AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 28: it starting to be answered [2]
“JADI, Yang Mulia dan Putri kembali di masa lalu dengan takdir yang sama. Hanya saja, di kehidupan ketiga ini telah terjadi perubahan karena Anda mengingat kehidupan Anda sebelumnya.” Hamon menyimpulkan setelah mendengar ceritaku. “Ada kesamaan yang tidak beres dengan semua ini. Apa Anda sadar bahwa Putri selalu datang ketika mendekati hari ulang tahun Anda?”
Aku membenarkan.
“Kalau begitu–”
“Hadiah sekaligus hukuman, orang bersinar, semuanya berawal dari sana.”
Dia nampak terkejut sebelum mengajukan pertanyaan kembali. “Maksud Anda orang bersinar itu yang membuat ini terjadi?” Aku membenarkan dan Hamon melanjutkan, “Sulit dipercaya.” Dia memberi jeda, sepertinya teringat sesuatu ketika ekspresi itu berubah serius dalam sepersekian detik. “Berarti, ini adalah kehidupan ketiga Putri yang seharusnya berharga,” gumamnya pelan. Pandangannya ke bawah; memperhatikan kedua tangannya yang masih dibalut perban.
“Benar.”
Netra biru cerahku lalu bergerak meneliti kamar tidurnya. Hanya ada sedikit barang, beberapa buku, pedang, sebuah meja dan kursi kayu, serta lukisan abstrak berbentuk manusia lidi yang ditempel di dinding–yang kemudian aku tahu bahwa itu adalah karya dari tangan mungil Elora.
Vas bunga yang diletakkan di ambang jendela kemudian menarik seluruh atensiku. Di dalam vas bunga tersebut terdapat bunga berwarna kuning yang selalu anak itu bawa. Aku dalam hati mengembuskan napas kesal; sudah jelas bahwa anak itu berhasil lepas dari pengamatanku.
“Bunga krisan kuning itu sangat indah.”
Hamon yang menunduk segera mengangkat wajah, mengikuti arah pandangku–lalu di detik berikutnya dia menoleh sembari tersenyum kikuk. “Maafkan saya, Yang Mulia.”
“Jadi, putriku yang manis berhasil menemuimu, ya?” Aku melipat kedua tangan di dada. “Padahal beberapa waktu lalu dia terbaring lemah di tempat tidur dan menempel terus di dekatku.” Rasa cemburu jelas menggerogoti hatiku. Anak yang selalu mengatakan bahwa dia menyukaiku sedang berselingkuh dengan ajudan pribadiku. Tentu saja aku sedikit murka.
“Saya mohon maaf.”
“Sudahlah.” Aku menurunkan tangan dan memasukkannya ke dalam saku. “Yang terpenting saat ini, mulai besok kau harus kembali menjadi pengawal Elora karena Duke of Astello telah kembali ke Petunia. Tidak ada orang yang dapat kupercaya mengenai keselamatan anak itu selain kalian berdua.”
“Baik, Yang Mulia.” Dia menundukkan kepala, meletakkan tangan kanan yang dibalut perban secara melintang ke dada kiri, bersumpah. “Saya akan melaksanakan perintah Yang Mulia dengan segenap jiwa saya.”
“Segera laporkan padaku jika terjadi sesuatu.”
“Anda tak perlu khawatir, Yang Mulia.”
Aku mengangguk dan segera beranjak; mengabaikan seluruh penghormatan yang diberikan ksatria saat aku melewati mereka. Aku terus berjalan lurus keluar dari asrama ksatria menuju istana utama. Ketika melewati koridor, aku seketika mengingat perkataan Elora yang mengatakan kalau aku tak pernah membunuhnya.
Kalimat itu adalah kata-kata yang menggangguku beberapa hari terakhir. Perkataan yang diucapkan Elora di kehidupan kedua terus berputar di kepalaku. Satu kalimat itulah yang paling ganjal. Aku merasa tidak tenang karena ada kemiripan hubungan kami di kehidupan kedua dengan kehidupan sekarang. Namun, perubahan besar yang terjadi saat ini membawaku pada kepercayaan bahwa kami dapat mengubah bagian akhir cerita tragis yang mungkin saja terjadi karena pengaruh kegelapan dan orang bersinar yang identitasnya masih misterius itu.
***
Satu kompi ksatria yang sedang tidak berjaga terbaring lemah di tanah dengan napas yang tidak beraturan. Sementara itu, aku menginjak dada ketua pasukan istana yang sudah tak berdaya melawanku. Mengarahkan pedang kayu ke lehernya; aku menatapnya tajam sebelum mengayunkan pedang tersebut dengan kekuatan penuh.
Tak.
Pedang kayu itu tertancap satu sendi dari wajahnya; membuat dia terbelalak dengan jantung yang berdetak kencang. Aku mengangkat kaki kemudian bergeser ke samping; memandang dua ratus lebih ksatria yang terbaring seperti ikan.
“Mulai sekarang, latihan kalian ditambah.”
Kepala pelayan mendekat sembari membawa handuk kecil. Dia langsung mengambil satu langkah di belakang ketika mengikutiku keluar dari arena bertarung. Mengelap wajah dan juga leher; aku menjauhkan handuk dan langsung diterima baik oleh kepala pelayan. Pandanganku tidak sengaja menangkap Elora yang sedang bermain bersama dengan kelincinya ketika akan melanjutkan langkah kembali ke istana utama.
“Yang Mulia ingin menemui Putri?”
Aku segera tersadar dari lamunan dan kembali menghadap ke depan saat kakiku tanpa sadar telah berbelok ke arah taman. “Tidak. Biarkan saja dia bermain sepuasnya,” balasku pelan sebelum melanjutkan langkah kembali pada rute yang benar.
Ketika sampai di depan kamar, kepala pelayan berkata bersamaan dengan gerakanku mendorong pintu kamar mandi. “Air Yang Mulia sudah disiapkan.”
“Terima kasih.”
Air hangat lantas jatuh membasahi seluruh tubuhku begitu aku menyalakan shower. Sisa-sia keringat meluruh bersama dengan air yang meluncur ke dalam saluran pembuangan. Selama beberapa menit, aku membiarkan diri di bawah air. Tangan yang beberapa saat lalu memegang pedang kemudian mengambil atensiku. Aku memperhatikannya, sebelum mengepalkan tangan dan membiarkan urat-urat di lenganku menonjol. Meski tipis, aku merasa ada perubahan pada tubuhku–dan aku tidak tahu apakah ini adalah hal bagus atau tidak.
***
Keesokan hari, di pagi yang sangat dingin karena angin berhembus kencang–satu batalyon terbaring lemah di tanah dengan suhu tubuh yang meningkat akibat bergerak berlebihan. Mereka membuang pedang kayu ke sembarang arah sedangkan aku menatap tajam ksatria yang terlentang seperti ikan yang disapu ombak.
“Latihan kalian menjadi lima kali lipat dari sebelumnya.”
Aku mendecak sebelum membali badan dan mengabaikan handuk yang dibawa oleh kepala pelayan. Dengan cepat, aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sepanjang jalan, perasaanku seolah tidak ternang. Rasanya ada sesuatu di tubuhku yang mulai berubah. Maka aku sekali lagi membiarkan diriku dibasahi air dari atas kepala hingga ujung kaki. Tangan kanan yang semula baik-baik saja kukepal erat dan memperlihatkan urat-urat yang menegang. Ini sedikit terasa ganjil.
Sebelumnya, aku dapat mengalahkan satu kompi dan satu batalyon ksatria tanpa merasa lelah. Namun, entah sejak kapan telah terjadi perubahan samar yang tidak biasa. Aku memang berhasil mengalahkan para prajuritku yang sudah kulatih dengan keras di militer, tetapi beberapa ksatria lainnya masih bisa bergerak dan bertarung–padahal seharusnya aku dapat membuat mereka semua menyerah dan terbaring seperti ikan.
Kali ini, terjadi penurunan yang signifikan. Perasaanku mulai tidak enak. Rasanya, kekuatan kegelapan dalam diriku perlahan melemah–dan ini semua pertanda tidak baik. Sebab, jika terjadi hal buruk di masa depan, aku khawatir tidak dapat memenuhi sumpahku pada Elora untuk melindungi anak itu seperti nyawaku sendiri.[]
ya ampun.... elora
detil sekali penjelasannya
butuh siraman cinta agar lebih melunak