Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cari Jodoh
Menerima nasi dari Bagas, membuat Safira tersenyum senang. Namun, begitu kotak di buka. Dia hanya memakan dua suap saja.
Sisanya, tentu saja Bagas yang menghabiskan.
Ketika ditanya kenapa. Alasanya, dia udah tidak terlalu pingin lagi.
Karena dia pengennya semalam. Bukan pagi ini.
Hayati yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia pun, memilih berlalu mengantarkan sarapan untuk orang tercintanya.
Di kamar, Hayati mulai menceritakan tentang rasa apa yang sedang di perdebatkan oleh anak menantunya.
Bukannya marah karena anaknya di persusahkan. Yusuf malah ketawa ringan.
"Sama seperti mu dulu kan? Ngidamnya malah mau cium sabun mandi, dibawa kemana-mana lagi," kekeh Yusuf, mencubit gemas pipi istrinya.
"Ihh, kok diingetin sih," Hayati menunduk karena malu.
Dan Yusuf hanya bisa tertawa, melihat pemandangan di depannya.
"Assalamualaikum," terdengar suara salam, di pintu depan.
"Waalaikum salam ... Ibu ..." jerit Safira langsung memeluk ibunya.
"Ibu rindu," lirih Juliana, mencium pucuk kepala Safira.
"Aku juga, tadinya aku mau mandi, dan ajak abang untuk pulang ke rumah," cetus Safira bergelayut di lengan ibunya. "Sama siapa kesini bu?"
"Sama si bungsu, tapi dia izin ke rumah temannya. Gak jauh dari sini," ungkap Juliana.
Dan kedatangan Juliana membawa kebahagian untuk Safira. Dia yang sebelum-sebelumnya enggan jauh dari Bagas. Malah, tak memperdulikan suaminya.
Iya, sejak mengetahui diirinya hamil. Selain mual dan muntah. Safira mendadak gak bisa jauh dari suaminya. Jika Bagas, pergi lama-lama dia akan menangis meminta sang suami segera kembali.
Dan Hayati berpendapat jika sang anak ingin orang tuanya agar selalu bersama-sama. Didukung dengan persetujuan dari Yusuf.
Sebelum pulang. Juliana memasak makanan kesukaan Safira, membiarkan anaknya bermanja-manja. Padahal, setiap minggu, Safira selalu menyempatkan waktu untuk bertemu dengan ibunya.
"Sekarang bagaimana hubungan mu, dengan suamimu?" tanya Juliana, ketika mereka tinggal berdua di dapur.
"Aku rasa, dia udah mencintaku bu," ungkap Safira malu-malu.
"Dia mengungkapkannya?"
"Tidak, tapi hampir setiap malam dia menyebut namaku bu, dia selalu mengadu dengan sebutan istri tercinta pada Rabb-nya. Dan walaupun tidak diungkapkan, aku bisa merasakan cinta itu," ujar Safira dengan mata penuh binar.
"Syukur lah ... Ibu bahagia mendengarnya nak,"
Dan dapur, mulai terisi dengan ungkapan perlakuan manis yang diterima oleh Safira, dari suaminya.
Bagas yang hendak membawakan jantung pisang, mendadak kaku. Wajahnya bersemu, karena diam-diam sang istri mendengar doanya.
"Semua karena doa ibu," Safira memeluk ibunya yang sedang memeras santan.
"Doa ibu memang selalu menyertaimu, dan ini juga berkat kesabaranmu sayang,"
Bagas masuk, setelah menarik napas, juga ketika ibu dan anak di dalam tak lagi menyebut namanya.
"Bu, ini jantung pisangnya. Udah di cuci juga sama ibu," Bagas menyerahkan, jantung pisang yang telah di cincangnya.
"Terima kasih ya nak," ucap Juliana, menerima baskom isi jantung pisang.
"Aku bisa nolong apalagi bu?"
"Gak usah. Kamu sama Safira aja," ujar Juliana, mulai menyiapkan bumbu-bumbu.
Tak lama, Hayati juga masuk. Dan akhirnya, kedua besan itu memasak makanan kesukaan Safira.
Bagaimana dengan sepasang suami istri itu? Mereka telah menghilang di balik pintu kamar.
✨✨✨
Seminggu sudah, Nadia menggantikan wallpaper ponselnya dengan yang lain. Seminggu sudah Nadia mulai melupakan.
Walaupun tak mudah, ternyata dia bisa.
Cobaan selalu saja datang. Bahkan dari orang terdekatnya.
"Ayah, bu ... Aku mau cari kerja," ujar Nadia, ketika mereka makan siang.
Anwar langsung menghentikan suapannya. Hesti yang hendak menambah nasi, mengurungkannya.
"Kenapa? Apa uang dari ayah gak cukup?" tanya Anwar dingin.
"Mau kerja apa? Kamu mau honor? Gaji honor tuh gak seberapa," tambah Hesti dengan nada agak tinggi.
"Aku mau mencari kesibukan yah, bu ..."
"Kesibukan, mending kamu kawin. Makanya noh, kejar Bagas. Sama dia kamu akan dicukupi segalanya," tutur Hesti lagi.
"Kenapa harus bawa bang Bagas sih bu. Lagipula, bang Bagas juga udah gak mau sama aku,"
"Kalo gitu, kamu cari laki-laki lain, yang sederajat sama Bagas," timpal Anwar.
"Aku gak mau menikah, aku mau kerja. Dan aku sudah mengirimkan beberapa lamaran di rumah sakit,"
"Kamu gila? Apa kata orang-orang, melihat anak kami kerja? Mereka semua pasti mengira, kalo kami gak bisa menafkahi mu, Nadia," berang Anwar.
"Yah ... Bahkan anak pak rt yang punya segalanya dia juga kerja," balas Nadia.
"Beda Nadia. Pak rt anaknya lima. Ya pantas kerja, karena memang gak cukup biayanya. Sedangkan kamu, anak kami satu-satunya. Mau dibawa kemana muka kami di depan warga dan keluarga," papar Hesti.
"Terus untuk apa juga aku kuliah? Untuk apa ilmu yang telah aku pelajari sebelumnya?"
Anwar dan Hesti saling pandang.
"Untuk titel," sahut Hesti, sebelum Nadia membuka mulut lagi. "Dan ibu juga berharap, dengan titel mu itu, kamu mendapatkan jodoh yang kaya, serta mahar yang banyak,"
Nadia menggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa kecewa dan enggan. Dia memilih meninggalkan kedua orang tuanya di meja makan.
"Bagaimana nih yah," Hesti menyenggol lengan Anwar.
"Lupakan. Lagian mau kerja dimana sih dia. Gak mungkin juga keterima. Apalagi, dia nganggur beberapa tahun," balas Anwar enteng.
"Iya juga ya, kenapa juga kita susah," ujar Hesti tersenyum.
"Aku ada rekomendasi jodoh untuk Nadia," ujar Anwar berbisik. Seolah-olah dia takut Nadia dengar.
"Siapa?"
"Sepupu Bagas. Dia kerja di kota, dan kemarin aku lihat dia bawa pulang mobil,"
"Si Wandi?" tanya Hesti menutupi mulutnya.
"Iya, aku dengar-dengar usahanya di kota, sukses besar,"
"Kalo gitu, nanti sore kita ke rumahnya, kita ambil hatinya," kekeh Hesti.
Dan Anwar mengangguk patuh.
Benar saja, sore harinya Anwar dan Hesti mencoba untuk melewati rumah Wandi. Dan kebetulannya lagi, Wandi ada di teras, sedang menikmati rokok di tangannya.
Tanpa berpikir dua kali, pasangan itu masuk ke perkarangan rumah Wandi.
"Assalamualaikum," ucap Anwar dengan wajah berbinar.
"Waalaikum salam, pak Anwar silahkan masuk," ujar Wandi, berdiri dari duduknya. "Apa kabar pak?"
"Alhamdulillah baik, kamu semakin sukses aja," Anwar menepuk bahu Wandi.
"Ya, Alhamdulillah pak ... Sekarang saya udah punya rumah sendiri di kota, mobil juga punya sendiri. Dan tujuan ku untuk pulang pun, ingin memperbaiki rumah orang tua," ujar Wandi dengan bangga.
Anwar dan Hesti langsung saling pandang. Diam-diam senyum mereka merekah. Seolah-olah mengatakan, jika Wandi ialah jodoh yang tepat untuk Nadia.
✨✨✨
Maaf telat dan maaf juga jika bab ini, kurang dari ekspetasi kalian. Karena sejujurnya lagi ada masalah yang bikin pusing di real.
Mohon doanya, semoga masalah ini cepat berlalu