Daniah Hanania Eqbal, gadis lulusan ilmu kedokteran itu sedang menjalani KOAS di Rumah Sakit Harapan Keluarga. Selama menjalankan KOAS, ia harus berhadapan dengan Dokter pembimbingnya yang galak. Dokter Arrazi Dabith Dzaki.
Arrazi memang terkenal Dokter paling galak diantara Dokter lain yang membimbing para anak KOAS, namun ketika berhadapan dengan pasien kegalakan Arrazi anyep,baik hilang di balik wajah tampan bin manisnya.
Suatu ketika Basim meminta Daniah untuk mengabulkan keinginannya, yaitu menikah dengan cucu dari sahabatnya, guna menepati janji mereka. Daniah tidak menolak atau mengiyakan, ia hanya meminta waktu untuk memikirkan keinginan Kakeknya itu. Namun saat tahu laki-laki yang di jodohkan kepadanya adalah cucu dari pemilik Rumah Sakit tempatnya KOAS, Daniah dengan senang hati langsung menerima, selain sudah kenal dengan laki-laki itu, Daniah pun berencana akan menggunakan kekuasaannya sebagai istri cucunya pemilik Rumah Sakit Harapan Keluarga untuk menendang Dokter itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icut Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 29 : KECEWA
"Kenapa harus malam ini sih Mas? Kenapa nggak besok aja?" protes Daniah saat Arrazi mengatakan ia akan balik ke Jakarta saat ini juga.
"Nggak bisa." jawab Arrazi tanpa menoleh sedikitpun dan saat ini ia sedang bersiap-siap.
"Kenapa harus dadakan Mas? Bahkan aku belum nyiapin apa-apa buat pulang." Daniah masih protes.
"Kalau kamu nggak mau ikut pulang sekarang nggak masalah. Nanti biar saya minta tolong Pak Gabriel antar kamu ke Jakarta." ujar Arrazi degan tegas.
Daniah menatap wajah suaminya dengan kesal. Yang di tatap malah acuh, kini sedang memakai jaket kulit yang diambilnya dari lemari.
"Ya udah iya, aku ikut sekarang. Tunggu, jangan di tinggal!" ujar Daniah mengalah.
Mau bagaimana pun, Daniah terpaksa ikut suaminya pergi, karena ia mendapat nasehat, 'ISTRI HARUS PATUH PADA SUAMI DAN IKUT SUAMI'.
Setelah bersiap-siap dengan cepat, Daniah dan Arrazi berpamitan kepada Kakek dan Nenek untuk pulang malam ini juga ke Jakarta tentu yang memberikan alasan adalah Arrazi, meskipun awalnya dilarang oleh Kakek dan Nenek. Namun alasan Arrazi begitu kuat membuat Kakek dan Nenek mengizinkan. Bahkan mereka mengantarkan sepasang pengantin baru itu sampai depan rumah. Dan sempat berpesan kepada cucunya itu sebelum pergi.
Kini Arrazi melajukan mobil di jalan tol dengan kecepatan sedang. Ia sempat melirik sekilas kearah Daniah yang sedang menyandarkan kepalanya di jendela mobil dengan mencebikkan bibir bawahnya dan pandangan mata lurus kedepan, juga tangan yang bersedekap didada. Ia yakin, istrinya itu sedang merajuk, ingin dia abaikan. Namun sikap istrinya itu sangat menggemaskan. Tapi bukan Arrazi namanya kalau tak ekspresi datar dan nada bicara dingin.
"Jangan ngambek. Nantikan bisa main lagi ke sana." ujar Arrazi memecahkan keheningan diantara mereka sejak mobil yang dikendarai meninggalkan rumah Kakek Dzaki.
"Siapa yang ngambek!" elak Daniah dengan ketus.
"Ya kamulah, siapa lagi."
"Aku tau kesel, kenapa sih dadakan begini! Kan bisa besok juga pulangnya! Bumi ini masih baik-baik aja kok kalo kita pulangnya besok!" kembali Daniah melayangkan protes dan menyatakan perasaannya yang ditahan sedari tadi.
"Kerjaan saya banyak Daniah." ujar Arrazi dengan penekanan berharap sang istri paham, namun terdengar ditelinga nya, sang istri berdecak kesal.
"Iya Dokter Arrazi Dabith Dzaki yang paling sibuk seduniaaaa....." balas Daniah malas untuk melanjuti, ia memilih untuk menutup wajahnya dengan kupluk Hoodie yang dipakainya.
***
"Nia, bangun....Daniah." panggil Arrazi mencubit gemas pipi istrinya setelah membuka kupluk hoodie yang dipakai istrinya.
"Euuuggghhh.......hooooaammmm....." Daniah menguap, namun langsung ditutup dengan tangan Arrazi.
Melihat pergerakan mata Daniah, Arrazi menjauhkan tangan dari mulut sang istri.
"Dah sampe?" tanya Daniah saat metanya terbuka perlahan, melihat kalau mobil kini sudah terparkir dibasement.
"Iya sudah. Ayo turun."
"Hmmm."
Arrazi langsung turun dan membuka pintu belakang untuk mengeluarkan leh-oleh dari Bandung milik sang istri. Sementara Daniah idak langsung keluar, ia merentangkan tangan dan menggerakkan kepalanya untuk melakukan peregangan, hingga bunyi suara 'kretek'. Lalu ia melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil.
"Sini aku bawain." pinta Daniah melihat sang suami membawa empat goodybag putih berukuran besar. Di tangan kanan dan kirinya.
"Nggak usah, biar saya saja. Ay jalan." ajak Arrazi, Daniah manut mengikuti sang suami, hingga di apartemen.
Daniah langsung merebahkan tubuhnya dikasur begitu sampai di kamar. Ia masih mengantuk dan akan melanjutkan tidur. Sementara Arrazi langsung pergi ke ruang kerjanya setelah menyimpan barang-barang yang di bawanya di ruang tengah.
Sore tadi, Arrazi mendapatkan telepon dari Michael, wakil direktur bagian keuangan rumah sakit, kalau ada sesuatu yang mencurigakan didalam manajemen keuangan rumah sakit, maka malam itu juga, Arrazi langsung mengecek email yang sudah di kirim oleh Michael.
***
Daniah membuka matanya perlahan, tangannya meraba-raba di kasur. Saat matanya terbuka, ia nyengir.
"Nggak mimpi, gue emang beneran udah di apartemen suami gue. Eh, suami gue?" mata Daniah langsung membulat, kesadaran langsung kembali 99%.
"Lah? Suami gue yang ganteng mana?" tanya Daniah pada dirinya dengan panik, matanya mengintari sekeliling kamar, namun sosok yang dicarinya tidak ada.
Daniah segera beranjak dari kasur, lalu keluar kamar untuk mencari sang suami.
"Mas......Mas Arrazi........"
Tak ada sahutan. Dan saat netranya mengarah kepada goodybag yang berisi oleh-oleh miliknya. Yang berada diatas meja ruang tengah. Ia ingat, semalam Arrazi yang membawakan oleh-oleh miliknya.
"Kemana tuh orang? Apa iya udah pergi? Nggak mungkin ah, baru juga jam setengah lima." gumam Daniah sekilas melirik kearah jam dinding.
Mas...Mas Razi....Mas Raz.....zoooonggg." panggil Daniah dengan memelankan suara dikata terakhirnya.
Masih tak ada sahutan, namun perhatian tertuju kepada pintu ruang kerja yang sedikit terbuka. Daniah melebarkan senyumnya. Sudah bisa menebak dimama keberadaan sang suami. Daniah langsung menuju pinti ruang kerja dan membukanya lebar. Melihat sosok yang dicarinya sedang duduk dengan posisi kepala berada diatas kedua tangan terlipat di atas meja, berhadapan dengan laptop yang terbuka. Daniah berdecak pelan.
"Pegel-pegel deh itu kepala. Bisa sengklek juga kalo semalaman posisi tidurnya kayak begitu." gerutu Daniah. Lalu ia mendekat, menghampiri Arrazi dan menoel bahu sang suami.
"Mas....bangun Mas, bentar lagi subuh." ujar Daniah.
Arrazi belum merespon. Ia masih nyenyak dengan tidurnya.
"Maaas Arrazi....Mas Sayangkuuuuhhhh.....ayo banguuuuunn Maaaaassss....sudaaahh mauuuu subuuuuhhh..." bisik Daniah tepat di telinga sang suami.
Tak menyangka bisikannya itu manjur, Daniah tertawa melihat ekspresi kaget sang suami yang langsung bangun dan hampir loncat dari kursinya.
"KAMU ITU APA-APAAN SIH?" bentak Arrazi dengan melayangkan tatapan matanya yang tajam kepada istrinya.
Daniah tak terpengaruh dengan bentakan dan tatapan suaminya. Ia masih tertawa, bahkan masih sempat-sempat mengelak.
"Habisnya dari tadi aku bangunin nggak bangun-bangun." kekeh Daniah.
"Nggak lucu banguninnya kayak begitu!" ketus Arrazi masih kesal, sambil menggaruk kepala belakangnya dengan kasar.
"Iya maaf. Cepetan bangun, wudhu. Bentar lagi subuh." ujar Daniah mengingatkan suaminya, lalu keluar dari ruang kerja itu.
Arrazi menghela nafas kasar, lalu mengelus dadanya. Ia benar-benar kaget dengan cara Daniah membangunkannya. Apalagi Arrazi pria dewasa yang normal, tentunya hormon seksualnya itu langsung terpancing kala mendengar bisikan yang mendayu ditelinganya dari mulut sang istri yang sudah halal baginya untuk di sentuh.
FYI. Arrazi masih menjaga dirinya untuk tidak menyentuh Daniah meskipun Daniah sudah halal baginya. Namun Arrazi tidak mau melakukan hubungan suami istri tanpa cinta dan keikhlasan satu sama lain.
Karena saat ini, Arrazi pun masih meragukan apakah dirinya sudah mencintai Daniah atau belum. Dan ia pun ragu dengan Daniah, apakah wanita itu sudah mencintainya dan menerima pernikahan ini atau belum.
Karena yang Arrazi tahu langsung dari istrinya sendiri, ia terpaksa menerima pernikahan ini, karena kecerobohannya langsung menerima perjodohan yang dikiranya ia akan di jodohkan dengan Dhafir, bukan dengan dirinya.
Bukankah itu tandanya Daniah lebih memilih Dhafir dibandingkan Arrazi? Dan Daniah mencintai Dhafir, bukan Arrazi?
***
Setelah dipaksa oleh Daniah, akhirnya Arrazi mau juga sholat subuh berjamaah, mengimami sang istri. Meskipun awalnya Arrazi banyak alasan untuk tidak shalat berjamaah. Dan ini pertama kalinya Arrazi dan Daniah sholat berjamaah. Karena selama di Bandung, Arrazi sholat berjamaah bersama Kakeknya di masjid.
Ada suatu perasaan tersendiri yang di rasakan Arrazi saat mengucapkan sala, dan menoleh ke kanan lalu ke kiri, mendapati sesosok makmum dibelakangnya yang tak lain adalah sang istri. Tak lama kemudian Daniah menghampiri untuk mencium tangannya.
Saat Daniah mengulurkan tangan, Arrazi dengan ragu memberikan tangannya itu untuk sang istri. Karena pergerakan tangannya yang pelan dengan inisiatif Daniah langsung meraih tangan Arrazi, lalu mencium punggung tangan sang suami.
Baru saja Daniah mencium punggung tangan Arrazi dengan menempelkan ujung hidung dan bibirnya, hal itu langsung membuat desiran yang terasa seperti sengatan listrik didalam tubuh Arrazi.
Arrazi menghela nafas, lalu memejamkan matanya untuk menetralisir perasaan itu, tiba-tiba ia ingat doa yang diajarkan Kakek beberapa hari menjelang pernikahannya dengan Daniah. Kakek mengajarkan doa kebaikan untuk istrinya.
Dengan gerakan pelan, Arrazi mengangkat tangannya kirinya, lalu mendaratkan tangannya ke ubun-ubun sang istri. Kemudian melafalkan kembali doa yang masih ia ingat dan pernah ia ucapkan setelah akad beberapa hari yang lalu, dengan lirih.
"Allahumma inii as-aluka khairahaa, wa khaira maa jabaltahaa 'alaihi, wa a'uudzu bika min syarrihaa, wa syarri ma jabaltahaa 'alaihi." (Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya)
Sementara itu, Daniah memejamkan mata, begitu merasakan ada sesuatu yang mendarat di ubun-ubunnya, ia masih menahan tangan sang suami dalam kecupannya. Badan Daniah merinding saat mendengar Arrazi melafalkan doa yang ia dengar dilafalkan oleh sang suami di hari pernikahannya setelah akad. Daniah masih ingat sekali dengan doa itu.
Entah kenapa, tiba-tiba air mata Daniah mengalir begitu saja, hingga jatuh membasahi punggung tangan sang suami yang masih menempel di bibir dan ujung hidungnya. Perlaan kepala Daniah terangkat saat merasakan pergerakan dari sang suami.
Lalu netra keduanya bertemu dengan tatapan yang sayu dan basah karena air mata. Entah kenapa dua-duanya bisa menangis haru bersama. Karena perlakuan manis dari masing-masing keduanya, seolah sang Maha Cinta sedang memberi tanda bahwa sesungguhnya kedua hanya-Nya itu sudah meulai merasakan cinta yang terjalin dalam hubungan suami istri.
Perlahan Arrazi mendekatkan ke wajah Daniah. Hingga kedua ujung hidung mereka bertemu dan saling menyentuh. Daniah langsung memejamkan mata, kala Arrazi semakin mendekatkan jarak diantara mereka, lalu Arrazi memiringkan kepalanya dan mengecup bibir ranum sang istri.
Kecupan itu tak dilepas, ia bertahan disana beberapa detik, kemudian bergerak, kecupan itu berubah menjadi lumatan di bibir Daniah. Awalnya Daniah tak merespon lumatan itu, karena ini pertama kali baginya dan bingung harus bagaimana cara meresponnya. Ia biarkan bibir sang suami melakukan pergerakan sesuai dengan instingnya. Lambat laun seolah mulai paham dengan apa yang harus dilakukan, Daniah membalas lumatan demi lumatan sang suami.
Arrazi masih bertahan dengan apa yang sedang di lakukan bibirnya di bibir sang istri yang kini sudah semakin panas ciumannya itu, apalagi Daniah pun membalas lumatannya itu. Lalu lidahnya masuk ke dalam mulut sang istri seolah sedang mencari sesuatu didalamnya.
Tangan Arrazi pun tidak diam begitu saja, ia merangsek masuk melewati balutan mukena yang masih dikenakan sang istri, lalu meraba tubuh istrinya dengan gairah. Ciuman itu semakin intens dan panas.
Cup!
Arrazi menghentikan ciuman mereka secara sepihak dan memberi jarak diantara mereka. Deru nafasnya tidak beraturan. Matanya masih berkabut nafsu, namun ada bisikan lain yang menyuruhnya untuk menghentikan ciuman itu.
Otomatis hal itu membuat mata Daniah terbuka lebar, seolah bertanya 'ada apa?'
"Maaf Nia." ucap Arrazi dengan lirih, lalu pergi keluar kamar meninggalkan Daniah yang masih terdiam dalam kebingungan.
Beberapa detik kemudian Daniah menyadari apa yang baru saja terjadi. Ia dan suaminya baru saja melakukan ciuman! Tubuh Daniah meremang. Tapi kenapa Arrazi tiba-tiba menghindar saat sentuhannya di tubuh Daniah semakin intens?
Apa ada yang salah dari tubuh Daniah, sampai Arrazi menghentikan secara sepihak aktivitas suami istri yang sudah halal itu? Dada Daniah terasa sesak, apakah Arrazi merasa jijik dengan dirinya?
Apakah memang Arrazi sangat membencinya hingga tidak mau menyentuh Daniah sebagai istri halalnya? Ya meskipun Daniah belum sepenuhnya menerima pernikahan ini, namun apapun konsekuensinya Daniah akan terima, bahkan untuk melayani suami pun akan Daniah lakukan.
Meskipun Daniah tidak terlalu paham agama, tapi ia tahu haram hukumnya menolak untuk melayani suami. Namun apa jadinya kalau suami sendiri yang tiba-tiba menolak untuk dilayaninya?
Daniah tak bisa menahan air matanya menetes dan mengalir di pipinya, karena kecewa atas perlakuan sang suami.
Salam Dari Author 🙏
Gmn perasaan Arazzi menunggui istrinya , terjwb sudah perjuangan mama melahir kan mu.
Mk surga aga ditelapak kaki ibu
kisah mama Rara , dr Arazzi maupun Elisa mereka korban atas kezaliman sang ayah yg suka selingkuh.
untung dipertemukan dr Arazzi dgn istri yg bisa menyembuhkan luka sekaligus merangkul mama mertua dan adik tiri
Ambil yg baik jgn ditiru meskipun bkn kisah nyata