kota dimana kita hampir mati waktu nyelamatin Maya," kata Sari. "Balik ke sarang naga."
"Kita gak punya pilihan," Arjuna berdiri. "Kita butuh dia. Dia satu-satunya yang bisa buka enkripsi ini. Dan mungkin satu-satunya yang bisa kasih tau kelemahan Adrian yang sebenarnya."
"Tapi gimana kita ke sana?" tanya Pixel. "Mobil kita udah dilacak pasti. Identitas kita terbongkar. Kita gak bisa naik bis atau kereta tanpa ketahuan."
Bu Lastri berdiri. "Bu punya teman. Teman yang punya truk kontainer. Dia sering bawa barang ke Kota Pesisir Senja. Kalau kalian mau, Bu bisa atur kalian numpang di kontainer. Gak nyaman tapi aman."
"Kontainer?" Pixel ngeliatin Bu Lastri gak percaya. "Kami mau disembunyiin kayak barang selundupan?"
"Kau punya ide lebih baik?" Bu Lastri balik nanya.
Pixel diam.
"Aku pikir gak," lanjut Bu Lastri. "Sekarang kemas barang kalian. Truk berangkat jam enam sore. Dua jam lagi."
Mereka packing dengan cepat. Gak banyak barang. Cuma laptop, beberapa baju ganti, dan pistol yang Hendrawan tinggalin. Arjuna pegang pistol itu dengan tangan yang gak stabil. Ini pistol ayahnya. Pistol yang mungkin dia pake terakhir kali untuk lindungi mereka.
"Aku akan bawa ini," katanya pelan. "Bawa sebagai... sebagai kenangan. Dan sebagai senjata kalau dibutuhin."
Sari pegang tangannya yang pegang pistol. "Dia bangga sama kau. Aku tau dia bangga."
"Aku harap kau benar," bisik Arjuna.
Jam enam sore mereka di belakang truk kontainer besar. Sopirnya pria tua dengan kumis tebal yang gak banyak nanya. Bu Lastri udah kasih tau dia situasinya tapi dia gak kelihatan kaget atau takut.
"Naik," katanya singkat. "Di dalem ada kardus kosong. Bersembunyilah di balik kardus. Jangan keluar apapun yang terjadi. Perjalanan delapan jam. Kalian sampai tengah malam."
Mereka naik. Kontainer gelap dan pengap. Bau kardus basah dan sesuatu yang udah busuk. Tapi gak ada pilihan.
"Hati-hati," Bu Lastri melambai dari luar sebelum pintu kontainer ditutup. "Dan kalau kalian ketemu Profesor Ratna, sampaikan salam Bu. Bu dulu juga muridnya. Dia guru yang baik."
"Bu kenal dia?" Arjuna nanya sebelum pintu tertutup total.
"Kenal," jawab Bu Lastri dengan senyum. "Lebih dari yang kalian pikir."
Lalu pintu tertutup. Gelap total.
Truk mulai jalan.
Mereka duduk di lantai kontainer yang dingin, dikelilingi kardus, dalam kegelapan yang cuma disinari sedikit dari celah-celah kecil.
"Delapan jam," gumam Pixel. "Delapan jam di neraka kecil ini."
"Setidaknya kita masih hidup," kata Sari. "Masih punya kesempatan."
"Kesempatan untuk apa?" tanya Pixel. "Kesempatan untuk mati di kota yang sama dimana Bagas mati? Kesempatan untuk gagal lagi?"
"Kesempatan untuk menang," jawab Arjuna keras. "Untuk sekali ini, untuk satu kali aja, kita akan menang. Kita akan dapetin Profesor Ratna. Kita akan buka enkripsi. Kita akan jatuhkan Adrian. Dan kita akan hidup untuk cerita ke orang lain tentang gimana kita bertahan."
"Optimisme yang bagus," kata Pixel. "Tapi aku harap kau benar. Karena kalau gak..."
"Kalau gak kita mati," potong Sari. "Kita semua tau itu. Tapi lebih baik mati sambil berjuang daripada mati sambil sembunyi."
Hening. Cuma suara mesin truk dan ban di aspal.
"Sari," Arjuna bilang di kegelapan. "Waktu di rumah Adrian. Apa yang dia lakukan ke kau?"
Hening lama. Terlalu lama.
"Dia gak sakitin aku secara fisik," jawab Sari akhirnya. Suaranya kecil. "Tapi dia... dia bikin aku nonton. Nonton video ibuku. Video yang dia rekam saat dia... saat dia jual ibu ke perdagangan manusia. Video yang tunjukin gimana ibuku nangis, minta tolong, panggil namaku."
"Sari..." Arjuna coba pegang tangannya tapi gak ketemu di gelap.
"Setiap hari dia putar video itu," lanjut Sari, suaranya mulai pecah. "Setiap hari dia bilang 'ini karena ibumu mencintaimu. Karena dia lemah. Jangan jadi kayak dia. Jadi kuat kayak aku'. Dan aku... aku hampir percaya. Hampir percaya kalau cinta itu kelemahan. Kalau jadi monster itu lebih baik daripada jadi manusia."
"Tapi kau gak percaya," kata Pixel. "Kau masih di sini. Masih berjuang bersama kami."
"Karena aku ingat Pak Hendrawan," bisik Sari. "Ingat gimana dia ajarin aku dulu. Bilang kalau cinta bukan kelemahan. Cinta itu kekuatan. Kekuatan untuk tetap manusia di dunia yang pengen bikin kita jadi monster."
Arjuna akhirnya nemu tangannya. Genggam kuat. "Kau gak akan jadi monster. Gak akan. Aku jamin."
"Tapi kadang aku takut," bisik Sari. "Takut kalau aku udah jadi monster dan aku gak sadar. Takut kalau semua yang aku lakuin untuk balas dendam sebenernya bikin aku sama kayak Adrian."
"Kau gak sama," kata Arjuna keras. "Kau gak akan pernah sama. Karena kau peduli. Kau nangis untuk orang lain. Kau rela korbankan diri untuk orang lain. Monster gak lakuin itu."
Hening lagi. Lalu Sari bilang sesuatu yang bikin jantung Arjuna berhenti.
"Aku cinta kau, Arjuna. Aku cinta kau sejak pertama kali kau datang ke sekolahku. Sejak pertama kali kau main sama anak-anak dengan senyum yang tulus. Dan aku... aku takut gak akan pernah sempet bilang ini kalau kita mati besok."
Arjuna gak bisa napas. Gak bisa pikir. Cuma bisa rasain genggaman tangan Sari yang gemetar.
"Aku juga," bisiknya akhirnya. "Aku juga cinta kau. Udah lama. Tapi aku takut bilang karena aku pikir aku gak pantas. Aku cuma bocah desa yang gak punya apa-apa."
"Kau punya segalanya yang aku butuhin," bisik Sari. "Kau punya kebaikan. Punya keberanian. Punya hati yang masih bisa cinta di tengah semua kebencian ini."
Mereka pelukan di gelap. Pelukan yang erat. Yang desperate. Pelukan orang yang tau besok mungkin terakhir kalinya mereka bisa pelukan.
"Kalau kita selamat dari ini," kata Arjuna. "Kalau kita berhasil jatuhkan Adrian dan hidup untuk lihat besok, aku akan nikahi kau. Di depan semua orang. Gak peduli seberapa hancur dunia di sekitar kita."
"Itu proposal paling romantis yang pernah aku denger," Sari ketawa di tengah tangisnya. "Proposal di kontainer gelap sambil diburu pembunuh."
"Apa jawabanmu?"
"Ya," bisik Sari. "Iya. Seribu kali iya."
Mereka cium di gelap. Ciuman pertama yang manis dan desperate dan penuh dengan janji yang mungkin gak akan pernah bisa mereka tepatin.
Pixel batuk. "Kalian tau aku masih di sini kan? Masih bisa denger semua?"
Mereka ketawa. Ketawa yang terdengar gila di tengah situasi yang gak ada lucunya.
Tapi kadang ketawa adalah satu-satunya cara untuk gak gila.
Truk terus melaju di malam yang gelap.
Membawa mereka ke kota yang penuh bahaya.
Ke pertemuan dengan wanita yang mungkin bisa selamatkan mereka semua.
Atau bikin mereka mati lebih cepat.
Tapi apapun yang terjadi, setidaknya sekarang mereka tau.
Tau kalau mereka gak sendirian.
Tau kalau ada alasan untuk bertahan.
Alasan bernama cinta.