Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETAKUTAN MAMA CACA
Beberapa hari setelah ulang tahun Pak Bara, aku sedang bermain dengan Rafi di halaman belakang rumahnya saat tiba-tiba mendengar suara mobil yang banyak datang dengan kecepatan tinggi.
Kita berdua langsung berdiri dan melihat beberapa mobil hitam lain datang dan berhenti di depan gerbang rumah Rafi.
Orang-orang berjubah hitam keluar dari dalam mobil dengan wajah yang sangat serius. Salah satu dari mereka mendekati Pak Bara yang baru saja keluar dari rumah dan mulai berbicara dengan nada yang keras.
Aku bisa melihat ekspresi wajah Pak Bara yang menjadi semakin serius dari waktu ke waktu.
“Kita masuk dalam saja ya, Caca,” ujar Rafi dengan suara sedikit gemetar saat dia menarik tanganku ke arah rumah. “Itu pasti musuh Ayah yang datang.”
Kita masuk dan berdiri di belakang pintu, menyimak pembicaraan yang terjadi di luar. Suara mereka terlalu rendah untuk kudengar jelas, tapi aku bisa merasakan ketegangan yang sangat kuat di udara.
Setelah beberapa saat, orang-orang itu kembali masuk ke mobil dan pergi meninggalkan rumah Rafi dengan cepat.
Pak Bara masuk ke dalam rumah dengan wajah yang sangat gelisah. Dia langsung pergi ke kamar belakang dan menutup pintunya dengan keras. Mama Lila mendekati kita dengan wajah yang khawatir.
“Kalian baik-baik saja kan?” tanyanya dengan suara lembut. “Jangan takut ya, Ayah akan menangani semuanya.”
Namun rasa takut sudah mulai merasuk ke dalam hatiku. Saat aku pulang ke rumah sore itu, aku menemukan Mama sedang menangis di ruang tamu bersama Ayahku. Mereka langsung berhenti menangis ketika melihatku masuk.
“Caca, kamu sudah pulang ya,” ujar Mama dengan suara yang sedikit terengah-engah. “Kamu segera mandi dan istirahat ya, nanti Mama akan memasak makanan kesukaanmu.”
Aku bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang salah. Setelah mandi dan berpakaian kembali, aku mendengar Mama dan Ayah berbicara dengan suara rendah di ruang tamu. Aku menyelinap dan mendengarkan dari balik pintu yang terbuka sedikit.
“Kita harus segera pindah rumah, Budi,” ujar Mama dengan suara penuh kesedihan. “Kamu sudah melihat beritanya kan? Kelompok mafia lain sedang mencari masalah dengan keluarga Bara. Mereka bahkan mengancam akan menyakitkan orang-orang yang dekat dengan mereka!”
“Aku tahu, Nita,” jawab Ayah dengan suara yang berat. “Tapi kemana kita akan pergi? Kita punya bisnis dan keluarga di sini. Kita tidak bisa tinggal terus-terusan seperti orang yang kabur.”
“Lebih baik kabur daripada melihat Caca kita tersakiti!” teriak Mama dengan suara yang semakin tinggi. “Kamu sudah melihat bagaimana mereka bekerja! Mereka tidak peduli dengan anak-anak atau orang yang tidak bersalah!”
Aku merasa seperti dunia sedang runtuh di sekitarku. Mama ingin kita pindah rumah dan menjauh dari Rafi? Aku tidak bisa menerima itu.
Aku berlari ke kamarku dan menangis dengan penuh kesedihan. Kenapa semuanya harus jadi seperti ini? Kenapa selalu ada bahaya yang mengancam kita?
Keesokan paginya, aku bangun sangat awal dan langsung pergi ke rumah Rafi. Aku tidak peduli apa yang dikatakan Mama, aku harus memberitahu Rafi tentang rencana pindah rumah itu.
Namun saat aku sampai di depan gerbang rumah Rafi, penjaga yang biasanya ramah padaku sekarang menghalangi aku untuk masuk.
“Maaf, Caca,” ujarnya dengan suara yang penuh rasa tidak senang. “Pak Bara menyuruh tidak boleh ada orang yang masuk atau keluar dari rumah ini untuk sementara waktu. Ini untuk keamanan semua orang.”
“Aku harus melihat Rafi! Tolong dong, aku punya sesuatu yang penting untuk bilang padanya!” seruku dengan suara yang sudah mulai menangis.
Tiba-tiba pintu gerbang terbuka dan Rafi keluar dengan wajah yang pucat dan mata yang berkaca-kaca. Dia berlari ke arahku dan memelukku erat.
“Kamu sudah tahu ya?” tanyanya dengan suara lembut.
“Aku dengar Mama dan Ayah bicara tentang pindah rumah,” jawabku dengan suara yang menggigil. “Kamu juga tahu tentangnya?”
Rafi mengangguk dengan mata yang penuh air mata. “Ayah bilang kita harus menjauh dari satu sama lain untuk sementara waktu. Kelompok mafia yang datang kemarin mengancam akan menyakitimu kalau aku masih bermain denganmu. Ayah tidak bisa membiarkan itu terjadi.”
“Aku tidak mau pergi dari sini, Rafi!” aku menangis dan memeluknya lebih erat. “Aku tidak mau kehilangan teman terbaikku!”
“Kita tidak punya pilihan lain, Caca,” ujarnya dengan suara yang penuh kesedihan. “Ayah bilang ini adalah satu-satunya cara untuk melindungimu. Tapi aku berjanji, kita akan bertemu lagi nanti. Kita akan selalu menjadi teman, tidak peduli sejauh mana jarak yang memisahkan kita.”
Rafi mengeluarkan gelang bintang yang pernah dia berikan padaku dari saku bajunya. Dia mengambil gelang itu dari tanganku dan menggantinya dengan gelang yang sama tapi lebih besar.
“Ini adalah gelang yang sama dengan yang aku punya,” katanya dengan suara pelan. “Setiap kali kamu melihatnya, ingatlah bahwa aku selalu berpikir tentangmu dan kita akan bertemu lagi suatu hari nanti.”
Aku juga memberikan gelang kecil yang diberikan Mama Lila padanya. “Ini untukmu juga, Rafi. Jangan pernah melupakan aku ya.”
Kita berpelukan erat sekali lagi sebelum aku harus pergi pulang. Saat aku berjalan meninggalkan rumah Rafi, aku tidak berani melihat ke belakang karena takut akan menangis lagi.
Ketika sampai di rumah, aku menemukan koper-koper besar sudah tersusun di ruang tamu. Mama sedang memasangkan label pada salah satu koper dengan wajah yang penuh kesedihan.
“Caca, sayang,” ujarnya dengan suara lembut ketika melihatku masuk. “Kita harus pergi sebelum terlambat. Mama hanya ingin kamu aman.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya masuk ke kamarku dan mengambil boneka Kiki serta buku cerita yang pernah aku baca bersama Rafi.
Saat kita siap untuk pergi dan mobil sudah menunggu di depan rumah, aku melihat Rafi berdiri di balkon rumahnya dengan tangan terangkat ke atas sebagai tanda perpisahan.
Aku mengangkat tanganku juga dan meniup ciuman padanya, dengan harapan bahwa dia bisa melihatnya.
Perjalanan pergi dari kampung itu terasa sangat lama. Hatiku penuh dengan kesedihan dan rasa kehilangan.
Tapi aku selalu melihat gelang di tanganku dan berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu hari nanti, aku akan kembali dan bertemu dengan Rafi lagi.
Kita akan tetap menjadi teman terbaik, tidak peduli seberapa jauh jarak yang memisahkan kita dan seberapa banyak waktu yang telah berlalu.