Jika biasanya istri yang dikhianati suaminya, maka yang terjadi pada Rohan tidak demikian. Dia lah yang dikhianati oleh sang istri.
Pernikahan yang dibangun oleh cinta nyatanya tak selalu manis. Rohan harus menerima kenyataan pahit istrinya berselingkuh.
Perceraian pun tak terelakkan. Ia mendapatkan hak asuh putra putrinya yang baru berusia 5 dan 3 tahun.
Tak ingin berlarut dan mengingat sakit hatinya, Rohan menjual semua asetnya di kota dan berpindah ke desa.
Namun siapa sangka, di sana dia malah menjadi primadona.
"Om Dud, mau dibantuin nggak jemur bajunya? Selain jago dalam pekerjaan rumah, aku juga jago dalam hal lain lho."
Entah sejak kapan itu terjadi tapi yang jelas, gadis itu, gadis yang dijuluki Kembang Desa tersebut mulai mengusik kehidupan dan hati Rohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibun 08
"Huaaaa pelut Liesha sakit Ayaaaah."
Malam hari, ketika jam menunjukkan pukul sepuluh malam, tiba-tiba rumah kecil Rohan terjadi sebuah kehebohan. Riesha sang anak kedua menangis kencang mengeluhkan perutnya yang sakit.
Rishi yang sudah tidur pun akhirnya ikut terbangun.
"Adek kenapa, Yah?" tanyanya sambil mengucek matanya.
"Perutnya sakit, Bang," jawab Rohan sambil mengusapkan minyak hangat pada perut Riesha. Ia juga sudah memberi obat, tapi Riesha masih saja menangis.
"Sakit, Yah. Pelut ku sakiiit. Huaaa."
Tangis Riesha semakin kencang. Dan kini Rohan merasa bingung. Dia tadi sesaat sedikit tenang, tapi Riesha yang kembali menangis sembari berkata perutnya sakit membuatnya kebingungan. Dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang.
"Adek, adek sakit banget ya perutnya. Cup cup cup, jangan nangis ya," ucap Rishi sambil menepuk-nepuk kaki Riesha yang saat ini tengah di gendong oleh ayahnya.
Tok tok tok
"Om Dud, ada apa? Kenapa Riesha nangis terus?"
Suara Bestari sambil mengetuk pintu membuat Rohan terkejut. Dia lalu meminta tolong kepada sang putra untuk membukakannya.
"Kakak cantik, adek sakit perutnya. Jadi nangis," ucap Rishi setelah dia membuka pintu.
"Begitu ya, coba Kakak lihat," sahut Bestari. Ucapannya bermakna bahwa dia akan masuk dan melihat kondisi Riesha.
"Sakit sekali hmmm?" tanya Bestari kepada Riesha yang masih menangis dalam gendongan Rohan.
"Iya, pelut aku sakit, Kakak. Di sini sakit, hiks."
Bestari bisa melihat wajah Rohan yang cemas. Ia melihat sudah banyak yang dilakukan Rohan. Tapi Riesha belum juga baik.
"Om Dud, kita bawa Riesha ke rumah sakit aja. Rumah sakit terdekat kurang lebih 25 menit. Meskipun sedikit jauh, tapi lebih baik kita bawa Riesha kesana biar dapat penangan lebih baik dan kita tahu dia kenapa," ucap Bestari.
Rohan langsung mengangguk setuju. Dia tidak bisa mengira-ngira dengan apa yang terjadi pada putrinya. Dan membawa ke rumah sakit adalah tindakan yang pas.
"Sebentar Om Dud. Sayang, Rishi ke rumah Kakak dulu ya. Rishi di rumah aja sama Kakek. Ayah dan Kakak mau bawa Riesha ke dokter. Nggak apa kan, di rumah dulu sama Kakek." Bestari berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Rishi sambil memegangi kedua bahu Rishi dan berkata lembut.
"Iya, nggak apa-apa. Yang penting adek sembuh,"jawab Rishi sambil mengangguk.
Bestari langsung menggendong Rishi untuk segera menuju ke rumahnya. Da ternyata di depan rumah Dewa sudah menunggu.
"Kenapa Riesha nangis?" tanya Dewa sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil alih Rishi dari gendongan Bestari.
"Sakit perut, tapi udah diobatin nggak mendingan juga. Aku ngajak Om Dud buat ke rumah sakit, makanya Rishi aku bawa kesini. Tolong ya Pak, kasian dia ngantuk banget itu. Tidurin di kamar aku aja,"jawab Bestari.
Dewa mengangguk paham. Bestari dan Dewa sama-sama membalikkan tubuh mereka. Dewa masuk ke rumah dan Bestari segera kembali ke rumah Rohan.
"Om Dud, biar aku aja yang gendong Riesha,"ucap Bestari sambil meminta Riesha dari gendongan Rohan.
"Maaf ya Bestari, jadi ngerepotin kamu dan Pak Dewa," ucap Rohan, sungguh dia merasa tidak enak dengan bapak dan anak itu.
"Jangan ngomong kayak gitu, Om Dud. KIta tetanggaan, udah selayaknya saling bantu,"jawab Bestari. Dia memeluk Riesha sambil mengusap-usap punggung anak kecil itu yang masih terus menangis dan mengeluhkan perutnya yang sakit.
Bruuuum
Mobil melaju meninggalkan rumah menuju ke rumah sakit. Rohan menyalakan peta pada gawai nya agar mengetahui arah dimana rumah sakit itu berada.
Perjalanan di awal, dia harus hati-hati. Malam yang gelap dan tidak banyak penerangan di desa itu membuat Rohan harus fokus. Tapi ketika sudah sampai jalan utama, Rohan bisa melajukan mobilnya dengan lebih cepat.
Keberadaan Bestari sungguh merupakan pertolongan yang luar biasa besar baginya. Jika tidak ada gadis itu, Rohan pasti hanya akan panik ketika mendengar putrinya mengeluh dan menangis.
"Ndaaa, pelut Liesha sakit, Nda. Huhuhu"
Degh!
Rohan terhenyak ketika Riesha menangis sambil memanggil Ista. Tak bisa dielak, anak sekecil Riesha tentu masih membutuhkan sosok ibu,dan bukan hal yang aneh bagi Riesha mencari ibunya saat keadaan seperti ini.
"Maaf Om Dud, Riesha manggil siapa ya?" tanya Bestari, dia bukannya penasaran akan tetapi dia bertanya karena agar bisa menanggapi Riesha agar gadis kecil itu merasa lebih tenang.
"Ibunya. Anak-anak memanggil mereka dengan sebutan Bunda,"sahut Rohan dengan terus menatap tajam ke arah jalan.
"Aah begitu,"sahut Bestari. Dia terdiam sejenak, seolah tengah berpikir apa yang harus dikatakannya kepada Riesha.
"Kakak di sini, bentar lagi kita akan sampai buat obatin Riesha biar nggak sakit lagi. Sabar ya sayang, sedikit lagi ya, nak,"ucap Bestari menenangkan Riesha.
"Liesha mau Bunda. Pelut Liesha sakit, nda,"ucap gadis kecil itu sambil terus menangis.
"Kalau Bunda nya diganti Ibun mau, sayang. Ibun di sini, Riesha aman ada bersama Ibun,"ujar Bestari asal. Dan anehnya itu berhasil. Riesha tak lagi memanggil menyebut bundanya.
Bestari tersenyum kecil. Setidaknya untuk sekarang Riesha sudah tenang. Akan tetapi dia merasa tidak enak dengan Rohan karena telah berkata demikian.
"Maaf Om Dud, aku nggak bermaksud,"ucap Bestari gugup.
"Nggak masalah, saya sangat berterimakasih sama kamu Bestari. Karena sudah banyak membantu saya. Saya yang bener-bener kebingungan dan selama ini hanya melakukan semuanya sendiri, tidak menyangka akan dapat bantuan seperti ini. Sungguh terimakasih,"ucap Rohan dengan tersenyum kecil.
Entahs mengapa senyuman Rohan itu membuat dada Bestari merasa sesak. Wajah pria berusia 36 tahun itu masih sangat tampan dan juga terlihat muda, akan tetapi gurat lelah dan juga beban pikiran yang ada di wajahnya juga begitu nampak.
Setelah itu, perjalanan menuju ke rumah sakit hanya berisi keheningan. Dan Riesha juga sempat tertidur sejenak.
Ckiiit
Mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Rohan turun dari mobil dan mengambil alih Riesha lalu membawanya ke IGD. Penanganan dokter yang cepat dan kebetulan juga tidak sedang banyak pasien membuat Riesha segera bisa diobati.
Masalah pencernaan, seperti itulah yang dikatakan oleh dokter. Setelah disuntikan obat nyeri, mereka harus menunggu sebentar. Rohan sangat bersyukur karena obat yang diberikan bekerja. Dua jam kemudian mereka sudah boleh pulang bersama dengan obat jalan dan tak perlu melakukan rawat inap.
Mobil sampai di rumah sekitar pukul dua dini hari. Riesha yang tidur langsung diantarkan oleh Bestari ke kamarnya.
"Sekali lagi terimakasih Bestari,"ucap Rohan.
"Sama-sama Om Dud, jangan bolak balik bilang terimakasih. Karena aku senang bisa bantuin Om Du, hahahah." Bestari tertawa kecil. Apa yang dia katakan bukan kebohongan semata. Dia benar-benar senang bisa membantu Rohan.
"Bahkan bantuin Om Dud tiap hari pun aku nggak akan keberatan kok," ucapnya lagi
Eh?
TBC