Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Tersangka di Rumah Sendiri
Ponsel Reza bergetar di atas meja. Nama ayahnya menyala di layar. Reza refleks menegakkan punggung.
"Ayah?" gumamnya dengan bibir bergetar. Tiba-tiba udara di ruangan itu terasa menyempit. Seolah dosa yang baru saja ia buat diminta pertanggungjawaban.
Tangannya sempat meraih ponsel, lalu berhenti. Ia melirik kemejanya yang kusut, dasi yang belum rapi.
"Shiit!" umpatnya pelan.
Ia buru-buru berdiri, menarik napas, merapikan kerah, menyisir rambut dengan jari. Memastikan penampilannya di dinding kaca yang bahkan tak bisa memantulkan bayangannya dengan jelas.
"Bodoh," umpatnya pada dirinya sendiri.
Ia memejamkan mata sejenak, baru setelah itu panggilan diterima.
Wajah Rahman muncul di layar. Rambutnya rapi, kacamata bertengger di hidung. Di belakangnya tampak dinding putih rumah sakit.
“Kamu di mana?” tanya Rahman tanpa basa-basi.
“Di kantor, Yah,” jawab Reza cepat.
Rahman tak langsung menanggapi. Matanya menyipit, menelusuri wajah putranya dari layar. Kerah kemeja, rahang, lalu berhenti di leher.
“Kamu habis ngapain?”
Reza menelan ludah. “Baca berkas.”
“Kenapa kemejamu kusut?” Rahman memiringkan kepala.
Tubuh Reza menegang. Ia buru-buru memutar otak cepat, secepat membalik halaman buku.
“Lehermu juga—”
“Ayza ke sini,” potong Reza cepat, hampir terlalu cepat.
Rahman terdiam sepersekian detik. Alisnya terangkat sedikit, lalu kembali netral. “Kenapa dia datang ke kantormu?”
“Uangnya habis,” jawab Reza. “Fahri bikin masalah semalam. Ganti ruginya besar.” Ia sedikit lega karena merasa menemukan jawaban yang pas.
Tapi tatapan Rahman mengeras. “Berapa uang yang sudah kamu beri sampai dia kekurangan?”
"Astagaa...kenapa ayah kayak penyidik, sih?!" teriaknya dalam hati.
Reza menggeser ponsel, seolah mencari posisi lebih nyaman. “Cukup banyak, Yah.”
“Kalau cukup, kenapa sampai datang ke kantor?” desak Rahman. “Bukannya dia bisa menghubungimu?”
Reza menarik napas pelan. Otaknya kembali mencari jawaban cepat. “Ponselku mati. Aku baru charge pagi ini.”
Rahman menatapnya lama. “Semalam Ayah hubungi kamu berkali-kali.”
“Aku di luar kota,” jawab Reza. Kali ini tidak bohong. “Beberapa hari. Subuh tadi baru sampai Jakarta.”
“Kamu di mana selama itu?”
“Kerja," jawabnya jujur.
Rahman tak langsung percaya. Garis di dahinya makin jelas. “Kerja apa sampai tak bisa mengangkat telepon?”
Reza makin terpojok. Ia tak ingin semua dosa-dosanya terungkap sekarang. Ia melirik jam tangannya. “Yah, berkas di kantor lagi menumpuk. Sepuluh menit lagi aku meeting. Kita bicara lagi nanti.”
Rahman menghela napas panjang, terdengar jelas dari speaker. “Baik.”
Namun belum sempat Reza bernapas lega, Rahman mendekatkan wajah ke layar. “Tapi dengar Ayah baik-baik. Perlakukan Ayza dengan layak. Beri dia uang yang cukup. Ayah tidak mau dengar dia kesusahan karena kamu.”
Reza mengangguk. “Iya, Yah.”
"Jangan cuma iya, iya doang," tegas Rahman. Ayah dan bunda menikahkan kamu dengan Ayza bukan hanya untuk mengurusmu dan Fahri, tapi juga agar kamu bahagia. Ayza adalah gadis istimewa."
"Istimewa karena kekurangannya," celetuk Reza dalam hati.
"Dia bukan gadis biasa," lanjut Rahman.
Dalam hati Reza. "Luar biasa bikin aku aku sebel karena selalu kalah setiap debat sama dia."
"Kau tak akan menemukan gadis sebaik dia di luar sana," ucap Rahman penuh keyakinan.
"Iya, Yah. Aku tahu," sahut Reza, ingin ayahnya segera mengakhiri panggilan.
“Dan soal adikmu,” lanjut Rahman, suaranya lebih dalam, “kalian harus menjaganya bersama-sama.”
“Iya.”
Panggilan terputus. Layar menghitam.
Reza menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. Napasnya keluar berat.
“Hampir saja,” gumamnya pelan. "Aku merasa jadi tersangka yang diinterogasi." Tangannya mengusap wajah kasar.
Pada kenyataannya ia memang tersangka yang telah menyusahkan istrinya, tidak melakukan kewajiban dan tanggung jawabnya sepenuhnya dan telah melakukan kesalahan dengan menikmati sesuatu yang tak halal baginya.
Pada kenyataannya ia memang tersangka, karena telah menyusahkan istrinya, lalai menjalankan kewajiban, dan menikmati sesuatu yang seharusnya tak ia sentuh.
Tak sengaja matanya jatuh ke sofa di sudut ruangan. Rahangnya mengeras. Ia bangkit, berjalan cepat, seolah ingin menjauh dari semua jejak yang tersisa.
***
Reza membuka pintu rumah yang sudah beberapa hari ia tinggalkan. Ia berhenti ketika hendak melangkah masuk, mengingat kata-kata Ayza.
"Assalamu' alaikum," ucapnya.
Tak ada sahutan. Rumah itu sunyi.
"Kayak gak ada penghuni," gumam Reza seraya melangkah masuk.
Lampu menyala, tapi tak ada suara televisi, tak ada langkah kaki.
"Sunyi ini seperti menunggu pisau melayang, lalu nancep di jantung," batinnya.
Reza tersenyum. Bukan senyum bahagia, tapi senyum pahit. Ia menyadari, sejak ia menikahi Ayza rumah ini enggan ia masuki. Karena ia selalu kalah berdebat dengan istrinya.
"Masuk ke rumah ini rasanya kayak masuk ruang sidang, dan aku tersangkanya." Lagi-lagi ia tersenyum pahit.
Ia baru berjalan beberapa meter menuju kamarnya ketika pintu kamar tamu terbuka.
Ayza keluar. Hijab da cadarnya terpasang rapi. Tatapannya tenang seperti biasa.
“Aku kira kamu sudah lupa alamat rumahmu,” ucapnya santai, lalu berbelok ke arah dapur.
Reza berhenti, tatapannya mengeras.
“Tak bisakah kau menyambut suami pulang dengan suasana yang menenangkan?” katanya dingin.
Ayza menghentikan langkah. Ia berbalik, lalu melangkah mendekat. Tidak terburu-buru, apalagi emosional.
“Aku sudah melakukannya.”
Reza mendengus pelan.
Ayza berdiri di depannya, jarak mereka tinggal sejengkal. “Aku menunggumu di ruang tamu. Menyalimi dan mencium punggung tanganmu setiap kamu berangkat dan pulang kerja. Memasak. Membereskan rumah. Menyiapkan semua keperluanmu.”
Ia menatap Reza lurus. “Tapi kamu menolak semuanya.”
Reza terdiam.
“Bahkan,” lanjut Ayza, suaranya tetap datar, “kamu sengaja pisah kamar denganku di hari pertama pernikahan kita.”
Kalimat itu diucapkan tanpa nada tinggi, tapi justru itu yang membuatnya menghantam.
Reza mengatupkan rahang. Lagi dan lagi, setiap kata yang ingin ia lontarkan selalu berbalik jadi bumerang.
“Sudahlah,” katanya akhirnya. “Aku capek. Mau mandi.”
Ia melangkah pergi.
“Aku tunggu di meja makan,” seru Ayza lembut.
Reza tak menoleh, tak menjawab. Langkahnya terus menjauh.
Ayza menghela napas pelan, lalu berbalik ke dapur.
Setengah jam kemudian, Reza baru duduk di meja makan ketika suara motor Fahri memasuki halaman rumah.
Begitu melangkah masuk, Fahri berhenti. Hidungnya mengendus.
“Wah…” gumamnya. “Harum.”
Perutnya mendadak berbunyi. "Jadi laper," batinnya.
Ia melangkah ke ruang makan dan mendapati meja penuh hidangan yang menggugah selera. Tanpa sungkan, Fahri menarik kursi dan duduk.
Tangannya baru saja hendak meraih sendok—
“Kebersihan adalah sebagian dari iman.” Suara Ayza terdengar tenang.
Fahri mendongak.
“Cuci tangan dulu sebelum makan,” lanjut Ayza. “Dan sebagai seorang muslim, alangkah baiknya mengucapkan salam sebelum masuk rumah.”
Reza hanya diam.
Fahri mendengus. “Lengkap banget,” katanya sambil menyandarkan punggung. “Ceramah malam?”
Ayza berdiri di ambang dapur, ekspresinya tetap sama.
“Ini rumah, Fahri,” katanya ringan. “Bukan warung.”
Fahri menyeringai. “Iya, iya. Rumah. Rumah kakak gue yang sekarang dipegang istri tukang ceramah.”
Ia melirik Reza yang sedari tadi diam.
“Kak, serius deh. Hidup lo sekarang kayak santri telat setor hafalan.”
Reza mengusap wajah. “Fahri—”
“Apa?” potong Fahri. “Salah? Liat aja. Baru mau makan disuruh cuci tangan, disuruh salam. Besok-besok mungkin napas juga ada aturannya.”
Ayza melangkah mendekat. Ia meletakkan piring tambahan di meja. “Kalau kamu keberatan,” katanya tenang, “kamu bisa makan di luar.”
“Hah?!” Fahri menatap Ayza tak percaya. “Serius lo ngusir gue?”
“Kalau mau makan,” sahut Ayza tanpa menoleh, “cuci tangan dulu.”
Fahri tertawa pendek tanpa humor. Ia menyandarkan punggung ke kursi.
“Nah, tuh,” gumamnya sambil menggeleng. “Ngatur lagi.”
Ia melirik Reza, lalu berdiri mendekatinya.
“Kak, lo beneran nyaman hidup sama perempuan kayak gini? Apa lo udah nyerah aja?”
...🔸🔸🔸...
...“Ada rumah yang sunyinya bukan karena kosong, tapi karena tak ada yang mau disalahkan.”...
...“Ia bukan suami yang dipukul, tapi lelaki yang perlahan dilucuti perannya.”...
...“Ayza tidak meninggikan suara, dan justru karena itu, Reza tak punya tempat bersembunyi.”...
...“Kadang yang paling menyakitkan bukan ceramah, tapi kebenaran yang diucapkan tanpa emosi.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍