Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 7
"Aku sudah mendaftarkan kamu di sekolah menengah atas favorit. Jangan membaut aku malu di sana!" Ujar Bima saat sarapan dan melihat Aruna akan pergi ke kantor untuk bekerja sebagai office girl. Selama liburan sekolah setelah kelulusan, Aruna di wajibkan bekerja di sana.
"Baik! Terimakasih Tuan! Sekolah saya sudah masuk ke daftar hutang saya sebelumnya kan?" jawab Aruna dingin, Bima hanya mengangguk pelan.
"Kakak! sekarang kan liburan! Kita pergi bermain di time zone ya kak!" panggil Arkha yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.
"Saya harus bekerja, Tuan Muda. Anda bisa pergi bersama Tuan Bima!" jawab Aruna kemudian pergi dari sana.
Sesuai permintaan Bima, Aruna harus menjaga jarak dengan Arkha dan tak boleh terlalu dekat seperti dulu. Karena mereka bukan kakak beradik kandung. Aruna adalah pelayan, sedangkan Arkha adalah anak majikan. Hati Aruna sebenarnya sakit harus bersikap kasar kepada Arkha. Tapi dia tak punya pilihan lain. Arkha akan selalu hidup bahagia bersama dengan Bima dengan segala kemewahannya. Sedangkan dirinya harus berjuang agar bisa terbebas dari neraka yang di buat ayahnya sendiri.
"Ayah! Kenapa dengan kakak? Aku tak suka saat Kakak selalu memanggilku dengan panggilan Tuan Muda seperti pelayan lainnya. Aku adiknya kak Aruna bukan tuannya!" rengek Arkha kepada sang ayah.
"Sudah, sudah, jangan merajuk. Kita pergi ke time zone nanti sore ya setelah ayah pulang kantor!" jawab Bima dengan begitu lembut kepada Arkha.
"Oke ayah! Tapi kita pergi bersama dengan Kakak juga ya! Aku sudah lama tidak main sama kakak! Karena katanya kakak sedang sibuk ulangan kelulusan. Dan akhirnya kakak lulus menjadi juara umum! Kakak memang hebat!" Arkha memuji kakaknya.
Memang sedekat dan sekagum itu Arkha kepada kakaknya yang sangat pintar dan juga jago dalam segala bentuk bela diri. Dia juga selalu suka belajar bersama dengan kakaknya. Tapi akhir-akhir ini dia merasa kehilangan kakaknya karena alasan sibuk belajar untuk kelulusan.
Padahal nyatanya Aruna juga sibuk untuk mengurangi waktu tahanannya di rumah itu dengan mengerjakan semua pekerjaan dari Bima. Bahkan tak segan dia kembali mendapatkan pu-ku-lan demi pu-ku-lan lagi. Setelah kejadian di kamar ibunya, Bima menjadi lebih gampang ringan tangan padanya.
Aruna tiba di kantor selalu dengan berjalan kaki. bahkan uang lima ratus ribu yang dia pegang dari awal masih utuh. Selama menjadi OB ada banyak juga yang memberikan tip kepadanya, mungkin karena kasihan atau entahlah. Tapi Aruna menerimanya karena mungkin suatu saat nanti dia akan butuh.
"Aruna, maaf apa boleh bantu buang sampah ini?" pinta salah satu staff yang masih merasa sungkan saat akan menyuruh anak pemilik perusahaan.
"Baik Bu, jangan sungkan. Saya bukan anak pemilik perusahaan ini. Saya hanya bekerja sebagai Office girl dan saya juga mendapatkan gaji walau hanya separuh!" jawab Aruna dengan ekspresi dinginnya.
"Ah iya baiklah," jawabnya tersenyum kaku. Aruna hanya mengangguk dan pergi dari sana membawa kantong plastik di tangannya.
"Kenapa wajah Non Aruna semakin kalau begitu ya? Pak Bima tega sekali mempekerjakan anaknya menjadi office girl seperti itu bahkan di kantor sendiri. Aruna juga masih sangat kecil. Apa telinganya tidak panas karena setiap hari mendapat gosip dari kita semua?"
"Sssttt ... sudah jangan membicarakan hal itu nanti malah ada yang melaporkannya kepada Pak Bima!"
"Aruna, bisa bantu saya bereskan ruangan meeting. Satu jam lagi akan ada meeting di sana!", ajak dua temannya sesama pekerja bagian kebersihan di sana.
Aruna hanya mengangguk pelan kemudian mengikuti langkah mereka sambil mendorong rak yang berisi alat kebersihan. Selama bekeja, Aruna tak pernah banyak bicara. Dia selalu fokus dengan pekerjaannya yang begitu rapi.
"Aruna, kamu di panggil Pak Bima ke ruangannya!" salah satu staff memanggil Aruna.
Dengan tatapan dingin dan lurus ke depan tanpa senyum sama sekali di wajahnya, Aruna berjalan melewati staff yang berusan memanggilnya.
"Astaga, aku sangat merinding meliat tatapan dan ekspresi wajah dari Aruna. Apa yang terjadi kepada gadis yang dulunya sangat ceria? Kenapa wajahnya kaku sekali seolah tak bisa walau hanya untuk tersenyum sedikit saja? Kemana perginya senyum dan keceriaan kamu Aruna?" ucapnya pelan.
Dia sudah bekerja di perusahaan Rahardian cukup lama, sebelum Bima memiliki anak kedua. Sehingga dia tahu bagaimana lucu dan cerianya Aruna. Berbeda dengan Aruna yang di lihatnya sekarang. Bahkan terlihat seperti robot.
"Anda memanggil saya Tuan Bima?" tanya Aruna.
"Ya, nanti sepulang kerja kau ikut menemani Arkha ke time zone. Jangan gunakan kesempatan itu untuk kamu kembali mendekati anakku! Aku memintamu karena Arkha merengek meminta pergi denganmu! Aku tak mau mengecewakan anak kesayanganku! Apa kau paham?" ujar Bima.
"Ada lagi Tuan?" tanya Aruna lebih dingin dari Bima.
"Tidak! Keluarlah, melihat wajahmu membuatku ingin muntah!" usir Bima.
"Baik," jawab Aruna yang lebih dingin dari Bima.
Aruna kembali bekerja seperti biasa. Dia tak mau di kasihani oleh orang lain. Dia selalu mengambil jatah makan siangnya dan makan di taman belakang sambil belajar. Dia akan berjuang kembali untuk bisa loncat kelas atau sekedar mendapatkan beasiswa. Agar bisa mengurangi masa tahanannya dari Bima.
Kadang semua orang merasa prihatin dengan yang di alami oleh Aruna. Tapi gadis itu selalu mengatakan baik-baik saja dan bahkan dia tak pernah memperlihatkan jika dia sakit hati atau apapun. Padahal mereka semua tahu bagaimana perlakuan dan sikap ayahnya sendiri kepada Aruna. Bahkan Bima tak segan untuk memaki dan memarahi Aruna di depan semua karyawannya. Tapi Aruna selalu menjawab dengan tenang emosi ayahnya.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/