NovelToon NovelToon
The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠)

SINOPSIS


Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
​Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Menuju Akademi Phoenix Langit

​Perjalanan turun dari Puncak Nafas Dewa terasa jauh lebih singkat bagi Lin Xiao. Kekuatan baru di dalam nadinya membuat setiap langkahnya terasa ringan, seolah-olah gravitasi tidak lagi memiliki kendali penuh atas tubuhnya. Di bawah sinar matahari pagi yang memantul di atas salju putih, sosoknya yang kini sempurna tampak begitu agung. Jubah bulu binatang yang ia kenakan berkibar tertiup angin pegunungan, sementara pedang Nightshade di pinggangnya bergetar pelan, seolah ikut merasakan kegairahan tuannya yang akan segera memasuki babak baru dalam rencana balas dendamnya.

​"Kepala Paviliun Gu," panggil Lin Xiao tanpa menghentikan langkahnya. Suaranya kini terdengar lebih jernih dan memiliki wibawa yang tak terbantahkan. "Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk mencapai Ibu Kota jika kita bergerak melalui jalur perdagangan utama?"

​Gu, yang berjalan beberapa langkah di belakangnya dengan raut wajah yang masih penuh kekaguman, segera menjawab. "Jika kita menggunakan kereta kuda tercepat dari Kota Angin sepoi di kaki gunung ini, kita bisa sampai dalam waktu tujuh hari, Nona. Namun, saya menyarankan kita untuk tetap berhati-hati. Kabar tentang jatuhnya Klan Yan pasti sudah mencapai telinga para intelejen Kekaisaran. Mereka akan mencari seorang gadis dengan kekuatan energi hitam."

​Lin Xiao menyunggingkan senyum tipis yang mematikan. "Biarkan mereka mencari. Tanpa bekas luka di wajahku, tidak akan ada yang bisa menghubungkan aku dengan 'gadis desa buruk rupa' dari Awan Hijau atau 'pencuri' dari kediaman Yan. Mulai sekarang, aku akan menggunakan nama samaran. Panggil aku Xiao Lan."

​"Xiao Lan... Mawar Biru yang Misterius. Nama yang sangat cocok, Nona," sahut Gu sambil membungkuk hormat.

​Mereka tiba di Kota Angin Sepoi saat matahari tepat berada di puncaknya. Kota ini adalah pintu gerbang bagi para pelancong yang ingin melintasi pegunungan utara menuju pusat kekaisaran. Di sini, Lin Xiao memutuskan untuk membeli pakaian yang lebih layak. Ia memilih gaun sutra berwarna biru tua dengan sulaman perak yang elegan namun praktis untuk bertarung. Saat ia keluar dari toko pakaian, banyak pasang mata yang terpana menatapnya. Kecantikannya yang dingin dan tajam membuat orang-orang tanpa sadar menahan napas, namun aura peringatan yang terpancar dari pedang di pinggangnya membuat siapa pun tidak berani mendekat.

​Setelah mengatur logistik dan memastikan Yun'er serta Gu memiliki tempat yang aman untuk sementara waktu, Lin Xiao memfokuskan tujuannya: Akademi Phoenix Langit.

​Akademi tersebut bukan sekadar tempat belajar; itu adalah tempat di mana para elit kekaisaran ditempa. Keluarga Kekaisaran Phoenix, termasuk Long Tian dan si penghianat Feng Meili, memiliki pengaruh besar di sana. Bagi Lin Xiao, akademi itu adalah pintu masuk paling strategis untuk mendekati pusat kekuasaan tanpa menimbulkan kecurigaan awal yang terlalu besar. Jika ia bisa masuk sebagai murid berbakat, ia akan memiliki akses ke sumber daya kekaisaran dan informasi internal yang berharga.

​Tujuh hari perjalanan berlalu dengan cepat. Selama di perjalanan, Lin Xiao tidak menyia-nyiakan waktu. Ia terus melatih kontrol energinya, mencoba memadukan keanggunan gerakan teknik Mawar Hitam dengan kekuatan destruktif Nirwana. Ia juga mulai mengajari Yun'er dasar-dasar pernapasan energi, menyadari bahwa gadis kecil itu memang memiliki bakat 'Tubuh Roh Murni' yang luar biasa—energi di sekitarnya seolah-olah berebut untuk masuk ke dalam tubuh Yun'er setiap kali ia bermeditasi.

​Akhirnya, tembok raksasa Ibu Kota Phoenix terlihat di cakrawala. Kota ini sepuluh kali lebih besar dan lebih megah daripada Kota Cahaya Bulan. Bangunan-bangunannya terbuat dari marmer putih dengan atap emas yang berkilauan. Di tengah kota, berdiri sebuah menara yang sangat tinggi yang puncaknya menembus awan—itulah Akademi Phoenix Langit.

​"Ibu Kota... aku kembali," bisik Lin Xiao. Matanya berkilat dengan emosi yang kompleks saat melihat gerbang kota tempat ia dulu pernah disambut sebagai permaisuri pilihan, namun juga tempat ia diseret dan dibuang seperti sampah.

​Pendaftaran Akademi dilakukan di alun-alun besar di depan gerbang utama. Ribuan pemuda dan pemudi dari berbagai penjuru kekaisaran berkumpul di sana, berharap bisa mengubah nasib mereka. Antrean panjang terlihat di bawah terik matahari, namun perhatian semua orang tiba-tiba teralih saat sebuah kereta kuda mewah yang ditarik oleh empat kuda putih bersayap melintas dengan cepat, memaksa kerumunan untuk menyingkir.

​"Lihat! Itu lambang Klan Feng!" teriak seseorang di kerumunan.

​"Mungkinkah itu Nona Muda Feng Meili? Kudengar dia baru saja diangkat menjadi calon Permaisuri menggantikan kakaknya yang sudah meninggal?" bisik yang lain.

​Lin Xiao, yang berdiri di barisan pendaftaran, mengepalkan tangannya di balik lengan gaunnya. Melalui jendela kereta yang terbuka sedikit, ia melihat profil wajah seorang wanita yang sangat ia kenali. Feng Meili tampak begitu sombong, mengenakan mahkota emas kecil dengan ekspresi wajah yang seolah-olah dunia berada di bawah kakinya.

​‘Nikmatilah tahta pinjamanmu itu, Meili. Karena setiap hari yang kau habiskan di sana adalah hutang nyawa yang harus kau bayar padaku,’ batin Lin Xiao dengan kebencian yang dingin.

​Tiba giliran Lin Xiao untuk mendaftar. Seorang penguji paruh baya dengan pakaian resmi akademi menatapnya dengan malas sebelum matanya melebar saat melihat kecantikan Lin Xiao. Namun, penguji itu segera kembali ke sikap profesionalnya saat merasakan aura kuat dari Lin Xiao.

​"Nama?"

​"Xiao Lan."

​"Asal?"

​"Kultivator pengembara dari wilayah Utara."

​"Letakkan tanganmu di atas Batu Ukur Energi ini," perintah sang penguji.

​Batu kristal besar di depan mereka adalah alat untuk mengukur tingkat kultivasi dan kemurnian energi seseorang. Biasanya, bagi mereka yang berusia di bawah 20 tahun, mencapai Tahap Pembersihan Sumsum tingkat menengah sudah dianggap jenius.

​Lin Xiao meletakkan telapak tangannya. Ia sengaja menekan energinya, hanya melepaskan sekitar tiga puluh persen dari kekuatannya yang sebenarnya. Ia tidak ingin terlalu mencolok sebagai Pembentukan Inti tingkat dua, karena itu akan mengundang penyelidikan dari tetua akademi.

​TING!

​Batu kristal itu memancarkan cahaya ungu yang sangat terang, lalu perlahan berubah menjadi warna emas pucat.

​"Xiao Lan... Tahap Pembentukan Inti Tingkat Satu! Kemurnian Energi: Luar Biasa!" sang penguji berteriak dengan suara yang gemetar. Seluruh alun-alun seketika menjadi hening. Semua mata kini tertuju pada Lin Xiao.

​Seorang jenius Pembentukan Inti di usia semuda itu? Ini adalah sejarah baru di Akademi.

​Dari kejauhan, di atas balkon menara akademi, seorang pemuda berpakaian zirah emas dengan aura naga yang kuat menatap ke arah kerumunan. Dialah Long Tian. Matanya menyipit saat melihat sosok gadis berbaju biru tua di bawah sana. Ia merasakan sesuatu yang akrab dari aura gadis itu, namun ia tidak bisa mengingat di mana.

​"Siapa gadis itu?" tanya Long Tian pada pengawalnya.

​"Kami akan segera mencari tahu, Yang Mulia Putra Mahkota," jawab sang pengawal dengan hormat.

​Lin Xiao mengambil kartu identitas murid barunya dan melangkah masuk ke dalam gerbang akademi tanpa menoleh. Permainan catur baru saja dimulai, dan ia baru saja meletakkan bidak pertamanya tepat di depan hidung sang raja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!