NovelToon NovelToon
TAHTA YANG DICURI

TAHTA YANG DICURI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.

Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.

Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Subjek yang Terlupa

Dengung mesin kapal kargo Arunika Jaya kini bukan lagi sekadar kebisingan latar belakang, melainkan detak jantung dari pelarian mereka yang semakin mencekam. Ruang mesin cadangan itu terasa semakin sempit saat Reno kembali menyalakan sumber cahaya LED-nya. Udara pengap yang bercampur bau oli terasa menyesakkan, namun tak ada satu pun dari mereka yang berani melangkah keluar ke dek kapal. Dunia di luar sana terlalu berbahaya; mereka lebih memilih terjebak di perut besi ini bersama rahasia yang bisa menghanguskan siapa saja.

Reno menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang gemetar. "Oke, lensanya sudah dingin. Aku akan memutar ke slide terakhir. Ini adalah bagian yang paling terenkripsi di dalam film ini, Bas. Sepertinya Sarah menaruh proteksi fisik tambahan di sini."

Baskara berdiri kaku di samping meja, tangannya bersedekap, namun matanya yang tajam tak sedetik pun beralih dari layar monitor. Alea duduk tepat di sampingnya, jemarinya meremas pinggiran jaketnya hingga buku-buku jarinya memutih. Ketegangan di ruangan itu begitu pekat, seolah satu suara keras saja bisa membuat segalanya hancur berantakan.

Cahaya putih menembus mikrofilm, dan sebuah citra baru mulai terbentuk di layar. Kali ini bukan dokumen notaris atau laporan forensik. Itu adalah foto sebuah kartu pasien rumah sakit jiwa dari tahun 1996. Di pojok kanan atas, terdapat label merah mencolok: "SUBJEK 02 - PENGAWASAN KETAT".

"Siapa dia?" tanya Alea dengan suara yang hampir menghilang.

Reno memperbesar bagian identitas pasien. Fotonya buram, menunjukkan seorang pria dengan rambut acak-acakan dan pandangan mata yang kosong, seolah jiwanya telah direnggut paksa. Namun, saat nama di bawah foto itu terbaca, Baskara merasakan seluruh dunianya seakan berhenti berputar.

"NAMA: HANDOKO WIRYAWAN"

"Handoko?" Baskara berbisik, suaranya mengandung kengerian yang murni. "Pria di gubuk Tambora itu... dia bukan sekadar informan lama ibuku. Dia adalah bagian dari eksperimen penghapusan ini?"

Reno menggeser ke slide berikutnya, yang berisi catatan medis singkat. "Pasien mengalami trauma psikologis hebat setelah menyaksikan 'Pembersihan Sektor 12'. Memiliki kecenderungan untuk mengungkap rahasia perusahaan. Rekomendasi: Prosedur Erase Tahap 2 (Lobektomi Kimiawi atau Isolasi Permanen)."

Alea menutup mulutnya, air mata kembali menggenang di matanya. "Jadi, itulah kenapa Handoko hidup seperti mayat hidup di Tambora. Sarah tidak membunuhnya karena Handoko terlalu berguna untuk dijadikan peringatan bagi yang lain, atau mungkin... Sarah ingin Handoko tetap hidup agar dia bisa memantau siapa saja yang mencoba menghubunginya."

"Atau ada alasan lain," Baskara menunjuk ke bagian bawah catatan medis tersebut. Ada sebuah catatan kecil tulisan tangan yang sangat ia kenal: gaya tulisan Sarah yang tajam dan miring.

"Handoko memegang salinan kunci cadangan. Jangan biarkan dia mati sampai kunci itu ditemukan."

Baskara memejamkan mata sesaat, menyatukan kepingan-kepingan informasi yang berserakan di otaknya. "Itulah kenapa Sarah mengirim orang untuk membunuh Handoko tepat setelah kita menemuinya. Sarah baru menyadari bahwa Handoko telah memberikan kunci itu—atau setidaknya petunjuk tentang kunci itu—kepada kita. Handoko telah menyimpan rahasia ini selama tiga puluh tahun, menunggu seseorang yang cukup gila untuk melawan Mahardika."

"Dan orang itu adalah kau, Bas," ujar Alea pelan. Ia menatap Baskara dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa syukur, namun juga ketakutan yang mendalam.

Baskara tidak menjawab. Ia kembali menatap layar monitor saat Reno menampilkan slide terakhir dari mikrofilm tersebut. Slide ini berbeda dari yang lain. Ini bukan dokumen, melainkan sebuah peta digital kasar yang menunjukkan koordinat sebuah lokasi di lepas pantai Jakarta. Di bawah peta itu tertulis sebuah kalimat singkat yang membuat bulu kuduk mereka meremang:

"BRANKAS 00: DIMANA SEMUA DIMULAI DAN AKAN BERAKHIR."

"Brankas 00?" Reno mengerutkan kening. "Aku sudah memetakan semua aset Mahardika, tapi tidak pernah ada penyebutan tentang 'Brankas 00'. Ini pasti fasilitas rahasia yang tidak terdaftar di laporan keuangan manapun."

"Fasilitas itu ada di laut," Baskara menunjuk koordinat di peta. "Bukan di daratan. Sarah sangat pintar. Dia tahu properti di darat bisa disita atau digeledah oleh polisi. Tapi fasilitas di tengah laut, yang mungkin menyamar sebagai anjungan minyak tua atau laboratorium kelautan... itu adalah tempat yang sempurna untuk menyimpan dokumen fisik asli dari Proyek Erase."

Alea berdiri, suaranya kini terdengar lebih mantap meskipun masih ada getaran di sana. "Jika kita bisa mendapatkan dokumen asli di Brankas 00, Sarah tidak akan punya cara untuk menghindar lagi. Itu adalah bukti primer. Bukan sekadar foto di mikrofilm yang bisa ia klaim sebagai rekayasa digital."

"Tapi kita tidak punya peralatan untuk menuju ke sana," sahut Reno cemas. "Kita buronan, kita di atas kapal kargo menuju Makassar, dan polisi pasti sedang menyisir setiap inci garis pantai Jakarta."

Baskara terdiam cukup lama, hanya suara mesin kapal yang mengisi kekosongan itu. Ia kemudian menoleh ke arah tas hitamnya. Ia mengambil ponsel satelitnya yang sejak tadi dimatikan.

"Kita tidak akan pergi ke Makassar," ujar Baskara tegas. "Reno, hubungi pamanmu. Katakan padanya kita butuh perahu cepat yang bisa diturunkan dari kapal ini sekarang juga. Aku akan menghubungi satu-satunya orang yang mungkin masih bisa kita percayai di dalam lingkaran Mahardika."

"Siapa?" tanya Alea dan Reno serentak.

"Sandi," jawab Baskara.

"Sandi?" Reno membelalak. "Tangan kanan Sarah? Pria yang mencoba menyabotase auditmu bulan lalu? Kau sudah gila, Bas!"

"Sandi adalah tentara bayaran, Reno. Dia tidak punya loyalitas pada Sarah, dia hanya setia pada siapa pun yang bisa memberinya posisi lebih tinggi," jelas Baskara dengan nada dingin yang penuh perhitungan. "Sandi tahu Sarah sedang jatuh. Dia tahu jika Sarah hancur, dia akan ikut terseret. Aku akan memberinya pilihan: tenggelam bersama Sarah, atau membantuku menghancurkannya dan mengambil alih sisa-sisa keamanan Mahardika."

Alea menatap Baskara dengan ngeri. "Kau sedang bermain api, Baskara. Bagaimana jika Sandi justru melaporkan posisi kita pada Sarah untuk mendapatkan bonus terakhir?"

Baskara menatap Alea, lalu perlahan ia menyentuh lengan gadis itu. "Dalam perang seperti ini, Alea, terkadang kita harus menggunakan iblis untuk mengalahkan setan. Aku tahu risiko Sandi berkhianat, tapi dia adalah satu-satunya orang yang tahu protokol masuk ke Brankas 00 tanpa memicu alarm penghancuran diri."

Baskara berjalan menuju pintu ruang mesin, membukanya sedikit untuk melihat kegelapan laut malam yang luas. Angin laut yang dingin menusuk masuk, menerbangkan helai rambutnya.

"Kita sudah sampai di titik di mana tidak ada lagi jalan untuk kembali," gumam Baskara. "Malam ini, kita bukan lagi orang yang melarikan diri dari masa lalu. Kita adalah masa lalu yang datang untuk menagih nyawa."

Alea mendekat, berdiri di samping Baskara. Ia menatap cakrawala yang gelap, memikirkan ibunya, ayahnya, dan masa kecilnya yang ternyata adalah sebuah panggung sandiwara. Rasa takutnya kini telah bermutasi menjadi ketenangan yang mematikan.

"Lakukan, Baskara," ujar Alea tanpa ragu. "Hubungi Sandi. Jika kita harus terbakar bersama Sarah, pastikan dia yang pertama kali merasakan apinya."

Reno hanya bisa menghela napas panjang dan mulai menyiapkan transmisi satelitnya. Ia tahu, bab-bab selanjutnya tidak akan lagi berisi tentang persembunyian yang pasif. Mereka sedang bersiap untuk meluncurkan serangan balik yang paling nekat dalam sejarah Mahardika Group.

Di tengah laut utara yang dingin, rencana untuk menyerbu Brankas 00 mulai disusun. Dan di dalam kegelapan itu, Baskara menyadari satu hal: ia mungkin akan mendapatkan kembali takhtanya, namun ia harus memastikan bahwa ia tidak kehilangan kemanusiaannya—dan Alea—saat ia mencapainya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!