Rahman adalah pemuda biasa yatim piatu yang sejak kecil ikut dengan Pakde nya, hingga suatu hari dia di ajak menemani pakde pergi kegunung Kawi.
di gunung itu lah dia menyaksikan hal yang sangat tidak dia duga, bahkan menjadikan trauma panjang karena dari ritual itu dia harus sering berhadapan dengan sesuatu yang mengerikan.
Untung nya Rahman punya teman bernama Arya, sehingga pemuda itu bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Sosok di bawah ranjang
"Man, aku kalau melihat kau termenung saja seperti ini ikut bingung loh." Edo menatap Rahman yang duduk terdiam.
"Aku juga sangat bingung dan aku tidak berani mengambil keputusan, jadi tolong jangan desak aku untuk bercerita sekarang ya." Rahman berkata lirih.
"Ya sudah kalau memang kau belum mau cerita sekarang, tapi kau jangan terus kepikiran seperti itu karena nanti akan membuat pikiran menjadi gila." nasihat Edo kepada Rahman.
"Andai sajak aku tidak takut maka aku pasti akan bercerita kepada Edo." batin Rahman sambil menatap teman nya ini.
"Rahman sebenarnya ada masalah apa sehingga dia terlihat muram seperti itu?" Edo juga membatin karena tidak biasanya Rahman seperti ini.
Mereka sudah selalu bersama sehingga Edo bisa memahami bagaimana tabiat Rahman dan bila sedang ada masalah maka pemuda ini memang akan banyak diam, sama seperti sekarang sehingga Edo merasa memang ada yang tidak di dalam hati pemuda itu sehingga dia terus saja kepikiran dan tidak bisa duduk anteng.
Namun biasanya Rahman tidak keberatan untuk bercerita kepada Edo karena memang mereka adalah teman saling curhat satu sama lain, tapi kali ini masalahnya berbeda karena Rahman memilih untuk tutup mulut Karena rasa takut yang ada di dalam hati begitu besar akibat teringat ancaman dari Mbah Bedu.
Mungkin saja bila dia tidak diancam maka Rahman memilih untuk bercerita karena dia juga berharap nanti Edo akan bisa membantu tentang masalah itu, namun sekali lagi Rahman menyadari bahwa Edo bukanlah orang yang paham tentang hargai sehingga dia tidak mungkin bisa menolong permasalahan yang sedang Rahman hadapi tentang ritual Gunung itu.
Arya yang menjadi incaran Rahman karena Rahman tahu pemuda tersebut memiliki sesuatu yang tidak biasa seperti manusia lain, namun sayang nya Arya bersikap tidak peduli dan bila diajak berbicara tentang hal yang menjurus tentang iblis maka dia akan mengatakan bahwa itu semua tidak benar dan berhenti untuk membicarakan hal tersebut.
Tentu saja Rahman menjadi bingung dan tidak tahu harus bagaimana lagi dan bercerita kepada siapa tentang permasalahan yang sedang dia alami itu, ini perasaan semakin tidak karuan karena Arman terus saja muncul seolah dia begitu sengsara walau telah meninggal dunia akibat di jadikan tumbal oleh Pakde Parto.
"Ayo masuk kedalam rumah saja." ajak Edo karena dia takut kalau nanti Arman menghantui mereka lagi.
"Enak di luar kena angin semilir, Do." ujar Rahman.
"Kau memang tidak tau atau kau belum pernah di datangi?" Edo menatap Rahman tajam.
"Di datangi apa?" Rahman masih tidak paham kemana arah pembicaraan Edo kali ini.
Edo menatap ke sana kemari karena takut nanti ada yang mendengar percakapan mereka tentang arwah Arman yang datang menghantui, agak berbisik maka Edo segera mengatakan bahwa Arman telah menjadi hantu gentayangan dan Edo sendiri juga sudah melihat secara langsung tentang arwah Arman itu sehingga sekarang dia sangat penakut kalau ada di luar rumah.
"Kau juga bertemu dengan arwah Arman?!" Rahman kaget sekali.
"Ya, aku terus berdoa agar jangan sampai ketemu lagi." Edo memang sangat ketakutan.
"Ya tuhan, berarti Arman sangat menderita ya." lirih Rahman.
"Bisa jadi begitu sih, kan kata nya orang yang mati bunuh diri tidak di terima bumi. mana saat aku menurunkan mayat dia dari atas pohon itu aku sudah mendengar suara yang tidak beres!" jelas Edo.
"Suara apa?" Rahman takut bila Edo mengetahui sesuatu.
"Seperti suara orang yang merintis kesakitan dan kemungkinan itu adalah suara Arman, siapa tahu saja menjelang sakaratul maut datang dia sangat kesakitan." tebak Edo.
Rahman menelan ludah dengan susah payah karena dia mengetahui bahwa Arman meninggal bukan karena bunuh diri, tapi karena ulah Pakde Parto yang menjadikan bocah itu sebagai tumbal pertama atas keberhasilan dia menjabat sebagai kepala desa di kampung ini dan itu semua adalah permintaan dari iblis yang menunggu Gunung Kawi.
...****************...
Bu Kades membuka mata dan jam pada dinding menunjukan pukul tiga malam, dia tidur sendirian di dalam kamar Karena sekarang memang Pakde Parto jarang tidur di kamar itu bila tidak sedang ingin sesuatu terhadap sang istri, ya lebih memilih menghabiskan waktu di ruang kerja yang baru saja di sulap dengan dia.
"Sudah pukul tiga shubuh, aku mau sholat tahajud lah." batin Bu Kades segera turun dari ranjang.
"Tunggu, kalau di pikir aku sekarang memang jarang tidur bersama dia! atau dia tidak mau tidur dengan aku karena memiliki istri gaib?" Bu Kades sudah penuh dengan rasa curiga.
"Bisa jadi begitu kan, dulu Laras pun mengalami hal yang sama." Bu Kades ingat kasus Laras dengan suami pertama.
Pikiran wanita ini memang sudah ke mana-mana dan dia kuat menduga bahwa sang suami memiliki pesugihan dan memiliki istri gaib, rasa curiga memang bisa timbul kapan saja dan kadang malah lebih buruk dari apa yang telah terjadi.
Sebab memang selama ini Parto sudah jarang tidur bersama dengan sang istri karena dia sedang sibuk memikirkan apa saja rencana dia ke depannya nanti, sebab yang namanya manusia serakah maka dia tidak akan pernah puas dengan pencapaian yang telah dia dapat, yang ada di dalam otak kartu adalah bila dia berhasil menjadi Kades maka tidak mustahil dia bisa menjadi naik pangkat ke yang lebih tinggi.
"Aku akan mengintip dia dulu di kamar depan." batin Bu Kades sangat curiga sudah.
"Bila memang dia punya istri ghaib maka aku akan meminta cerai, aku tidak mau jadi Laras yang sangat baik itu." geram Bu Kades.
Greeeeeep.
Braaaaaak.
"Aaaaaaaghh!" Bu Kades berteriak karena kaki dia di tangkap dari kolong ranjang.
Karena di tarik dengan kekuatan yang sangat besar maka tubuh Bu Kades jatuh menghantam lantai dan sampai hidung dia mengeluarkan darah segar, rasa kaget dan juga ketakutan timbul di hati wanita ini sehingga dia cepat bergerak untuk melihat apa yang ada di bawah ranjang itu sehingga bersikap sangat agresif.
"Heheeeeee....
"Lailahaillallah!" Bu Kades berteriak ketakutan.
"Jangan ikut campur bila tidak ingin celaka, kau harus menjaga sikap." seringai sosok merah yang ada di bawah ranjang.
"Iblis apa ini, Ya Allah!" Bu Kades tidak bisa bergerak karena ketakutan.
Mana hidung juga masih mengucurkan darah segar akibat benturan yang sangat keras tadi, dia sudah berusaha untuk menahan darah itu agar jangan keluar tapi ternyata tetap saja keluar karena memang benturan yang sangat kuat membuat hidung sangat rentan untuk mengeluarkan darah sehingga mau tidak mau darah itu sampai membasahi dada.
Selamat malam Besti, jangan lupa like dan komen nya kalian semua ya bes.