NovelToon NovelToon
Penguasa Terakhir

Penguasa Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Dunia Lain / Romansa Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Kon Aja

Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.

Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.

Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.

Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,

Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ternyata kamu sudah bangun ya

Siang harinya…

Zoran terbangun karena suara cekikikan pelan dari bawah pohon. Kelopak matanya terangkat perlahan, refleks tangannya mengeratkan pelukan pada batang pohon sebelum ia sadar sepenuhnya.

Ia menunduk.

Di bawah sana, Zilan berdiri, menatapnya sambil menahan tawa.

“Apa-apaan ini?” gumam Zoran lirih, matanya menyipit. “Kenapa dia ada di sini?”

Zilan menatap ke atas, bahunya sedikit bergetar karena menahan cekikikan. “Oh, ternyata kamu sudah bangun ya,” ucapnya dengan nada ringan, jelas berusaha tidak tertawa terlalu keras.

Zoran terdiam sejenak, lalu turun dari pohon dengan gerakan canggung, badannya kaku karena semalaman tidur di dahan. Begitu kakinya menginjak tanah, ia menatap Zilan. “Kamu tertawa kenapa?” tanyanya heran.

Zilan langsung menutup mulutnya dengan tangan. “Tidak… tidak apa-apa,” jawabnya, meski matanya jelas berbinar geli.

Dalam hati, Zilan masih terbayang pemandangan Zoran yang semalaman memeluk pohon sambil tertidur, bertelanjang dada, dengan ekspresi serius seolah sedang menjalani latihan berat. Pemandangan itu benar-benar… sulit dilupakan.

“Oh ya,” Zilan melanjutkan, berusaha terlihat santai. “Apa kamu tidur di pohon ini semalaman?”

Zoran terdiam. Ia memalingkan wajah sedikit, jelas tidak tahu harus menjawab apa. Diamnya sudah menjadi jawaban.

Zilan menghela napas kecil, lalu mengeluarkan satu set pakaian dari cincin penyimpanannya dan menyodorkannya pada Zoran. “Sebelum itu… sebaiknya kamu pakai pakaian dulu,” katanya. “Apa kamu tidak kedinginan telanjang dada di tempat sedingin ini?”

Zoran menerima pakaian itu tanpa berkata apa pun. Tanpa banyak pikir, ia langsung memakainya di tempat, tentu saja tanpa membuka pakaian lamanya, hanya menarik dan menyelipkan begitu saja.

Pipi Zilan langsung memanas. Ia menoleh cepat ke samping, sedikit kesal, sedikit malu. “Pria ini…” gumamnya dalam hati. “Apa dia benar-benar tidak punya rasa malu sedikit pun, ya?”

Setelah selesai berpakaian, Zoran berdiri kaku. Ia melirik Zilan yang kini terdiam, tidak tertawa lagi, juga tidak bicara.

Keheningan terasa canggung.

Zoran menggaruk tengkuknya, lalu akhirnya membuka mulut. “Apa… kamu sudah makan?” tanyanya, mencoba memecah suasana.

Zilan memiringkan kepalanya, menatap Zoran dengan ekspresi penasaran. “Kenapa memangnya?” tanyanya santai. “Apa kamu mau mengajakku makan?”

Zoran mengangguk pelan. “Iya. Tapi jangan berharap makanan mewah.”

Zilan tersenyum tipis, lalu mengangguk tanpa ragu. “Tidak masalah,” jawabnya ringan. “Aku bisa makan apa saja.”

Ia tahu betul bagaimana kondisi Zoran. Ia juga tahu Zoran makan apa pun yang bisa dimakan demi bertahan hidup. Dan justru karena itu, Zilan sama sekali tidak merasa perlu mengejek atau menolak.

Zoran tersenyum kecil. “Kalau begitu… ayo.”

Zilan mengikuti langkahnya.

Tak lama kemudian, Zoran mulai menyiapkan makanan. Ia mengambil roti, roti yang dulu diberikan Zilan, lalu mengisinya dengan potongan daging panggang dan beberapa sayuran liar yang sudah ia bersihkan. Bentuknya sederhana, jauh dari kata rapi, tapi terlihat cukup mengenyangkan.

Jika dilihat sekilas, bentuknya mirip burger… hanya saja versi paling sederhana dan liar.

“Ini untukmu,” ucap Zoran sambil menyerahkan satu pada Zilan.

Zilan menerimanya, lalu menatap makanan di tangannya dengan ekspresi bingung. Ia memutar-mutar sedikit, mengamatinya dari berbagai sisi. “Makanan apa ini?” tanyanya jujur.

Zoran tertawa pelan melihat reaksinya. “Jangan banyak tanya. Makan saja.”

Zilan menyipitkan mata, menatap Zoran penuh kecurigaan. “Kamu tidak berniat meracuniku, kan?”

Zoran langsung menoleh cepat, kaget. “Racun apanya?” bantahnya. “Lagipula aku juga tidak punya alasan untuk meracunimu.”

Zilan mendengus kecil, lalu tersenyum jahil. “Siapa tahu kamu ingin mencuri kesempatan pada gadis cantik sepertiku. Kita kan tidak pernah tahu apa isi hati seseorang.”

Zoran mendengus pelan. “Kalau kamu tidak mau, aku makan sendiri saja sini,” katanya sambil meraih roti di tangan Zilan.

Plak!

Zilan menepis tangan Zoran dengan cepat. “Dasar tidak bisa diajak bercanda,” omelnya, lalu langsung menggigit rotinya sendiri.

Zoran mengabaikannya dan kembali memakan miliknya.

Namun, baru satu gigitan, mata Zilan langsung berbinar. Rasa ini… asing, tapi entah kenapa cukup enak.

Ia tidak berkata apa-apa lagi dan justru memakannya dengan lahap, jauh lebih cepat dari yang Zoran duga.

Zoran meliriknya sekilas. Melihat Zilan makan dengan ekspresi puas seperti itu, ia merasa senang. Setidaknya, makanan sederhananya tidak ditolak.

“Apa masih ada lagi?” tanya Zilan tiba-tiba.

Zoran yang sedang mengunyah terdiam. “Apa sudah habis?” tanyanya balik, sedikit heran.

Zilan mengangguk polos. “Rasanya enak,” katanya jujur. “Selera kamu lumayan juga.” Ia lalu menambahkan dengan nada santai, “Kalau masih ada, aku minta lagi.”

Zoran terdiam sejenak, menatap roti terakhir di tangannya. Setelah beberapa detik, ia mengangguk pelan. Ia pun kembali membuat beberapa potong lagi dan menyerahkannya pada Zilan.

Zilan jelas senang. Ia memakannya tanpa sungkan, bahkan terlalu bersemangat, sampai akhirnya hanya menyisakan satu potong untuk Zoran.

“Oh ya,” ucap Zilan tiba-tiba sambil mengunyah. “Ngomong-ngomong… kenapa auramu kacau begitu?”

Zoran mengerutkan kening. Dalam hatinya, pikirannya langsung berputar. Apa ini karena aku naik tingkat terlalu cepat? Apa ini juga penyebab kenapa teknik angin lewatku tidak bisa digunakan dengan lancar?

Zoran terdiam, mulai menyadari bahwa kekuatan yang ia peroleh mungkin tidak sepenuhnya stabil.

“Hei.” Zilan menyenggol lengan Zoran karena sejak tadi ia hanya diam melamun.

Zoran tersentak. “Eh? Ada apa?” tanyanya.

Zilan mencemberut. “Kamu tidak dengar aku bicara, ya?” ucapnya kesal.

Zoran menggaruk pipinya, sedikit canggung. “Maaf, maaf. Kamu tadi tanya apa?”

Zilan memutar matanya malas. “Aku tanya,” katanya sambil menunjuk ke kejauhan, “apa kamu diserang sekelompok serigala itu sampai membuat auramu kacau?”

Mayat-mayat serigala terlihat berserakan tidak jauh dari sana, setengah tertutup salju.

Zoran mengangguk pelan. “Sepertinya begitu.”

“Apa kamu bertarung dengan mereka?” tanya Zilan lagi.

Zoran menggeleng. “Tidak. Waktu mereka datang, aku langsung kabur ke atas pohon.”

Mendengar itu, Zilan terdiam sejenak… lalu tiba-tiba tertawa, menutup mulutnya dengan tangan.

Bayangan Zoran bertelanjang dada, memeluk pohon sambil tidur, kembali muncul di kepalanya.

Zoran mengerutkan kening. “Kenapa kamu tertawa lagi?”

Zilan menggeleng cepat, masih menahan tawa. “Tidak apa-apa… tidak apa-apa.Tapi kalau kamu tidak bertarung, kenapa auramu bisa sekacau itu?”

Zoran mengedikkan bahu. “Mungkin karena aku baru saja menerobos tingkat,” jawabnya santai sambil memalingkan wajah, jelas tidak ingin ditertawakan lagi.

Zilan berhenti tertawa sepenuhnya. Ia mengangguk pelan. “Kalau begitu masuk akal.” Ia menatap Zoran lebih serius. “Sebaiknya beberapa hari ke depan kamu fokus menstabilkan auramu dulu,” katanya memberi saran. “Itu jauh lebih baik daripada memaksakan diri.”

Zilan berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih tegas, “Dan jangan bertarung dulu sampai auramu benar-benar stabil. Kalau tidak, aura itu bisa memberontak dan melukaimu dari dalam.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!