NovelToon NovelToon
Cadar Sang Pendosa

Cadar Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Cintamanis / Balas Dendam / PSK / Konflik etika
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadiaa Azarine

Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.

“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”

“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”

“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”

“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”

“Namanya juga pelacur!”

Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.

Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.

Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.

“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Namanya Junia

Suasana kamar menjadi hening. Adara hanya menunggu Junia melanjutkan ceritanya. Namun gadis itu hanya diam selama beberapa menit. Ia tampak sedang mengumpulkan energi untuk menceritakan sesuatu yang membuatnya trauama. Adara mencoba memahami Junia dan memilih gadis itu membuka suaranya sendiri tanpa mendesaknya.

“Aku menolak, Dar…” lirih Junia setelah beberapa menit terdiam. “Wajar kan aku menolak? Paman… aku dan dia mahrom. Bagaimana mungkin aku berzina dengan seseorang yang akan menjadi pengganti ayahku saat ia tidak ada?” Junia terisak. “Tapi kenapa dunia membuatku menderita karena menolak sesuatu yang begitu buruk, Dar? Aku menolak dosa… tapi kenapa aku seperti dihukum karena menolak dosa itu…”

“Junia…” Adara menggenggam tangan Junia semakin erat. “Kamu tidak dihukum karena menolak dosa. Sebaliknya—Allah melindungi kamu dari orang-orang jahat itu.” Adara menatap erat mata Junia.

Junia menghapus air matanya. “Setelah itu aku diusir oleh pamanku dan keluarganya, Dar. Aku pergi… tanpa membawa apapun kecuali baju ditubuhku.” Adara tersenyum. “Tapi ternyata ayah tidak meninggalkanku begitu saja, Dar. Saat diusir seorang teman dekat ayahku kebetulan datang dan ingin menemuiku. Untung saja saat itu dia melihat aku diusir dan membawaku bersamanya.”

“Dia mengasuh kamu?”

Junia menggeleng. “Dia punya hutang kepada ayahku dan memberikannya padaku. Dia juga mencarikan kontrakan kecil dan pekerjaan untukku. Dia tidak bisa mengasuhku karena ekonominya tidak sebagus itu untuk mengadopsi seorang anak remaja.”

“Begitulah aku melanjutkan hidupku. Aku bekerja di sebuah toko pakaian di pasar dengan gaji yang hanya cukup untuk makan. Aku pun tidak bisa melanjutkan sekolahku.” Mata Junia menerawang—mengingat kembali detail kejadian beberapa tahun lalu yang tidak bisa dia lupakan.

“Aku kira semuanya akan berjalan lancar, Dar. Saat itu bagiku… bertahan hidup saja sudah cukup. Tapi akhirnya… aku dipecat, Dar. Aku dituduh mencuri oleh temanku karena dia iri padaku.”

“Iri? Apa yang membuatnya iri?” tanya Adara bingung.

“Bosku menyayangiku dan sering memujiku di hadapannya. Penampilanku juga membuat tetangga sekitar banyak yang peduli padaku. Dia pernah bilang pada temanku yang lain kalau aku menggoda banyak pria dengan parasku. Lalu semuanya terjadi begitu saja, aku dituduh mencuri dan aku dipecat,” jelas Junia.

“Saat itu kamu belum memakai cadar?” tanya Adara.

“Belum.” Junia menggeleng. “Aku berganti pekerjaan beberapa kali sampai akhirnya aku menjadi pembantu di rumah salah seorang ustadz. Istrinya bercadar dan sejak saat itu aku ikut bercadar.”

“Sampai sekarang?” tanya Adara.

Junia menggeleng cepat. “Aku pindah kerja di tempat lain karena bosku pindah ke turki dan aku tidak bisa ikut.”

“Kenapa tidak bisa ikut?”

“Mungkin mereka nggak mau mengajak orang asing.” Junia mengangkat bahunya.

“Setelah itu kami kerja di mana?”

Junia terdiam mendengar pertanyaan Adara. “Aku kerja… jadi pembantu lagi. Tapi…” Tangan Junia tampak bergetar. “Aku kabur dari rumah itu karena mereka menyiksaku dan bosku yang laki-laki hendak memperkosaku.” Junia meneteskan airmatanya.

“Jadi… kamu kemarin…” Adara tak melanjutkan kalimatnya lalu memeluk erat tubuh Junia.

“Aku takut, Dar. Majikanku berhubungan dengan pemerintahan. Polisi nggak mungkin bisa menyentuh dia sekalipun aku melapor,” jelas Junia.

“Junia tenang… kamu ikut aku aja dan tinggal sama aku. Aku jamin, kamu bakal aman!” Adara menenangkan Junia.

“Tapi kalau dia ngejer aku gimana?” lirih Junia ketakutan.

“Jangan takut, Jun. Allah bersama kita. Sekarang kita pulang dulu dan istirahat di apartemen aku yaa…” ajak Adara.

“Aku udah lunasi pembayarannya. Kita pulang sekarang!” lanjutnya.

Junia hanya mengangguk pelan, mengikuti intruksi Adara. Setelah beberapa menit bersiap-siap, mereka pun tiba di apartemen Adara.

Adara membuka salah satu kamar kosong di apartemennya. “Kamu bisa nempatin kamar ini, Jun.

“Tapi… ini terlalu mewah…” lirih Junia.

Adara tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Jun.”

“Kamu tinggal di sini sendirian?” tanya Junia.

“Iya. Aku tinggal di sini sendiri selama kuliah S2. Orangtua aku di Bogor. Padahal aku maunya apartemen yang biasa aja, tapi kakekku malah ngasih apartemen ini…” lirih Adara.

“Apa keluarga kamu nggak marah kalau kamu bawa orang asing tinggal di apartemen mewah kayak gini?” tanya Junia.

“Enggak dong. Kenapa marah?” Adara terkekeh kecil. “Ya sudah. Sekarang kamu istirahat dulu, ya. Pasti capek. Besok kita ngobrol lagi.” Adara menepuk bahu Junia lalu pergi keluar kamar.

Usai kepergian Adara—Junia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk itu. Seumur hidup dia tidak pernah tidur di kasur sebagus itu.

“Nggak adil,” lirih Junia. “Dunia nggak adil banget, ya?” ia terkekeh kecil.

Selama ini ia tidur di kamar sempit beralaskan kasur tipis dengan bau lingkungan sekitar yang menyengat. Sementara itu di belahan bumi lain—ada yang terlelap di tempat semewah dan seluas ini sendirian. Dunia yang berbanding terbalik dengan perkampungan kumuh di sudut kota Jakarta, tempat ia dan manusia tidak beruntung lainnya tinggal.

“Menyebalkan!” Junia menggerutu. “Kira-kira berapa harga barang-barang di kamar ini? Orang-orang kaya itu membuang uang mereka untuk hal-hal semacam ini sementara orang miskin berjuang mati-matian hanya untuk mencari uang puluhan ribu.”

“Gue bahkan harus menjual tubuh demi hidup layak!” Junia tertawa hambar. “Ah, tapi perempuan bodoh itu percaya dengan seluruh cerita karangan gue.” Junia terkikik geli.

“Sial! Berarti gue harus pake pakaian ribet ini?” Junia membulatkan matanya saat menyadari sesuatu. “Huh! Gue udah terlanjur bohong, lebih baik gue ikutin aja alurnya. Dia juga nggak mungkin mau nolong gue kalo tau gue pelacur.”

Junia memejamkan matanya. Semua kisah yang ia ceritakan pada Adara tadi hanya karangan—meski separuhnya memang nyata. Entah kenapa dia bisa mengarang cerita selancar itu. Dia juga bukan seorang gadis bercadar seperti yang Adara kira.

“Ethan sialan!” Junia berdecak sebal.

Kejadian kemarin membuat dia terjebak di dalam apartemen mewah ini, sebagai seorang gadis bercadar. Junia tidak tau apa yang harus ia lakukan setelah ini dan apakah ia harus menetap di sini atau pergi.

“Apa gue boleh memanfaatkan situasi ini untuk keluar dari dunia kelam itu?” lirih Junia. “Apa perempuan kotor seperti gue layak mendapatkan ampunan dari Tuhan?”

“Ayah… Bunda… Maafin Juni…” Junia meneteskan air matanya. Ia masih saja bersedih setiap mengingat tentang kedua orang tuanya.

Andai mereka masih ada. Andai Tuhan tidak merebut mereka darinya. Mungkin hidupnya tidak akan sekotor sekarang. Menjadi pelacur sejak usia 18 tahun… menjijikkan bukan? Tapi saat itu—ia tidak punya cara lain untuk bertahan hidup kecuali dengan menjual tubuhnya.

Siapa yang jahat di sini? Takdir atau Tuhan? Siapa yang harus ia salahkan? Takdir yang kejam pada remaja lemah sepertinya atau orang tua yang meninggalkannya dan melepas semua kewajibannya. Tapi bagi Junia… semua ini salah Tuhan yang merebut orang tuanya.

***

Bersambung…

1
Suratmi
sepertinya ada musuh dalam selimut,, seperti nya rasa iri si Jun bakal buat Dara kena Fitnah,,semangat ya kak author..di tunggu upnya💪💪
@Resh@: sepertinya dia yg fitnah dara dia nyamar klo pake cadar dan jadi pelakor tapi dara yg dituduh awal mula kehancuran dara ini
total 1 replies
Suratmi
karya Author sangat bagus.. menginspirasi kita perempuan agar lebih berhati-hati dalam kehidupan
Lovita BM
ayok up lagi kakak ✊🏼
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Sweet Girl
Bisa jadi ... mesti diselidiki.
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
Sweet Girl
Ijin baca Tor...
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.
Sweet Girl
Kamu salah... Makai Cadar kok karena Adara...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!