NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Kabar di Tengah Malam

Jarum jam dinding di kamar utama menunjukkan pukul 22.45 WIB.

Suasana di luar rumah hening, hanya terdengar sisa rintik hujan yang menetes dari talang air. Di dalam kamar, atmosfer hangat dan damai masih terasa kental sisa obrolan intim mereka tadi. Hannah baru saja selesai menyisir rambutnya di depan meja rias, bersiap untuk tidur, sementara Akbar sudah duduk bersandar di kepala ranjang sambil membaca beberapa surah pendek dari Al-Qur'an kecilnya rutinitas sebelum tidur.

Hannah menatap pantulan suaminya di cermin. Hatinya membuncah. Malam ini terasa berbeda. Tidak ada lagi ketegangan, tidak ada lagi rasa canggung. Hannah merasa siap. Ia baru saja hendak mematikan lampu meja rias dan melangkah menuju ranjang, ketika ponselnya yang tergeletak di nakas bergetar hebat.

Drrrrt... Drrrrt...

Suara getaran itu memecah keheningan, terdengar nyaring dan mengagetkan di tengah malam yang sunyi.

Hannah dan Akbar serentak menoleh. Panggilan telepon di jam segini jarang sekali membawa kabar baik.

Hannah meraih ponselnya. Nama yang tertera di layar membuat jantungnya mencelos: Umi.

Firasat buruk langsung menyergap dada Hannah. Umi tidak pernah menelepon malam-malam kecuali darurat. Biasanya Umi hanya mengirim pesan WhatsApp jika rindu.

Dengan tangan gemetar, Hannah menggeser tombol hijau.

"Assalamualaikum, Umi?" sapa Hannah, suaranya sedikit bergetar.

"Wa’alaikumsalam, Nduk..." suara Umi di seberang sana terdengar parau dan panik. Ada isak tangis yang tertahan. "Hannah... kamu belum tidur?"

"Belum, Mi. Ada apa? Umi kenapa nangis?" Hannah mulai panik. Akbar yang melihat perubahan ekspresi istrinya langsung menutup Al-Qur'an dan turun dari ranjang, berdiri di samping Hannah, memasang telinga.

"Abah, Nduk... Abah..."

"Abah kenapa, Mi?!" jerit Hannah tertahan.

"Abah pingsan tadi habis isi pengajian. Tensi darahnya tinggi sekali. Sekarang sudah sadar tapi lemas, nggak bisa bangun, dadanya sesak katanya..." tangis Umi pecah. "Umi takut, Nduk. Di rumah cuma ada Kang Santri yang jaga."

Dunia Hannah serasa runtuh. Abah adalah cinta pertamanya, pahlawannya. Mendengar Abah sakit keras sampai pingsan adalah mimpi buruk terbesarnya. Kakinya lemas seketika.

"Hannah pulang sekarang, Mi. Hannah pulang," ucap Hannah tanpa berpikir panjang, air matanya langsung tumpah ruah.

Hannah memutus sambungan telepon dengan tangan gemetar hebat. Ia menatap Akbar dengan pandangan kabur oleh air mata.

"Mas... Abah, Mas... Abah pingsan... Hannah mau pulang..." isaknya histeris.

Akbar tidak banyak bertanya. Ia tidak bertanya "seberapa parah?" atau "besok pagi saja ya?". Ia melihat kepanikan di mata istrinya dan langsung mengambil alih komando.

"Iya, kita pulang sekarang," ucap Akbar tegas dan tenang.

Tanpa membuang waktu, Akbar bergerak cepat. Ia membuka lemari, mengambil jaket tebal milik Hannah dan sebuah tas jinjing besar.

"Ganti baju yang hangat, pakai kaos kaki. Di luar dingin," perintah Akbar sambil memasukkan beberapa baju ganti Hannah dan dirinya secara acak ke dalam tas. Ia juga menyambar dompet, kunci mobil, dan power bank.

Hannah masih terpaku di tempat, bingung harus mulai dari mana karena shock.

Melihat istrinya freeze, Akbar mendekat. Ia mengambil gamis simpel dari gantungan, lalu memakaikannya pada Hannah dengan telaten seperti mengurus anak kecil. Ia memakaikan jilbab instan, lalu membungkus tubuh Hannah dengan jaket tebal.

"Tarik napas, Dek. Istighfar," bisik Akbar sambil mengusap punggung Hannah yang berguncang. "Abah kuat. Kita doakan sama-sama. Sekarang kita berangkat."

Sepuluh menit kemudian, mobil SUV Akbar sudah membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang menuju jalan tol arah Puncak lokasi pesantren orang tua Hannah berada.

Di dalam mobil, suasana terasa mencekam. Hujan deras kembali turun, membuat pandangan di kaca depan terbatas. Namun Akbar mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi namun tetap stabil dan terukur. Ia tahu istrinya butuh sampai secepat mungkin, tapi ia juga membawa nyawa berharga di sebelahnya.

Hannah duduk di kursi penumpang sambil meremas tisu yang sudah hancur. Ia terus menangis tanpa suara. Pikirannya melayang pada kenangan tentang Abah. Abah yang selalu tegas tapi penyayang. Abah yang menjodohkannya dengan Akbar demi kebaikannya.

"Ya Allah, jangan ambil Abah dulu... Hannah belum sempat bahagiain Abah..." racau Hannah lirih.

Tangan kiri Akbar terulur, meraih tangan Hannah yang dingin dan basah oleh keringat dingin. Ia menggenggamnya erat, menyalurkan kehangatan.

"Ssst... jangan ngomong gitu," tegur Akbar lembut tapi tegas. "Umur di tangan Allah. Kita ikhtiar dan doa. Abah itu orang sholeh, Allah pasti jaga Abah."

"Tapi Umi bilang dadanya sesak, Mas... Hannah takut..."

"Mas ngerti kamu takut. Wajar. Tapi kalau kamu panik, nanti Umi siapa yang kuatin? Umi butuh kamu tegar," ujar Akbar mengingatkan. "Sekarang baca Laa haula wa laa quwwata illa billah. Pasrahkan sama Yang Punya Nyawa."

Genggaman tangan Akbar menjadi kekuatan bagi Hannah di tengah badai emosinya. Hannah menuruti perintah suaminya. Ia mulai berdzikir, mencoba menekan rasa takutnya. Sepanjang perjalanan dua jam itu, Akbar tidak melepaskan genggaman tangannya kecuali saat harus memindahkan gigi persneling atau memutar setir tajam.

Pukul 01.15 dini hari, mobil mereka memasuki gerbang pesantren.

Suasana pesantren sepi, namun lampu di Ndalem (rumah kyai) menyala terang. Beberapa santri senior terlihat berjaga di teras dengan wajah cemas.

Begitu mobil berhenti, Hannah langsung melompat turun bahkan sebelum mesin mati total. Ia berlari menuju pintu utama tanpa menunggu payung.

"Assalamualaikum! Umi!"

Pintu terbuka. Umi muncul dengan mata bengkak. Hannah langsung menghambur ke pelukan ibunya. Tangis kedua wanita itu pecah di ambang pintu.

Akbar menyusul di belakang dengan membawa tas. Ia menyapa Umi dengan sopan, mencium tangan mertuanya, lalu menanyakan situasi terkini pada santri yang berjaga.

"Masuk, Nduk. Abah ada di kamar," ajak Umi.

Mereka masuk ke kamar utama. Di atas ranjang kayu jati tua, Abah terbaring lemah. Wajahnya pucat, napasnya terdengar agak berat. Ada aroma minyak kayu putih yang menyengat di ruangan itu.

Hannah mendekat perlahan, air matanya menetes lagi melihat sosok gagah itu kini tak berdaya. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Abah yang keriput.

"Abah... Hannah pulang," bisik Hannah.

Mata Abah perlahan terbuka. Melihat putri bungsunya ada di sana, seulas senyum tipis terbit di bibir pucatnya.

"Nduk..." suara Abah lemah sekali. "Kok malam-malam... kasihan suamimu..."

"Nggak apa-apa, Bah. Mas Akbar yang ajak langsung pulang," jawab Hannah.

Akbar melangkah mendekat. Ia membungkuk, mencium kening mertuanya dengan penuh takzim.

"Gimana rasanya, Bah? Masih sesak?" tanya Akbar lembut.

"Sudah agak mendingan, Bar. Cuma lemes," jawab Abah.

Akbar kemudian beralih pada Umi. "Mi, tensinya berapa tadi? Sudah panggil dokter atau mantri?"

"Tadi 180/100, Bar. Mantri desa sudah ke sini tadi suntik obat penurun darah tinggi. Katanya kalau besok pagi belum turun, harus dibawa ke rumah sakit di kota."

Akbar mengangguk paham. "Ya sudah, kalau begitu kita pantau malam ini. Kalau ada apa-apa, mobil Akbar standby di depan. Akbar yang jaga malam ini. Umi sama Hannah istirahat saja di sini nemenin Abah."

"Duh, Nak Akbar... kamu pasti capek nyetir dari Jakarta. Biar santri saja yang jaga," tolak Umi tidak enak hati.

"Nggak apa-apa, Mi. Akbar nggak capek kok. Ini tanggung jawab Akbar juga," tolak Akbar halus namun mantap. "Umi tidur aja, biar fit besok."

Malam itu, Hannah melihat sisi lain dari suaminya lagi.

Akbar tidak tidur. Ia duduk di kursi kayu di samping ranjang Abah, bergantian dengan Hannah mengompres dahi Abah atau memijat kaki Abah. Saat Hannah ketiduran dalam posisi duduk karena kelelahan menangis, Akbar dengan lembut mengangkat tubuh Hannah dan membaringkannya di sofa panjang, menyelimutinya dengan sarung.

Menjelang subuh, kondisi Abah mulai stabil. Napasnya teratur, tidurnya nyenyak.

Hannah terbangun saat mendengar suara adzan subuh dari masjid pesantren. Ia mengerjap, mendapati dirinya berselimut sarung di sofa. Ia menoleh ke ranjang Abah.

Akbar masih di sana. Suaminya itu tidak tidur semalaman.

Akbar sedang duduk di lantai karpet di samping ranjang Abah, memegang tasbih, bibirnya bergerak melantunkan dzikir tanpa suara. Wajahnya terlihat lelah, ada lingkaran hitam di bawah matanya, rambutnya sedikit berantakan. Tapi di mata Hannah, Akbar terlihat sangat bercahaya.

Hati Hannah bergetar hebat.

Inilah laki-laki yang ia ragukan cintanya? Inilah laki-laki yang ia pikir menikahinya hanya karena terpaksa?

Tidak ada kepura-puraan yang bisa bertahan sejauh ini. Membawa istri pulang tengah malam, menyetir menembus hujan, dan terjaga semalaman menjaga mertua yang sakit itu bukan sekadar kewajiban. Itu adalah cinta. Cinta yang tulus kepada Hannah dan keluarganya.

Hannah bangkit perlahan, mendekati Akbar, lalu duduk bersimpuh di sebelahnya.

Akbar menoleh, tersenyum cerah meski matanya merah. "Sudah bangun, Sayang? Abah tidurnya pules banget Alhamdulillah."

Hannah tidak menjawab. Ia meraih tangan kanan Akbar, lalu menciumnya lama sekali sambil menangis tanpa suara.

"Kenapa lagi?" bisik Akbar bingung, mengusap kepala Hannah dengan tangan kirinya.

"Terima kasih, Mas," bisik Hannah parau. "Terima kasih sudah jadi suami Hannah. Terima kasih sudah sayang sama Abah. Hannah... Hannah beruntung banget punya Mas."

Akbar tersenyum, mengangkat wajah Hannah. "Abah kamu itu Abah Mas juga. Sudah kewajiban Mas. Yuk, ambil wudhu, kita sholat subuh jamaah di sini. Doakan Abah sembuh total."

Pagi itu, di kamar orang tuanya yang sederhana, diiringi suara puji-pujian dari masjid pesantren, Hannah benar-benar menyerahkan hatinya 100% kepada Muhammad Akbar. Kejadian malam ini menjadi segel pengikat yang tak akan bisa dilepas lagi bahwa dalam suka maupun duka, Akbar adalah satu-satunya tempat ia bersandar.

1
Khairanur
bagus..saya suka alur ceritanya...lanjut thor❤️
Ayusha
cinta sehidup semati udah biasa, cinta sehidup sesurga itu yang luar biasa 😍
Ayusha
hebat Annisa
Ayusha
ini yang selalu Ummahat tuntut buat para suami😄
Ayusha
wanita dengan segala prasangka nya😄
Ayusha
beraaatt mas Akbar.. yang belum Halal si Annisa sudah berani mencintai dalam diam, yang sudah halal masih harus berhati-hati dalam menjaga hati. 🤭
Ayusha
makanya Allah melarang "jangan dekati zina" termasuk zina mata dan zina hati, zina hati ini yg paling berat untuk di jauhi.
gapapa Annisa, yakinlah bahwa wanita baik untuk laki2 yg baik pula. jd tetap jaga hati hanya untuk sang Maha pemilik hati, agar hatimu tetap terjaga dari kekecewaan.😍
Ayusha
justru cinta karena landasan takwa kepada Allah ini lah yg paling kuat Hanna, mungkin dg kamu sadar akan kewajiban seorang istri kpd suami itu akan lebih mempererat tali pernikahan itu sendiri. jd jangan cuma minta dimengerti, seorang istri pun harus bisa mengerti akan suami. 👍
Ayusha
/Drool/
Ayusha
kenapa tulisan bagus, romansa tanpa melanggar syariat begini malahh sedikit yg like ya.
tetep semangat buat othor, jangan berhenti ditengah jalan yah 👍
Ayusha
begitulah wanita, jika melihat wanita lain yg dirasa lebih dari pada dia rasa insecure hadir sendiri /Shhh/
melda melta
kok lama update nya
Juwitha Arianty Ibrahim
up lagi dong, doble up klo. bisa, penasaran banget sma kelanjutan nyaw/Smile//Smile/
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!