Seorang gadis sederhana berusia 19 Tahun merupakan anak dari seorang petani yang menjadi mahasiswi kedokteran dan sudah menempuh semester 3. Mengejar cita-cita menjadi seorang Dokter, untuk menggapai cita-cita dengan membiayai pendidikannya ia harus bekerja di sela-sela kuliahnya. Namun, ada suatu hal yang sebenarnya ia sembunyikan dari semua orang!
Keinginannya menjadi seorang Dokter sirna ditelan ombak terjang oleh sebuah keterbelengguan dengan seorang pria. Yang di mana keluarga pihak pria datang meminta ia menikah dengan putranya dan sebelum hal itu terjadi ia sempat menolak.
Namun, Takdir tetap membawanya dalam perangkap itu sehingga harus menggugurkan cita-citanya yang tidak bisa dilanjutkan.
Dia terus terbelenggu dengan seorang laki-laki yang berprofesi sebagai CEO di perusahaan tempatnya bekerja yang memiliki penyakit aneh disembunyikan dari semua orang!
Dia menjadi salah satu seorang wanita di dunia ini yang tidak membuat seorang Tuan tidak bereaksi pada penyakitnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dnrfitri_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Kepercayaan Besar
Dalam 2 hari setelah sakit, Keadaan Arya besoknya sudah kembali pulih. Ia bisa kembali memimpin perusahaan dan bekerja seperti sebelumnya dengan keadaan sudah sembuh dan fit. Selama itu juga ia dirawat oleh Dini, yang selama 2 hari itu tidak pulang ke rumah.
Dan pada saat ia sembuh, kebetulan Dini dihadapkan dengan ujiannya yang di langsungkan hari ini hingga 2 Minggu ke depan.
Ketika setelah malam itu Arya tidak bisa bertemu dengan Dini pada pagi hari, dan akan bertemu malam hari. Ini akan membuatnya semakin bersemangat bekerja lembur. Karena Arya sendiri memutuskan untuk tinggal di perusahaanya dan tidak akan kembali ke mansion sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Di Universitas~
"Diniii..." Teriak Prisha dan Raina yang berlari senang lalu, memeluk sahabatnya
"Din,,, Kau kemana saja? Dosen mengatakan kau izin tidak masuk karena sakit." Ujar Raina
"Iya, Din. Rencananya kami ingin menjenguk mu. Tapi akhir-akhir ini pelajaran semakin sulit dan pelajaran di pergunakan untuk persiapan ujian sampai kami semua diatur jadwal pulang ditetapkan sampai jam delapan malam. Diuntungkan kau sakit, Din. Jadi tidak perlu ikut menderita seperti kita." Ucap Prisha
"Aah,, Emm,,, I-iya, Aku Demam sehingga tidak bisa masuk kuliah. Jika seperti itu, tandanya aku ketinggalan banyak pelajaran." Ujar Dini
"Seharusnya begitu. Tapi aku salut padamu, Ingin kau ketinggalan pelajaran selama satu tahun, aku yakin kau pasti bisa menjawabnya karena kan kau pintar, Din. Tahun lalu kau menjadi mahasiswi yang berhasil mengumpulkan nilai yang bisa membawa mu ditempatkan di posisi pertama. Lalu, apa yang harus membuatmu khawatir." Ucap Raina
"Iya, Din. Setelah kau mendapatkan beasiswa penuh, kau benar-benar hebat. Aku iri padamu, jika aku menjadi kau, pasti orang tuaku sangat bangga padaku." Ucap Prisha
"Tapi, Aku sama sekali tidak mengetahui apa-apa. Mungkin itu hanya kebetulan aku mengetahuinya." Jawab Dini
"Baiklah, Terserah padamu saja. Aku percaya pada sahabat ku bahwa ia sangat hebat." Ucap Raina
"Yasudah, sebaiknya kita masuk ke ruangan masing-masing. Ujian akan segera dimulai sebentar lagi." Ucap Prisha
"Iya benar, kita harus pergi ya, Din. Karena kita belum tahu di mana ruangan kita. Jadi, harus mencari dahulu." Lanjut Raina
"Iya, Din. Semoga sukses ya. Aku yakin kau pasti bisa." Ucap Raina memberi semangat lalu, mereka pergi mencari ruangan masing-masing
Karena ditempatkan di ruangan yang berbeda-beda, Raina, Dini dan Vina tidak disatukan di ruangan yang sama. Mereka harus berpisah.
Ruangan tempat Dini ujian tidak jauh dari tempat mereka mengobrol tadi. Sehingga Dini hanya tinggal masuk dan duduk di kursi yang sudah disesuaikan.
Bel masuk pun berbunyi dan tandanya ujian akan segera dimulai.
Tak lama pengawas datang dengan membawa lembar soal ujian. Pesan demi pesan disampaikan oleh pengawas sebelum ujian dimulai.
Setelah itu, pengawas membagikan lembar ujian pada semua mahasiswa/siswi yang hadir di ruangan.
Ada yang baru saja membaca soal pertama sudah pusing di buatnya, ada juga yang senang karena menguasai soal dari pelajaran yang sudah dipelajari. Keadaan Dini dari beberapa hari ke belakang memang sedang tidak kondusif, saat ini kondisinya sedang tidak fit. Karena selama 2 hari Dini tidak mendapatkan tidur dengan semestinya. Dia malah berjaga malam merawat Arya yang sakitnya selalu terjadi dimalam hari.
la juga kurang menguasai pelajaran yang diujikan, karena terlalu sering izin dan meninggalkan pelajaran demi pekerjaanya.
Dini begitu benar-benar pasrah jika nilai ujian kali ini akan keluar begitu kecil.
"Tolong bantu aku Ya Allah, aku tidak tahu apa jawaban dari semuanya. Ini adalah kesalahanku yang meninggalkan setiap pelajaran berlangsung, aku pasrah jika harus menerima kenyataan jika nilai ujian kali ini tidak memuaskan." Bicara Dini dalam hati merenung
"Tidak, aku tidak boleh menyerah begitu saja. Perjalanan masih panjang dan orang tuaku pasti akan kecewa jika aku putus asa seperti ini." Bicara Dini dalam hati sambil merenungkan perkataan Raina dan Prisha padanya tadi yang sedang bermunculan menguasai pikiran nya saat ini
"Diniii..." Teriak dosen pengawas yang melihat Dini sedang melamun
Teriakan membentaknya itu berhasil membuat Dini tersadar.
"I-iya, Pak?" Jawab Dini gugup karena mendapat keterkejutan mendadak
"Apa yang sedang kau lakukan? Waktu terus berjalan, bukannya mengerjakan soal kau malah melamun. Apa yang sedang kau pikirkan?" Ucap dosen itu membentak Dini
"Ma-maafkan saya, Pak." Jawab Dini tidak berani mendongakkan kepala
"Jika kau tidak berniat mengikuti ujian kali ini, kau bisa keluar dari ruangan saya sekarang juga." Sentaknya lagi
Luna yang satu ruangan dengan Dini tersenyum devil melihat Dini di marahi.
"Ba-baik, Pak. Maafkan saya, saya berniat mengikuti ujian ini. Saya akan mengerjakannya." Ujar Dini dengan gugup menundukkan kepala
"Yasudah, tepati apa yang kau katakan. Kerjakan ujian itu dengan serius, dan kumpulkan lembar ujian dan jawaban mu itu pada saya sebelum waktunya habis." Titah Dosen pengawas itu
"Baik, Pak." Jawab Dini singkat dan langsung bergegas mengerjakan soal
Semua mahasiswa/siswi di ruangan itu ribut, mereka berbisik membicarakan Dini.
"Sudah semuanya diam! atau saya akan mengeluarkan kalian dari ruangan ini." Bentak suara keras dosen itu lagi, membuat seisi ruangan berdigik ngeri
Seketika seisi ruangan itu senyap, tidak ada lagi yang berani membuka mulut, dan fokus pada lembar ujian mereka. 90 menit kemudian waktu sudah berjalan, dan ujian pertama selesai dilaksanakan. Semua mahasiswa/siswi mengumpulkan lembar soal dan lembar jawaban mereka. Begitu pun Dini yang sedang kurang semangat dan tidak begitu yakin akan jawabannya menyerahkan lembar soalnya dengan pasrah.
"Dini, saya tahu kau baru pulih dari sakit mu dan kau masuk kembali dengan tertinggal banyak pelajaran, dan malah langsung melaksanakan ujian. Tapi saya percaya padamu, kau adalah mahasiswi yang cerdas dan nilai mu pasti akan bagus. Saya akan memeriksa nya langsung untukmu." Ujar dosen yang begitu sangat percaya membuat Dini semakin tertekan
Begitu banyak orang yang mempercayai dirinya dan menaruh harapan begitu besar padanya. Tapi, ia malah mengecewakan orang sekitar dengan keadaannya yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Sebelum memulai ujian kedua, semua mahasiswa/siswi diharapkan untuk istirahat terlebih dahulu.
"Din, bagaimana ujian tadi? Kau pasti menganggapnya remeh, Kan? soal yang sulit jika berada di tanganmu akan menjadi mudah." Ucap Raina
"Aku tidak tahu." Jawab Dini tidak bersemangat
"Kenapa tidak tahu." Tanya Prisha tercengang
"Emm,,, Teman-teman aku akan pergi ke toilet dahulu. Kalian pergi saja lebih dulu ke kantin." Ucap Dini langsung pergi ke toilet tanpa menunjukkan ekspresi ataupun menatap kearah sahabatnya
Raina dan Vina pun merasa heran, apa yang terjadi pada sahabat nya yang kurang bergairah.
"Ada apa dengan Dini? dia terlihat sedih dan murung saat ini." Tanya Prisha
"Aku tidak tahu. Mungkin dia baru saja pulih dari demamnya, maka dari itu ia masih sedikit lemah." Ujar Raina
"Mungkin saja!!" Tegun Prisha yang tetap saja bertanya-tanya bingung akan sikap sahabatnya yang berbeda dari biasanya
rambut boleh sama hitam tp hati org tidak ada yg tau bkn
bergaul boleh seperlunya saja