Nandita seorang gadis yang berusia 20thn.Ia tinggal bersama ibu dan seorang adik yg baru berusia 10thn sedangkan ayah Dita sudah tiada sejak ia duduk dibangku awal SMA.
Ia terpaksa bekerja disebuah kafe dan sebuah stasiun radio untuk membantu ibunya.sebenarnya Dita ingin sekali menjadi dokter namun cita-citanya terpaksa harus dikubur dalam-dalam karna ekonominya.
suatu hari saat Dita sedang bekerja tanpa sengaja dita bertemu dengan Daniel.
Ya Daniel adalah mantan kekesihnya.mereka putus satahun yang lalu.
Akankah Nandita dan Daniel kembali bersama?
Akankah semuanya berjalan dengan baik-baik saja lalu bagaimana usaha Daniel untuk mendapatkan Dita kembali?
Simak ceritanya y semoga kalian g kecewa happy reader y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Maelani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Nandhita masih saja memasang wajah cemberut ia begitu tidak suka dengan perlakuan Dhaniel barusan, ia pun memegangi bibirnya yang sedikit membesar akibat gigitan Dhaniel yang begitu geregetan melihat ulah Dhita dan membuatnya khawatir.
" Niel aku mau istirahat,bisa kasih tau dimana kamarnya" pintaku
"ayo aku tunjukin " Dhaniel pun berdiri lalu menarik tanganku dengan terpaksa aku pun mengikuti nya naik ke lantai dua dimana hanya terdapat berisan kamar yang saling berhadap-hadapan.
Dhaniel pun berhenti disalah satu kamar dan membukanya
" masuk lah ini kamar kita"
" apa kamar kita? " ulangku seakan tak percaya
" iya. kenapa? "
" takut kalo kita tidur satu kamar?" lanjutnya dengan nada sedikit menggoda
" ish...ya wajar lah kalau aku takut " jawabku kesal
" tenang aja aku gak bakal macem-macem kalau kamunya nurut " ucapnya santai sambil menyandarkan tubuhnya pada tembok
" sudah sana, katanya mau istirahat " perintahnya sambil mendorong tubuhku agar masuk kedalam kamar yang telah ia buka
" aku kebawah lagi ya mau gabung sama yang laen dulu " ucapnya sambil mengacak-acak rambutku Dhaniel pun tersenyum sangat manis hingga membuatnya semakin menawan ia pun segera keluar dan menutup kembali pintu kamar.
Aku pun berjalan menuju pintu yang ada didalam kamar itu yang aku yakini itu adalah kamar mandi aku pun membukanya dan benar saja kamar mandi yang cukup luas aku pun segera menanggalkan semua pakaianku dan berendam dengan air hangat
Setelah hampir 15 menit aku berendam akhirnya aku pun menyudahi mandiku.
aku hanya bisa menepuk jidatku mana kala ingat kalau aku tak membawa handuk dan pakaian ganti ranselku masih ada di bagasi mobil Dhaniel akhirnya aku pun memakai kembali pakaian yang tadi ku kenakan
" biarlah dibilang jorok dari pada tidak pakai baju " pikirku
setelah selesai aku pun segera keluar dari kamar mandi dan merebahkan tubuhku pada kasur empuk yang terlihat sangat nyaman dan benar saja begitu aku merebahkan tubuhku diatasnya terasa begitu dingin dan nyaman hingga membawaku dalam sekejap ke alam mimpi
sementara itu di lantai satu nampak.semuanya berkumpul terkecuali Nandhita
" wah ternyata sang tuan muda bener-bener udah bucin nih " ejek Pian sambil tersenyum mengejek kearah Dhaniel
" iya nih Niel kayanya loe kena karma dah " timpal Andreas
" karma? emang kenapa kok kena karma " tanya Hesti dengan wajah bingungnya
" ya ...kan dulunya dia jadiin Dhita pacar tuh gara-gara taruhan Hes, trus ketauan dan putus trus dia pergi kuliah ke Ausi berhubung dah cinta mati dia balik lagi kesini dan kuliah ditempat yang sama ama Dhita " jelas Andreas
Dhaniel yang sedang asik memakan kacang kulit langsung melemparkan kacang kearah Andreas karena kesal di ingatkan kembali pada masa lalunya
" sial emang gw monyet apa loe timpuk pake kacang " umpat Andreas yang mengambil kacang tadi dipakai untuk menimpuknya lalu mengupasnya
Pian dan yang lain yang ada disana dan mendengar umpatan Andreas langsung tertawa bersama'an
Hari pun sudah semaki malam hawa dingin puncak mulai terasa hingga menusuk dipori-pori.
Dihalaman belakang nampak sudah tertata rapi semua peralatan untuk memanggang dan beberapa cemilan serta tak ketinggalan jagung untuk dibakar nanti.
" Niel mana pacar loe g disuruh gabung " tanya Hesti
" bentar lagi "
" jangan lupa ya nanti kita harus kelihatan mesra gw pengen tahu dia cemburu apa g" pinta Dhaniel pada Hesty sang tunangan resminya
" g apa-apa kan Ndy " ucap Dhaniel meminta persetujuan pada Hendy kekasih Hesty
" santai aja bro " jawab Hendy sambil menghirup rokoknya lalu menghembuskan asapnya
" gw ke atas dulu ya "
Dhaniel pun segera berlari menuju lantai 2 untuk memanggil Dhita
tok...tok...tok
" beib kamu udah bangun " tanya Dhaniel dari balik pintu
" sudah" jawab Dhita
Dhaniel pun membuka pintu dan melihat Dhita sedang duduk di pinggir balkon
" ayo turun anak-anak udah pada nunggu tuh " ajak Dhaniel sambil menarik tanganku
" boleh g kalo aku g ikut gabung" tanyaku sambil menarik tanganku yang digenggam Dhaniel, ia pun berhenti dan menatap kearahku
" kenapa"
" males aja"
" g bisa kamu harus ikut gabung " ucap Dhaniel sambil menarik kembali tanganku
" ayolah Niel please, aku males gabung " pinta ku dengan nada memohon
" g ada alesan Dhita" jawab Dhaniel tegas
akhirnya aku pun pasrah mengikuti Dhaniel bergabung bersama teman-temannya
" wahhh akhirnya dia gabung juga" ucap Pian ketika melihat kehadiranku yang ditarik paksa oleh Dhaniel
" hai sini gabung " ajak seorang wanita dengan nada lembut yang ternyata adalah Hesti tunangannya Dhaniel
aku pun menghampiri ke empat wanita yang yang sedang asik ngobrol nampak mereka sudah akrab.
entah memang karena aku yang kurang suka bergaul atau memang aku malas berinteraksi dengan mereka aku merasa berat untuk ikut nimbrung disana.
setelah lewat tengah malam aku pun pamit untuk istirahat duluan aku pun langsung merebahkan tubuhku di atas kasur yang super besar itu lalu menarik selimutnya karena memang udara puncak yang terkenal dinginnya walau tanpa pendingin ruangan udara sudah terasa sejuk hingga membuatku dengan cepat terlelap.
Tanpa terasa pagi pun tiba, aku sedikit terkejut begitu melihat Dhaniel yang masih terlelap dibalik selimutnya.
sejenak aku pun memperhatikan wajahnya yang begitu terlihat tampan walaupun masih tertidur kulit yang begitu putih bersih tanpa ada bekas noda setitik pun aku pun membayangkan jika diwajah yang putih mulus itu ada sebuah jerawat pasti terlihat lebih manis aku pun tersenyum sendiri membayangkannya,bulu mata yang panjang walau tidak lentik tetapi entah kenapa aku membayangkan kalau bulu mata Dhaniel itu lentik pasti terlihat lebih bagus,entah ide dari mana aku pun segera turun dari tempat tidur dan menuju tas ranselku lalu mengambil peralatan kosmetikku lalu ku menghampiri kembali Dhaniel yang masih terlelap.
aku pun memberi titik merah kecil dengan lipstik yang aku bawa pada pipi Dhaniel, lalu menjepit bulu matanya dengan alat penjepit bulu mata yang kubawa lalu mengabadikannya dengan kamera ponselku
aku pun tersenyum puas melihat hasil karyaku diwajah tampan Dhaniel.
" apa sudah puas bermain dengan wajah tampanku " ucap Dhaniel dengan suara serak khas orang baru bangun tidur
aku pun terkejut karena aku pikir ia masih tidur " a..aa..apa ,aku g ngapa-ngapain kok" ucapku dengan terbata-bata
" oh ...yah..." balasnya sambil merubah posisinya dari yang semula terbaring kini memiringkan badannya menghadap Dhita dengan sebelah tangan ia gunakan untuk menyangga kepalanya
" beib kenapa ngelamun ayo sini kalau masih bermain-main dengan wajah tampanku " ucapnya sambil tersenyum tetapi melihat itu Dhita menjadi sedikit curiga dengan senyuman yang ia lontarkan untuknya.
" g ah aku udahan mainnya"
" ayo kita jalan pagi Niel " ajak Dhita
" g ah, aku masih mau tidur kamu aja gih tapi ingat jangan jauh-jauh "
Dhitapun hanya membalasnya dengan anggukan kepala lalu ia membuka pintu dan berjalan keluar kamar membiarkan Dhaniel yang kembali menarik selimut tebalnya hingga batas dada.
Dhita pun berjalan menyusuri jalan pedesaan yang terlihat begitu indah sesekali ia melepas alas kakinya dan menginjak-injak rumput membiarkan air embun membasahi kakinya.
Saat ia sedang asik bermain embun matanya terpaku pada sebuah gubuk kecil di pinggir jalan
" sepertinya itu warung" ucap Dhita pelan pada diri sendiri
ia pun berjalan kearah warung
" permisi, bu ada jual apa aja " tanya Dhita pada pemilik warung
" ada gorengan neng tapi masih digoreng " jawab si ibu penjual gorengan sambil tersenyum ramah pada Dhita
" ya udah saya tungguin deh bu"
" sok atuh neng kalau mau nunggu mah " ucap si ibu penjual dengan logat khas sundanya
Dhita pun duduk dibangku panjang yang tersedia didepan warung sambil memakan sebuah goreng pisang yang masih hangat dan ia pun memesan secangkir kopi .
ia nampak begitu menikmati suasana di pagi itu sambil berbincang-bincang dengan penjual gorengan.
entah kenapa ia bisa cepat akrab dengan penjual gorengan itu, apa karena ia berasal dari orang biasa sama seperti si ibu penjual makanya ia bisa cepat dekat dan nyaman berada diwarung kecil itu dibanding berada di villa nan megah milik Dhaniel.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai para reader author mohon maaf ya karena kemarin g bisa up
jangan lupa author minta dukungannya nih jika kalian suka dengan cerita nya jangan lupa
- Like
- Vote n
- komennya ya
Terima kasih
by love/ Author
Amel