Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!
Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.
Namur, takdir berkata lain.
saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.
" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "
Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Perang Dingin Dibalik Rak Obat
Pagi di Ruko Nusantara Glow tidak lagi berbau amis lele atau pesing ayam. Berkat tangan besi Alisa, udara di lantai satu kini berbau Peppermint dan Eucalyptus yang sangat menenangkan—atau bagi Bara, bau ini terlalu "suci" untuk jiwanya yang sudah terbiasa dengan aroma rawa.
Bara berdiri di depan cermin lantai dua, menatap pantulan dirinya dengan nanar. Alisa telah memaksanya memakai kemeja slim-fit warna biru muda yang kancing atasnya harus dibuka sedikit (kata Alisa, untuk branding). Masalahnya, kemeja ini sangat ketat di bagian dada Bara yang sudah membengkak berkat ramuan Gatotkaca, membuatnya merasa seperti sosis yang siap meledak kapan saja.
"Al, kemeja ini mencekik harga diriku," keluh Bara sambil turun ke lantai satu.
Alisa, yang sedang merapikan botol-botol ekstrak jahe dengan sarung tangan lateks, menoleh tanpa ekspresi. "Itu kemeja mahal. Dan tolong, demi reputasi mu sebagai CEO masa depan, ganti alas kakimu itu!"
Bara melihat ke bawah. Ke arah kaki kirinya yang terbungkus sandal jepit Swallow berwarna hijau yang talinya sudah diganjal peniti, dan kaki kanannya yang memakai sandal serupa tapi warna biru.
"Ini adalah teknologi alas kaki paling mutakhir di Nusantara, Al. Anti-selip di lumpur, mudah dilempar ke maling, dan yang paling penting, memberikan sirkulasi udara maksimal pada sela-sela jari kakiku yang sudah bekerja keras,"
jawab Bara dengan wajah serius yang sangat menyebalkan.
Alisa memijat pelipisnya.
"Aku akan mencarikanmu sepatu kulit minggu depan. Sekarang, duduk di balik meja konsultasi. Jangan banyak bicara kalau ada tamu elit, biar aku yang menangani manajemennya."
Bara duduk di kursi putar mahoni yang sangat empuk—jauh lebih nyaman daripada batu kali di hutan. Namun, ketenangan itu hanya bertahan lima menit.
Ting!
Lonceng pintu kaca berbunyi. Aroma parfum mewah yang sangat kuat mendadak menyerbu ruangan, mengalahkan bau Peppermint milik Alisa.
Viona masuk dengan gaya seorang ratu yang baru saja menaklukkan sebuah benua. Di belakangnya, Clara mengikuti dengan tablet digital di tangan, tampak sibuk mengatur jadwal sang bos.
Viona mengenakan kacamata hitam yang harganya mungkin setara dengan sepuluh unit The Black Chariot milik Bara.
"Hmmm sepertinya ada perubahan disini" suara Viona menggelegar, meremehkan tapi ada nada puas. "Lumayan. Setidaknya bau gembelnya sudah hilang."
Viona melepas kacamatanya dan matanya langsung tertumbuk pada Alisa.
Dua pasang mata wanita cantik itu bertemu.
Atmosfer di dalam ruko mendadak turun hingga minus lima derajat Celcius. Alisa berdiri tegak, memasang senyum profesionalnya yang paling tajam.
"Selamat datang, Nona Viona. Saya Alisa Maheswari, COO dari Nusantara Glow," sapa Alisa dengan nada yang sopan tapi penuh otoritas.
Viona menyipitkan mata. Dia menatap Alisa dari ujung kaki sampai ujung rambut, lalu menoleh ke arah Bara yang pura-pura sibuk membaca buku
"Cara Ternak Lele di Luar Angkasa, hmm patut di coba," Ucap bara tampak serius padahal bukunya kebalik oii.
"COO?" Viona mendengus. "Bara, sejak kapan kamu punya asisten secantik ini? Pemilihan mu boleh juga ya, nampaknya kamu suka mengoleksi wanita-wanita cantik di dekatmu"
Bara tersedak air liurnya sendiri. Dia mendongak pelan, berusaha memasang wajah datar.
"Ah, Nona Viona. Ini... ini adalah mitra strategis saya. Alisa adalah ahli manajemen yang saya... eh, rekrut untuk merapikan administrasi."
Alisa menatap Bara dengan tatapan yang bisa membelah atom. "Mitra strategis? Bara, aku tunanganmu. Jelaskan dengan benar."
DUAAARR!
Clara hampir menjatuhkan tabletnya. Viona mematung. Bara merasa seolah-olah dia baru saja menelan bom asap biusnya sendiri.
"Tunangan?!" Viona berseru, suaranya naik satu oktav. Dia menoleh ke Bara dengan tatapan menginterogasi.
"Kamu punya tunangan secantik ini dan kamu masih berani me-roasting rahim saya beberapa bulan lalu?! Dasar pria tukang tipu!"
"E-eh, tunggu dulu Bos!" Bara mengangkat tangannya, berusaha membela diri.
"Waktu itu kan saya sedang dalam mode gembel! Dalam mode gembel, ingatan asmara itu tertekan oleh rasa lapar! Ini murni masalah biologis... suwer dehh..✌️!"
Alisa melipat tangan di dada, matanya beralih ke Viona.
"Nona Viona, saya dengar Anda adalah klien besar Bara sekaligus pemegang usaha 20 persen dari usaha apapun yang bara buat. Terima kasih telah membantu menyediakan ruko ini, terimakasih juga telah bekerjasama. Tapi mulai sekarang, segala urusan bisnis dan kontrak harus melalui meja saya. Bara hanya akan fokus di laboratoriumnya untuk riset."
Viona melangkah maju, mendekati meja Alisa.
"Oh, begitu? Tapi tanpa investasi saya, ruko ini hanya akan jadi tempat penyimpanan cacing. Saya rasa, saya punya hak untuk memantau langsung perkembangannya... termasuk memantau 'dokter' pribadiku ini."
Clara, yang menyadari situasi semakin berbahaya, mencoba menengahi. "Eittt jangan bertengkar, nih kita ada jadwal.. selanjutnya "
"Tunda!" potong Viona cepat. Dia menatap Bara.
"Bara, saya datang ke sini untuk pemeriksaan lanjutan. Perut saya terasa sakit lagi... agak kaku. Mungkin kamu perlu mijit bagian itu saya lagi." Godanya seakan minta dimanja.
haduh sejak kapan singa ini menjadi begini pikir bara tak percaya dari yang terlihat viona tampak baik-baik saja malahan segar bugar, apa karena pijitan intens selama sebulan penuh itu membuat otaknya sedikit bermasalah, yang bara lihat hanyalah masalah kecil yaitu wanita ini tampak memaksakan diri dan kurang istirahat.
Alisa tersenyum simpul, tapi matanya berkilat jahat, dia seperti siap menghajar bara malam ini "Maaf Nona Viona, Bara sedang sibuk menyiapkan pesanan massal. Untuk keluhan ringan seperti itu, saya sudah menyiapkan asisten apoteker yang—"
"Saya mau Bara," sela Viona dengan nada tak terbantahkan.
Bara merasa terjepit di antara dua singa betina. Dia mencoba bangkit dari kursinya untuk kabur ke lantai dua, tapi sialnya, kemeja ketatnya tersangkut di sandaran kursi.
SREEEK!
Suara kain robek terdengar jelas. Ketiak kemeja mahal Bara terbuka lebar.
"ADUH!" Pekik bara seakan mencoba menahan suaranya tak terlalu keras.
Viona dan Alisa serentak menoleh ke arah Bara. Fokus mereka beralih dari persaingan ke pemandangan absurd di depan mereka.
Bara berdiri dengan kemeja robek di bagian ketiak, dan saat dia mencoba menutupi ketiaknya, dia malah terpeleset lantai keramik yang licin.
Gubrak!
Bara jatuh dengan posisi kaki ke atas. Dan di sanalah mereka. Sandal Swallow hijau-biru yang legendaris itu melambai-lambai dengan angkuhnya di depan wajah Viona dan Alisa.
Peniti pengganjal talinya berkilau terkena cahaya lampu ruko.
Hening.
Clara menutup mulutnya, berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa sampai wajahnya memerah.
Alisa menutup wajahnya dengan telapak tangan, merasa martabat perusahaannya hancur dalam sekejap.
Viona? Dia malah tertawa meledak.
"BWAHAHAHA! Bara! Kemeja jutaan rupiah tapi alas kakinya masih pake peniti?! Kamu ini sebenarnya jenius atau memang sirkus berjalan sihh yaelah..?!" Viona tertawa sampai air matanya keluar.
Bara bangkit dengan gerakan canggung, berusaha merapikan kemejanya yang kini punya ventilasi udara di ketiak.
"Ini... ini namanya keseimbangan Yin dan Yang, Bos. Atas elit, bawah sulit. Ini melambangkan perjalanan hidupku yang penuh fluktuasi ekonomi."
Alisa menghela napas panjang, menatap Bara dengan tatapan 'kita-bicara-nanti'. Dia kemudian menoleh ke Viona, berusaha mengembalikan suasana profesional.
"Nona Viona, mohon maaf atas ketidaksopanan tunangan saya. Dia memang agak... unik. Tapi soal obat, dia tidak pernah main-main. Mengenai keluhan Anda, silakan masuk ke ruang konsultasi. Saya akan menemani di dalam agar prosesnya sesuai prosedur."
Viona berhenti tertawa, dia menyeka sudut matanya. "Oke. Saya suka nyalimu, Alisa. Kamu menjaga 'asetmu' dengan sangat ketat. Baiklah, mari kita periksa."
Di dalam ruang konsultasi yang tertutup, Bara terpaksa bekerja di bawah pengawasan empat mata: mata tajam Alisa dan mata penasaran Viona yang terus menatapnya dengan senyum aneh. "Salah makan obat nih orang" batin bara
Bara mengambil pergelangan tangan Viona. Dia tidak lagi bicara kasar seperti kemarin. Dia tahu ada Alisa yang siap menjewer telinganya jika dia berani bilang "Jomblo Akut" lagi. Pada saat ini dia hanya bisa bekerja sama dengan viona untuk bersandiwara mengatakan kalau wanita itu sakit, walaupun viona dalam keadaan sehat.
Setelah pemijatan selesai bara hendak memeriksa denyut nadi dan kali ini dia mendiagnosis kalau viona terlalu capek dalam bekerja akhir-akhir ini, walaupun tubuh nya sehat tapi batinnya tidak.
"Denyut nadi stabil. Ini hanya gejala Psikosomatis," analisis Bara dengan nada yang dibuat sedingin mungkin. "Anda terlalu banyak bekerja. Hormon Anda butuh relaksasi, bukan cuma ramuan. Saya akan meracik 'Deep Sea Relaxation' dari ekstrak lumut laut dan melati hutan. Pakai sebagai aroma terapi sebelum tidur."
Viona menatap Bara, lalu melirik Alisa. "Hanya itu? Kamu tidak mau memegang yang lain lagi?, atau mau mengejek saya lagi?"
Bara melirik Alisa yang sedang menatapnya dengan senyum manis tapi mengancam. "Tidak, Nona. Saya sudah... eh, mendapatkan pencerahan moral dari COO saya."
Setelah sesi konsultasi yang tegang itu selesai, Viona dan Clara bersiap pergi. Namun sebelum keluar, Viona berhenti di depan pintu.
"Alisa, Bara," kata Viona dengan nada serius.
"Minggu depan ada acara Gala Dinner pengusaha farmasi di Hotel Grand Astora. Darmawan dan anaknya, Rico, akan ada di sana. Mereka akan meluncurkan produk minuman energi baru yang mereka klaim sebagai 'Revolusi Herbal'."
Mendengar nama Darmawan, suasana ruangan berubah seketika. Dendam yang tersimpan di mata Bara berkilat tajam.
"Darmawan mencuri formula ayahku dulu dan memodifikasinya dengan bahan kimia murah agar untung besar," bisik Alisa, tangannya mengepal.
"Saya ingin kalian datang," lanjut Viona. "Bara, kamu harus datang sebagai pemilik Nusantara Glow. Pakai setelan yang benar, jangan bawa ayam, dan demi Tuhan... buang sandal jepit itu ke sungai!"
"Aku tidak janji soal ayamnya, tapi soal sandal... mungkin aku akan memikirkannya," jawab Bara.
Viona pergi dengan langkah mantap. Ruko pun kembali sepi.
Alisa segera mengunci pintu kaca. Dia berbalik dan menatap Bara dengan tatapan yang membuat Bara ingin segera lari balik ke Hutan Larangan.
"Jadi..." Alisa mendekati Bara perlahan. "Nona Viona itu... cantik ya? Dan dia sepertinya sangat peduli pada denyut nadinya yang harus diperiksa olehmu."
"Al, itu murni urusan medis! Aku menyelamatkan nyawanya (dan tabungannya) dari kram perut yang menyiksa!" bela Bara.
"Dan Clara? Dia sepertinya sangat kagum padamu," Alisa memojokkan Bara ke tembok rak obat.
"Clara itu cuma perantara bisnis, Al! Dia yang mengurus logistik supplier kita!"
Alisa tiba-tiba tertawa, lalu merapikan kerah kemeja Bara yang robek. "Aku tahu, Bara. Aku hanya ingin memastikan kamu tidak lupa siapa yang memegang kendali di sini. Aku tidak peduli mereka CEO atau asisten hebat, tapi di ruko ini, hanya ada satu manajer, dan di hatimu hanya ada aku, Mengerti?"
Bara menelan ludah. "Siap, Bu Manajer."
"Bagus. Sekarang, masuk ke lab. Aku mau kamu meracik sesuatu yang bisa membuat produk minuman energi Darmawan terlihat seperti air comberan minggu depan. Kita akan mulai serangan balik kita dari pesta itu."
Bara tersenyum lebar. Sisi alkemisnya yang haus akan kehancuran musuh mulai bangkit.
"Tenang saja, Al. Aku akan meracik 'The Dragon Breath'. Satu teguk, dan orang-orang akan tahu perbedaan antara jamu kimia sampah milik Darmawan dengan alkimia murni milik keluarga Mahendra-Wardhana."
Sersan Jago yang sejak tadi diam di pojokan, tiba-tiba terbang dan hinggap di bahu Bara, lalu mematuk kemeja Bara yang robek.
"Iya, Jago. Aku tahu aku butuh baju baru," keluh Bara.
Bara kemudian mengambil sepasang sandal Swallow barunya dari balik meja—warna merah. "At least yang ini warnanya sama dengan dendamku," gumamnya tak tahu malu.
Malam itu, ruko Nusantara Glow menyala hingga larut. Di lantai dua, Bara bekerja dengan tabung-tabung kaca presisi, sementara di lantai tiga, Alisa menyusun strategi pemasaran yang akan menghancurkan dominasi Darmawan.
Mereka bukan lagi dua orang yang kalah. Mereka adalah duo paling berbahaya yang pernah dilahirkan dari debu kemiskinan dan keajaiban hutan.