NovelToon NovelToon
Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Hari ini, tepat satu tahun Nayla. Naina, Cecilia dan Chandra, sibuk membuat pesta kecil-kecilan untuk si kecil. Sekaligus syukuran karena tepat hari ini juga Nayla dapat berjalan sendiri.

Pesta yang meriah dengan di hadiri beberapa anak yatim-piatu dari panti asuhan. Niat itu memang sengaja Cecilia buat untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Semoga Tuhan memberikan malaikat kecil dalam hidupnya.

Pesta berlangsung lancar, sementara itu di lain tempat. Reyhan tengah menunggu kedatangan Naina. Sampai ia berlari mengelilingi lapangan selama 3x putaran, namun yang di tunggu tak kunjung datang.

Reyhan menunggu dengan sabar dan sedikit kesal. Nampaknya ia mulai menyukai Naina. Reyhan tengah berusaha mendekati gadis pujaan hatinya.

Waktu telah menunjukkan pukul 10.00 sudah 3 jam Reyhan di lokasi tersebut, namun Naina tak kunjung datang.

Tiba-tiba getaran ponsel Reyhan membuyarkan lamunannya. "Apa?" Tanya Reyhan pada si penelpon.

"Belikan gue bakpao yang kemarin." Ucap Ryan tanpa basa basi.

"Orangnya gak jualan."

"Gue ganti 3x lipat uang lu. Cepet!"

Reyhan menarik nafas kesal. "Gue kata orangnya gak jualan." Teriaknya.

"Lu gak bohong?"

"Gue udah tiga jam nunggu tuh anak di sini. Sampai saat ini dia belum juga datang." Ungkapnya sedikit kesal.

"Oh ---"

Panggilan pun langsung terputus. Reyhan semakin kesal karena tingkah kakaknya yang semena-mena.

"Naina,,," gumam Reyhan kesal berbarengan rindu.

...****************...

"Yan, nanti siang ada rapat di hotel Cavaco, pusat kota." Jelas Dani selaku tangan kanan Ryan sekaligus Direktur di perusahaan yang mereka jalani.

"Atur aja, gue keluar dulu."

"Kemana?"

"Ngopi "

Ryan berlalu pergi. Ia menikmati kopi di cafe yang tak jauh dari perusahaannya. Di cafe itu, Ryan sayup-sayup mendengar suara lembut Naina. Namun ia telat menyadari, saat ia berbalik Naina telah pergi. Lantas ia menganggapnya hanya halusinasi.

Ryan menikmati kopi hitam hangat itu dengan di temani sebatang rokok filter yang biasa ia hisap. Tangannya mengotak atik kesana kemari pada layar datar di genggamannya.

Sesekali ia menghisap tembakau itu, dan sibuk dengan layar ponselnya lagi. Ia tengah asik bertukar kabar dengan Maeta. Rindunya hanya bisa ia utarakan lewat pesan maya yang tak berarti.

Entah Ryan yang bodoh, atau takdir yang mempermainkan mereka. Nyatanya Ryan tak bisa menerima kenyataan bahwa ia hanya di manfaatkan oleh Maeta dan mengabaikan orang yang tulus.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ryan pergi menuju parkiran. Lagi-lagi ia seolah melihat bayangan Naina. Namun saat ia menyadari Naina telah hilang dari pandangan. Ryan seolah dihantui oleh bayang-bayang Naina. Rasa bersalah dan berdosa terus bersarang dalam diri Ryan. Tapi Ryan tak kuasa untuk kembali pada Naina.

Maeta akan kembali tahun depan. Maka dari itu ia tak bisa datang untuk menemui Naina. Biarlah Naina menyerah dengan keadaan. Biarlah Naina yang mengurus surat perceraian. Biarlah Naina membencinya, itu lebih baik.

Setelah malam berlalu, kini fajar datang dengan warna jingga keemasan. Cantik. Begitulah warna yang di hasilkan. Naina kembali beraktivitas pada kesehariannya. Naina kini tak lagi mengontrak, ia kini tinggal di rumah Cecilia.

Nayla malah akrab dengan Cecilia dan Chandra ketimbang pada Naina. Sebab Naina jarang merawat Nayla, karena ia harus mencari uang untuk kehidupan Nayla kemudian hari. Naina tahu betul, ia tak bisa terus menerus bergantung pada orang lain. Ia harus bisa bangkit dari keterpurukan yang terus melanda hidupnya.

Tepat jam 7 pagi, Naina tengah bersiap-siap menyusun bakpao pada panci khusus. Dari kejauhan berlari seorang pria yang sangat Naina ketahui.

"Kemarin kamu kemana aja?" Tanya Reyhan setibanya di stan dagangan.

"Anakku berulang tahun, maka aku harus merayakannya." Ucap Naina enteng, namun memukul kerasa dada Reyhan, ia tak percaya dengan kenyataan yang ia dengar tadi.

"Anak? Kamu udah punya anak?" Tanya Reyhan lagi.

"Iya, dia baru berumur 1 tahun kemarin."

"Bukankan kamu masih muda? Kapan kamu menikah?"

Pertanyaan Reyhan membuat Naina terpaksa menghentikan aktivitasnya. "Entahlah aku tak ingat."

"Maksud mu? Kamu tak ingat kapan kamu menikah atau kamu tak ingat siapa suamimu?"

"Keduanya." Jawab Naina tak acuh.

"Apa kamu sekarang berstatus janda?" Reyhan kembali bertanya.

"Tidak juga."

"Jadi?"

"Entahlah. Jika tahun ini ia tak ku temui, maka aku akan menceraikannya. Namun jika takdir mempertemukan kami. Aku akan memberinya kesempatan."

Reyhan kembali terdiam. Hatinya patah. Pupus sudah bunga yang belum sempat bersemi. Namun ada doa yang Reyhan layangkan pada langit. Ia berdoa semoga Naina tak kembali bersama suaminya.

Naina memberikan satu bakpao pada Reyhan, "makanlah, ini gratis."

Reyhan menerima, tapi hatinya masih tak bisa menerima kenyataan pahit yang ia dengar tadi.

"Rey, boleh aku menjadikanmu teman?" Ucapan Naina yang tiba-tiba itu membuat Reyhan salah tingkah.

Mungkinkah ini adalah awal baik untuknya dengan Naina? Reyhan tersenyum manis, ia mencubit pipi Naina gemas.

"Bukankah kita sudah berteman."

Naina tersenyum, Reyhan menceritakan sebuah kisahnya. Berharap Naina pun memberikan sedikit beban hidupnya. Namun pancingan itu tak bisa membuat Naina menceritakan kisahnya.

"Kamu benar-benar tak memiliki ponsel?"

"Aku orang kampung, bisa bertahan di kota besar ini saja sudah bersukur."

Reyhan kembali terdiam, ia teringat bahwa Kakaknya memiliki ponsel yang banyak dan tak terpakai. Mungkin Reyhan akan membujuk Kakaknya dan meminta satu ponsel yang paling tak terpakai.

"Baiklah, sampai ketemu besok." Seru Reyhan.

"Kami nampaknya pengangguran, ya?" Celetuk Naina, namun Reyhan hanya tertawa.

"Kerja sana, biar dapat uang." Olehnya lagi membuat Reyhan semakin gemas pada Naina.

"Apa sih, dari tadi cuma ketawa doang."

"Iya mau gimana lagi, kamu nyuruh aku bekerja sih."

"Emang apa salahnya?"

"Aku masih kuliah, dan ini masih libur kuliah. Bulan depan baru mulai masuk pembelajaran."

...****************...

Malam ini Naina bermain dengan Nayla. Malam ini Chandra dan Cecilia pergi kesebuah acara. Jadi malam ini Naina gunakan dengan baik untuk menarik kembali perhatian Nayla.

Naina tahu, ia telah terlalu lama meninggalkan Nayla dan mengabaikan putri kandungnya. Nayla mulai banyak mengoceh dan mengucapkan satu atau dua kata fasih.

Rasa bangga dan haru menyelimuti Naina. Meski Nayla lebih suka panggil kata Mama, tapi Naina tak henti-hentinya memberi tahu bayi kecil itu untuk memanggilnya Ibu.

Sebutan Mama dan Papa itu hanya untuk  Cecilia dan Chandra. Mereka orang tua angkat Nayla yang sangat baik dan membantu tumbuh kembangnya.

"Tumbuh besar, anakku. Meski tanpa Ayah, Ibu yakin kamu akan menjadi manusia sukses." Naina mencium kening dan pipi mungil Nayla.

Rasanya Naina ingin menyerah, dan melepaskan status perkawinan yang membelenggunya. Percuma saja perkawinan ini ia pertahankan, bila nyatanya dia pincang dalam menjaga rumah tangga. Pondasinya mulai rubuh, terkikis perasaan lelah.

Jika pun Naina bertemu dengan Ryan, apakah ia bisa memaafkan tingkahnya yang dengan sengaja menelantarkan istri dan anaknya. Tapi Naina lemah, ia takut hatinya goyah. Rindu yang terus memanggil, hasrat yang ingin ia utarakan, tapi kekasih hatinya tak kunjung datang.

"Pak, apakah masih ada kami di hatimu? Ataukah kamu sudah bersanding dengan wanita lain?" Gumam Naina.

Lagi-lagi Naina menangis di hadapan Nayla. Si kecil yang belum tahu apa-apa hanya bisa memeluk Ibunya dan mencium pipi Naina. "Ga papa, bu."

Ucapan yang begitu jelas membuat Naina memeluk erat tubuh gemoy Nayla. Mungkin ini cara Tuhan memberikannya anak perempuan, untuk saling menguatkan di situs berat seperti ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!