NovelToon NovelToon
Wanita Amnesia Itu Istriku

Wanita Amnesia Itu Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Amnesia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.

"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."

Bara memohon dengan mata memelas.

Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.

Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.

Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.

"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.

Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?

Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAPUH

TOKTOKTOK

"Assalamu'alaikum."

Aira yang tengah di dapur mencuci piring tertegun mendengar suara salam dan ketukan pintu.

Norma sedang mandi setelah selesai memasak.

Aira mematikan kran dan mengeringkan tangannya dengan serbet lalu berjalan perlahan membukakan pintu.

TOKTOKTOK

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam, Iya cari siapa ya?"

Wanita itu tertegun memandang wanita berhijab dihadapannya. Rasanya, Ia tak pernah melihat sebelumnya.

"Ada Tante Norma? "

"Oh iya ada, silahkan masuk."

Aira membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan wanita itu masuk.

"Silahkan duduk, sebentar saya panggilkan."

Wanita itu mengangguk, Aira berlalu ke dalam.

TOKTOK TOK

"Bu, ada tamu, " panggil Aira mengetuk pintu kamar Norma setelah melihat kamar mandi sudah kosong.

CEKLEK

"Iya, tolong buatkan teh ya."

Aira mengangguk lalu ke dapur.

Norma berjalan ke ruang tamu.

"Intan, waah tambah cantik kamu."

Wanita yang di sapa intan itu spontan merona.

"Ah, tante bisa aja. Saya gini-gini aja kok Bu dari dulu."

"Nggak, kamu banyak berubah Intan. Penampilan mu aja sudah kayak Bos. Sudah naik jabatan ya?"

"Alhamdulillah, Bu. Sekarang jadi supervisor di Bank. Dulu kan cuma teller."

" Bener naik jabatan dong ya, alhamdulillah. Tante ikut senang dengarnya."

"Tante, itu yang buka pintu siapa? "

"Oh yang tadi, itu... adik sepupu Bara."

Aira yang beberapa langkah lagi sampai di ruang tamu membawa cangkir teh, tiba-tiba terdiam.

'Adik sepupu? ' tanya Aira dalam hati kebingungan.

"Oh gitu, pantas saya belum pernah lihat sebelumnya."

"Iya, dia lagi berobat di sini. Aslinya dari kampung sebelah. "

"Berobat? sakit apa tante?"

"Infeksi Otak. Masih harus terapi lagi beberapa kali baru pulang."

Intan mengangguk.

Aira menarik nafas lalu melanjutkan langkahnya ke ruang tamu.

Cangkir teh di letakkan di hadapan Intan dan Norma.

"Terima kasih ya, " ujar Intan ramah.

"Sama-sama, " sahut Aira sopan dan berlalu ke dalam.

Norma sempat melirik, berharap Aira tak mendengar percakapan sebelumnya.

"Jadi maksud ibu kemarin bagaimana Bu? Intan masih belum paham."

"Jadi begini, ibu kan lagi cari mantu buat Bara. Sudah banyak yang ibu tawari tapi nggak ada yang cocok. Ibu pikir Bara masih keingat kamu. Memang waktu itu dia yang mutusin karena dia ke bawa emosi, tapi sebenarnya Bara itu masih suka sama kamu."

Intan tertegun, "Masa iya sih Tante? soalnya Intan pernah telpon Mas Bara bulan lalu, tapi telpon intan di tolak. Bahkan kontak intan di blokir. "

Norma terdiam, ia harus berpikir cepat mencari cara meyakinkan Intan.

"Oh, mungkin waktu itu lagi rapat di kantor Intan. Bara juga ganti nomer sekarang, nomernya ke blokir."

Intan mengangguk paham.

"Terus, bagaimana rencana Tante? "

Norma menjelaskan tawaran rencananya setengah berbisik.

Aira berdiri di sebelah dinding ruang tamu, mencoba mendengarkan rencana Norma.

'Apa ibu bermaksud menjodohkan mas Bara sama perempuan ini ya?' batin Aira.

'Aku perlu cari tahu siapa intan yang datang ini. Apa mungkin Puspa tahu ya?'

Aira ke kamarnya sambil mengendap, mengambil ponsel diatas nakas.

^^^[Assalamu'alaikum, de. Kenal dengan yang namanya intan? ]^^^

[ intan? apa orangnya tinggi rambut keriting panjang kak? ]

^^^[Iya betul.]^^^

[Oh, itu mantan pacar mas Bara Kak. Sudah putus dua tahun yang lalu, kenapa Kak? ]

^^^[Oh, nggak apa-apa de, cuma tanya aja. Terima kasih ya]^^^

[Iya, Kak. Sama-sama]

Aira menghela nafas, "Ibu ternyata benar-benar serius dengan ucapannya kemarin, " gumam Aira.

Ia menatap foto pernikahan di atas nakas yang berdiri tegak di dalam bingkai. Senyuman kebahagiaan mereka begitu indah, dan tulus seolah mereka dua orang yang paling bahagia di dunia.

Aira tersenyum mengenang momen sekali seumur hidup itu. Namun senyuman itu seketika pupus saat ia ingat sudah terbangun di kamar rumah sakit. Selang infus di tangan kirinya, dan Bara yang duduk di samping brankar.

Aira menggigit bibir bawahnya, mata kian memburam karena tertutup air yang siap meluncur membasahi pipinya.

Bayangan bara yang terkantuk-kantuk menjaganya di kamar inap. Memapahnya berkeliling taman rumah sakit. Mendorong kursi roda membawanya ke ruang CT Scan dan banyak lagi.

Kenangan yang tak pernah ia bayangkan akan ia alami sebelumnya.

Aira menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisannya pun akhirnya pecah tak mampu di bendung lagi. Tubuhnya berguncang menahan suara tangis jangan sampai menembus kamar tidurnya.

***

Bara baru saja selesai rapat. Hari pertama bekerja setelah pengajuan cuti khusus selama dua minggu. Ia mengambil ponsel di saku celana mencari kontak Aira dan menekan tombol panggil di layar.

"Assalamu'alaikum, " sapanya.

"Wa'alaikumsalam, ya Mas. "

Bara tertegun mendegar suara serak dari telpon istrinya.

"Ada apa, Aira? "

Aira berdehem menjernihkan suaranya.

"Nggak apa-apa, Mas. Baru bangun agak serak, " elaknya.

"Oh, tadi ketiduran? Sudah makan siang? "

"Belum, Mas. Baru juga bangun. Mas sudah istirahat? "

"Belum juga, mau sholat dzuhur dulu. Kebetulan baru selesai rapat. Agak molor rapatnya."

"Oh gitu. Ya sudah, Aira sholat dulu deh. Mas Bara makan, ya. Aira tadi juga sudah keluar kamar bantu-bantu Ibu cuci piring. Alhamdulillah dibawa bergerak jadi nggak lemes."

"Alhamdulillah, tapi jangan berat-berat ya kerjaannya. Jangan di paksakan."

"Iya, Mas. Ibu juga bilang gitu tadi. Ya sudah, Aira tutup ya, Mas. Assalamu'alaikum."

TUT-TUT-TUT

"Tumben buru-buru tutup telpon. Biasanya tunggu aku yang tutup duluan, " gumam Bara.

Ia merasa Aira seperti menghindar.

"Mas Bara, ayo sholat jamaah, " ajak Wahyu rekannya satu bidang.

"Ayo, Mas."

Mereka berjalan bersama menuju Masjid diluar gedung kantor.

"Bagaimana keadaan istrinya, Mas? "

"Alhamdulillah, banyak kemajuan. Tapi masih lemas."

"Setelah operasi kemarin, harus terapi lagi ya, kan Mas? "

"Iya, kamu kok tahu Yu? "

"Iya, Mas. Teman SMA ku suaminya sakit seperti istri Mas juga. Infeksi otak. Saat sesi terapi malah Amnesia suaminya Mas. Syukurnya cuma sementara. Jadi, temanku itu kerja keras buat ngingat kan momen mereka. Syukurnya mereka sudah punya anak, dua. Teman ku itu sampai tes DNA meyakinkan suaminya kalau anaknya itu benar anak kandungnya."

"Berat, Mas katanya. Melelahkan lahir batin. Semoga aja, istri Mas nggak sampai begitu keadaannya. "

Bara malah tertekan mendengar cerita itu. Ia tak bisa menutupi kecemasannya.

Setelah selesai menunaikan Shalat Dzuhur berjamaah, Bara duduk lama berdzikir. Wahyu sudah pamit duluan ke kantin karena sudah sangat lapar.

Cerita Wahyu, membuat hati Bara mengkerut. Ia ragu bisa sekuat itu mendampingi Aira jika benar istrinya mengalami hal yang sama.

Bara menengadahkan kedua tangannya, melafalkan asmaul husna sebanyak yang ia hafal, mengharap pujian ini menjadi pembuka terkabulkan nya doa.

"Ya Allah, aku tahu sakit Aira ini ujian pernikahan untuk ku. Ujian keikhlasan, Ujian kesabaran. Tapi aku juga mengharapkan pertolongan Mu Ya Allah. Karena aku tahu kemampuanku terbatas, tapi tidak dengan kuasa Mu."

"Aku yakin, Engkau mudah menyelesaikan sesuatu sama halnya Engkau mudah memberikan ketetapan. Maka, aku berharap penyelesaian yang baik untuk masalah Aira ini Ya Allah. Kuatkan kakiku saat tak mampu lagi berpijak. Kuatkan tangan ku saat tak mampu lagi berpegangan. Kuatkan sandaran ku saat bahuku tak mampu lagi menopang."

"Engkau pemberi kekuatan, karena padaMu lah tempat aku berharap. Kabulkan doaku Ya Allah."

Bara melafalkan shalawat pada Nabi Muhammad Saw menutup doa panjangnya lalu menangkup kedua tangan ke wajahnya. Tubuhnya bergetar, tangisannya pecah sebagaimana hatinya yang mulai melemah.

1
falea sezi
bara plin plan males deh cowok kayak gini.. mending Aira kasih jdoh lain yg ortunya nrima Aira thor biar nyesel di bara yg nurut aja kata emak. nya
Happy Kids: skalipun dipaksain yg ada sakit ati. si norma jg pengen ngebet jd kaya 🤭
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. msh on progress yg ini.. di up hari ini .. 🙏🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!