Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip Baru
Secepat kilat Jayden mendorong Dea hingga Dea jatuh tersungkur ke lantai sekarang. Jayden amat tak menduga, bahwa Dea akan memeluknya karena selama pacaran dulu, Dea pasti meminta izin untuk mendekapnya.
"Awh!" Dea meringis pelan, melirik ke arah Jayden. Melihat tatapan Jayden berubah jadi tajam sekarang, tak seperti tadi.
Sambil bangkit berdiri, cairan bening tiba-tiba mengalir dari sudut mata Dea. "Maaf Jayden, aku reflek, aku benar-benar minta maaf, aku belum bisa langsung melupakanmu, apalagi hanya kau pria yang selama ini berada di sisiku."
Melihat air mata Dea, sorot mata Jayden yang tajam berubah jadi datar. "Lain kali jangan asal peluk Dea, sifat kau beginilah yang membuat aku mulai muak denganmu, sekarang keluarlah dari ruanganku."
"Iya, sekali lagi aku minta maaf, tapi kita masih bisa temanan, 'kan?" Sekali lagi Dea bertanya, menatap dalam Jayden.
Jayden melirik ke arah lain lalu mendengus kasar, mulai kesal dengan reaksi Dea. "Sudah kukatakan tadi bisa, keluarlah sekarang, aku mau bersiap-siap."
Dea mengangguk samar kemudian melangkah perlahan-lahan menuju pintu sambil sesekali melirik ke arah Jayden, yang mulai mencari sesuatu di laci meja.
Sesampainya di luar pintu, secepat kilat Dea menghapus air matanya. Lalu berjalan cepat menuju ruang pribadi, tanpa membalas sapaan para rekan kerja yang berpapasannya di sekitar.
"Sialan!" umpat Dea, sangat terkejut kala ternyata Indra berada di dalam ruangan.
Melihat tingkah laku Dea, Indra tak kalah terkejutnya. Kini memandang Dea dengan mata berkedip-kedip pelan.
"Kau kenapa? Kau nggak bilang aku sialan kan?" tanya Indra sambil melempar senyum kaku.
Dea mengerling tajam lalu menghampiri Indra, tengah duduk di sofa sambil memandang ke arahnya sejak tadi. "Nggak, aku bilang sialan ke petugas kebersihan karena tadi aku hampir jatuh gara-gara lantai licin," kilahnya sambil duduk di hadapan Indra.
Indra mangut-mangut sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Perhatian Indra tiba-tiba teralihkan jejak air mata di netra Dea.
"Kau nangis? Apa ini ada hubungan dengan Jayden sama Casey?" tanya Indra, matanya spontan melebar ketika baru sadar membangunkan singa yang sedang tertidur pulas.
Dan benar saja, wajah Dea berubah menjadi sangat masam sekarang.
"Eh maaf, aku nggak bermaksud, maksudku ....." Sekarang Indra kehabisan berkata-kata dan memilih menundukkan kepala.
Hening, tak ada tanggapan. Dea mendadak diam. Namun, ekspresinya sangat tak sedap dipandang. Dan kerutan di kening Indra mulai muncul saat Dea tak juga berbicara.
"Indra, aku minta tolong sama kau?"
Sepenggal pertanyaan yang terlontar dari mulut Dea, membuat pandangan Indra beralih ke depan dengan mimik wajah masih heran sekaligus penasaran.
"Minta tolong apa?"
"Bisa kau cari informasi tentang pernikahan Jayden dan Casey, terserah kau mau menyewa orang atau apa, nanti aku bayar kau," ujar Dea, tanpa menunjukkan emosi.
Dea merasa aneh mengapa Jayden tak membeberkan tentang pernikahannya. Tadi, Dea memang tak memiliki pikiran untuk menanyakan ini kepada Jayden. Dia baru saja sadar akan hal itu. Merasa heran dan aneh, mengapa Jayden menyembunyikan pernikahannya. Padahal latar belakang keluarga Jayden konglomerat. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa Jayden menikah karena paksaan? Entahlah. Dea mencoba menerka-nerka.
"Oh ya ampun, jadi Jayden dan Casey memang benar pasangan suami istri?" Alih-alih menjawab, Indra malah bertanya dengan raut wajah terkejut
Dea menghela napas sejenak sambil mendelik tipis. "Iya, kau bisa kan mencari informasi tentang pernikahan Jayden."
Indra mengangguk dengan penuh semangat. "Oke, aku juga penasaran kenapa nggak ada kabar tentang pernikahan Jayden terus kenapa Casey malah ngakunya mereka sepupuan ya, aneh banget, tapi sebelum itu bagaimana hubungan kau dan Jayden?" tanyanya, tentu saja penasaran bagaimana kelanjutan hubungan Dea dan Jayden.
"Kami sudah putus," jawab Dea dengan raut wajah datar.
Indra terperangah. Mulai tampak sedih dengan informasi ini. Dia pun beranjak dari sofa kemudian duduk tepat di samping Dea, tiba-tiba memeluk Dea.
Dea membelalakan mata, dengan respon Indra.
"Kasihan sekali temanku ini, sabar ya, nanti aku carikan pasangan untukmu tapi ...." Indra seketika mengendurkan pelukan lalu menatap Dea. "Apa kau bisa menerima kenyataan kalau Jayden sudah menikah?"
Dea melempar senyum kaku seketika sambil menunjukkan raut wajah sedih. "Tentu saja, aku akan berusaha walau sebenarnya aku masih sayang sama Jayden."
Indra tersenyum penuh haru, lalu kembali merengkuh sambil mengelus pelan punggung Dea.
"Ya ampun, kau benar-benar berhati malaikat."
Dea enggan menyahut, malah membalas di dalam hati. 'Dasar tolol! Sampai kapan pun itu aku nggak akan melepaskan Jayden, Jayden hanya milikku!'
Di lain sisi, tepatnya di taman yang tak jauh dari ruang IGD. Casey duduk di bawah pohon sambil berusaha menghapus air matanya yang tak juga berhenti mengalir sejak tadi.
Casey seharusnya bisa membentengi dirinya, bila mana sang suami memeluk pacarnya sendiri. Namun, entah mengapa sejak keluar dari rumah sakit kemarin, Casey mendadak melow. Ditambah lagi, di saat Casey kemarin sudah keluar dari rumah sakit, Jayden justru tidak pulang ke rumah semalam.
Pikiran Casey melang-lang buana entah ke mana sejak tadi malam, menebak jika Jayden bersama Dea. Padahal Jayden tidak pulang ke rumah karena kecapean mengoperasi para pasien di rumah sakit dan berakhir dia ketiduran di ruangannya.
"Casey, kenapa kau menangis?"
Casey tersentak, tiba-tiba terdengar suara berat menyapa dari samping. Secepat kilat Casey menolehkan mata.
Ternyata Bobby.
"Bobby, kenapa kau ada di sini?"
Mendapat pertanyaan itu, Bobby malah tertawa rendah lalu berjalan ke depan Casey sambil berkacak pinggang.
"Kau ini lucu sekali sih, malah nanya balik, daerah ini kan menuju ruang pribadiku, kau yang kenapa? Kenapa menangis seperti ini?" Bobby tiba-tiba berjongkok di hadapan Casey.
Casey sedikit terkejut lalu celingak-celinguk ke segala arah, berharap tak ada orang yang melihat mereka saat ini. "Bob, jangan jongkok, duduk saja di sampingku," ucapnya, mulai panik.
Casey merasa sikap Bobby bisa disalah artikan oleh seseorang, terlebih tatapan Bobby terasa aneh menurutnya sekarang.
"Aku cuma jongkok kok, nggak usah panik gitu, sekarang hapus air matamu ini," kata Bobby tiba-tiba menarik kacamata Casey. Dan mulai menyeka air mata Casey.
Sepuluh meter dari taman, ada sepasang mata tajam memandang ke arah mereka sekarang. Siapa lagi kalau bukan Jayden, hendak menuju ke lift tapi kakinya mendadak berhenti sekarang.
"Apa-apaan mereka? Bobby benar-benar nggak bisa di kasi tahu, Casey juga kenapa malah diam!" umpat Jayden dengan tangan mulai mengepal. Dia hendak menghampiri Casey dan Bobby.
Akan tetapi, Jayden dibuat terkejut dengan tarikan dari belakang, rekan kerjanya, dokter anastesi bernama Theodore tiba-tiba menyeret Jayden menuju lift.
"Di sini Anda rupanya, ayo dokter Jayden, kita ke ruang OK sekarang waktu kita mepet sekali ini."
"Tapi–" Jayden melirik sekilas. Lalu memandang ke depan lagi, melihat Casey
"Nggak ada tapi-tapi ayo!" Dengan sekuat tenaga lelaki itu menarik tangan Jayden, hingga Jayden terpaksa mengikuti langkah kaki Theodore dengan dada masih terbakar.
Bukan hanya Jayden yang melihat kedekatan Casey dan Bobby, ada sosok lain juga, bersembunyi di balik tiang rumah sakit.
"Aku punya gosip baru ini," katanya sambil menyeringai tajam.