NovelToon NovelToon
SHADOW OF DEATH

SHADOW OF DEATH

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death

(update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.22 — BISNIS DI BAI MA

Gedung pemimpin kota. Lantai tujuh. Ruangan rapat. Meja marmer. Kursi kulit dua belas. Lampu merah. Seperti darah membeku. Bau ruangan ini campur aduk. Parfum mahal. Keringat takut. Angin dingin dari AC yang terlalu kencang.

Hong Feng duduk di ujung. Kaki disilang. Jari bertaut. Matanya melihat satu per satu wajah di depannya. Cao Xiu. Bhu Tao. Yang lain. Semua pemimpin penjuru Hei Nan. Semua berdarah. Semua berdosa.

"Michel Tang mati."

Suaranya datar. Bukan tanya. Bukan kata. Tapi pengumuman. Seperti cuaca. Seperti kematian.

Cao Xiu bangkit. Kursi bergerak. Bunyi seret di lantai marmer. Kasar. Menyiksa telinga.

"Dia orang yang sangat berbahaya."

Cao Xiu bicara. Suaranya kasar. Tenggorokan penuh amarah. Matanya melotot ke arah Hong Feng. Seolah mau melahap.

"Jangan terlalu gegabah."

Bhu Tao menyahut. Pelan. Hati-hati. Tangan di atas meja. Jari bergetar. Dia tahu bahaya. Dia bisa menciumnya.

"Tetapi dia membunuh Michel Tang!!!"

Cao Xiu membentak. Telunjuk mengarah ke wajah Bhu Tao. Jarak tiga jengkal. Napas bau rokok dan anggur. Keras. Menusuk.

"Kau yang diam!!!"

"Kalian ingin aku kirim ke tambang?"

Hong Feng bicara. Belum berdiri. Belum bergerak. Tapi suaranya memotong. Seperti pisau tajam di daging beku. Dingin. Tanpa ampun.

Cao Xiu terdiam. Rahang mengeras. Kembali duduk. Kursi seret lagi. Bunyi seperti ratapan. Seperti kalah.

"Aku telah putuskan."

Hong Feng berdiri. Perlahan. Kaki kanan dulu. Lalu kiri. Seperti harimau bangun dari tidur. Seperti maut yang tiba.

"Jangan mencari masalah dengan Kenzo Huang."

"Aku berencana mengajaknya bergabung."

"Menggantikan posisi Michel Tang."

Sunyi.

Bukan sunyi biasa. Tapi sunyi yang menelan. Yang menghisap napas dari paru-paru. Yang membuat jantung berdebar di telinga. Seperti sebelum badai. Seperti sebelum pembunuhan.

Cao Xiu melotot. Bhu Tao melotot. Yang lain. Semua. Seperti melihat hantu di siang bolong. Seperti melihat akhir mereka sendiri.

"Sudah."

Hong Feng berjalan. Menuju pintu. Langkah pelan. Berirama. Seperti detak jam. Seperti detak jantung yang akan berhenti.

"Keputusanku telah finish."

Pintu terbuka. Hong Feng hilang. Tinggal sunyi. Dan dua belas orang yang saling pandang. Seperti anak kecil yang baru tahu dunia ini tidak adil. Seperti tahanan yang menunggu eksekusi.

"Ini gila."

Cao Xiu bicara. Pertama. Suaranya pecah. Seperti kaca. Seperti harapan yang hancur.

"Seorang musuh malah dijadikan rekan."

Bhu Tao mengangguk. Lambat. Seperti orang tua. Seperti orang yang sudah lelah berjuang.

"Aku berpikir juga seperti itu."

"Sepertinya ketua memiliki pemikirannya sendiri."

"Tapi itu konyol!!"

Cao Xiu membentak lagi. Tapi kali ini lebih pelan. Lebih lelah. Seperti tahu tak ada gunanya. Seperti tahu dia sudah kalah.

Kantor Hong Feng. Lantai lima belas. Jendela kaca. Pemandangan kota. Tapi bukan kota. Hanya kabut. Kabut abu. Kabut yang menutupi semua kejahatan. Kabut yang membuat semua orang buta.

Hong Feng berdiri. Memandang ke luar. Tangan di belakang punggung. Jari bertaut. Seorang biksu yang sedang berdoa. Tapi bukan untuk tuhan. Untuk bisnis. Untuk kekuasaan. Untuk sesuatu yang lebih gelap.

Ketuk pintu. Tiga kali. Cepat. Teratur.

"Masuk."

"Tuan, Kenzo Huang telah tiba di bawah."

"Persilahkan."

Pintu tertutup. Langkah kaki. Di koridor. Di tangga. Mendekat. Seperti harimau yang mencium darah. Seperti maut yang datang bertamu.

Pintu terbuka lagi.

Kenzo muncul. Jaket hitam. Rambut acak-acakan. Mata coklat. Tapi bukan coklat biasa. Lebih gelap. Lebih dalam. Lebih tak berjiwa. Seperti sumur yang tak ada dasarnya. Seperti malam tanpa bintang.

"Ahhh... Tuan Kenzo."

Hong Feng berbalik. Senyum tipis. Bukan senyum ramah. Senyum pedagang. Yang melihat barang bagus. Yang melihat alat yang berguna.

"Selamat datang di kantorku."

"Silahkan duduk."

Kenzo berjalan. Tidak tergesa. Tidak lambat. Seperti harimau di hutan. Yang tahu ini wilayahnya. Atau akan menjadi wilayahnya. Setiap langkah dihitung. Setiap napas diukur.

Duduk. Sofa kulit. Empuk. Terlalu empuk. Seperti jebakan. Seperti kuburan yang dibuat nyaman.

"Bagaimana perasaan anda setelah berada di Bai Ma?"

"Tidak buruk."

Hong Feng tertawa. HAHAHAHA. Bunyi menggema. Seperti di gua. Seperti di neraka. Seperti tawa orang gila yang punya semua uang di dunia.

"Baiklah, langsung saja."

"Aku ingin menawarkan pekerjaan."

"Pekerjaan?"

"Dua kasino. Tiga club malam."

"Kelima usahaku sekarang kosong. Tak ada yang mengelola. Tak ada yang berani. Sejak Michel Tang mati. Sejak nama S.O.D menggema."

Kenzo menyalakan rokok. Bukan permintaan izin. Tapi pernyataan. Asap naik. Kabut tambahan di ruangan ini. Kabut yang menyembunyikan niat. Kabut yang membuat semua kabur.

"Apa kelimanya di Bai Ma?"

"Tidak. Di Bai Ma hanya satu."

"Yang lain di Qiu Shao. Dan Xiu Qin."

Kenzo terdiam. Asap dihirup. Dikeluarkan. Perlahan. Seolah waktu berhenti. Seolah dunia hanya ada dia dan rokok.

Qiu Shao. Xiu Qin.

Tempat Liu Xiang. Tempat Xian Mei. Tempat yang dia tinggalkan. Tempat yang dia coba lindungi dengan pergi.

"Sepertinya jika ingin mendapatkan bukti kejahatannya, adalah masuk ke dalam organisasi mereka."

Pikir Kenzo. Dalam hati. Bukan di wajah. Wajah tetap datar. Seperti batu. Seperti mayat yang belum dia kubur.

"Bagaimana, Tuan Kenzo?"

"Apa anda tertarik bergabung?"

"Baiklah."

Kenzo bicara. Sebelum habis rokok. Sebelum habis pikiran. Sebelum kesempatan hilang.

"Dengan satu syarat."

"Apa itu?"

"Aku akan mengatur kelima tempat itu sesuai aturanku."

"Kebebasan penuh untuk mengatur semuanya. Tanpa campur tanganmu. Tanpa mata-matamu."

Hong Feng terdiam. Jari memegangi dagu. Seperti patung. Seperti sedang berpikir. Atau sedang pura-pura berpikir. Atau sedang menghitung cara membunuh.

"Dan pembagian hasil?"

"Fifty-fifty."

Hong Feng tersenyum lagi. Lebih lebar. Lebih berbahaya. Seperti senyum ular sebelum menggigit.

"(Sepertinya tidak buruk.)"

"(Aku bisa menyuruh orang memantau dia.)"

"(Setelah dia tak berguna, aku bisa buang.)"

Pikirnya. Dalam hati. Bukan di wajah.

"Baik. Aku setuju."

"Aku akan segera membuat kontrak kerja."

Hong Feng berdiri. Keluar. Pintu tertutup.

Kenzo sendirian. Di sofa empuk. Di ruangan megah. Asap rokok terakhir dihirup. Dikeluarkan. Menuju langit-langit. Menuju tempat yang tak bisa dijangkau.

Beberapa menit. Atau beberapa jam. Waktu di kota ini berbeda. Waktu di sini milik Hong Feng. Milik yang berkuasa. Milik yang bisa membunuh.

Pintu terbuka.

"Silahkan, Tuan Kenzo."

Kontrak di atas meja. Kertas tebal. Tinta hitam. Kenzo membaca. Setiap kata. Setiap titik. Setiap koma. Bukan karena tak percaya. Tapi karena biasa. Karena hidupnya adalah kontrak-kontrak yang ingin membunuhnya.

Tanda tangan. Kenzo Huang. Tiga goresan. Seperti sambaran petir. Seperti sayatan pisau. Seperti nama yang akan ditulis di batu nisan.

"Baiklah."

Hong Feng mengulurkan tangan. Kenzo meraih. Genggaman. Kuat. Sama kuatnya. Sama berbahayanya. Seperti dua pedang yang saling bertemu.

"Senang bekerja sama dengan anda, Tuan Kenzo."

"Terima kasih, Tuan Hong."

...$ BERSAMBUNG $...

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
nah loh sapa tuh Kenz, kira-kira mau dibeli baik-baik Xiu nya atau diambil cara paksa?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Kenzo partner Kamu diculik tuh
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
bergabung dengan visi dan misi masing masing, yg pasti gak ada ketulusan. tapi semoga aja Kenzo gak dapat cewek lagi.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
owalah saya kira Buu komandan berbeda ternyata sama kaya sapa itu namanya yg bos nya Kenzo? Liu klu gak salah.
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: sengaja biar nanti pada nebak sendiri di akhir bakal dengan siapa Kenzo 🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Udah ada berapa perempuan diantara Kenzo nih? Empat ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
kasihan Lin, miris... gak rela Lin sama Kenzo.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
sama Liu kan cuma kebutuhan, bukan cinta.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
ini berbaju gak ceweknya?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Jangan sampe gadis yg diselamatkan Kenzo naksir juga.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
cuma sama Lin Xian Mei Kenzo bisa grogi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
kenapa cuma mata kiri? kenapa gak dua-duanya. apa ada kelebihan Dimata Kenzo lepas dari penjara.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
jadi sebenernya Kenzo ini jahat atau GK ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Liat saja nanti kalau YueYan sedikit lebih dewasa, Kenzo pasti tergoda juga.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
berapa banyak target yg harus dihabisi Kenzo.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Wow Kenzo sama Liu ternyata
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Jarak cuma sepuluh tahun, tunggu saja dewasanya Yueyan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
bukan permainan Liu kan sabotase panti ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
wuih Nenek minum bir? aman? gak apa" gitu?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
oh Kenzo tinggal di panti dgn Yue ya saya kira cuma nginap. awas Yue nanti jatuh hati dgn Kenzo
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
akankah Kenzo dipertemukan kembali dgn Yue
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!