Mengisahkan seorang agen kocak tapi cool
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhasil menangkap si bule
Ia langsung berhenti dan mengumpat dengan kata-kata yang cepat dan di selimuti amarah karena kemacetan ini.
Karena melakukan pelarian menggunakan mobil tidak memungkinkan, ia tak punya pilihan lain selain melakukan pencarian menggunakan kedua kakinya.
Mobil mewah itu ia tinggalkan dan berlari di atas trotoar yang tidak terlalu ramah.
Pada awalnya, ia tampak sedikit lega karena mungkin saja Wawan tidak lagi mengejarnya.
Namun... Ketika si bule menoleh ke belakang, ia melihat Wawan masih mengejar menggunakan motor Supra yang tahan banting.
Bahkan, meksipun trotoar itu sudah sangat rusak dan membuat motornya melompat-lompat karena jalan yang buruk.
Apalagi, dalam keadaan itu wajah Wawan masih datar seperti biasanya.
Si bule kembali mengumpat dalam bahasa Rusia sebelum akhirnya ia berbelok ke samping untuk melarikan diri.
Ia lari di jalan sebuah gang yang sangat sepi dan sangat kotor.
Sekuat tenaga ia berlari dan beberapa kali menjatuhkan kayu dan sampah untuk menghalangi Wawan yang mengendarai motor.
Namun, semua itu sia-sia.
Motor Supranya Wawan lebih tahan banting dari apa yang orang kira.
Jadi motor itu bisa melintasi semua halangan yang di buat oleh si bule.
Merasa putus asa untuk melarikan diri, si bule kemudian memberanikan diri untuk diam dan melakukan perlawana.
"Akhhh!!"
"Maju sini!" Ia berbicara pakai bahasa Indonesia.
Bersamaan, ia juga mengeluarkan sebuah pisau dari balik jas rapinya.
Karena targetnya sudah tak lagi bisa lari, Wawan kemudian turun dari atas motornya dan menghampiri bule itu.
Ketika Wawan berjalan mendekat, di mata si bule Wawan terlihat sangat amat menakutkan dengan tatapan dingin dan wajah datarnya itu.
Nyali si bule seketika ciut ketika ia bertatap-tatapan dengan Wawan.
"Saya... Saya menyerah!" Belum apa-apa, ia sudah menjatuhkan senjatanya saja dan mengangkat tangan.
Itu menunjukkan betapa takutnya ia melihat perangai Wawan.
Suasana seketika hening dimana Wawan sejenak menatap mata orang yang ada di hadapannya itu.
Baru setelah itu ia meringkus si bule dan membawanya ke markas dengan menggunakan motornya.
Markas rahasia.
Berbeda dengan markas agen-agen yang ada di film-film yang mana markasnya begitu canggih dan tersembunyi di dalam bangker.
Markasnya Wawan malah tersembunyi di balik spanduk tempat fotokopi.
Sudah begitu, fasilitas di dalam markas itu sangat memperihatinkan mengingat ini adalah markas agen rahasia.
Bahkan, si bule saja sampai kasihan melihat markas ini. "Walah... Menyedihkan sekali orang-orang yang bekerja di sini!" Gumamnya dalam bahasa Rusia.
Wawan kemudian menghadap atasannya sambil membawa si bule bersamanya.
Untungnya, meksipun markas ini tampak tak meyakinkan tapi, pimpinan dari markas ini terlihat sangat berpengalaman dan terlihat dapat di andalkan.
Ia seorang bapak-bapak yang tampak dari luar punya karisma seorang pemimpin.
Ia terasa tenang, kalem, santai namun juga berbahaya di saat bersamaan.
Orang-orang yang melihatnya tanpa sadar akan mengembangkan rasa kagum dan hormat padanya.
"Pak! Ini orang yang kita incar beberapa Minggu ini!" Ucap Wawan dengan nada yang datar seperti biasa.
"Kerja bagus... Tapi apa cuma dia!?" Ucap si Pimpinan serius.
"Iya pak. Dia sadar saya mengikutinya dan melarikan diri, saya tak punya pilihan lain selain menangkap orang ini saja!" Jelas Wawan sambil melirik tajam ke arah si bule.
Bulu kuduk si bule seketika merinding ketika melihat Wawan melirik ke arahnya.
Baginya, Wawan terlalu menakutkan hingga otaknya sudah berpikir yang tidak-tidak hanya karena Wawan sedikit melihat ke arahnya.
"Habislah. Aku akan menderita di sini!" Gumamnya dalam bahasa Rusia.
Ia tampak sangat pasrah di sini.
Karena hasil ketjas Wawan danga bagus, ia langsung di puji oleh atasnya itu.
Tak cuma pujian saja, tapi Wawan juga dapat bonus dari pekerjaan kali ini... Meski hanya sekaleng kerupuk.
Ketika Wawan hanya bisa terdiam melihat hadiah yang ia dapat setelah semua kerja kerasnya, si Pimpinan hanya buda tersebut lebar hingga giginya kelihatan.
"... Apa markas kita semakin itu hingga kerupuk pun bisa jadi hadiah?!" Ucap Wawan sambil mengangkat kaleng kerupuk itu.
"Mau bagiamana lagi. Dana yang seharusnya turun lagi-lagi di korupsi, jadi kita benar-benar kekurangan uang sekarang!"
"Sudah bagus kita masih dapat gaji yang tetap selama beberapa bulan ini!" Ucapnya sambil menggaruk-garuk kepala.
Ia tampaknya cukup malu dan tertekan dengan keadaan keuangan mereka sekarang.
Wawan yang paham dengan betapa bobroknya sistem di tempat kerjanya hanya bisa menghela nafas dan kemudian pulang.
Di lorong yang agak panjang, Wawan yang sedang membawa sekaleng kerupuk pun bertemu dengan rekan yang telah memberikan instruksi sepanjang misi.
"Kamu ngapain bawa-bawa kerupuk sebanyak itu!?" Tanyanya sambil menghampiri Wawan dari arah yang berlawanan.
Wawan pun menjawab apa adanya. "Ini hadiah dari komandan!" Si rekan yang bernama Raisya tersentak.
"Hah!?..." Tentu ia akan bingung kalau Wawan tiba-tiba berkata kalau kerupuk itu adalah hadiah dari atasan mereka.
Wawan memperjelas perkataannya. "Iya, ini hadiah dari komandan atas keberhasilan misi ini... Kamu mau!?" Sambil membuka tutup kaleng itu Wawan menawari Raisya.
Raisya seketika menggelengkan kepalanya. "Tidak, terimakasih. Itu untuk kamu saja!" Tolaknya sambil mengangkat satu tangan.
Sejenak mereka kemudian terdiam.
Tapi tak lama, Raisya yang baru jadi rekan Wawan menjadi sangat penasaran karena Wawan tampak biasa saja.
"Kamu tidak bahagia?!" Tanya Raisya dengan kepala sedikit miring karena bingung yang tercampur rasa penasaran.
"Tidak. Tidak ada alasan untuk bahagia, semuanya sudah biasa!" Ada kesalahpahaman di sini.
Raisya bertanya soal keberhasilan misi ini yang seharusnya membahagiakan, tapi Wawan malah mengira kalau Raisya bertanya soal Wawan yang dapat hadiah Kerupuk.
Dan dari kesalahpahaman ini, muncul kesalahpahaman baru dimana Raisya mengira kalau Wawan adalah agen yang sudah menangkap banyak kriminal berbahaya.
Saking banyaknya, itu menjadi hal biasa bagi Wawan.
Pikirannya.
Padahal mah, Wawan hanya agen pemula yang belum banyak pengalaman.
"Kalau tidak ada apa-apa lagi, aku pulang dulu, ya!" Ucap Wawan yang mulai berjalan menjauhi Raisya.
"Hati-hati di jalan!" Ucap Raisya sebelum wawan benar-benar.
Raisya tampak menatapi punggung Wawan dan mulai tersipu ketika melihat Wawan yang begitu acuh itu.
"Selain banyak pengalaman, dia juga orang yang sangat menarik!"
"Tidak biasanya ada cowok yang mengabaikan aku seperti ini, apalagi tanpa meminta nomor telepon atau akun media sosialku!"
Tampaknya...
Raisya mulai memiliki ketertarikan pada sosok Wawan yang mana di matanya Wawan adalah sosok yang danga acuh dan orang yang fokus.
Wawan tak pernah sekalipun ia menengok ke arah lain ketika Wawan punya sebuah tujuan.
Wawan akan terus berjalan ke tujuannya tanpa terganggu oleh hal-hal lain yang terjadi di sekitarnya.
"... Mungkin... Lain kali aku harus ajak dia makan untuk mengakrabkan diri dengan rekan yang akan bertugas denganku untuk dua tahu ke depan!"
Setelah bergumam sendiri di sana selama beberapa saat, Raisya pun pergi ke ruangannya.
Di sana ia langsung bekerja lagi.
Tugasnya adalah melakukan penyelidikan dan pengalaman pada target mereka selanjutnya sebelum nanti semua informasi yang ia dapat di berikan pada Wawan.
Setelah semua persiapan matang, barulah Wawan akan turun untuk menjalankan misinya seorang diri.
"Mati lihat, siapa target kita selanjutnya!?..." Alis mata Raisya seketika berkerut ketika melihat data orang yang akan mereka tangkap nanti.
"Wah... Ternyata orang ini juga terlibat dengan di Kipli, ya!?..." Ia agak terkejut untuk sesaat.
Tapi itu tak lama.
Karena setelah itu ia langsung mengerjakan pekerjaannya.