Dijual oleh ayah kandung sendiri adalah luka terdalam Aluna. Namun, saat ia terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria asing, takdir memainkan leluconnya. Aluna mengalami regresi ingatan!
Ingatan Aluna kembali ke usia 17 tahun—masa di mana dia belum dihancurkan oleh dunia. Baginya, suaminya hanyalah "Paman Mesum". Sanggupkah pria itu menghadapi Aluna versi remaja yang liar, atau justru ini kesempatan kedua bagi mereka untuk memulai segalanya dengan cinta, bukan lagi kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Daftar ke sekolah?
Terlihat Pharita mondar-mandir sendiri di rumahnya, ia sedikit cemas akan sesuatu. Bolak-balik ia melihat ke layar ponsel, semoga kecemasannya ini tidak membuatnya ketakutan.
@Dion
Hm.
@Pharita
Eh Bujang! Gimana nih keadaan Aluna? Kapan aku bisa ketemu lagi sama dia!
@Dion
Mengetik...
Nanti saja. Kondisi Nyonya Aluna malah parah kalau kau datang ke sini.
@Pharita
Anjir... gak mau tahu, pokoknya kirim alamat rumah tuanmu itu sekarang juga Dion! Cepetan!!
@Dion
Emang kenapa sih? Maksa banget. Ya nanti...
@Pharita
Nanti-nanti aja terus ya Dion! Kucekik kau! Bikin kesel aja...
@Dion
Dibaca...
Pharita langsung membanting ponselnya di ranjang kamar. Ia meremas kepalanya, mengucek-ucek rambutnya seperti disambar petir. "Sialan kau Dion! Sial! Kau laki-laki bajingan yang pernah aku temui!"
"Kenapa harus tanya pria cebol itu kalau aku bisa mencari di Google? Walau dirahasiakan, pasti ada satu atau dua berita yang pernah membahas tempat tinggal Arkan. Hem..."
...****************...
Di kamar, tepatnya di depan cermin bulat, Aluna melihat pantulan dirinya yang masih berbalut kemeja tidur. Dia melihat dirinya yang mencoba mencocokkan pakaian dengan yang ada di gantungan lainnya, "Ini tak cocok... ini juga... huh—bagaimana ini..."
Flashback
"Mas, lagi apa?" celetuk Aluna dari belakang. Dia kebetulan melihat Dion yang duduk di atas ayunan sambil mengetik di laptop. Melihat wanita itu datang, Dion lekas berdiri. "Oh Nyonya—ah maaf maksud saya Aluna..."
Aluna mengembungkan sebelah pipinya. Memang dia semirip itu dengan nyonya mereka sampai ia bosan berkali-kali orang sekitar keceplosan memanggilnya dengan awalan Nyonya.
Dion menepuk celananya dari debu, "Kamu mau aku temani?"
"Ti—tidak... aku mau tanya soal... sekolah. Ini kan sudah berminggu-minggu aku tinggal di sini, kenapa aku masih tidak boleh masuk sekolah Mas? Aku kangen sama teman-teman."
Dion menepuk jidat pelan. Dia lupa dengan satu hal penting ini, bahwa nyonya ini berpikir dia masih remaja, jelas saja dia akan bertanya tentang kapan kembali ke sekolahnya. Dion berpikir keras, 'Bagaimana ini... apa yang harus aku lakukan? Apa aku buat sekolah bohongan, siswanya juga bohongan begitu? Tapi... ah ini semua rumit!'
Dion mengirim pesan sekali lagi.
@Dion
Pharita, aku butuh bantuan.
@Pharita
Hm... malas sekali, ada apa sih? Jangan mintai aku, kan ada tuh yang lain...
@Dion
Kejam banget ya? Pantes aja, soalnya kan pernah berpengalaman sebagai pembuli.
@Pharita
Bangke... kau itu benar-benar ya Dion. Plis deh itu masa lalu... apa kau juga dendam sama aku gara-gara dulu pernah benci sama Aluna?
@Dion
Ya, separuh benci. Siapapun pasti yang dengar dirimu seperti itu pasti akan dibenci habis-habisan. Untung aku yang dengar, kalau bukan? Bagaimana teman-temanmu?
@Pharita
Oh mereka? Mereka juga sama benci sama Aluna dulu pas dia masih kerja, tapi setelah dia pergi mereka sadar dengan kelakuan mereka sendiri. Ya aku sama teman-teman emang sebelas dua belas. Jadi plis ya... setiap orang emang punya kelemahan, dan engkau gak berhak memutuskan siapa yang salah siapa yang benar, karena sejatinya manusia itu tempat penuh dosa.
@Pharita
Dirimu sendiri bagaimana? Lihat, saat dulu tuanmu menghampiri Aluna di rumahku kau membiarkan tuanmu itu menampar istrinya sendiri saat tidur? Jadi kita berdua itu sama-sama bajingan bukan?
@Dion
Ck, baiklah... baiklah... saya memang banyak salahnya. Laki-laki mengalah.
@Pharita

Oke cepet mau ngomong apa? Gak usah lama-lama tapi, soalnya habis ini aku pergi keluar.
@Dion
Kemana?
@Pharita
Apaan sih, penasaran banget mau kemana?
@Dion
Untuk memastikan saja, kalau keluar jangan lupa celananya dipakai... takutnya...
@Pharita

@Dion
Kamu bisa tidak mencarikan sekolah baru untuk Nyonya Aluna?
@Pharita
Shit! Emang gak bakal ketahuan kalau umurnya udah gede?!
@Dion
Tenang aja, aku bisa memanipulasi data dengan mudah jadi tidak perlu dipusingkan.
@Pharita
Oke deh kalau begitu...
@Dion
Tugasmu adalah jadi kakak kandung Nyonya Aluna. Daftarkan ke sekolah yang bergengsi, gampang ditembus kuasa orang kaya, keamanannya sangat ketat dan pastikan dandani Nyonya Aluna seperti anak remaja pada umumnya—agar teman-teman barunya nanti tidak tahu kalau itu Nyonya Aluna istri dari Tuan Arkan.
@Pharita
Ribet banget, sekolah tinggal sekolah...
@Dion

@Pharita
Bercanda ya... gini-gini aku gak dikasih uang sama sekali, ikhlas lho ya aku ini?
@Dion
Nih.
Setelah Dion memberikan pesan terakhir, mata Pharita melotot seketika melihat saldo yang terlihat sangat banyak tersebut. Dia segera mengelap ilernya, berusaha agar tak tergoda tapi tetap saja uang tiga puluh satu juta telah masuk ke dalam rekening daringnya.

@Pharita
Banyak banget njing... ini buat beli iPhone juga lebih dari cukup!
@Dion
Tolong ya, ini bukan buat beli IP. Ini buat biaya untuk segala kebutuhan Nyonya nanti kalau dia butuh bantuan padamu...
@Pharita
Ah sial, aku kira untukku...
@Dion
Geer banget! Sana mandi! Bau badanmu tercium sampai sini, tahu gak?!
@Pharita
...****************...
Dion menghampiri kamar Aluna. Ketukan kedua kalinya barulah ia melihat wajah dari Aluna yang kini melihat pria itu berdiri menunggunya keluar. "Maaf kalau kamu menunggu, aku akan memberitahukan kabar baik padamu..."
Mendengar pria itu mengatakan kabar baik, seketika Aluna langsung tergugah. Dia angguk kepala siap menerimanya dengan senang hati.
"Tapi juga ada berita buruknya, apa kamu siap?"
"Ah—memang seburuk apa sih? Kalaupun itu negatif, aku yang positif ini pasti bisa mengalahkan kabar buruk itu! Ayo Mas Dion, beritahu aku apa yang ingin kamu katakan?"
"Soal sekolah, kamu diperbolehkan sekolah Aluna. Tapi untuk tempat sekolahnya, tidak di sekolah kamu sebelumnya. Kamu akan dipindahkan ke sekolah lain."
Mendengar kabar baik sekaligus kabar buruk tersebut Aluna jatuh tak berdaya, ia meremas dadanya. "Kenapa begitu Mas... memang apa salahku sampai dipindahkan? Jangan ya... aku mohon, aku baru saja menjabat jadi sekretaris di sekolahku..."
Dion membungkuk, memegang pundak wanita itu. "Tolong mengertilah, kalau Anda memang ingin melanjutkan sekolah terima apa adanya, selagi Arkan menyetujui dirimu kembali ke sekolah." ucapnya, tetap tak membuat Aluna puas. Ia berdiri kembali, berkacak pinggang murka. "Kenapa sih Mas Dion harus disetujui sama Mas Arkan dahulu? Kenapa harus gitu? Yang menyekolahkan aku itu Bibi, aku juga gak pernah bikin masalah atau sampai diskors... tapi ini sudah berlebihan..."
"Aluna... ini juga keputusan mutlak dari bibimu. Ucapnya, dia ingin setidaknya kamu memiliki masa muda yang bahagia di sekolah."
"Aku melihat sekolah lamamu, sistemnya sangat bobrok, kekurangan dana, dan terakreditasi B-. Kalau aku membawamu ke sekolah elite pasti kepintaranmu akan sebanding dengan anak-anak lain..."
"Aku tidak mau." lirih Aluna, dia mendongak kedua matanya sudah membelalak merah. Dia mendorong kedua bahu Dion, tapi tak membuat pria itu jatuh sama sekali—malah hanya dipegang dada atasnya serasa dicubit semut.
"Aluna! Tolong dengarkan aku, ini demi—"
"Tolong jangan melawan, bibimu telah mengharapkan pada Arkan dan kamu Aluna... jangan membuat bibimu sedih, mengerti?" tanya Dion menaikkan sebelah alis. Aluna perlahan memegang kedua tangannya pelan. Dia angguk kepala, akhirnya tak lagi memberontak.
Flashback off
...****************...
Aluna memegang dadanya yang terus bergetar. Ada yang aneh dengannya sejak memikirkan tentang sekolah terus-menerus. Ia menggeleng cepat, pesimis adalah sifat yang paling dia benci sejak dulu. Kalau itu yang sudah ditakdirkan untuknya, dia tak boleh mengeluh. "Oke... kamu harus siap apa adanya Aluna..."
...****************...
Di depan alun-alun, Pharita menunggu dengan motor beat putihnya. Ia melihat kedatangan Aluna yang memakai gaun tertutup se bawah lutut, renda bunga-bunga melati menghias di sisi bawah gaunnya. Tampil cantik walau tidak merias wajahnya semencolok perempuan lain—Pharita bisa melihat sisi keanggunan dari juniornya itu.
"Kak Pharita! Udah nunggu lama atau gimana nih?"
"Gak juga sih. Aku juga baru datang, siap kamu?"
Aluna langsung memasang pose hormat, "Tentu saja Kak! Kakak udah bawa berkas-berkasnya belum?"
"Oh ya tentu udah dong... ayo kita ke sekolah barumu, gak jauh kok mungkin cuma menempuh waktu lima puluh menit. Nanti kalau kamu sudah aktif sekolah, katanya nanti kamu bakal dapat antaran dan jemputan dari Dion."
"Wah... gitu ya Kak? Padahal aku gak perlu dijemput atau diantar segala, setiap harinya aku selalu jalan kaki..."
"Iya itu dulu Aluna. Jelas kamu jalan kaki karena sekolahmu dekat dengan rumah. Kalau ini? Mau jalan kaki?" tanya Pharita, dia sampai terheran menaikkan sebelah alis ke atas. Aluna meneguk ludah pelan, dia geleng kepala cepat. "Ahahaha... aku hanya bercanda kok, Kak... mana mungkin aku jalan kaki sejauh itu dari rumah Mas Arkan sampai sekolah elite tersebut? Bisa-bisa kakiku lemas nanti di tengah jalan..."
Pharita langsung menjentikkan jari, sebagai tanda kesetujuan. "That's right, nih dipakai helmnya."
"Kakak udah punya SIM?"
"Ih, well jelas dong... Kakak itu udah dewasa." ucap Pharita, dia sedang memanaskan mesin motornya sebentar. Aluna menggenggam kedua tangan erat, dia berpikir sesuatu yang kadang selalu dipikirkan remaja lain. "Enak ya Kak, jadi dewasa? Punya uang sendiri, juga gak perlu diatur-atur..."
"Aluna..." Pharita menoleh pelan, dia mengepal tangan erat pada setir motor. Wanita itu memaksakan senyum simpulnya, menepuk pundak Aluna dari belakang. "Apaan sih kamu ini Aluna!? Lebih baik nikmati masa sekolahmu! Disaat orang lain meminta kembali ke masa lalu dirimu malah pengen cepat dewasa, ah jangan ya... nanti nyesel..." gumam wanita itu berbisik.
Pharita juga berpikir dalam hati, 'Kalau Aluna kembali ke memorinya yang dewasa, dia pasti akan menyesal pernah mengatakan seperti itu. Aluna... saat dewasa kamu masih belum sebebas dirimu yang dulu. Ah... tidak Pharita, jangan buat dia takut... perlahan-lahan, dia akan ingat dan menerima semuanya dengan lapang dada.'
"Kenapa Kak? Kok ngelamun mulu?"
"Eh hem... iya maaf ya? Ya udah ayo cepet naik, udah ready ini!"
Aluna angguk kepala, dia menyikap rok gaunnya sambil memakai helm.
Sesampainya di sekolah elegan yang memiliki slogan "Good future always from kind student." di atas slogan yang tertera ada logo dan nama sekolah.
SMA DIAMOND 2 JAKARTA
Aluna ternganga tak percaya dengan apa yang dia lihat. Ia sampai mengusap iler melihat kemegahan sekolah yang akan ia tempati. "Tunggu, aku mau parkir motor dulu Lun," ucap wanita tomboi itu. Dia meminggirkan sepeda motornya berbarengan dengan becak-becak di pinggir jalan. Saat Pharita akan mencabut kunci motor, suara peluit hampir saja merusak gendang telinganya.
"PRIIIITTTT!!!"
"Apa yang kamu lakukan di sini!!"
"Eh, ada apa ini Pak? Kenapa protes gitu!" seru Pharita, disaat orang membentaknya ia ikut terpancing emosi. Padahal mereka tak melakukan hal pelanggaran sama sekali, tapi keduanya dibuat bingung oleh penjaga sekolah yang memakai jaket khusus bertuliskan "SMA DIAMOND 2 JAKARTA" biru tua.
"Jangan diparkirkan di sini Mbak! Ganggu aja tahu gak??"
"Eh maaf ya Pak, tapi kami pengen masuk ke dalam aja masa harus dihalangi?"
"Ck, kalau gitu bayar dulu."
"Bayar?!" seru keduanya, mereka saling memandang. "Bayar untuk apa Pak?"
"Untuk biaya parkir, gak murah lho!"
"Terus yang becak-becak di sana? Mereka juga bayar kan?" tanya Pharita bertubi-tubi. Bapak-bapak penjaga sekolah itu nampak meneteskan keringat. Dia geleng kepala cepat, tetap percaya diri dengan telapak tangannya yang diangkat ke atas. "Bayar! Lagian uang lima puluh ribu gak akan buat kamu miskin kan?!"
"Lima puluh ribu?! Gila! Gila kau Pak!!" seru Pharita. Ia menggulung kemejanya, tak gentar dengan palakan pria yang lebih tua di depannya. Aluna segera merentangkan tangan, dia mengambil uang dari dompetnya. "Ini... lima puluh ribu kan?"
"Hm... dua orang, jadi... seratus ribu." kata si bapak. Pharita langsung menendang ban motornya. Ia akan mengambil uang dari dompet, tapi tangan Aluna menangkap jemarinya. "Jangan Kak, biar aku aja."
Aluna mengeluarkan selembar lima puluh ribu lagi, kini tawa bahagia muncul dari bibir pria itu. Si penjaga langsung kabur entah kemana, tak bertanggung jawab menjaga kendaraan.
"Kenapa sih Lun! Jangan dikasih seenaknya dong!!!"
"Gak apa-apa kok Kak, ini uang juga dikasih Mas Dion untukku... aku juga masih punya banyak uang di dalam dompet."
'Ah sialan kau Aluna... walau ingatanmu berubah, kau tetap gampang dimanfaatkan orang!'
...****************...
Salah seorang guru menatap penampilan Aluna dari atas kepala sampai bawah, dia menggosok dagunya cepat. "Ini dia, isi formulirnya ya Nak?" kata guru tersebut yang sudah mengintimidasi selama lima menit. Namun setelah kedatangan guru lain yang membawakan berkas formulir siswa baru padanya.
Pria itu melihat tulisan Aluna yang sangat cantik, tak seberantakan yang pernah Pharita lihat saat mereka kerja di kafe. Pharita ingat kalau tulisan Aluna hancur lebur, bahkan ia dulu pernah memarahi Aluna karena tulisannya tak bisa dibaca sama sekali.
'Ini sungguh sangat berbeda... apa yang terjadi denganmu Lun?'
Setelah Aluna mengisi semua isi formulir, dia pelan-pelan menyerahkannya dengan hati gugup. Dia takut kalau ia tak bisa masuk ke sekolah ini karena tinggal hanya numpang di rumah Arkan. Andai saja dia kaya raya pasti tak perlu khawatir.
Tapi sepertinya sekolah ini juga melihat nilai setiap anak. Dari rapor Aluna sebelumnya yang sudah dimanipulasi tanggalnya tetap dengan nilai murni sejak Aluna dahulu, para guru melotot kaget. "Semuanya di atas A?! Ini nilaimu Nak?"
"I—iya Pak..."
"Oke! Gak perlu tes! Kamu akan saya masukkan ke kelas 10-A IPA. Bagaimana? Disana banyak sekali siswa-siswa pintar yang bahkan pernah menjuarai beberapa Olimpiade lho! Kamu mau?"
Mendapat tawaran sebagus itu tentu siapa yang tak akan senang? Dia memandang Pharita, yang jelas wanita itu mendukung sepenuhnya.
Setelah dari ruang guru, keduanya berjalan di lorong sekolah. Pharita berhenti di tengah jalan, dia menoleh ke belakang. "Aluna... maaf atas sikapku dahulu padamu... kamu adalah perempuan baik yang pernah aku temui. Terima kasih memberikan aku kesempatan untuk berteman denganmu."
Aluna nampak tersenyum, dia menerima jabatan tangan dari Pharita yang sangat tulus tersebut. Walau Aluna merasa dia tak pernah dijahati sama sekali, ia yang baik-baik saja ikut angguk kepala.
"Iya sama—"
Saat Aluna akan menyelesaikan jawaban dari terima kasih Pharita, dari belakang dia ditabrak oleh seorang siswa laki-laki yang berlarian kepontalan sendiri. Aluna terlonjak kaget, dia jatuh terpental ke depan terduduk dengan posisi terbuka.
"MATA ITU DIPAKAI HEH! NABRAK ORANG SEENAKNYA AJA KAU HAH! TANGGUNG JAWAB! ANAK ORANG KAU BUAT SAKIT! C*K!"
Siswa laki-laki itu mengepal tangan erat, dia berlari pergi begitu saja tak mau bertanggung jawab dengan perbuatan cerobohnya.
Pharita membantu Aluna berdiri, dia tetap mengomel pada anak yang menabrak barusan.
"Sudah Kak Pharita, baru awal lho. Aku ini anak pindahan, mungkin dia gak sengaja..."
"Kalau sengaja?" tanya Pharita ingin melihat reaksinya. Sambil memegang dagu, wanita itu tersenyum. "Aku balas balik."
Seruan tepuk tangan langsung dilayangkan Pharita untuknya.
Bersambung..
.