Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*19
"Tuan muda. Makanlah sedikit. Jika tidak, tubuh tuan muda tidak akan sanggup menahannya."
"Tidak. Aku tidak ingin makan, Dion. Aku hanya ingin, Aina. Jika dia tidak ada di sini, maka aku tidak akan mau makan."
Tubuh kurus itu terlihat semakin kurus saja. Bagaimana tidak? Sejak kehilangan Ain, Rain tidak terlihat seperti manusia pada umunya lagi. Dia seolah sudah kehilangan sukma. Raga itu seolah telah kosong saja sekarang.
Makan harus dipaksakan. Minum pun harus dipaksakan. Singkatnya, Rian tidak tertarik dengan makan, tidak tertarik dengan apapun. Yang dia tahu hanya foto Aina dan juga laporan kehamilan yang dia anggap sebagai anaknya. Hanya itu saja.
"Tuan muda. Apakah anda yakin kalau nona Aina masih hidup?"
Seketika, Rain menoleh. Anggukan cepat dia berikan. "Tentu saja, Dion. Tentu saja. Aku yakin. Sangat yakin. Ain, Ain masih hidup. Dia hanya sedang bersembunyi dari aku. Dia, tidak. Jangan-jangan, dia sedang di sembunyikan oleh seseorang, Dion."
Emosi Rain kembali naik. Cepat-cepat Dion menahan tubuh tuan mudanya. Berusaha dengan cepat untuk mengajak Rain bicara agar pria itu bisa mendengarkan perkataannya dengan baik.
"Tuan muda. Dengarkan saya! Jika tuan muda masih yakin bahwa nona Aina masih hidup. Anda harus bertahan mulai dari sekarang. Lalu, jika anda berpikir bahwa nona Aina saat ini sedang di sembunyikan oleh seseorang, maka anda harus kuat mulai dari detik ini. Tuan muda harus bisa mengalahkan orang tersebut agar tuan muda bisa menyelamatkan nona Ain."
Rain langsung menatap Dion dengan tatapan lekat setelah kata itu menyapa telinganya. Sepertinya, kata-kata barusan cukup untuk membangkitkan api semangat yang ada di dalam hati Dion.
Manik mata Rain langsung terlihat bercahaya. Sungguh, kata-kata itu benar-benar senjata yang sangat berguna untuk Rainer. Anggukkan pelan penuh semangat langsung terlihat.
"Iya-iya. Kamu, kamu benar, Dion."
Tangan kurus Rain langsung menyentuh pundak Dion dengan cepat. "Kamu benar. Aku yakin Ain masih hidup. Jadi aku tidak boleh jatuh lagi sekarang."
"Ya. Aku harus lebih kuat. Aku harus tetap baik-baik saja. Aku harus bisa menyelamatkan Aina yang disembunyikan oleh seseorang di suatu tempat."
"Baik-baik saja. Harus baik-baik saja."
Semangat itu terlihat sedikit berlebihan. Dion tiba-tiba menjadi was-was akan apa yang telah dia katakan sebelumnya. Batinnya malah merasa dilema dengan apa yang telah terjadi saat ini. Benaknya pun langsung mempertanyakan, benarkah apa yang ia lakukan barusan?
Tapi, setidaknya, untuk saat ini, itu mungkin akan baik-baik saja. Mungkin kata-kata itu bisa menjadi penyelamat untuk Rain. Masalah yang akan ditimbulkan oleh ucapan itu, biarlah dipikirkan di kemudian hari.
...
Beberapa hari telah berlalu. Kata-kata yang Dion ucapkan ternyata cukup efektif untuk Rain. Terbukti, sekarang, pria itu tidak lagi mogok makan. Tidak pula terus mengurung diri di kamar. Bahkan, sudah mau diobati oleh dokter.
"Tuan muda."
"Bi Tari. Porsi makanan ku harus di tambah mulai dari hari ini."
Sedikit terkejut, si bibi pun langsung membeku di samping ranjang Rain. "Tu-- tuan muda. Maksudnya?"
"Aku akan banyak makan mulai dari sekarang. Aku harus baik-baik saja. Ah, tidak. Aku harus lebih baik mulai dari sekarang. Istriku sedang menunggu aku. Jadi, harus lebih baik."
Si bibi bingung harus jawab apa. Saat itu pula, Dion yang selalu setia di sisi Rain datang. Si bibi langsung menoleh ke arah tangan kanan tuan mudanya dengan wajah meminta penjelasan.