Hidup ku hancur setelah di jual oleh ayahku pada seorang pria tua yang tidak aku kenal. Nama ku Alexsa Camellia usia ku masih cukup belia, 18 tahun. Di mana harusnya aku masih menginjak bangku sekolah dan bermain dengan teman teman sebaya ku. Namun mimpi buruk itu datang saat ibu ku meninggal dan aku harus bertemu dengan orang yang sudah menelantarkan ku sejak kecil, kedatangan nya bukan untuk menolong ku tapi mengingat kan pertukaran diriku dengan sejumlah uang.
Malam itu aku bertemu dengan seorang pria yang menolong ku saat aku berusaha kabur dari kejaran nya, pria itu memukul habis pria tua tidak tahu diri itu dan membawa ku pergi dari sana. Aku merasa aman tapi perasaan ku tetap waspada karena aku tidak mengenal pria itu, bisa saja dia lebih jahat dari ayah ku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ajani Wuhhgy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran
Alexsa sudah berada di kamar Sam sesuai dengan permintaan pria itu untuk menolong nya menyiapkan pakaian kerja dan juga memasang kan dasi untuk nya.
" Selamat pagi Alexsa?. " Sapa Sam yang sudah mengenakan kemeja nya dengan rapi.
" Selamat pagi tuan Sam, Alexsa berbalik membawa jas hitam dan juga dasi berwarna navy.
Gadis itu sedikit berjinjit untuk memasang dasi pada tubuh tinggi Sam.
" Bisa kah tuan Sam duduk saja, saya tidak bisa memasang kan dasi di leher anda dengan tenang. " Gimam Alexsa membuat Sam tertawa kecil kemudian duduk di tepi ranjang.
" Berapa tinggi badan mu Alexsa?. "
" 145 cm tuan Sam. " Ucap gadis itu dengan kesal.
Sam tertawa melihat Alexsa yang nampak kesal dia bertanya tentang tinggi badan.
" Anda tahu, berat badan dan tinggi badan adalah hal yang sensitif di tanyakan pada seorang wanita tuan. "
" Ah iya maaf, pantas saja tubuh mu begitu mungil saat bersanding dengan ku. " Dari bawah Sam bisa dengan leluasa menyelusuri wajah cantik Alexsa.
Wajahnya begitu mulus tanpa noda apapun meski dia tahu gadis itu tidak pernah tersentuh oleh perawatan kecantikan, Inerbeauty nya begitu keluar tampa dorongan apapun.
" Sudah selesai. " Ucap Alexsa memundurkan tubuh nya. Namun Sam dengan cepat membawa nya ke pangkuannya membuat tubuh mungil gadis itu menengang.
" Tu.. tuan Sam, apa yang anda lakukan?. " Gumam Alexsa bergetar.
" Lihat lah pipinya semerah tomat, gadis ini benar-benar mengemaskan. Entah lah kenapa ada sesuatu diriku yang selalu ingin berdekatan dengan nya?. " Batin Sam menatap intens Alexsa.
" Tuan Sam. " Seketika membuat Sam tersadar dan langsung melepaskan cengkraman tangan nya pada pinggang ramping Alexsa.
Gadis itu langsung berdiri dan membenarkan pakaian nya yang sedikit berantakan.
" Maaf Alexsa, saya tidak bermaksud memeluk mu. " Gumam Sam pelan.
" Ini jas anda tuan Sam, saya permisi. " Alexsa langsung pergi dari kamar Sam dengan dada yang berdebar. Seperti ada kupu kupu yang terbang di perut nya dan ada rasa canggung setiap kali berhadapan dengan Sam.
Laras yang sudah berada di meja makan melihat kedatangan Alexsa dari kamar putra merasa aneh.
" Selamat pagi Alexsa.. " Seru Laras membuat Alexsa terkejut. Seperti nya gadis itu lupa jika ada orang tua Sam yang berada di rumah itu sejak kemarin.
" Selamat pagi nyonya.. emmz ibu dan tuan besar. " Sapa Alexsa dengan hormat melihat orang tua Sam yang sudah ada di meja makan.
" Ibu?. " Bram nampak heran kenapa pelayan itu memanggil istir nya dengan sebutan ibu.
" Aku yang meminta Alexsa memanggil ku dengan sebutan ibu, tidak mengapa kan mas?. " Laras menatap suaminya yang sedang memperhatikan Alexsa yang menunduk.
" Hemzzz, tidak masalah. selagi itu membuat mu senang apapun itu terserah padamu saja Laras dan tunggu dulu kenapa kamu keluar dari kamar Sam dan Natasya?. "
" Haaaa, emmz maksud saya. It.. uuu.. tuan Sam meminta saya untuk menyiapkan semua pakaian kerja dan membantu nya memasang dasi tuan. Itu semua atas printah tuan Sam langsung. " Jelas Alexsa gugup takut jika orang tua Sam salah paham terhadap nya.
Mereka hanya mengangguk tanpa bertanya hal yang lain, mereka tahu jika Sam memang tidak bisa mengenakan dasi dengan baik, belum lagi Natasya yang selalu pergi dan pulang sesuka nya.
" Saya permisi. " Alexsa meninggalkan meja makan menuju dapur di mana bik Dariyam sedang mencuci piring dengan tenang.
" Bik.. "
Wanita tua itu berbalik dan tersenyum menatap Alexsa.
" Iyaa, ada apa?. "
" Alexsa bantu yah, gak ada kerjaan lagi tinggal nunggu mereka selesai makan aja. " Gunam Alexsa membantu pekerjaan bik Dariyam.
" Bibik seneng deh kamu sama nyonya Laras bisa sedekat itu dan bibik denger nyonya meminta mu memanggil ibu, kamu benar benar bisa langsung membuat semua orang menyukai mu nak. Jangan sampai tuan Sam juga menyukai mu Alexsa."
" bibik ini ada ada aja, tuan Sam sudah memiliki istri jadi bagaimana bisa menyukai gadis lain. Lagian aku tidak menyukai tuan Sam. " Bik Dariyam yang mendengar ucapan Alexsa pun tertawa pelan.
" Bibik kan tidak bilang kamu menyukai tuan Sam. " Bik Dariyam semakin menggoda gadis itu membuat malu dan terkekeh pelan.
Mereka melanjutkan mencuci piring dengan sesekali bercanda gurau seperti ibu dan anak.
Di meja makan nampak sunyi hanya dentuman suara sendok dan garpu yang terdengar. Sam nampak acuh melihat ayahnya yang baru ia lihat setelah 5 tahun lamanya.
" Sam, mami minta Arkhana pulang dan membantu mu mengurus perusahaan. Mami tidak ingin kamu terlalu lelah dan pada akhirnya kamu bisa semakin lama punya anak. " Ucapan Laras yang tiba tiba seketika membuat Bram tersedak.
" Mas, pelan pelan... " Laras menyodorkan segelas air putih pada suaminya.
" Mami ingin seorang cucu atau anak perempuan lagi?. " Gumam Sam tanpa mengalihkan pandangannya pada sepiring nasi di depannya.
Laras dan Bram seketika menatap Sam.
" Maksud kamu?. " Sam menatap wajah ibunya yang nampak bingung dengan ucapan Sam.
" Natasya belum mengingan seorang anak dia masih ingin bebas , jika mami ingin akuu akan carikan seorang anak perempuan lagi mami. " Sontak ucapan Sam itu membuat Laras langsung mengerti kemana ujung pembicaraan itu.
" Mami tidak ingin kamu belajar menghianati istrimu Sam dari mana kamu punya pikiran seperti itu sih?. " Ucapan Laras membuat Bram seketika diam dia sendiri merasa tersinggung dengan ucapan istri nya.
" Dari papi tentu nya. "
Brak
Gebrakan suara meja membuat Alexsa dan bik Dariyam terkejut dari dapur.
" Mas.. " Laras memegang lengan sang suami.
" Jaga ucapan mu Samudera, tidak pantas seorang anak berbicara selancang itu pada orang tua. " Sam tertawa sinis kemudian menyambar jas nya dan pergi.
Alexsa yang penasaran mengintip di balik tembok melihat kepergian Sam yang terlihat sangat puas dengan apa yang dia lakukan, sedangkan Laras sedang berusaha menenangkan suaminya yang marah besar.
" Sudah lah mas, kamu kenapa sih. Lagian apa yang di katakan Sam itu memang benar kan, jadi jangan terlalu berfikir jika anak anak kurang ajar sama kamu tanpa sebab. "
" Mereka bertengkar, aku fikir mereka adalah sekeluarga yang harmonis. " Batin Alexsa kemudian berbalik dan kembali kedapur.
" Bibik... "
" Sudah biasa sejak dulu tuan muda Sam dan Arkhana kecil, mereka memang sering berselisih paham. Sudah jangan terlalu kepo anggap tidak terjadi apapun di sini. " Ucapan Bik Dariyam seketika membuat Alexsa mengerti dan memilih diam padahal dia sendiri benar-benar kepo ingin tahu lebih dalam.
Sam membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi menembus keramaian kota hingga membuat kegaduhan di sana, beberapa pengendara lain terganggu dengan kecepatan mobil nya. Selain membahayakan orang lain itu juga bisa membahayakan dirinya sendiri, namun Sam yang emosi tidak terlalu menghiraukan itu.