"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Di Balik Pilar Masjid Al-Azhar
Ikhtiar yang Berbisik
Langkahku terhenti di pelataran yang sama,
Mencari jejak dari sebuah nama.
Mas Azam yang biasanya tangguh bersuara,
Kini tunduk membisu di depan asmara.
Bukan karena takut, bukan karena ragu,
Tapi karena ia tahu, cinta ini butuh restu.
Khadijah, nama yang kini mengisi ruang hampa,
Menjadi alasan Mas Azam kembali menyapa.
Beberapa hari setelah kejadian tabrakan itu, suasana di apartemen Mas Azam terasa berbeda. Mas Azam yang biasanya menghabiskan waktu luang dengan menulis artikel jurnal atau membaca kitab tebal, kini seringkali kedapatan melamun sambil menatap ke arah jendela yang menghadap ke gedung fakultas kedokteran.
Bungah, sebagai adik yang peka, tidak tinggal diam. Ia merasa sudah saatnya membalas budi atas semua penjagaan yang diberikan kakaknya selama ini.
"Mas, besok ada kajian umum di Masjid Al-Azhar oleh Syeikh Yusri. Kabarnya, mahasiswi kedokteran wajib hadir karena temanya tentang Thibbun Nabawi (Kedokteran Nabi)," ujar Bungah saat mereka sedang merapikan rak buku.
Mas Azam menoleh, alisnya terangkat sebelah. "Lalu?"
"Ya... siapa tahu Mbak Khadijah ada di sana. Mas Azam kan Doktor Ushuluddin, pasti bisa kalau cuma mau menyapa atau menanyakan satu-dua hal tentang sanad kitab yang dibawa Mbak Khadijah kemarin. Itu namanya 'pancingan ilmiah', Mas," goda Bungah sambil tertawa kecil.
Mas Azam terdiam cukup lama. Ada pergulatan batin di wajahnya yang bersih tanpa kumis itu. "Apa tidak terlihat terlalu mencolok, Dek? Mas tidak mau dia merasa tidak nyaman."
"Makanya, Mas jangan datang sebagai laki-laki yang mau kenalan, tapi datanglah sebagai ilmuwan yang ingin bertukar pikiran. Nanti Bungah yang akan mendekati dia duluan," jawab Bungah mantap.
Keesokan harinya, Masjid Al-Azhar dipenuhi oleh lautan manusia. Bungah dengan cadar hitamnya dan Mas Azam dengan jas rapinya masuk ke area masjid. Setelah kajian selesai, Bungah mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
"Itu dia, Mas!" bisik Bungah sambil menunjuk ke arah pilar besar di sisi kiri.
Gadis bergamis hijau zamrud itu sedang duduk bersimpuh, mencatat dengan tekun hasil kajian tadi. Ia nampak begitu bersahaja, kecantikannya memancar dari ketenangan batinnya.
Bungah segera melangkah mendekat, meninggalkan Mas Azam yang mendadak berkeringat dingin di belakang.
"Assalamu’alaikum, Mbak Khadijah?" sapa Bungah dengan suara selembut mungkin.
Gadis itu mendongak, matanya yang teduh menatap Bungah. "Wa’alaikumussalam. Maaf, siapa ya?"
"Saya Bungah, mahasiswi tingkat dua. Ini... perkenalkan, ini kakak saya, Mas Azam. Beliau yang tempo hari tidak sengaja menabrak Mbak di pasar buku," Bungah memperkenalkan kakaknya dengan cepat.
Mas Azam melangkah maju, ia menundukkan pandangannya sebagai bentuk rasa hormat. "Afwan, Mbak Khadijah. Saya Azam. Saya ingin meminta maaf sekali lagi soal kemarin. Dan... jika tidak keberatan, saya melihat Mbak membawa kitab Fathul Bari yang memiliki catatan pinggir yang sangat detail. Apakah itu tulisan Mbak sendiri?"
Khadijah nampak sedikit terkejut, namun kemudian ia tersenyum tipis—senyum yang membuat Mas Azam hampir lupa cara bernapas. "Oh, iya. Itu catatan saya saat mengikuti mulazamah di Jawa dulu. Anda memperhatikannya?"
"Saya sedikit mempelajarinya juga saat S3 kemarin. Jika Mbak tidak keberatan, ada beberapa bagian di jilid ketiga yang ingin saya diskusikan. Mungkin kita bisa bertukar referensi?" ucap Mas Azam dengan nada yang sangat profesional, meskipun tangannya sedikit bergetar.
Khadijah terdiam sejenak, ia menatap Mas Azam dengan pandangan yang menilai. Ia seolah mencari ketulusan di balik kata-kata pria di depannya. "Mas Azam ini... Doktor Azam yang baru lulus itu ya? Saya pernah dengar nama Mas di kalangan mahasiswa Indonesia."
Wajah Mas Azam memerah. "Hanya orang biasa yang sedang belajar, Mbak."
"Baiklah, Mas. Mungkin lain kali kita bisa diskusi di perpustakaan bersama teman-teman yang lain agar tidak timbul fitnah. Ini nomor asrama saya, silakan hubungi jika ada referensi yang ingin dibagikan," ucap Khadijah sambil menuliskan sesuatu di secarik kertas kecil.
Bungah yang berdiri di samping mereka hampir saja bersorak kegirangan. Rencananya berhasil!
Setelah Khadijah pamit dan pergi, Mas Azam menatap kertas kecil itu seolah-olah itu adalah harta karun paling berharga di seluruh Mesir.
"Mas... Mas Azam..." panggil Bungah sambil menyenggol kakaknya.
"Dia... dia mengenalku, Dek," bisik Mas Azam tak percaya.
Bungah tertawa bahagia. "Tentu saja kenal! Mas Azam kan Doktor termuda di sini. Sekarang, tinggal bagaimana Mas menjaga kepercayaan itu. Ternyata, Kutub Utara di Jawa Timur punya saingan nih; Kutub Utara di Kairo juga mulai mencair!"
Di bawah kubah megah Al-Azhar, sebuah cerita baru telah resmi dimulai. Bukan hanya tentang Bungah dan Zidan, tapi juga tentang perjuangan Mas Azam mengejar takdirnya.