NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Siapa yang Sebenarnya Tidak Peduli?

Mobil masih terhenti di tepi jalan. Udara di dalam kabin terasa menekan, seolah menunggu jawaban yang tak kunjung datang.

Renan menatap Ayuna, matanya penuh harap sekaligus takut.

“Ayo kita menikah,” ucapnya lagi, lebih pelan, seakan kata-kata itu bisa memecah keheningan.

Ayuna menatapnya lama. Terlalu lama, hingga waktu seakan berhenti.

Lalu ia tertawa.

Tawa itu pecah, pahit, seperti seseorang yang sudah terlalu sering berharap lalu dikecewakan.

“Di saat seperti ini pun kamu masih memilih berbohong?” suaranya rendah, datar.

“Aku akan mengurus anak ini sendiri. Kalau kamu masih punya sedikit saja tanggung jawab, antarkan aku pulang.”

Setelah itu, ia diam.

Diam dan kosong, lelah menahan segalanya.

Renan menggenggam setir kuat-kuat. Buku-buku jarinya memutih.

Renan teringat satu akhir yang tidak akan pernah ia lupakan.

Ayuna mati.

Anak itu tidak pernah lahir.

Dan dunia menghukumnya tanpa sisa.

Ia tidak perlu mengingat bagaimana ia mati.

Ia hanya tahu satu hal, ia tidak boleh membiarkan itu terjadi lagi.

Pada titik itu, ia sadar. Apa pun yang ia katakan sekarang hanya akan terdengar seperti alasan. Kata-kata tidak akan menyelamatkannya.

Yang tersisa hanyalah tindakan.

Mobil berbelok.

Bukan ke rumah sakit.

Bukan ke klinik.

Bukan ke tempat aman.

Melainkan ke sebuah kawasan yang selalu terpatri dalam memorinya, Rose Residence.

Tempat yang dulu ia sebut rumah.

Tempat yang perlahan berubah menjadi penjara hati.

Tempat yang menjadi saksi bisu kepergian Ayuna untuk selamanya.

Renan ingat kartu keluarga Ayuna ada di sana. Hanya itu yang ada di pikirannya. Satu-satunya langkah yang menurutnya masih mungkin ia ambil.

Begitu mobil berhenti, Ayuna membuka mata perlahan. Saat melihat lingkungan itu, bibirnya melengkung tipis. Bukan senyum. Lebih seperti ejekan pada dirinya sendiri.

“Benar,” gumamnya.

“Tempat ini lagi.”

Seolah dunia sedang menertawakannya.

Sepertinya dia memang tidak pernah belajar apa pun dari kesalahan.

Renan menoleh. “Tunggu di sini. Aku cuma butuh beberapa menit.”

Tanpa memberi kesempatan Ayuna bertanya, ia turun dan melangkah masuk dengan tergesa. Pundaknya menegang, langkahnya berat, tapi tekadnya keras.

Keheningan kembali menyelimuti mobil.

Waktu terasa berjalan lambat. Terlalu lambat.

Tak lama kemudian, Renan kembali. Ada sesuatu di tangannya, tapi ia tidak menunjukkannya. Ia masuk ke

mobil, menyalakan mesin, dan kembali melaju.

Keheningan kali ini lebih panjang. Lebih menyesakkan.

Sampai akhirnya Ayuna tidak tahan.

“Aku sudah bilang aku akan mengurus bayi ini sendiri,” katanya pelan, getir.

“Kalau itu yang kamu takutkan, kamu tidak perlu cemas. Kamu tidak perlu merasa bertanggung jawab.”

Ia menoleh, menatap lurus ke depan.

“Jadi kenapa kamu tetap memaksaku pergi hari ini? Apa yang sebenarnya kamu takuti? Apa kamu begitu takut kalau aku akan melahirkan anakmu?”

Renan menelan napas. “Aku tidak membawamu untuk aborsi.”

Ia memaksa suaranya stabil.

“Aku membawamu untuk menikah.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Berat. Menghantam.

Dan seolah dunia ikut berhenti, mobil berhenti tepat di depannya.

Ayuna refleks menoleh.

Kantor Urusan Agama.

Matanya membesar. Dadanya terasa sesak, seperti ada tangan tak terlihat yang menekan dari dalam.

“Kamu…”

Hanya satu kata itu yang keluar. Selebihnya tenggelam.

Renan turun, mengitari mobil, membuka pintu penumpang. Tangan kanannya terulur pada Ayuna. Di tangan satunya, kartu keluarga.

“Ayuna,” katanya pelan, jelas.

“Aku sudah melakukan terlalu banyak kesalahan padamu.”

“Di kafe tadi aku bukannya ingin lari. Aku cuma butuh beberapa menit untuk menghadapi ketakutanku sendiri. Aku bertanya pada diriku sendiri, kalau sebagai pasangan saja aku gagal sebegitu parah, bagaimana aku bisa pantas jadi ayah?”

Ia menunduk sebentar.

“Selama dua tahun ini aku lupa kenapa dulu aku mengejarmu. Aku lupa bagaimana seharusnya mencintaimu. Kamu makin diam, makin menahan diri, sementara aku makin tajam, makin menyakitimu.”

Bagi Ayuna, dua tahun itu terasa panjang.

Bagi Renan, itu seperti hukuman seumur hidup.

“Aku tidak ingin kehilanganmu,” lanjutnya, matanya memerah.

“Tidak ingin kehilangan anak ini. Dan aku tidak ingin mengulangi kebodohan yang sama lagi.”

Ayuna menatapnya kosong.

Kata menikah seharusnya berarti rumah.

Dulu Renan yang pertama kali mengucapkannya.

Dan Ayuna mempercayainya karena sebagai yatim piatu, ia tidak pernah punya tempat pulang selain janji itu.

“Apa artinya kalau kamu bilang sudah tidak peduli padaku?” suara Renan serak.

Ayuna tertawa pendek. Pahit.

Dua tahun lalu, di koridor kampus yang sepi setelah hujan.

Renan berdiri dengan senyum nakal, menghalangi langkah Ayuna.

“Aku tidak punya rumah,” katanya ringan, “mau jadi rumahku?”

Kalimat itu terdengar konyol, tapi tatapan tulusnya membuat pertahanan Ayuna runtuh.

Sebagai yatim piatu, ia merasa akhirnya punya tempat pulang. Hari itu, ia percaya Renan adalah rumahnya.

Bayangan itu lenyap.

Kini, di depan Kantor Urusan Agama yang dingin, Ayuna menatap pria yang sama dan menyadari rumah yang dulu dijanjikan telah hancur, rata dengan tanah akibat kebohongan dan kecurigaan.

“Kalau aku tidak peduli,” katanya lirih,

“menurutmu kenapa aku bisa sampai seperti ini?”

Bayi dalam kandungannya bukan jatuh dari langit. Luka dua tahun terakhir bukan muncul begitu saja.

Semua itu karena dia terlalu peduli. Terlalu mencintai. Sampai merelakan harga diri, kebahagiaan, bahkan kewarasannya.

Renan menarik napas panjang.

“Aku mengaku. Perempuan-perempuan itu tidak pernah seperti yang kamu lihat.”

Ia menunduk. “Aku membiarkan mereka mendekat. Membiarkan orang-orang salah paham. Membiarkan semuanya terlihat lebih buruk.”

“Bukan karena aku ingin menyakitimu,” suaranya pecah,

“tapi karena aku percaya pada kebodohanku sendiri.”

Ayuna terdiam.

Bukan marah.

Bukan kaget.

Melainkan kosong.

Ia lalu tertawa getir.

Haruskah ia percaya?

Tatapan Renan tak beranjak dari Ayuna. “Ketika aku melihatmu bersama kakak seniormu itu dan aku pikir aku bukan lagi orang yang kamu butuhkan.”

“Aku cemburu,” katanya jujur.

“Tapi aku pengecut.”

“Kakak senior?” gumam Ayuna pelan.

Ia tidak pernah dekat dengan pria manapun selain Renan. Siapa yang Renan maksud?

Diamnya dianggap pengkhianatan.

Kesunyiannya disalahartikan sebagai tidak peduli.

“Jadi…” napasnya tertahan.

“Aku seperti itu dimatamu, ya?”

Ia menekan perutnya pelan.

“Aku diam bukan karena aku tidak mencintaimu. Aku diam karena aku takut setiap kali aku bicara, aku hanya akan semakin terluka.”

Air mata jatuh perlahan.

“Kalau begitu, dua tahun hidupku itu apa?” Jemarinya meremas sudut gaunnya erat, seolah mencari pegangan.

Ia menutup mata.

“Aku lelah,” bisiknya.

Kalimat itu keluar tanpa penjelasan.

Seolah ia sendiri tidak lagi tahu lelah yang mana.

Renan terdiam.

Di kehidupan sebelumnya, ia baru menyadari semua ini saat Ayuna telah tiada. Tidak pernah ada pria lain. Hanya jarak, diam, dan dua orang yang sama-sama terluka.

“Tuan Muda Kedua, ini dokumen yang Anda minta. Untuk apa ini?” Suara seorang pelayan memotong ketegangan.

Renan menoleh. Heri, kepala pelayan keluarga Morris, berdiri membawa berkas.

Heri memandang keduanya dengan bingung. Saat diminta membawa kartu keluarga diam-diam, ia sudah curiga. Dan sekarang.

Kecurigaannya terbukti.

Tatapannya kemudian jatuh pada Ayuna yang berlinang air mata. Wajah yang terguncang. Tubuh yang sedikit bergetar.

Ini bukan pemandangan seorang wanita yang dilamar.

Ini pemandangan seorang wanita yang dipaksa oleh keadaan.

Tatapan Heri membuat dada Renan mengencang.

Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa dari pandangan orang, tindakannya memang terlihat seperti paksaan.

Renan menerima dokumen itu.

“Pulanglah. Suruh semuanya kembali malam ini. Aku ingin mengumumkan sesuatu.”

Nada suaranya tenang. Bukan untuk menekan siapa pun.

Hari ini bukan tentang menahan Ayuna di sisinya.

Melainkan tentang berhenti lari dari konsekuensi perbuatannya sendiri, apa pun keputusan Ayuna nanti.

Dan Ayuna. Masih berdiri di sana.

Tidak pergi.

Tidak mendekat.

Hanya perempuan lelah yang terlalu lama merindukan rumah. Ia tidak tahu apakah ia masih ingin rumah itu atau hanya terlalu lelah untuk kehilangan satu-satunya hal yang pernah menyerupai rumah.

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Volis: Temanya memang itu 😊
total 3 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!