Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka Buatanmu Sendiri
"Kakak, terlalu percaya diri itu nggak baik, lho. Roda kehidupan itu berputar, nggak ada yang bisa menjamin siapa yang akan selamanya ada di atas," ujar Salma dengan nada menyindir, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan.
Manda membalas dengan tatapan penuh keyakinan. "Salma, hasil akhir yang akan membuktikan segalanya. Dalam hal ini, aku nggak akan mengalah cuma karena kamu adikku."
"Gimana kalau kita taruhan?"
"Taruhan?" Kening Seno Tanudjaja berkerut, menatap kedua putrinya bergantian.
"Iya, Pa. Kita lihat siapa yang nilainya lebih tinggi. Anggap saja kompetisi sehat antar saudara," sahut Manda cepat.
Otaknya berputar licik. Di matanya, Salma sudah kalah telak.
Seno mengelus dagunya, tampak tertarik. "Hmm, kedengarannya menarik. Papa yang tentukan hadiahnya."
"Siapa yang menang, Papa akan transfer sepertiga saham Hotel TieDje milik Grup Tanudjaja ke nama pemenang."
Jantung Salma berdegup kencang. Hotel TieDje... Aset triliunan yang di kehidupan lalu menjadi modal Manda menghancurkan orang tuanya.
Dia tidak boleh membiarkan hotel itu jatuh ke tangan wanita ular ini!
"Oke!" Manda menyambar tawaran itu dengan mata berbinar tamak. "Salma, kali ini kita benar-benar harus membuktikan kemampuan masing-masing."
"Tunggu, aku punya syarat tambahan," potong Salma dingin, tatapannya menusuk.
"Yang kalah harus angkat kaki dari Indonesia!"
Mata Manda berkilat kejam. Kebetulan sekali, itu memang rencananya—mengusir Salma selamanya.
"Setuju! Yang kalah harus pergi ke luar negeri!"
Seno memijat pelipisnya yang mulai pening melihat atmosfer mencekam di antara kedua putrinya.
"Kalian ini... Ya sudah, Papa jadi saksinya."
Di depan gerbang Citra Bangsa Global High School, sebuah mobil sport mencolok berhenti tepat di belakang mobil Salma.
Yoga Baskara turun dengan gaya playboy-nya, diikuti Surya yang tampak kaku.
"Woi, Nona Salma! Ujian hari ini yakin bisa? Perlu Abang bantu bocoran nggak?"
Yoga mendekatkan wajahnya sambil nyengir jahil.
Plak!
Salma menepis wajah Yoga tanpa ampun. "Nggak butuh! Main sana, nanti sore baru jemput."
"Galak amat," gerutu Yoga, tapi wajahnya langsung cerah saat Salma mengizinkannya pergi.
Dia bahkan tidak melirik Manda yang berdiri di sana dengan senyum palsu yang kaku.
"Salma, semoga kamu betah hidup di luar negeri ya," bisik Manda dingin saat mereka berjalan masuk.
"Manda, jangan ngomong ketinggian. Nanti kalau jatuh, sakit lho," balas Salma santai, lalu sengaja menabrak bahu kakaknya itu dengan keras.
"Dan ingat, bakat itu nggak bisa dikejar cuma dengan kerja keras palsu."
Manda terhuyung, menatap punggung Salma dengan nyalang.
Tunggu saja, Salma. Ini terakhir kalinya kamu sombong.
Kabar taruhan itu menyebar secepat kilat di kelas.
Melly Gunawan, teman sebangku Manda, sudah menyebarkan gosip bahwa Salma nekat menantang "Sang Juara Kelas".
"Hahaha, sumpah ini lelucon terbaik! Salma mau lawan Manda? Paling dia mau pakai jurus andalannya... nyontek!" cibir salah satu teman geng Manda.
"Udah nggak punya malu, nggak punya otak pula."
Naya Wardhana, sahabat Salma, mendengus kesal. "Manda itu pantes dibandingin sama kamu? Dia itu cuma seujung kuku kamu, Sal!"
"Sst, biarin aja mereka gonggong. Kita lihat siapa yang nangis nanti," bisik Salma tenang.
Di belakang mereka, Aksa Abhimana bersuara dingin, "Hati-hati, biasanya orang yang banyak dosa, matinya mengenaskan."
Kalimat itu sukses membuat seisi kelas mendadak hening.
Bel ujian berbunyi.
Salma mengerjakan soal dengan kecepatan yang tak masuk akal. Tangannya menari di atas kertas, membuat pengawas terbelalak.
Sebaliknya, Manda mulai panik. Dia lupa hafalannya!
Dengan gemetar, dia menyalin jawaban dari contekan kecil di tangannya sambil terus melirik Salma.
Rencananya, begitu Salma selesai, Manda akan memberi kode agar skandal pencurian soal terbongkar.
Tapi anehnya, setelah selesai, Salma malah melipat tangan di meja dan... tidur!
Kenapa dia tidur?! batin Manda histeris.
Lima belas menit kemudian, pintu kelas didobrak.
Farel Barata, Ketua OSIS, masuk dengan wajah gelap bersama barisan anggota keamanan sekolah.
"Semalam, soal ujian akhir semester dicuri. Bukti mengarah ke kelas ini! Semuanya berdiri di lorong! Kami akan geledah!"
Manda tersenyum dalam hati.
Akhirnya!
Farel mulai menggeledah dengan kasar. Saat sampai di meja Salma, dia membentak, "Buka tasmu!"
"Kamu nggak punya hak menggeledah sembarangan tanpa bukti, Ketua Farel!" tolak Salma tegas.
"Kalau kamu berani sentuh tasku, tunggu surat gugatan dari pengacaraku!"
"Salma, jangan bikin malu," Manda langsung menyela dengan wajah prihatin yang dibuat-buat. "Kalau nggak salah, kenapa takut?"
"Minggir, biar Kakak yang buktikan kamu bersih!"
Manda menyerobot dan menumpahkan isi tas Salma ke meja.
Kosong. Tidak ada kertas ujian.
Manda mematung.
Nggak mungkin! Orang suruhanku sudah menaruhnya di sini!
Dia berlutut, merogoh laci meja Salma seperti orang kesurupan.
Tiba-tiba, jarinya menyentuh kertas terlipat di pojok laci.
"KETEMU!" Manda berteriak histeris saking leganya, mengangkat kertas itu tinggi-tinggi.
"Salma, aku nggak nyangka kamu senekat ini!"
Farel menyambar kertas itu. Benar, itu soal ujian.
"Masih mau mengelak, Salma?"
Aksa langsung berdiri melindungi Salma, auranya begitu menekan hingga Farel mundur selangkah.
"Farel, kamu lihat sendiri Salma mencurinya? Yang nemuin kertas itu Manda. Siapa yang bisa jamin Manda nggak bawa kertas itu dari tadi?"
"Bukti sudah ada di tangan! Jangan belain maling!" jerit Manda.
Teman-temannya mulai menimpali, memaki Salma dengan kasar.
"Tutup mulut kalian kalau masih sayang nyawa," desis Aksa.
Kelas kembali senyap seperti kuburan.
Salma menepuk pundak Aksa pelan, lalu menatap Farel dan Manda bergantian. "Kalian yakin cuma aku pelakunya?"
"Farel, kalau ternyata aku dijebak, apa Keluarga Barata sanggup menanggung kemarahan Keluarga Tanudjaja? Aku minta geledah semua meja. Semuanya! Termasuk meja Kak Manda!"
"Salma, kamu mau nyeret aku? Jelas-jelas buktinya di mejamu!" pekik Manda.
"Periksa saja semuanya kalau mau adil," desak Naya.
Farel, yang mulai ragu karena ancaman Aksa, akhirnya memberi perintah dengan kesal.
"Periksa sisa meja yang lain!"
Pemeriksaan berlanjut.
Hingga akhirnya, Farel sampai di meja Manda.
Salma tersenyum tipis.
Saatnya pertunjukan utama.
Farel menarik tumpukan buku di meja Manda. Di bawah buku paket Biologi, terselip beberapa lembar kertas.
Farel menariknya keluar, dan wajahnya berubah pucat pasi, lalu merah padam karena murka.
Dia mengangkat tumpukan kertas itu. Tujuh lembar.
Soal ujian lengkap untuk tujuh mata pelajaran beserta kunci jawabannya.
"Ada yang bisa jelaskan INI APA?!" Raungan Farel menggema.
Brak! Dia membanting tumpukan kertas itu ke lantai.
"Soal ujian lengkap satu semester!
Di meja Manda Tanudjaja!"
Mata Manda melotot nyaris keluar. Kakinya lemas seketika, darah seolah terkuras dari wajahnya.
Satu kelas ternganga syok. Melly dan geng pembully tadi nyaris pingsan.
"Gila..." Naya berdecak kagum, lalu meledak marah.
"Manda! Kamu bener-bener iblis ya?! Kamu nyuri semua soal, terus taruh satu lembar di meja Salma buat nuduh dia?!"
"Ini jebakan!" Manda menjerit histeris, suaranya melengking sumbang.
Dia menunjuk Salma dengan tangan gemetar. "Salma! Ini pasti ulahmu! Kamu yang jebak aku!"
Aksa menatap Manda dengan tatapan sedingin es kutub. "Jebak? Salma dari tadi duduk diam."
"Yang bolak-balik ke meja Salma itu kamu. Yang maksa geledah itu kamu. Yang nemuin kertas di meja Salma juga kamu. Kamu pikir kami buta?"
"Dia iri sama aku! Dia mau hancurin aku!" Manda meracau, air mata buayanya mulai tumpah.
Tapi kali ini, bukti tujuh lembar soal itu terlalu telak.
Salma hanya berdiri tenang, menatap kakaknya yang sedang hancur lebur dengan tatapan datar namun menusuk.
Selamat menikmati neraka buatanmu sendiri, Kakak sayang.
penampilan cupu ternyata suhu 😂
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️