Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.
Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.
Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.
Saat semuanya terungkap…
siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Kilatan Pedang dan Sentuhan Tabib
Suasana di depan paviliun asrama mendadak mencekam. Salju tipis yang turun dari langit-langit energi akademi mulai membeku di ujung-ujung daun. Wang He, yang awalnya hanya berniat menggertak murid baru, kini merasakan bulu kuduknya berdiri. Namun, gengsi sebagai anggota Klan Macan Putih membuatnya tak bisa mundur.
"Kau pikir kau siapa, hah?! Beraninya kau mengancam senior!" teriak Wang He sambil menghunuskan pedang lebarnya. Aura kuning kecokelatan yang melambangkan elemen bumi meledak dari tubuhnya. "Aku akan mengajarimu cara menghormati atasan!"
Wang He menerjang maju, pedang lebarnya menebas udara dengan kekuatan yang sanggup menghancurkan batu karang.
Wush!
Chen Kai tidak bergeming hingga mata pedang itu hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya. Dengan gerakan yang hampir tidak tertangkap mata, ia bergeser ke samping.
Sring!
Pedang Kristal Abadi belum tercabut sepenuhnya, hanya dua inci dari sarungnya, namun gelombang energi dingin yang dipancarkannya sudah cukup untuk merobek pertahanan Qi Wang He. Chen Kai muncul di belakang Wang He dalam sekejap mata.
"Terlalu lambat," bisik Chen Kai.
Ia memutar tubuhnya, gagang pedangnya menghantam tengkuk Wang He hingga pemuda itu tersungkur mencium tanah. Sebelum Wang He sempat bangkit, Chen Kai sudah menginjak punggungnya dan menghunuskan ujung pedangnya yang berkilau bening ke arah pergelangan tangan Wang He.
"Kau bilang ingin pedang ini?" mata Chen Kai berkilat kejam, memantulkan bayangan traumanya di masa lalu. "Maka kau harus membayar harganya dengan tanganmu."
"T-Tunggu! Berhenti! Aku minta maaf!" Wang He berteriak histeris, wajahnya pucat pasi saat merasakan hawa dingin pedang itu mulai membekukan kulitnya.
Tepat saat Chen Kai akan mengayunkan pedangnya untuk memotong tangan itu, sebuah tekanan gravitasi yang luar biasa jatuh dari langit, memaksa Chen Kai untuk menahan gerakannya.
"Cukup!"
Sebuah ledakan energi hijau zamrud menghantam antara Chen Kai dan Wang He, memaksa mereka terpisah. Seorang pria paruh baya dengan jubah panjang berwarna hijau tua mendarat dengan tenang di tengah-tengah mereka. Ia adalah Master Feng, salah satu instruktur disiplin akademi.
"Di Akademi Kekaisaran Langit, pertumpahan darah antar murid di luar arena adalah pelanggaran berat," ucap Master Feng dengan suara yang berat dan penuh wibawa. Matanya menatap tajam ke arah Chen Kai. "Tuan Muda Chen, simpan pedangmu. Jangan biarkan bakatmu dikotori oleh amarah yang tidak terkendali."
Chen Kai menatap Master Feng dengan tatapan menantang selama beberapa detik, sebelum akhirnya menyarungkan kembali pedangnya dengan bunyi klik yang tajam. Tekanan es di udara perlahan memudar.
"Dia yang memulainya." ucap Chen Kai dingin, lalu berbalik tanpa memedulikan Wang He yang gemetar ketakutan atau Master Feng yang masih mengawasinya.
Saat Chen Kai berjalan menuju pintu asrama, Lin Xia berlari kecil mengejarnya. "Tuan... Tuan Chen Kai, tunggu!"
Chen Kai berhenti, menatapnya dengan bosan. "Apa lagi?"
Lin Xia tidak menjawab dengan kata-kata. Matanya tertuju pada tangan kanan Chen Kai. Ternyata, saat menghindari serangan Wang He tadi, gesekan dari energi elemen bumi yang kasar sempat menggores punggung tangan Chen Kai hingga mengeluarkan darah.
"Tanganmu terluka." ucap Lin Xia lembut. Dengan tangan gemetar karena malu, ia memberanikan diri meraih tangan Chen Kai.
"Jangan sentuh aku!" desis Chen Kai, mencoba menarik tangannya.
Namun, Lin Xia tetap bertahan. "Hanya sebentar. Ini tugasku sebagai rekan kelompokmu."
Gadis itu mengeluarkan sebuah botol kecil berisi bubuk hijau pucat dan mulai merapalkan mantra kecil. Cahaya hijau lembut keluar dari ujung jarinya, mengalirkan rasa hangat yang kontras dengan Qi dingin milik Chen Kai. Dalam hitungan detik, luka goresan itu menutup dan menghilang tanpa bekas. Rasa cemas yang sempat menghantui pikiran Chen Kai entah kenapa sedikit mereda akibat aroma obat yang menenangkan dari tubuh Lin Xia.
Chen Kai menatap tangannya yang sudah bersih. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, seseorang menyentuhnya bukan untuk menyakiti, melainkan untuk menyembuhkan.
"Selesai..." Lin Xia melepaskan tangan Chen Kai dengan cepat, wajahnya memerah padam. "Aku... aku akan masuk dan merapikan barang-barang. Sampai jumpa di dalam, Tuan Chen Kai!"
Gadis itu berlari masuk ke paviliun dengan canggung. Chen Kai terdiam di depan pintu, menatap telapak tangannya sendiri.
"Menyembuhkan, ya?" gumamnya pelan. "Sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan."
Ia segera membuang pikiran itu dan masuk ke dalam dengan wajah datar aslinya, namun di dalam hatinya, sebuah retakan kecil mulai muncul di dinding es yang ia bangun selama ini.