Alea Maheswari tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan berakhir menjadi pion dalam permainan bisnis ayahnya. Ia dipaksa bertunangan dengan Dafin Danuar, seorang CEO dingin yang merupakan putra dari rekan bisnis keluarganya.
Bagi Dafin, kehadiran Alea adalah gangguan besar. Hatinya sudah terkunci untuk kekasih pilihan hatinya sendiri. Di mata Dafin, Alea hanyalah penghalang kebahagiaannya, sementara bagi Alea, pertunangan ini adalah beban yang harus ia pikul demi kehormatan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalang di balik video
Setelah pesta pertunangan yang berakhir kacau itu, keluarga Danuar kembali ke kediaman mereka dengan atmosfer yang jauh lebih mengerikan daripada malam-malam sebelumnya. Begitu mereka menginjakkan kaki di ruang tamu utama, Bramantyo tidak lagi bisa menahan diri.
"DAFIN! MASUK KE RUANG KERJA PAPA!" suara Bramantyo menggelegar, membuat para pelayan menunduk ketakutan dan segera menghilang dari area tersebut.
Dafin melangkah masuk dengan wajah datar, meski hatinya berkecamuk. Ia masih mengenakan setelan jas pertunangannya, namun kancing kemejanya sudah terbuka dua di bagian atas, dan dasinya sudah ia lepaskan di mobil tadi. Di belakangnya, Shinta mamanya masuk dengan wajah pucat dan mata yang sembab.
BRAKK!
Bramantyo memukul meja kerjanya begitu keras hingga vas bunga di atasnya berguncang. "APA YANG KAMU LAKUKAN, DAFIN?! KAMU TAHU BERAPA BANYAK UANG DAN HARGA DIRI YANG PERLU PAPA KELUARKAN UNTUK MENENANGKAN INVESTOR TADI?!"
"Bukan aku yang memutar video itu, Pa," jawab Dafin tenang, meski suaranya dingin. "Aku tidak sebodoh itu untuk menghancurkan namaku sendiri di depan seluruh media."
"BOHONG!" bentak Bramantyo. "Itu video kamu dengan model itu! Kalau kamu tidak berhubungan dengannya secara sembrono, video itu tidak akan pernah ada! Kamu hampir menghancurkan aliansi kita dengan Maheswari!"
"Aliansi?" Dafin tertawa getir. "Papa cuma peduli soal aliansi, sementara Papa nggak peduli kalau aku baru saja dipermalukan sebagai laki-laki? Papa pura-pura bilang itu video rekayasa di depan tamu, tapi Papa tahu itu asli. Papa memaksa aku memasangkan cincin itu pada Alea seolah-olah tidak terjadi apa-apa!"
Bramantyo melangkah mendekat, matanya menatap tajam putra tunggalnya. "Tentu saja Papa melakukannya! Karena bagi Papa, kamu adalah masa depan Danuar Group. Papa tidak akan membiarkan skandal kecil dengan seorang model murahan menghancurkan kerja sama triliunan rupiah! Kamu pikir Arkan Maheswari bodoh? Dia tahu itu asli, tapi dia butuh kita, makanya dia tetap memaksa Alea lanjut."
"Kalian berdua benar-benar gila harta," desis Dafin.
"Dafin, jaga bicaramu pada Papamu!" Shinta menyela dengan suara gemetar. "Kami hanya ingin yang terbaik untukmu."
"Kamu akan tetap melanjutkan ini," ucap Bramantyo dengan nada final yang tak bisa dibantah. "Besok, kamu harus menemui Alea. Berikan dia permintaan maaf yang manis, bawa bunga, atau apa pun itu. Pastikan dia tidak membatalkan ini. Dan satu lagi..."
Bramantyo menatap Dafin dengan ancaman yang sangat nyata. "Putuskan hubunganmu dengan Maya sekarang juga. Jika Papa melihat wajahnya lagi di dekatmu, Papa yang akan turun tangan untuk melenyapkannya dari industri ini. Mengerti?!"
Dafin tidak menjawab. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Rasa marah, malu, dan tertekan menyatu di dadanya. Tanpa pamit, ia berbalik dan keluar dari ruang kerja itu, mengabaikan teriakan ayahnya yang masih memanggil namanya.
Setelah keluar dari ruang kerja ayahnya dengan emosi yang meledak, Dafin tidak lantas beristirahat. Ia langsung menyambar kunci mobilnya dan memacu kendaraannya menuju apartemen Maya. Pikirannya kalut. Hanya ada satu orang yang memiliki akses ke rekaman-rekaman pribadi mereka, dan ia butuh jawaban sekarang juga.
BRAKK!
Dafin membanting pintu apartemen Maya hingga wanita itu tersentak dari sofa.
"Dafin? Sayang, kamu...."
"Berhenti memanggilku begitu, Maya!" bentak Dafin. Suaranya menggelegar di ruangan yang sunyi itu. Ia melemparkan ponselnya ke atas meja .
"Jelaskan padaku. Kenapa video itu bisa ada di sana"
Maya mencoba meraih tangan Dafin, namun pria itu menepisnya dengan kasar. "Dafin, aku nggak tahu! Sumpah! Mungkin ada yang meretas ponselku atau...."
"Jangan bohong!" Dafin memotong dengan nada rendah yang berbahaya. "Hanya kamu yang punya rekaman itu, Maya."
Wajah Maya mendadak pucat pasi. Ia menyadari pertahanannya runtuh. Tangisnya pecah, namun kali ini bukan tangis sedih, melainkan tangis frustrasi.
"Iya! Aku yang melakukannya!" teriak Maya akhirnya. "Aku takut, Dafin! Aku takut kamu beneran jatuh cinta sama Alea! Aku denger dari orang-orang kalau dia cantik, dia berkelas, dan dia sempurna buat kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu!"
Dafin tertawa getir, suaranya terdengar sangat terluka. "Kembali kepadamu? Dengan cara merusak reputasiku? Dengan cara membuatku kelihatan seperti bajingan di depan seluruh rekan bisnis Ayah? Kamu egois, Maya!"
Maya maju dan mencengkeram kemeja Dafin, suaranya kini berubah menjadi histeris. "Kenapa sekarang kamu malah memarahi aku?! Kamu sudah tidak sayang lagi kepadaku? Hah?! Kamu sekarang lebih memilih membela perempuan itu daripada aku yang sudah menemanimu selama ini?"
Dafin menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku tidak membela siapa-siapa, tapi caramu ini rendahan sekali."
"Ooh, jadi sekarang aku rendahan di matamu?" Maya memukul dada Dafin dengan tangan gemetarnya.
"Kamu sudah berubah sejak ada Alea! Kamu sudah tidak cinta lagi kepadaku! Kalau kamu memang sayang kepadaku, kamu seharusnya membatalkan acara tadi! Kamu seharusnya membawa aku pergi, bukan malah lanjut memasangkan cincin ke jari dia!"
Dafin terdiam, membiarkan Maya meluapkan emosinya sejenak. Amarahnya perlahan meredup, berganti dengan rasa lelah yang luar biasa. Ia menarik napas panjang, lalu tiba-tiba ia merengkuh Maya ke dalam pelukannya. Ia memeluk wanita itu dengan sangat erat, seolah-olah ia sedang mencoba memperbaiki sesuatu yang sudah hancur.
"Maaf..." bisik Dafin di telinga Maya. Suaranya serak.
"Maaf aku memarahi kamu. Aku cuma... aku kaget, aku malu, Maya."
Maya terisak di dada Dafin, tangannya memeluk pinggang Dafin seolah tak ingin melepaskannya.
"Kamu jangan tinggalkan aku, Dafin... aku sayang sekali sama kamu."
"Aku tidak bisa, Maya," ucap Dafin lirih, matanya menatap kosong ke arah jendela apartemen.
"Ayahku... dia tadi mengancam akan menghancurkan kariermu kalau aku tetap bersamamu. Dia akan membuat kamu tidak bisa kerja lagi di industri ini. Aku benar-benar takut kehilangan kamu dengan cara seperti itu."
Maya mendongak, menatap wajah Dafin yang penuh beban. "Jadi maksudmu... kita harus tetap sembunyi-sembunyi?"
"Untuk sekarang, iya. Biarkan pertunangan sandiwara ini jalan supaya Ayah tenang dulu," kata Dafin sambil mengusap air mata Maya dengan ibu jarinya.
"Tapi aku janji, aku akan cari cara untuk menyelesaikan ini semua tanpa kamu harus jadi korban. Aku cuma minta, jangan melakukan hal bodoh seperti tadi lagi. Kamu hampir merusak semuanya."
Dafin mencium kening Maya, mencoba meyakinkan wanita itu. Ia merasa menjadi pria paling brengsek di dunia menjanjikan masa depan pada kekasihnya, sementara ia baru saja mengikat takdir wanita lain dalam neraka yang ia buat sendiri.