NovelToon NovelToon
The Units : Bright Sides

The Units : Bright Sides

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / CEO / Percintaan Konglomerat
Popularitas:781
Nilai: 5
Nama Author: Nonira Kagendra

Arsenio Satya Madya (26 tahun) putra dari pasangan Ankara Madya dan Arindi Satya, tegas dan jenius. Semua karakter kedua orangtuanya melekat pada diri Arsen. Memiliki seorang adik yang cantik seperti mamanya, bernama Auroa Queen Satya Madya (21 Tahun).

Aira Narumi Sagara (24 Tahun), wanita cantik, licik dan tangguh. Memilik seorang adik yang kadang normal kadang abnormal, bernama Arkanza Narumi Sagara (22 Tahun). Mereka anak dari Alan Rumi dan Reyna Sagara.

Tak lupa Cyber Wira Pratama (21 Tahun), putra tunggal dari Galih Pratama dan Dania Swasmitha. Ahli di dunia cyber seperti ibunya dan kecerdikan Inspektur Galih.

---
Ikuti kisah dari anak-anak para tokoh "Switching Sides" dari kecil hingga dewasa.
Intrik, romansa dan keluarga menjadi cerita di kehidupan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonira Kagendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suasana Fajar di Jakarta

## SELAMAT MEMBACA ##

Pagi yang cerah menyelimuti pelataran luas kediaman keluarga Satya. Setelah badai di atas The Ark, Jakarta terasa lebih tenang, namun ada getaran kegembiraan yang berbeda hari ini.

Bukan suara sirene atau ledakan, melainkan suara denting sendok pada piring kristal dan tawa keluarga besar yang berkumpul.

Misi telah usai.

Status buronan mereka telah dicabut, dan nama baik Ankara serta Galih dipulihkan sepenuhnya oleh negara.

Namun, bagi para agen muda, ini adalah awal dari babak yang lebih besar.

Arkan terlihat sibuk di area katering, mengenakan setelan jas yang pas (akhirnya!) namun dengan saku yang tampak menggembung aneh. Arkan mendatangi Galih untuk memamerkan hasil buruan makanan.

"Paman Galih, coba lihat. Aku sudah melakukan pemetaan pada area prasmanan ini. Sektor kanan adalah rendang, sektor kiri adalah sate ayam. Strategiku adalah menyerang sektor tengah—kambing guling—sebelum tamu undangan datang."

Kemudian Galih menanggapinya, sambil membenahi dasi Arkan. "Strategi bagus, Nak. Tapi kenapa sakumu bunyi kresek-kresek?"

"Oh, ini? Aku sudah menyiapkan kantong plastik di saku jas. Untuk cadangan kalau nanti malam kita lapar saat rapat evaluasi misi. Ini namanya 'Logistik Terintegrasi'." Terang Arkan sambil menunjuk isi sakunya.

Tiba-tiba Aurora lewat dari belakang sambil membawa nampan minuman menyahut perbincangan dua pria yang berbeda usia tersebut.

"Itu namanya memalukan, Arkan! Kita ini tuan rumah, bukan tamu undangan yang mau bungkus makanan sisa!"

Di balkon lantai atas, Arsen berdiri menatap taman. Di tangannya ada sebuah kotak beludru kecil. Kali ini, isinya bukan pemancar GPS atau racun, melainkan cincin berlian murni.

Aira muncul dari balik pintu, mengenakan gaun putih tulang yang membuatnya tampak seperti malaikat namun tetap dengan tatapan tajam seorang agen. Dia berjalan kearah sang calon tunangan dan berdiri disampingnya.

Arsen menoleh ke arah Aira dan tersenyum lembut, "Kau tahu, Aira? Di London aku bilang aku tidak bisa hidup di dunia yang tidak ada kaunya. Aku berbohong."

Aira mengangkat alis, "Oh ya? Jadi kau sudah berubah pikiran?"

Arsen tetap tersenyum teduh padanya, "Aku bisa hidup, tapi aku tidak akan pernah benar-benar 'ada'. Aku hanya akan menjadi robot yang menjalankan misi tanpa tujuan. Aira Narumi Sagara, sejak sepuluh tahun lalu saat kita pertama kali terjebak di markas Papa, aku tahu kaulah satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa manusiawi."

Arsen berlutut. Tidak ada kamera pengintai, tidak ada instruksi dari Wira, dan tidak ada ancaman dari Julian.

Arsen menatap teguh penuh harap ke arah Aira, "Maukah kau berhenti menjadi rekan timku... dan mulai menjadi masa depanku?"

Arsen cemas dan gugup menjadi satu, takut kalau Aira akan menolaknya. Namun dia tetap akan berusaha meyakinkan Aira jika lamarannya ini gagal.

Namun disisi Aira, dia tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. "Hanya jika kau berjanji satu hal, Jenderal."

"Apa pun." Arsen menjawab mantap pengajuan syarat dari Aira.

"Jangan pernah lagi mengunci pintunya jika aku ingin ikut bertarung di sampingmu." Jawab Aira sambil air matanya sudah berada di pelupuk mata.

Mendengar syarat yang diajukan sang kekasih, Arsen terkekeh dan terharu melebur menjadi satu kebahagiaan bagi hidupnya saat ini.

"Janji. Samping ke samping?"

Aira mengangguk, "Samping ke samping."

Kemudian Arsen berdiri memasang cincin sebagai pengikat cinta dan janji suci abadi diantara dirinya dan Aira.  Setelah itu Arsen mengecup lembut kening Aira dan memeluknya.

Tidak ada ciuman panas, namun ciuman kening sebagai simbol kemurnian cinta mereka. Cinta yang dibangun bukan karena nafsu, tapi karena kebersamaan dan saling memiliki, serta cinta karena terbiasa.

Sementara itu di taman bawah, Ankara, Arindi, Alan, Reyna, Galih, dan Dania berkumpul dalam satu meja melingkar. Mereka melihat ke arah balkon tempat Arsen dan Aira berpelukan.

Alan menatap kearah sang putri dan calon menantunya dengan bahagia.

"Lihat mereka. Persis seperti kita dulu, hanya saja mereka jauh lebih pintar mengelola emosi."

Reyna tersenyum senang, "Itu karena mereka punya satu sama lain sejak awal, Alan. Kita dulu terlalu sibuk saling curiga."

Sedangkan Arindi menyandarkan kepala di bahu Ankara. "Ankara, apakah kita benar-benar sudah pensiun sekarang?"

Ankara menoleh ke arah sang istri, dia tersenyum sambil memegang tangan Arindi. "Selama Arkan masih punya ide untuk meledakkan dapur dengan sabun colek, aku rasa kita tidak akan pernah benar-benar pensiun, Sayang."

Mendengar celetukan suaminya, Arindi tertawa.

Sementara Dania sambil menatap layar tabletnya, "Ngomong-ngomong soal meledak... aku baru saja mendeteksi ada paket tanpa nama yang dikirim ke gerbang depan. Tidak ada tanda-tanda peledak, tapi isinya... aneh."

Galih yang berada di dekat Dania terkejut. Begitu juga dengan kedua pasangan disampingnya.

Mereka berpikir, "apa bisa istirahat satu hari saja tanpa masalah" sambil menghela nafas.

"Sayang, kalau tidak berbahaya biarkan saja dulu. Aku akan menghubungi anak buahku agar mengeceknya segera. Kita fokus ke anak-anak dulu", ucap Galih.

*

*

*

Seluruh keluarga berkumpul saat Arsen membawa kotak hitam kecil itu ke tengah meja. Saat dibuka, di dalamnya terdapat sebuah koin hitam yang telah dibelah dua. Di tengah belahan koin itu, terdapat sebuah flashdisk kecil dan sebuah foto lama.

Foto itu menampilkan Maya (yang melompat ke laut di The Ark) sedang menggendong seorang anak kecil laki-laki dengan mata yang sangat mirip dengan... Julian Thorne.

Tak berselang lama, Wira muncul dengan laptopnya.

"Aku baru saja membedah isi flashdisk-nya. Ini bukan data virus. Ini adalah surat wasiat dari Maya. Dia tidak mati, dia sengaja menghilang."

Suara Maya (Rekaman): "Kalian menang kali ini, Keluarga Satya dan Rumi. Tapi ingat, Sisi Ketiga bukan sekadar organisasi. Itu adalah ideologi. Julian hanyalah satu dari sekian banyak anak yang kami persiapkan. Selamat atas pertunangannya, Arsen dan Aira. Anggap saja koin ini sebagai pengingat... bahwa permainan ini baru saja memasuki Level 2."

Keheningan menyelimuti ruangan. Arsen dan Aira saling pandang. Mereka tahu, kedamaian ini mungkin hanya sementara.

---

Matahari mulai terbenam di ufuk Jakarta, memberikan warna jingga yang membara. Arkan berdiri di tengah taman, mengangkat gelas minumannya.

"Hei! Kenapa wajah kalian jadi serius begitu? Ada ancaman baru? Bagus! Aku baru saja memesan seribu liter sabun colek cair dan sedang merancang kostum penyamaran jadi tukang bakso terbang!" Tanyanya penasaran.

Semua orang tertawa. Ketegangan mencair karena kekonyolan Arkan.

Sementara itu, Arsen merangkul Aira, "Kau siap untuk 'Level 2'?"

"Asal kau yang menyetir van es krimnya, aku siap." Aira menjawab santai dan sedikit tertawa.

Kamera menjauh, memperlihatkan kediaman Satya yang bercahaya di tengah kota Jakarta yang luas. Di balik bayang-bayang gedung tinggi, terlihat seorang remaja laki-laki memegang belahan koin hitam yang satunya lagi, menatap rumah itu dengan senyum misterius.

1
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Nonira Seine: Hallo....
Selamat membaca, ya.....🤗🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!