Seorang gadis dari keluarga kaya jatuh cinta pada pria biasa. Dia memalsukan identitas dan menikah dengan pria itu. Tidak hanya itu, karena dia secara diam-diam meminta bantuan keluarga untuk membantu karir suaminya.
Sayangnya, setelah sang suami sukses, wanita itu di selingkuhi dan bahkan di ceraikan.
Untuk membalas dendam, dia kembali ke keluarganya dan menjadi putri salah satu dari 10 keluarga terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dava hanafisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Winda terdiam sejenak. Menarik napas dalam-dalam. Dan menceritakan semua perjanjian nya dengan Reno.
"Astaghfirullah jahat sekali Reno sampai melakukan ini kepada kamu." ucap Alisha.
"Maaf kan atas perlakuan jahat aku kepada kamu Alisha. Aku melakukan itu semua karena aku gak mau kehilangan Reno. Aku sangat menyayangi nya. Tapi ternyata tak seperti yang aku bayangkan. Dia tetap tak menginginkan aku walau pun aku sedang mengandung anak nya."
"Iya Win, aku sudah memaafkan kamu kok. Tapi memang aku tidak pernah memiliki perasaan apa pun terhadap Reno. Jadi kamu tak usah khawatir ya, aku tak akan pernah merebut Reno dari kamu."
"Aku malu sekali pernah berbuat jahat kepada mu Alisha. Ternyata kamu memiliki hati yang begitu baik sekali."
Alisha hanya tersenyum.
Disisi lain...
"Assalamualaikum ma." sapa Arkana dan Yasmin yang baru tiba dikediaman nya.
"Waalaikum salam." jawab Sinta singkat. "Jadi kalian tinggal disini, katanya Yasmin tidak mau!."
"Jadi ma, maaf bukan aku gak mau, tapi kemarin aku juga masih kepikiran kakak aku dirumah."
"Kakak kamu? Dia itu kan sehat dan sudah dewasa untuk apa kamu memikirkan nya? Yang harus kamu pikirkan itu ya suami kamu, gimana sih malah mikirin kakak nya." tutur Sinta kesal.
"Ma, bukan gitu maksud Yasmin." ucap Arkana lembut.
"Halah! Kamu malah membela istri kamu. Sudah jelas-jelas dia tidak bisa mengurus kamu."
"Ma, bisa tidak jangan bicara sembarangan kepada istriku!." imbuh Arkana dengan nada sedikit kesal.
Yasmin hanya diam. Menahan bulir air mata nya supaya tidak jatuh dikedua pipi nya.
"Yu, sayang kita kekamar saja." Pungkas Arkana mengajak Yasmin menuju kamarnya di lantai 2.
"Mas, seperti nya mama kamu masih tidak suka dengan aku. Kenapa kita tidak tinggal dirumah ku saja, atau kita menyewa rumah." ucap Yasmin.
"Sayang, maaf kan atas sikap mama ku tadi ya. Aku sengaja bawa kamu tinggal disini supaya kamu dan mama bisa dekat."
"Tapi mas, bagaimana aku bisa dekat dengan mama kamu, kalau sikap nya saja seperti itu kepada ku. Lalu bagaimana kalau kamu kerja?." lirih Yasmin.
Arkana langsung menggenggam tangan istrinya itu. "Nanti aku akan coba bicara baik-baik ya sama mama. Aku yakin mama tidak akan seperti itu lagi ke kamu. Mungkin tadi mama hanya kesal saja mendengar kamu memilih kak El dibanding aku. Sudah ya gak usah dipikirkan lagi."
Arkana langsung bangkit dari duduk nya dan meninggalkan Yasmin dikamar.
"Ma.. Aku mau bicara sama mama." ucap Arkana yang langsung menghampiri mama nya, usai meninggalkan Yasmin dikamar.
"Ada apa? Masih mau membela istri kamu itu. Ar, dari awal juga mama sudah tidak suka dengan Yasmin, tapi kamu malah membujuk mama untuk merestui kalian."
"Ma, Yasmin itu tidak seperti yang mama pikirkan. Apa sih yang membuat mama tidak suka dengan Yasmin?."
"Karena dia bukan dari keluarga yang setara dengan kita, coba kamu lihat dia bekerja saja tidak."
"Ma, jadi hanya dari materi mama memandang Yasmin? Dia tidak bekerja karena dia sibuk mengurus butik nya ma, tapi dia itu wanita yang baik. Coba mama jangan menilai orang lain dari segi materi. Lagi pula sekarang ini Yasmin kan sudah menjadi tanggung jawab aku. Kalau pun dia bekerja juga pasti aku suruh dirumah saja mengurus aku dan anak-anak ku nanti."
Sinta hanya terdiam. Tak kembali menjawab ucapan Arkana itu.
Arkana kembali kekamarnya dan membawakan secangkir teh hangat untuk Yasmin. "Sayang, ini aku buat kan teh hangat untuk kamu." ucap Arkana menghampiri istrinya itu.
"Makasih sayang, kamu dari bawah untuk membuatkan aku teh hangat? Nanti apa kata mama kamu."
"Ssstttt.. Sudah ya tidak usah membahas mama aku lagi."
*****
"Akhir-akhir ini aneh sekali sikap Alisha, ada apa dengan nya ya?." tanya Reno dalam hati.
Reno yang sedang asik memainkan ponsel diruang tamu apartemen nya dan Winda langsung menghampiri Reno.
"Ren, aku sudah selesai masak untuk kita makan malam. Kita makan bersama yu."
"Makan saja duluan, aku belum lapar." jawab reno singkat.
"Kalau gak temenin aku dimeja makan bagaimana, kita sambil bicarakan nama yang bagus untuk anak kita."
Reno langsung melirik kearah Winda. "Kamu bisa diam tidak sih! Ganggu saja, sana kalau mau makan kenapa masih disini." bentak Reno kesal dan membuat Winda langsung meneteskan air mata.
Iya tak memperdulikan Winda yang sering terlihat menangis dihadapan nya.
Winda segera bergegas pergi meninggalkan Reno dan langsung masuk kedalam kamar nya. "Ya Allah, sakit sekali rasa nya hati ini. Aku tak pernah membayangkan semua ini terjadi dalam hidupku. Apa lagi seorang laki-laki yang aku ingin kan dengan tega nya selalu menyakiti hati aku."
"Nak, maaf kan mama mu ini ya, yang selalu menangis. Kamu sehat-sehat ya sayang di dalam perut mama." lirih Winda dalam hati nya.
Beberapa menit berlalu...
Winda keluar dari kamar nya, melihat Reno sedang duduk dimeja makan sambil menikmati makanan tersebut. Winda tersenyum melihat nya. "Alhamdulillah akhirnya Reno mau makan masakan aku." Iya segera menghampiri suaminya itu.
Dan Winda dibuat kaget olehnya, ternyata Reno sedang tidak menikmati makanan yang sudah iya masak tadi. Melainkan sedang makan mie instant yang iya buat nya sendiri.
"Ren, kenapa kamu malah makan mie instant, aku kan sudah masak untuk kita makan malam ini." ucap Winda kepada Reno.
"Aku tidak suka dengan menu yang kamu masak." jawab nya singkat.
Winda tak menghiraukan ucapan Reno. Iya segera duduk dibangku yang masih kosong. Baru saja akan mengambil makan, Reno langsung bangun dari duduk nya. "Lho Ren kamu mau kemana?."
"Sudah selesai makan nya."
"Kamu gak mau menemani ku dulu untuk makan."
Reno tak menggubris ucapan Winda, iya lantas saja pergi meninggalkan istrinya itu.
Winda kembali menangis terisak sambil menyuapi makanan ke dalam mulutnya. Sebenarnya iya menjadi tak berselera makan. Akan tetapi iya tak boleh egois, sebab didalam perutnya kini ada calon buah hati nya yang harus iya pikirkan juga kondisi nya.
"Aku harus kuat dan tetap bertahan demi anakku. Aku yakin ini semua bisa aku lewati dengan baik." lirih Winda dalam hati nya.
*****
"Ma.. Pa... Beberapa waktu lalu Elenoa bilang ke aku, kalau sebenarnya bi Rizka mau berhenti bekerja dari rumah ini. Tapi bibi gak enak bilang ke mama dan papa."
"Gak enak kenapa, kalau memang bi Rizka mau berhenti ya gak apa-apa. Itu haknya bibi, kita tidak boleh memaksakan dia untuk tetap bekerja disini." jawab papa Darren.
"Iya makanya itu aku bantu bilang ke mama dan papa. Seperti nya bibi masih merasa tidak enak dengan kesalahan nya yang dulu dan juga kebaikan papa, mama kepada keluarga nya."
"Ya sudah nanti mama coba bantu bilang sama bi Rizka ya, untuk masalah kalian yang dulu ya sudah lah lupakan saja. Semua sudah berlalu sangat lama dan tak usah diingat kembali."
Sementara itu...
"Sayang aku berangkat dulu ya, nanti kamu ke butik jam berapa?." ucap Arkana.
"Sekitar jam 10an saja mas, kamu hati-hati ya." tutur Yasmin.
"Yasmin, tolong ya meja makan dirapikan kembali. Nanti juga kamu bantu-bantu mbak Nana merapikan rumah ya."
"Ta-tapi ma."
"Gak usah membantah kamu, kerjakan apa yang saya perintahkan."
Yasmin terdiam. Iya segera merapikan meja makan dan membawa nya menuju dapur. "Lho non, biar mbak nana saja yang merapikan nya, nona kembali kekamar saja, ini sudah tugas saya." tutur mbak Nana.
"Aku di suruh mama Sinta bantuin mbak Nana membereskan rumah. Padahal aku harus ke butik." lirih Yasmin sambil menangis.
"Ya ampun, non yang sabar ya. Saja jadi tidak enak kalau begini, non duduk saja biar saya yang mengerjakan nya."
"Gak apa-apa mbak, biar aku bantuin saja. Aku gak mau mama Sinta semakin marah melihat aku diam saja tidak membantu mbak Nana." tutur Yasmin, perlahan mengusap air matanya.
"Mbak sebentar ya, aku mau telfon kakak aku dulu biar dia yang menjaga butik nya."
"Iya non silahkan."
Yasmin segera meninggalkan dapur dan menuju ke kamarnya.
"Yasmin mau kemana kamu? Tadi saya perintahkan apa?."
"Iya ma, aku mau telfon kakak ku dulu untuk menjaga butik nya." Pungkas Yasmin. Dan berlalu meninggalkan mama mertua nya itu.
Beberapa menit kemudian Yasmin kembali ke dapur, usai menghubungi Elenoa.
"Tolong ya Yasmin, yang bersih menyapu nya. Saya tidak mau masih terlihat ada kotoran atau pun debu dilantai."
"Iya ma, aku akan menyapu yang bersih."
"Oke bagus. Kamu kira dengan tinggal disini bisa santai-santai saja gitu? Enak saja, kamu ini hanya menumpang hidup Yasmin dengan anak saya."
Deg...
Seketika air mata Yasmin mengalir dengan deras nya mendengar ucapan mertua nya itu. "Ya Allah sakit sekali rasanya hati ini. Apa ini karma atas perbuatan aku pada Alisha dulu?."