Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Dokter Kulkas
"Lepaskan tangan kotor kamu dari saya!"
Alea menghempaskan tangan Rigel dengan kasar, meski tenaganya tak seberapa dibandingkan cengkeraman dokter itu. Napasnya memburu, matanya nyalang menatap pria berjas putih yang masih berdiri tenang di hadapannya.
"Saya tidak menyentuh kamu kalau kamu tidak bertingkah seperti anak kecil yang tantrum di playground," balas Rigel datar. Dia sama sekali tidak terlihat terintimidasi oleh tatapan membunuh Alea. "Duduk kembali. Suster akan pasang ulang infusnya."
"Nggak mau! Saya mau pulang! Rapat saya belum selesai!" Alea bersikeras, kakinya melangkah maju mencoba menerobos lagi. "Minggir atau saya teriak pelecehan!"
Rigel menghela napas pendek, seolah kesabaran adalah barang mewah yang sedang dia hemat. Tanpa peringatan, dia maju selangkah, membuat Alea mundur refleks hingga betisnya menabrak tepi ranjang.
Rigel mencondongkan tubuhnya, mengurung Alea.
"Silakan teriak. CCTV di sudut sana merekam audio dan visual. Semua orang akan lihat CEO Triple A Capital mengamuk karena takut jarum suntik," bisik Rigel dingin.
Wajah Alea memerah padam karena marah dan malu. "Siapa bilang saya takut jarum?! Saya cuma butuh laptop saya! Pasar saham nggak nunggu saya sembuh, Dokter bodoh!"
"Dan nyawa kamu juga nggak nunggu pasar saham tutup," potong Rigel tajam.
Tangan Rigel bergerak cepat. Bukan untuk menyentuh Alea, tapi menyambar pergelangan tangan kiri wanita itu. Dengan gerakan cekatan, dia melepas smartwatch edisi terbatas yang melingkar di sana.
"Hei! Itu punya saya!" pekik Alea, mencoba merebut kembali jam pintarnya.
"Disita," ucap Rigel sambil memasukkan jam itu ke saku jas dokternya yang dalam. "Detak jantung kamu sudah seratus dua puluh per menit cuma gara-gara notifikasi margin call. Benda ini racun buat kamu sekarang."
"Kamu maling ya?! Balikin! Itu harganya lebih mahal dari gaji kamu setahun!" hina Alea tanpa saringan.
"Wah, seru banget. Ini tiket nontonnya bayar di mana ya?"
Sebuah suara tawa renyah memecah ketegangan di antara mereka. Rigel dan Alea menoleh bersamaan ke arah pintu bilik IGD yang tirainya sedikit terbuka.
Seorang remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun berdiri di sana sambil bersandar santai di tiang infus nganggur. Dia mengenakan hoodie hitam dan celana jins robek-robek, tangannya memegang sebungkus keripik kentang.
Arka Adijaya Ardiman. Adik kandung Alea yang paling menyebalkan sedunia. Tapi, tetap saling sayang.
"Arka! Ngapain kamu cengar-cengir di situ?! Bantuin Kakak!" semprot Alea garang. "Usir dokter gila ini! Dia nyuri jam Kakak!"
Arka justru melangkah masuk dengan santai, mengunyah keripik kentangnya dengan bunyi kriuk yang nyaring. Dia menatap Rigel dari atas ke bawah, lalu tersenyum lebar dan mengulurkan tangan.
"Halo, Dok. Saya Arka, adiknya pasien yang lagi cosplay jadi monster ini," sapa Arka ramah. "Sori ya, Kakak saya emang gitu. Kalau lagi laper sama rugi bandar, galaknya ngalahin ibu tiri di sinetron."
Rigel menyambut uluran tangan Arka sekilas. "Dokter Rigel. Tolong kondisikan kakak kamu. Kalau dia lari lagi, saya terpaksa ikat dia di ranjang."
"Ikat aja, Dok. Ikhlas saya. Kalau perlu mulutnya dilakban sekalian biar kuping saya adem," sahut Arka enteng.
"Arka Adijaya!" teriak Alea frustasi. "Kamu di pihak siapa sih?! Aku ini kakak kamu! Aku yang bayar uang jajan kamu!"
"Justru karena Kakak sumber uang jajan, Kakak nggak boleh mati muda," balas Arka logis, lalu mendorong bahu Alea pelan agar duduk kembali di ranjang. "Udah nurut aja napa sih, Kak? Liat tuh muka Kakak pucet kayak mayat hidup. Jelek banget."
Alea menepis tangan adiknya. Dia menatap Rigel yang kini sedang menulis sesuatu di papan jalan medis dengan wajah tanpa ekspresi, seolah keributan ini hanyalah angin lalu. Sikap acuh tak acuh Rigel itu yang paling membuat darah Alea mendidih. Biasanya, semua laki-laki akan berlutut atau gugup di depannya. Tapi dokter ini? Dia memperlakukan Alea seperti pasien BPJS yang antre sembako.
"Oke. Kamu mau main keras ya?" Alea mendesis, menatap name tag di dada Rigel. "Dr. Rigel Kalandra. Oke, saya ingat nama kamu."
Alea menegakkan punggungnya, mengeluarkan aura boss lady-nya yang biasa membuat lawan bisnis gemetar.
"Dengar baik-baik, Dokter Kulkas. Saya nggak suka cara kamu ngatur-ngatur saya. Saya kasih kamu waktu lima menit buat balikin laptop dan jam saya, terus minta maaf. Kalau nggak..." Alea menggantung kalimatnya dengan senyum sinis. "...saya beli rumah sakit ini sekarang juga, dan nama kamu bakal jadi nama pertama yang saya coret dari daftar karyawan."
Arka tersedak keripiknya. "Uhuk! Anjir, mainnya beli RS. Sultan mah bebas."
Suasana hening sejenak. Para perawat yang mengintip di balik tirai menahan napas. Ancaman Alea Adijaya bukan omong kosong. Semua orang tahu kekayaan keluarga Ardiman tidak berseri.
Rigel berhenti menulis. Dia mengangkat wajahnya, menatap Alea lurus-lurus. Tidak ada rasa takut sedikitpun di mata cokelat gelap itu. Malah, ada kilatan geli yang tersembunyi.
"Sudah selesai bicaranya?" tanya Rigel tenang.
"Kamu pikir saya bercanda?" tantang Alea.
Rigel menutup papan jalannya dengan bunyi klik yang tegas. Dia melangkah mendekat, mencondongkan wajahnya ke arah Alea lagi hingga Alea bisa mencium aroma mint dan musk yang maskulin dari tubuh dokter itu.
"Silakan dibeli, Nona Alea. Kasirnya ada di lobi depan," ucap Rigel datar, tapi nadanya penuh sarkasme. "Tapi perlu kamu tahu, sertifikat kepemilikan rumah sakit nggak bisa dipakai buat nyogok malaikat maut. Di ruangan ini, hukum saya yang berlaku, bukan hukum uang kamu."
Rigel menegakkan tubuhnya kembali, lalu menoleh pada perawat yang berdiri ketakutan di pojok.
"Suster, pasang ulang infusnya. Kasih obat lambung dosis tinggi injeksi. Dan pastikan pasien ini puasa bicara selama satu jam. Kalau dia ngomel lagi, suntik obat tidur."
"Baik... Baik, Dok," cicit suster itu.
Rigel berbalik badan, melangkah pergi dengan jas putihnya yang berkibar, meninggalkan Alea yang melongo dengan mulut terbuka lebar karena shock.
"Dia... dia barusan nyuruh suntik obat tidur ke gue?" tanya Alea tak percaya pada Arka.
"Keren. Asli keren banget," Arka bertepuk tangan pelan. "Baru kali ini ada cowok yang berani nyeramahin Kak Alea dan masih hidup. Gue ngefans sama tuh dokter."
Alea mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Harga dirinya serasa diinjak-injak, dilindas, lalu dibuang ke tempat sampah medis. Tidak ada yang boleh memperlakukannya seperti ini. Tidak ada!
Zahra, asisten Alea, muncul tergopoh-gopoh dari balik tirai dengan wajah pucat. "Bu Alea! Maaf saya baru dari administrasi. Ibu nggak apa-apa? Kok mukanya merah banget?"
Alea menatap Zahra dengan nyalang. Napasnya masih memburu menahan amarah yang meledak-ledak.
"Zahra!" panggil Alea dingin.
"I-iya, Bu?"
"Kamu lihat dokter sok ganteng yang baru keluar tadi?"
"Dokter Rigel maksud Ibu?"
"Iya, si Dokter Kulkas sialan itu!" Alea menunjuk pintu keluar dengan jari telunjuk yang gemetar. "Cari tahu siapa dia. Cari tahu latar belakangnya, lulusan mana, tinggal di mana, dan berapa gajinya. Cari tahu harganya!"
"Maksud Ibu?" Zahra bingung.
"Saya mau beli harga dirinya!" desis Alea penuh dendam. "Saya mau bikin dia berlutut minta maaf karena udah lancang sama saya. Cari info busuknya, saya mau pecat dia dari dunia kedokteran!"
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....