Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tindakan Nadia
Hari ini, untuk melancarkan aksinya. Nadia memutuskan membawakan lauk untuk Hayati dan Bagas.
Sebelumnya dia sudah mengamati, Bagas telah berlalu dengan tumpukan karung di sepeda motornya.
Bisa di pastikan, jika Bagas akan ke sawah. Untuk panen lagi. Dan biasanya, Bagas, akan pulang siang ataupun sore nanti.
Setelah menyiapkan ayam kecap, kesukaan pak Yusuf, Nadia datang kesana.
Di rumah Bagas. Hayati dan Yusuf sedang duduk di gazebo. Sedangkan Safira, masih di dalam. Dia sedang mencuci pakaian di dalam.
Hayati, menatap padi yang sebelumnya telah di jemur oleh Bagas.
"Semoga hari ini terik, jadi Safira gak capek, untuk ngumpulin padi nanti," harap Hayati.
"Kamu terlalu menyayanginya," kekeh Yusuf, menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sayang ku sama dia, sama seperti sayangku kepada ketiga anak kita yah ... Karena aku berharap, jika aku memperlakukan Safira sebagai anakku, ketiga anak kita juga mendapatkan perlakuan yang sama, dengan mertuanya," ungkap Hayati.
"Iya, karena setiap perbuatan baik, akan kembali sama kita," sambung Yusuf.
Dan Hayati mengangguk, pertanda setuju.
Mereka terus berbincang. Sesekali, keduanya mengenang masa muda dahulu.
Sampai akhirnya, pembicaraan mereka terhenti karena kedatangan Nadia.
"Aku bawakan ayam kecap untuk pak Yusuf. Tadi aku buat banyak. Dan seingat aku, pak Yusuf sangat menyukainya," ujar Nadia, menyerahkan sebuah mangkok berisi penuh ayam kecap.
"Terima kasih," ujar Hayati, menerima.
"Bapak sama ibu sehat?"
"Sehat, alhamdulillah," sahut Yusuf, menimpali.
"Safira kemana? Kok gak kelihatan?"
"Di dalam, dia sedang memasak opor, kesukaan suaminya," kini giliran Hayati yang menyahuti.
Nadia sempat terdiam. Namun, beberapa detik kemudian, dia kembali memasang wajah ramah.
"Bukannya bang Bagas suka pepes bu?" tanya Nadia, teringat tentang makanan kesukaan Bagas. Dan dia juga ingin, Hayati mengetahui itu.
"Itu dulu ... Tapi, sekarang semua masakan Safira dia menyukainya. Terutama opor," balas Hayati, dengan nada lembut.
Nadia meremas dress-nya, guna menyamar kebencian yang tiba-tiba tumbuh.
"Aku bantu bawa ini kedalam ya bu," Nadia mengambil mangkok, dan membawanya.
Bahkan panggilan dan larangan dari Hayati diabaikannya.
"Biarkan. Biarkan, dia dan Safira menyelesaikan masalahnya," ujar Yusuf, melarang istrinya untuk masuk ke dalam.
Nadia masuk lewat pintu samping. Benar saja, aroma khas dari opor tercium jelas di hidungnya.
Namun, aroma khas bukan berarti enak, kan? Dan Nadia yakin, makanan Safira tidak lah, seenak yang disanjung-sanjungkan Hayati tadi.
"Jadi, kamu memberi ini untuk bang Bagas?" Nadia, masuk tanpa permisi dan salam.
Safira mengelus dada. Kaget mendengar suara Nadia, yang tiba-tiba ada di sampingnya.
"Mau, makan kah?" tawar Safira tersenyum tulus.
"Cih ..." desis Nadia, memutar mata malas.
"Aku kesini punya tujuan. Rumah ini, dapur ini," Nadia menatap Safira. Bahkan, dia dengan lancang, mematikan api kompor. "Dibuat khusus untukku," sambung Nadia tersenyum sinis.
"Lalu?" tanya Safira, mendekap tangannya.
Nadia tersenyum sinis, dia bahkan memutar-mutar di sekeliling tubuh Safira. Seolah-olah menilai penampilan perempuan yang jadi saingannya.
"Aku harap kamu tahu diri, dan bisa pergi dari bang Bagas," pinta Nadia, menunjuk— dada Safira.
Safira terdiam. Tak menyangka, gadis yang sebelumnya terlihat rapuh, dan butuh kasih-sayang, ternyata bisa sekejam ini.
Nadia menarik sebuah kursi. Dia duduk tanpa di persilahkan. Matanya, masih menatap Safira tajam.
"Delapan tahun. Delapan tahun, kami bersama. Bayangkan, berapa banyak kisah yang telah kami rajut. Berapa banyak, kenangan yang telah kami simpan," kembali Nadia membuka suara.
"Sudah? Kamu bicara terlalu banyak Nadia. Kini giliranku," balas Safira. Dia mengangkat bokongnya untuk duduk di meja dapur.
Nadia tersentak. Kabar yang di dengarnya, Safira perempuan penurut dan naif. Tapi, kenapa Safira di depannya berbeda? Bahkan, dari tatapannya saja, terlihat jauh berbeda dari yang sebelum-sebelumnya, di lihat.
Safira menghela napas. Dia kembali menatap Nadia. Tak ada tatapan lembut disana. Seperti sebelum-sebelumnya.
"Kamu bilang, rumah ini, dapur ini. Di buat khusus untukmu?" kekeh Safira menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Tapi itu tak berarti bukan? Karena pada kenyataannya akulah, penghuninya. Akulah, yang menggunakannya. Bukankah, itu saja kamu sudah kalah?" cibir Safira, kemudian dia memperlihatkan deretan giginya, dan mengedipkan sebelah matanya.
Nadia meradang, giginya gemelatuk menahan amarah yang disebabkan oleh ucapan Safira.
"Eits ... Kamu dilarang buka mulut," Safira, menetakkan jarinya di depan mulut Nadia.
"Dan seharusnya yang tahu diri itu, bukannya kamu? Aku tidak merebut bang Bagas. Ibunya yang datang sendiri. Dan bang Bagas juga, yang menjabat tangan waliku, dengan seruan, saya ..."
"Stop ..." teriak Nadia, dengan napas memburu.
"Eh, belum habis loh ..." Safira mengerjap.
"Kamu ..." Nadia menunjuk ke arah wajah Safira.
Dan dengan penuh sopan santun, Safira membantu Nadia, menurunkan tangannya.
"Kamu kira kamu menang? Ingat Safira, bahkan sampai kini, kamu belum berhasil menunjukkan, akan memberikan bang Bagas keturunan," ujar Nadia telak.
Dan kini, giliran Safira tersentak.
Nadia melangkah, mendekati Safira.
"Cepat atau lambat, aku bisa mendapatkan bang Bagas kembali. Toh, aku sehat dan bisa memberikan ia keturunan sebanyak mungkin," bisik Nadia, tepat di telinga Safira.
Dan Safira mengepalkan tangannya. Lidahnya mendadak kelu.
Dan Safira sadar, dia kalah.
Melihat wajah Safira memucat, Nadia keluar, dengan senyum kemenangan di wajahnya.
Dan diluar sana, di dekat pintu dapur. Diam-diam Hayati, menguping, takut-takut kalau nanti, Safira diserang, dan membuatnya menangis.
Dan Hayati, sempat kagum dengan penuturan menantunya.
"Tak salah aku memilihnya," batin Hayati, kala mendengar jawaban dari Safira.
Sepeninggalan Nadia, Safira turun dari meja dapur. Tubuhnya bergetar, dan keringat dingin, terlihat jelas di dahinya.
Perlahan, dia menarik kursi. Ucapan Nadia, menghantam ulu hatinya.
Apakah benar, dia tidak bisa memberikan keturunan? Apakah, benar Bagas akan meninggalkannya, dan memilih Nadia, yang jelas-jelas anak kebidanan.
Pikiran-pikiran itu, terus berlomba-lomba di otaknya. Sampai akhirnya, Safira menangis. Tangisan yang sebelumnya, dia tahan secara mati-matian.
Sedangkan Nadia. Dia pergi, tanpa permisi. Bahkan, dia tak melirik ke arah Hayati, yang jelas-jelas menguping pembicaraannya.
Dan yang pasti, Nadia melewati Yusuf begitu saja.
"Nak ..." Hayati masuk, dengan langkah pelan.
"Ibu ..." rengek Safira, dengan isakan.
Hayati langsung mendekat. Dia memeluk Safira dan mengelus punggung itu dengan sabar.
"Ibu disini," lirih Hayati.
Namun, cukup untuk membuat tangis Safira semakin pecah.
"Kamu hebat," puji Hayati, tanpa melepaskan pelukannya.
✨✨✨
Dan di sawah, Bagas merasakan perasaan yang tak enak. Sejak tadi, sesuatu dalam hatinya mendesak untuk pulang.
Namun, sebisa mungkin dia menepis pikiran itu. Apalagi, tak ada telfon ataupun kabar lainnya yang masuk ke ponselnya.
"Safira, semoga kamu baik-baik aja," harap Bagas, menatap padinya yang sedang diangkut oleh para lelaki dari berbagai usia.
Bonus Safira ...
Sorry jika jauh dari ekspetasi kalian 🫣
kebiasaan ih