Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Kejut
Langit di atas lereng Menoreh seakan sedang menumpahkan amarahnya malam itu.
Hujan turun begitu deras, menghantam atap seng berkarat dengan suara bising yang memekakkan telinga.
Di dalam gubuk yang gelap gulita, Sekar Wening membuka matanya.
Kesadarannya baru saja kembali sepenuhnya dari Ruang Spasial.
Tubuh fisiknya terasa kaku dan dingin, namun pikirannya tajam setajam silet. Adrenalin sisa euforia keberhasilan menanam padi tadi masih mengalir deras di pembuluh darahnya.
Namun, bukan suara halilintar yang membuat kewaspadaan Sekar meningkat ke level maksimal. Di sela-sela gemuruh hujan, telinga terlatihnya menangkap suara logam beradu.
Krek... krek...
Itu suara besi tua yang diputar paksa.
Suara gembok pintu depan.
Sekar tidak bergerak.
Dia tetap berbaring di amben bambunya, mengatur napas agar terlihat seperti orang yang sedang pingsan atau tertidur lelap.
Logikanya bekerja cepat.
Eyang Marsinah memegang kunci utama. Jika Eyang yang datang, dia akan masuk dengan langkah angkuh dan suara keras, tapi ini berbeda. Si penyusup ini mencoba masuk tanpa suara.
Siapa lagi kalau bukan Paman Rudi?
Laki-laki paruh baya yang terjerat utang judi itu pasti sedang dikejar tenggat waktu oleh penagih utang. Otak kriminalnya yang dangkal pasti berpikir ini kesempatan emas. Penghuni gubuk sedang "dihukum" dan lemas kelaparan, sementara di dalam lemari kayu jati itu masih ada kain batik tulis peninggalan kakek yang gagal diambil Rendi tadi sore.
Atau mungkin, dia mengincar cincin kawin emas tua yang selalu disembunyikan Ibu Rahayu di balik lipatan baju dalam.
Sekar melirik ke arah pintu melalui ekor matanya. Cahaya kilat sesekali menerangi celah bawah pintu, memperlihatkan bayangan kaki yang bergerak gelisah.
Dia harus bertindak.
Tubuh fisiknya terlalu lemah untuk bertarung satu lawan satu dengan laki-laki dewasa, apalagi dalam kondisi hipoglikemia begini. Profesor Sekar Ayu tidak butuh otot. Dia butuh fisika.
Mata Sekar menyapu sekeliling ruangan yang remang-remang. Tatapannya terhenti pada sudut dekat pintu.
Di sana, ada stopkontak tua yang sudah longgar dari dinding anyaman bambu.
Kabelnya terkelupas, memperlihatkan tembaga yang telanjang dan berbahaya.
Selama ini, kabel itu hanya dianggap sampah yang menunggu waktu untuk mencelakakan orang. Namun, malam ini, di mata seorang ilmuwan, itu adalah senjata.
Sekar bangkit perlahan, tanpa suara, seperti kucing yang mengintai mangsa. Di tangannya, dia menggenggam erat sebuah wadah kecil dari tempurung kelapa yang sempat dia bawa saat kesadarannya kembali. Di dalamnya, tersisa sedikit air dari Ruang Spasial. Air spiritual.
Sifat air ini unik.
Selain meregenerasi sel, Sekar sudah mengamati bahwa air ini memiliki densitas mineral yang sangat tinggi.
Analisis Cepat: Konsentrasi ion bebas dalam cairan ini jauh di atas air biasa. Ini bukan sekadar air; ini adalah elektrolit super dengan konduktivitas listrik yang ekstrem.
Sekar merangkak mendekat ke arah pintu.
Dengan gerakan presisi, dia menyiramkan air itu tepat di area ambang pintu, membiarkannya menggenang sedikit di tanah yang sudah lembap.
Kemudian, dengan menggunakan ranting kecil agar tidak tersengat, dia menggeser kabel terkelupas itu hingga ujung tembaganya menyentuh genangan air spiritual tersebut.
Jebakan selesai.
Sirkuit tertutup.
Sekar mundur cepat, kembali ke amben bambunya dan menarik selimut lusuh sebatas dada. Dia menutup mata, namun telinganya tetap terjaga.
Cklek!
Gembok terbuka.
Pintu anyaman bambu itu didorong pelan.
Angin malam yang membawa butiran air hujan langsung menerobos masuk, membawa serta aroma tembakau murah dan bau keringat asam yang menyengat.
Paman Rudi masuk dengan langkah mengendap-endap. Wajahnya basah kuyup, matanya liar menyapu ruangan.
Dia menyeringai melihat dua sosok wanita yang terbaring diam di atas tempat tidur.
"Tidur nyenyak ya, Nduk..." bisik Rudi dengan nada mengejek. "Baguslah. Jadi aku tidak perlu repot-repot membekap mulut kalian."
Rudi melangkah masuk.
Fokusnya hanya pada lemari kayu di sudut ruangan. Dia tidak memperhatikan lantai tanah di bawah kakinya yang tampak sedikit lebih berkilau dari biasanya.
Dia meremehkan Sekar. Dia pikir keponakannya itu hanyalah gadis desa bodoh yang sudah tidak berdaya karena lapar.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kaki kanan Rudi yang telanjang dan basah menginjak tepat di atas genangan air spiritual yang terhubung dengan arus listrik 220 volt.
Hukum fisika tidak mengenal ampun.
ZTSZT!!!
Suara percikan listrik terdengar tajam, beradu dengan suara guntur di luar.
"AAAARGGHHH!!!"
Jeritan Rudi membelah malam, lebih keras dari suara badai. Tubuhnya kejang hebat sesaat. Konduktivitas air spiritual yang luar biasa memperkuat hantaran listrik itu berkali-kali lipat, menciptakan kejutan statis yang melempar tubuh gempal Rudi ke belakang.
Brak!
Rudi terpental keluar pintu, jatuh berguling di tanah becek. Napasnya tersengal-sengal, jantungnya berdegup tak beraturan seolah mau meledak. Seluruh saraf di kakinya terasa mati rasa, seakan baru saja dipukul gada besi.
"A-apa... apa itu?" gagap Rudi, wajahnya pucat pasi. Dia mencoba bangun, tapi kakinya gemetar hebat.
Saat itulah, dia melihat ke dalam gubuk.
Cahaya kilat kembali menyambar, menerangi ruangan itu selama sepersekian detik.
Di sana, di atas amben bambu, Sekar Wening sedang duduk tegak.
Gadis itu tidak tidur.
Dia menatap lurus ke arah Rudi.
Wajahnya tenang, dingin, dan tanpa ekspresi.
Mata Sekar tampak berkilat aneh dalam kegelapan, memantulkan cahaya kilat dengan sorot yang menusuk.
Tidak ada rasa takut di wajah itu. Hanya ada tatapan dominan dari seorang predator yang baru saja mengusir hama pengganggu.
Otak mistis Rudi langsung mengambil alih logika rasionalnya.
"S-setan..." desis Rudi.
Bagaimana mungkin ada listrik di lantai tanah?
Kenapa Sekar bisa bangun dan menatapnya seperti itu padahal seharusnya dia lemas kelaparan?
"Ilmu hitam..." gumamnya lagi, suaranya bergetar ketakutan.
"Kowe... kowe melihara demit, ya?!"
Sekar tidak menjawab. Dia hanya memiringkan kepalanya sedikit, gerakan yang sederhana namun terlihat begitu mengerikan di mata Rudi yang sedang panik.
Nyali penjudi itu ciut seketika. Rasa sakit di kakinya dan tatapan horor dari keponakannya itu membuat insting bertahannya menjerit untuk lari.
Tanpa pikir panjang, Rudi menyeret kakinya yang pincang, bangkit berdiri, dan lari tunggang langgang menembus hujan deras.
Dia bahkan lupa menutup kembali pintu gubuk.
"Tolong! Ada setan! Ada demit!" teriaknya samar-samar, tertelan suara hujan.
Di dalam gubuk, Sekar menghela napas panjang. Dia turun dari tempat tidur, menggunakan kayu kering untuk menjauhkan kembali kabel itu dari genangan air.
Bahaya sudah lewat, untuk malam ini.
Sekar berjalan ke pintu, menatap punggung pamannya yang menghilang di kegelapan.
Profesor dalam dirinya tersenyum sinis.
Subjek percobaan berhasil diberi terapi kejut.
Stimulus negatif telah ditanamkan.
Namun, Sekar tahu ini belum berakhir. Ketakutan Rudi malam ini akan berubah menjadi kebencian esok pagi. Dia tidak akan berani datang sendiri lagi. Dia akan membawa massa. Dia akan membawa Eyang Marsinah.
Tuduhan "ilmu hitam" dan "memelihara demit" akan menjadi senjata baru mereka untuk mengusir Sekar dan ibunya dari tanah ini selamanya.
Sekar menutup pintu gubuk dan mengganjalnya dengan balok kayu yang kuat. Dia kembali berbaring di samping ibunya yang masih tertidur pulas karena kelelahan, tidak menyadari drama yang baru saja terjadi.
"Lari lah, Paman," bisik Sekar pelan. "Lari dan adukan semuanya. Karena besok, aku akan siap menyambut kalian semua."