Arka kembali ke masa lalu di saat kota kelahiran nya masih aman dan sebelum gerombolan monster menyerang, Arka dengan kisah cinta mengejar perempuan cantik dari anak tuan penguasa kota dan kisah arka mengubah masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YuniPus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Bagian 29 – Sebuah Pukulan
Joko hanya mengolok, namun, ia tak menampik ucapan Sari. Sebaliknya, sikap tersebut hanya ditampakkan melalui nada dan cara ia berbicara.
Arya tak bereaksi sedikitpun, entah itu pujian Sari atau penghinaan Joko. Ucapan mereka tak dapat mempengaruhi Arya. Setelah terlahir kembali, Arya tak mudah terpancing oleh orang keji seperti Joko, yang tak memiliki kualifikasi berbicara dengannya.
“Joko, ada apa dengan perilakumu?” kata Sari, mengerutkan alisnya.
“Aku tertawa karena aku tak tahu makanan apa yang diberikan oleh pecundang ini kepadamu hingga kau mengatakan dia jenius! Seseorang yang hanya memiliki jiwa merah, apa yang ia capai di masa depan? Ia hanyalah sampah yang tak bisa disamakan dengan kita semua.” ejek Joko.
Hubungan Joko dengan saudara laki-laki Surya, Surya Putra tak berjalan baik, selain itu, ia tak begitu suka dengan Arya.
“Kau keterlaluan!” bantah Lestari mengerutkan alis. Ia merasa sebel mendengarnya. Walaupun Arya sedikit menjengkelkan, Lestari percaya bahwa Arya tak pernah berbohong. Namun, Arya suka merendahkan diri, makanya banyak orang yang tak tahu kemampuan yang ia miliki.
Tatapan Arya berubah menjadi dingin. Walaupun ia sama sekali tak menganggap Joko, namun bukan berarti ia akan diam saja diperlakukan seperti itu.
“Joko, kemampuan kamu juga tak lebih baik. Kau tiga tahun lebih tua dibanding Arya, namun, kau hanya level perunggu bintang 3 dan kau masih dapat berkomentar mengenai orang lain.” tawa Sari. Banyak anak-anak dari kalangan terpandang hampir mencapai level perak, dan Joko masih berada di level perunggu bintang 3.
Mendengar ucapan Sari, Joko merasa malu. Diantara temannya, kemampuan yang ia miliki tak begitu buruk, namun ia tak berusaha keras. Ia hanya bermain wanita, dan tak ada kesempatan untuk berlatih hingga level yang ia miliki hanya perunggu bintang 3.
“Lalu kenapa, setidaknya aku memiliki jiwa kuning. Jika aku sedikit berusaha, level perak bukan hal yang sulit bagiku. Sedangkan dia, aku yakin ia hanya akan berada di level perunggu bintang 1 seumur hidupnya!” bantah Joko sambil mengejek Arya dengan rasa kasihan.
Karena Arya hanya terdiam, Joko percaya bahwa Arya takut. Mereka menyukai Arya hanya karena tampang dan pandai merayu. Bagaimana bisa ia memiliki bakat?
Alam jiwa merah hanyalah sampah!
Tatapan tajam Arya mengarah ke Joko dan membuatnya terkejut, “Lalu, aku akan menantangmu. Siapapun yang kalah akan berlari 3 putaran dengan menirukan gaya anjing. Bagaimana?”
Setelah mendengarkan Arya, Lestari tiba-tiba mendorong Arya.
Ada apa dengannya? Menantang Joko? Arya bahkan belum mencapai level perunggu dan Joko telah berada di level perunggu bintang 3! perbedaan bagaikan langit dan bumi. Tidak mungkin terjadi.
Melihat tatapan Lestari, Arya merasakan kehangatan karena Lestari masih peduli terhadapnya.
Sari merasa terkejut dengan ucapan Arya, matanya tiba-tiba melirik Arya, ia tak terlihat seperti orang yang terburu-buru mengambil keputusan.
Mendengar ucapan Arya, Joko terdiam sesaat, lalu tertawa terbahak-bahak, “apa yang barusan ku dengar? Kau ingin menantangku? Haha, sangat lucu. Belum mencapai level perunggu dan kau ingin menantangku. Sangat lancang!”
“Arya, jangan gegabah!” bujuk Lestari, berpikir bahwa Arya tak masuk akal menantang Joko karena ejekan Joko sebelumnya.
“Bahkan jika aku tak menggunakan kekuatan jiwaku, hanya kekuatan fisik, aku dapat melumpuhkanmu!” kata Joko sambil tertawa sombong. Kekuatan fisik yang ia miliki berada di level perunggu bintang 1, “jika kau takut, belum terlambat untuk menarik kembali ucapanmu!”
Arya menggerakkan jemarinya, sambil membunyikan seluruh jemarinya bersamaan. Ia melihat Joko dan berkata, “jika sampah sepertimu tetap berada didepanku setiap hari, lalu aku pasti sangat sibuk! Sejak kau tak bisa menghargai, aku akan mengajarkan bahwa ada beberapa orang yang tak bisa kau pandang rendah!” Setelah selesai berbicara, Arya menatap ke arah Surya dan anak buahnya.
Ekspresi Joko berubah gelap. Ia menatap Arya dan berkata, “Kau yang meminta!”
Darma waspada, walaupun Arya begitu berpengetahuan, namun ia belum berada di level perunggu. Bagaimana ia dapat menang dari Joko? Seperti yang dikatakan Joko, bahkan jika ia tak menggunakan kekuatan jiwa, ia dapat melumpuhkan Arya dengan mudah.
Namun Arya bukan orang yang gegabah. Darma tak dapat menahan rasa penasarannya. Ia melambaikan tangan ke sekeliling sebagai pertanda untuk menjauh dari mereka berdua.
“Yakinlah, sebagai seorang pria, jika saya tak dapat mengatasi masalah ini, aku mungkin akan bunuh diri!” tawa Arya sambil melihat Lestari yang berada dibelakangnya.
“Kau…” wajah Lestari tiba-tiba merona. Ia menghentakkan kakinya ditanah, Arya sangat menyebalkan! Ia hanya menunjukkan pedulinya sebagai seorang teman, namun tak pernah menyangka bahwa kelakuan Arya akan membuatnya begitu marah, haruskah membiarkan mereka berdua!
Melihat tatapan marah Lestari, Sari hanya tersenyum ke arah Arya. Arya bukanlah orang yang membosankan dan hanya tahu cara merayu gadis. Namun sejak Arya hanya menatap biasa terhadapnya, apakah ia tak cukup cantik?! Karena ia merasa, dengan kecantikannya, ia dapat membuat pria menyukainya dengan mudah! Tapi, ini yang membuatnya merasa tertarik pada Arya.
Orang-orang sekitar bergerak mundur, memberikan ruang untuk Joko dan Arya.
Melihat kejadian ini, sinar mata Joko penuh emosi. Arya berani menantangnya, ia jelas-jelas cari mati. Ia berbicara dengan Surya Putra beberapa kali. Jika diberikan kesempatan, ia akan segera membunuhnya! Namun, entah mengapa, saat ia melihat tatapan Arya penuh keyakinan, ia merasa ini tak akan mudah.
Apakah Joko akan kalah? Tak mungkin. Semua orang tahu kemampuan Joko.
Meskipun kekuatan Arya baru mencapai 88 dan kekuatan fisik sekitar 50, Arya memiliki pengetahuan yang mendalam akan kekuatan jiwa dan fisik.
Arya mengaktifkan kekuatan jiwa untuk menguatkan kekuatan tubuhnya. Otot yang ia miliki mulai bermunculan. Walaupun otot tersebut tak jelas terlihat, namun memiliki kekuatan yang sangat kuat.
“Aku akan memberikanmu 3 kesempatan, agar aku tak dianggap melecehkan anak kecil,” kata Joko, meletakkan tangannya dibelakang. Ia dengan bangga melihat ke arah Arya dengan tatapan penuh penghinaan.
“Baiklah!” kata Arya. Ia berlari kearah Joko, sambil mempersiapkan siku untuk menyerang perut Joko.
“Ini semacam pukulan anak kecil, kau pikir kita sedang bermain?” Joko tertawa mengejek, melihat siku Arya yang hendak menyerang perutnya, ia mengusap tangannya dan menjaga jarak dengan Arya.
Di penglihatan Joko, siku Arya tak akan dapat menyentuh tubuhnya. Namun, saat itu, sudut bibir Arya sedikit terangkat.
Joko terlalu sombong!
Arya tiba-tiba menambah kecepatan, sikunya berubah menjadi sebuah tinju dan, dalam sekejap, ia menyerang ke arah perut Joko. Joko berasal dari keluarga terpandang, langkahnya terlihat biasa saja. Sangat jelas bahwa ia tak memiliki banyak pengalaman dalam pertarungan. Walaupun kekuatan fisik telah berada di level perunggu bintang 1, namun itu hanya berasal dari ramuan. Arya hanya menggunakan sedikit trik bertarung dan dengan mudah ia dapat mengatasi Joko!
Hanya sampai level ini, bukankah permainan kematian begitu mudah?
“Bahkan jika aku mempersiapkan banyak cara, namun aku sepertinya tak akan menggunakannya.”
Saat ia menyerang perut Joko, otot tangan Arya menegang. Mereka dapat melihat bagaimana kekuatan dari tinju Arya.
Wajah Joko yang sombong tiba-tiba berubah. Ia menekuk perutnya bagaikan seekor udang, melengkung punggungnya saat terjatuh ke tanah. Tubuhnya mengejang dan suara layaknya orang muntah dapat terdengar darinya. Pukulan itu membuat ususnya ingin keluar!
Melihat kejadian ini, mereka yang melihat terdiam bagaikan orang bodoh.
Joko merupakan iblis petarung perunggu bintang 3. Kekuatan tubuhnya telah mencapai perunggu bintang 1, namun ia jatuh hanya dengan tinju dari Arya?
Apakah Joko terlalu memandang rendah lawannya? Memberikan Arya kesempatan?
“Ini tak benar, berdasarkan kekuatan fisik, bahkan jika tinju Arya mendarat diperut Joko, ia tak dapat melukai Joko. Perbedaan kekuatan diantara mereka begitu jauh. Apa yang sedang terjadi? Hanya dengan sebuah tinju dapat merobohkannya?”
Saat ini, setiap orang berusaha memahami. Arya pasti menyembunyikan kekuatannya. Kekuatan fisik yang ia miliki pasti telah mencapai level perunggu bintang 1?
Yang mereka tak ketahui adalah Arya belum mencapai level perunggu bintang 1, namun ia dapat mengontrol kekuatannya. Saat ia menggunakan tinjunya, ia memusatkan seluruh kekuatan pada tinjunya. Selain itu, lokasi yang ia serang adalah yang terlemah. Untunglah tak sampai melumpuhkan Joko.
Dalam hal mengontrol kekuatan, Arya pasti seorang ahli! Walaupun kekuatan fisik level perunggu bintang 1, bahkan bintang 5 atau level perak jika mendapatkan pukulan dari Arya, mereka akan bernasib sama dengan Joko.
Menurut Arya, orang yang hanya tahu cara mengandalkan kekuatan adalah orang primitif.
Tatapan terkejut jelas terlihat dari mata Lestari. Pukulan Arya merobohkan Joko ketanah. Banyak hal yang melayang dipikiran Lestari. Arya belum mencapai level perunggu bintang 1. bagaimana ia dapat melakukannya? Lestari menyadari bahwa ia terlalu memandang rendah kekuatan Arya.
Sari menatap Arya dengan penuh rasa tertarik. Kekuatan Arya membuatnya terkejut, namun disaat yang sama, ia ingin mengetahui lebih mendalam tentang Arya.
“Menarik,” gumam Darma, menatap Arya dengan penuh kekaguman.
Joko berguling dalam waktu yang lama, tak dapat berdiri. Sebagai seorang anggota dari keluarga terpandang, ia tak pernah diperlakukan seburuk ini. Ia berpikir bahwa ia memiliki kekuatan yang lebih dibanding Arya dan menghinanya, makanya ia memberikan Arya 3 kali kesempatan. Namun, ia tak pernah menyangka hanya satu pukulan, ia telah terkapar ditanah, dan tak dapat bangkit.
Ia merasakan kesakitan yang tak terbayangkan bagaikan ususnya berantakan. Jika ia tak dapat menahannya, ia khawatir akan kehilangan kesadaran.
Saat ini, Arya menatap Joko ditanah, dengan tatapan yang menyedihkan sambil berkata, “Kau berkata bahwa kau memberikanku tiga kesempatan, ini adalah kesempatan pertama, masih tersisa 2.”
Mendengar perkataan Arya, mata Joko yang tadinya menahan sakit dan mencoba bangkit, berubah menjadi hitam.
Bjingn, apakah ia tidak memiliki rasa kemanusiaan? Kesempatan pertama telah mengambil hampir setengah nyawanya dan Arya masih meminta sisanya?!