NovelToon NovelToon
Balas Dendam Istri Yang Dianggap Buta

Balas Dendam Istri Yang Dianggap Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.

Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.

Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.

Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Siang itu matahari terasa lebih hangat dari biasanya ketika Samira akhirnya melangkah keluar dari pintu utama rumah sakit. Aroma obat-obatan dan antiseptik yang selama berhari-hari menempel di kulitnya perlahan tergantikan oleh udara luar yang segar. 

Untuk pertama kalinya sejak semua hal yang terjadi, ia baru benar-benar merasakan sesuatu yang sederhana namun terasa luar biasa. Kata pulang menjadi sesuatu yang paling ia nantikan.

Rayhan berjalan di sampingnya, satu tangannya siap menopang jika ia goyah. Meski dokter sudah mengizinkannya keluar, tubuh Samira belum sepenuhnya pulih. Langkahnya masih sedikit tertatih, kadang kaku, bekas memar di lengannya belum sepenuhnya hilang. Namun kali ini, rasa sakit itu tidak terasa sebagai beban. Lebih seperti pengingat bahwa ia selamat.

Mobil Rayhan berhenti di depan rumah yang selama beberapa minggu terakhir menjadi tempat tinggal sementaranya. Rumah itu sederhana, bercat krem dengan halaman kecil yang ditumbuhi tanaman bougenville. Tidak mewah, tidak megah, tapi terasa hangat. 

Begitu pintu dibuka, dua sosok langsung berdiri dari sofa ruang tamu. Seorang wanita paruh baya dengan celemek bunga-bunga dan seorang pria berkacamata dengan rambut memutih di pelipis.

“Ibu, Ayah. Kami pulang.” Rayhan tersenyum kecil.

Ibunya mendekat lebih dulu. Tanpa banyak bicara, ia langsung menggenggam kedua tangan Samira erat-erat, seolah takut Samira akan menghilang jika dilepas. Matanya tampak berkaca-kaca.

“Syukurlah, kau sudah pulang, Nak,” kata Rena lirih. “Rayhan sudah menceritakan semuanya. Aku sampai tidak bisa tidur karena terus mengkhawatirkan keadaanmu.”

Nada suaranya penuh kekhawatiran yang tulus. Tidak ada rasa ingin tahu berlebihan, yang ada hanya kepedulian selayaknya seorang ibu pada anaknya sendiri.

Samira tersenyum tipis. Sudah lama sekali ia tidak dipanggil dengan nada selembut itu.

“Maaf jika aku sudah merepotkan kalian,” ucapnya pelan.

“Siapa yang bilang merepotkan? Kami justru senang melakukannya, kau sudah seperti putri bagi kami, Samira.” Rayhan terkekeh hangat. 

“Selama beberapa hari, tinggallah dulu di rumah ini sampai kau benar-benar sehat. Temani pria kesepian ini,” kelakarnya membuat semuanya tertawa pelan.

Rayhan menghela napas pasrah. “Ayah. Kenapa mengejek anak sendiri seperti itu?”

Kelakar Aryan dan protes keras dari Rayhan membuat suasana di antara mereka terasa mencair. Samira tersenyum tipis, ia merasa seperti mendapat kembali keluarganya.

Rena kemudian menyeret Samira ke meja makan, menyuruhnya duduk sambil menyodorkan semangkuk sup hangat. “Kau sedang dalam masa pemulihan dan kau harus makan yang banyak. Badanmu kurus sekali, Samira.”

Samira menuruti, ia tersenyum menanggapi keluhan Rena, ia merasa sedang diperhatikan oleh ibunya sendiri. 

Uap sup mengepul lembut, aromanya sederhana tapi menenangkan. Setiap suapan terasa seperti memulihkan sesuatu yang selama ini hilang, bukan cuma tenaga, tapi rasa aman dan juga kerinduannya pada sosok sang ibu.

Mereka berbincang ringan. Tentang kabar kesehatan, tentang cuaca, tentang hal-hal remeh yang justru terasa berharga. Samira hampir lupa kapan terakhir kali ia duduk di meja makan tanpa rasa curiga.

Lalu, tanpa aba-aba, Rena tertawa kecil saat memperhatikan interaksi antara Samira dan Rayhan.

“Jika dipikir-pikir,” katanya santai, “Kalian berdua ternyata sangat, ya.”

Samira berhenti mengunyah.

Rayhan menatap ibunya curiga. “Ibu, jangan mulai lagii.”

“Rayhan, Ibu serius,” lanjutnya sambil tersenyum nakal. “Rayhan belum pernah membawa perempuan ke rumah. Seingatku hanya Samira yang pernah ia bawa ke rumah, bukankah begitu, Aryan?” tanyanya pada sang suami 

Aryan pun menganggukkan kepala, membenarkan. “Bagaimana jika kalian kami jodohkan saja?” 

Suasana langsung berubah hening dan canggung bagi Samira dan Rayhan. 

.

Sendok Samira hampir jatuh dari tangannya sementara pipi Rayhan memerah jelas sampai ke telinga.

“Ibu, tolonglah,” desisnya.

Ayahnya malah tertawa keras. “Ya, tidak ada salahnya juga menjodohkan kalian, bukan? Samira juga sendirian sekarang.”

Kalimat itu tidak bermaksud jahat, tapi tetap saja menohok.

Samira menunduk, merasa dadanya sedikit sesak. Bukan karena tersinggung, hanya karena kata “sendirian” terasa terlalu nyata.

Rayhan cepat-cepat berdiri. “Sudah, Bu. Jangan ganggu Samira lagi. Samira baru saja keluar dari rumah sakit, tapi kalian sudah membahas yang tidak-tidak,” protes Rayhan.

Ia lalu menoleh pada Samira. “Jangan terlalu dipikirkan. Mereka memang suka bercanda berlebihan seperti itu,” bisiknya meminta pengertian. 

Samira tersenyum kecil. “Tidak apa-apa.”

Meski lisannya berkata tidak apa-apa, tapi tetap saja, ada kehangatan aneh yang tersisa di dadanya. Sesuatu yang terasa menggelitik perutnya. Sudah lama tidak ada yang memikirkan masa depannya dengan cara sehangat itu.

Setelah makan siang, mereka pindah ke ruang tamu. Suasana kembali tenang. Rayhan duduk berhadapan dengannya, ekspresinya kini lebih serius.

“Ada hal yang perlu kita bicarakan,” katanya pelan.

Nada suaranya langsung membuat Samira tahu bahwa hal yang ingin dibicarakan oleh Rayhan bukanlah obrolan santai.

“Perusahaanmu,” lanjutnya. “Sejak Arga dikabarkan meninggal, kondisinya kacau. Manajemen dan Direksi saling tarik kekuasaan. Jika situasi ini terus dibiarkan, aku khawatir hal buruk akan terjadi. Kau harus secepatnya mengambil alih, Samira..”

Samira terdiam. Perusahaan yang merupakan warisan ayahnya adalah alasan utama dari semua kekacauan yang menimpa hidupnya.

Ia mengangguk pelan. “Aku memang berniat kembali. Itu milik ayahku. Aku tidak akan biarkan orang lain menghancurkannya.”

“Bagus,” kata Rayhan tegas. “Tapi jangan gegabah.”

Ia mencondongkan tubuh. “Sebelum kau muncul kembali ke publik sebagai pemimpin, kau harus melakukan pembersihan secara menyeluruh lebih dulu.”

Samira mengernyit bingung, “Maksudmu?”

“Aku curiga masih ada orang-orang bayaran Arga di sana. Loyalitas mereka bukan kepada perusahaan, tapi uang. Jika kau langsung masuk tanpa persiapan, mereka bisa menjatuhkanmu dari dalam.”

Samira mulai memikirkan Karin dan Indira, laporan keuangan gelap, transaksi saham mencurigakan. Semua hal itu, Arga tidak mungkin bekerja sendirian.

“Jadi?” tanyanya.

“Kita harus mengumpulkan bukti. Singkirkan mereka pelan-pelan. Baru setelah itu kau bisa kembali mengambil alih apa yang menjadi milikmu.”

Samira menghela napas panjang. Rasanya seperti baru saja selesai satu perang, lalu harus masuk ke medan tempur lain.

“Dan sebelum semua itu,” katanya pelan, “Aku harus umumkan operasi mataku dulu. Agar orang tidak curiga kenapa aku tiba-tiba bisa melihat lagi.” Samira mengungkapkan kekhawatirannya. 

“Atau haruskah aku tetap berpura-pura buta?” tanyanya pada Rayhan. 

Pria itu menggeleng pelan. “Aku akan mengurus hal itu nanti, yang terpenting sekarang adalah fokus pada pemulihan dirimu dulu.” 

Samira mengangguk mengerti, kini ia merasa sangat beruntung memiliki Rayhan di sisinya.

“Aku juga sedang membersihkan rumahmu. Akan aku pastikan semuanya kembali seperti semula, seperti saat Arga belum masuk ke dalam kehidupanmu. Jika kau ingin memulai hidup baru, kau juga harus menghapus masa lalu itu hingga ke akarnya,” kata Rayhan pelan.

1
Siti Siti Saadah
babak baru kehidupan samira
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang hanya kebahagiaan yg akan menghampirimu Samira 😔
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
omooo.. sejak kapan ray?
HK: Sejak ...
total 1 replies
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
karepmu
HK: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Astiana 💕
baru 20 bab masa dah tamat, cerpen kah🙏
HK: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
cinta semu
jgn bilang kayak film India ,,setelah musuh ny mati ,,,polisi ny datang 🤣🤣
HK: Kak 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
cinta semu
q lebih suka cepat tamat .. daripada lama sampai bab ny banyak tamat kagak malah di gantung iya ...🤣🤣yg penting kn happy. ending 💪
HK: Betul 🤭🤭🤭
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
lanjut dong 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga berjodoh dengan Rayhan 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kisah Wanita hebat 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu karmamu 😔
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
apa mereka akan mati bersama..?
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
terlambat 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Good job Samira 👍🏻
Siti Siti Saadah
pertarungan yg cukup tegang samira punya dokter reyhan kenapa ngga bantu cari cara melawan arga
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu yg akan tertipu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dasar orang gila 😏
Rosmayanti 80
dikit se x update nya trs LM pula update 🙏😄🤭
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
dikit ihh
HK: Ngejar target Nyak 🤣
total 1 replies
Siti Siti Saadah
arga ternyata sungguh terlalu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!