NovelToon NovelToon
IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romantis / Ibu susu / Ibu Pengganti / Duda / Romansa
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.

Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.

Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.

“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Pertemuan yang Hancur

Meskipun pagi tadi ia sudah menghabiskan waktu yang begitu indah bersama Maya dan Leon di kebun binatang, momen yang hampir membuatnya lupa akan segala masalah, janjinya pada Sofia memaksanya kembali ke realitas yang memuakkan ini.

Ia sengaja tidak memberitahu Maya. Ia ingin menyelesaikan urusan ini secara jantan, sebagai seorang pria, tanpa membiarkan Maya menjadi sasaran hinaan lagi.

Sebelum keluar dari mobil, Arkan menarik napas panjang berkali-kali. Ia memandangi pantulan dirinya di spion tengah, mencoba menghilangkan raut kemarahan dan menggantinya dengan ketenangan dingin.

“Selesaikan ini sekarang juga, Arkan,” batinnya tegas.

Begitu ia melangkah masuk ke area VIP, suara Sofia langsung memecah keheningan. “Nah, itu dia! Arkan, sini Sayang!”

Di sana, Anggun duduk dengan sangat tegak, jemarinya sibuk merapikan mini dress ketatnya yang berwarna merah menyala, mencoba menarik perhatian Arkan. Wahyu Sudrajat dan Ningsih menatap Arkan dengan binar kekaguman, seolah Arkan adalah komoditas bisnis yang sangat berharga.

Arkan menarik kursi, namun ia tidak langsung duduk. Ia berdiri dengan tangan di saku celana, menatap satu per satu orang di meja dengan pandangan datar.

“Selamat malam,” sapa Arkan singkat.

“Arkan, duduklah dulu. Kita baru saja memesan hidangan pembuka,” ujar Wahyu Sudrajat dengan nada sok akrab. “Kami senang akhirnya kamu mau datang.”

Sofia tersenyum lebar, merasa menang karena Arkan datang sendirian. “Arkan. Malam ini kita bicara sebagai keluarga besar saja. Anggun sudah tidak sabar ingin mengobrol banyak denganmu.”

Anggun tersenyum manis, “Iya, Arkan. Aku sudah memikirkan rencana liburan kita bulan depan kalau kita sudah… kau tahu, lebih akrab lagi.”

Suasana di meja makan itu mendadak terasa sedikit lebih rileks bagi keluarga Sudrajat, namun Sofia justru merasa ada yang tidak beres dengan ketenangan putranya.

Arkan kini makan dengan dengan cara yang sangat lahap, seolah ingin segera menyelesaikan formalitas ini agar bisa pulang ke rumah, ke tempat di mana ia merasa benar-benar tenang.

“Arkan, kamu terlihat sangat kelaparan. Apa kamu belum makan?” tanya Wahyu Sudrajat sambil tertawa kecil, mencoba mencairkan kekakuan.

Arkan meletakkan peralatan makannya dengan bunyi denting pelan yang tegas. Ia meminum air putihnya, lalu mengilap bibirnya dengan serbet kain secara perlahan.

“Tidak, di rumah aku tidak kekurangan apa pun. Perutku selalu kenyang karena makanan dan camilan tidak pernah kosong,” sahut Arkan santai. Namun, dalam hatinya, ia membayangkan masakan sederhana Maya yang jauh lebih ia nikmati daripada hidangan mewah di depannya ini.

Ningsih, yang merasa momen ini tepat untuk masuk ke inti pembicaraan, melirik putrinya dengan bangga. “Nak Arkan, bagaimana menurutmu tentang putri kami, Anggun?” tanya Ningsih.

Anggun segera menundukkan kepala, memamerkan ekspresi malu-malu kucing, berpura-pura menjadi wanita polos yang sangat berpendidikan di depan calon suaminya.

Arkan menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menatap Anggun dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang sulit dibaca, datar namun tajam.

“Anggun wanita yang cantik. Berkelas, seperti yang Papa dan Mama bilang,” ucap Arkan memulai, membuat wajah Sofia dan keluarga Sudrajat berseri-seri. Namun, Arkan belum selesai. “Tapi sayangnya, tipe wanita seperti ini… biasanya hanya cocok untuk dipajang di pesta, bukan untuk menjadi seorang ibu bagi Leon atau teman diskusi di meja makan setiap malam.”

Seketika, senyum di wajah Anggun membeku. Sofia tersedak minumannya, sementara Wahyu Sudrajat meletakkan gelasnya dengan keras ke meja.

“Arkan! Apa maksudmu bicara begitu?” bentak Rangga Pradipa tak sabar.

“Aku bicara jujur, Pa,” jawab Arkan tenang. “Tadi Tante Ningsih bertanya bagaimana pendapatku, kan? Aku rasa Anggun terlalu mahal untuk hidupku yang sederhana bersama seorang bayi. Dia tidak akan sanggup mengurus popok atau terbangun jam tiga pagi karena Leon menangis. Dan aku…aku tidak butuh istri yang hanya tahu cara berdandan.”

Jawaban singkat Arkan yang terkesan meremehkan itu bagaikan siraman air es di tengah suasana makan malam yang formal. Wajah Anggun yang tadinya tertunduk malu-malu kini berubah menjadi tegang, rahangnya mengeras menahan amarah yang mulai naik ke ubun-ubun karena merasa harga dirinya sebagai wanita sosialita diinjak-injak.

Rangga Pradipa, yang menyadari situasi mulai tidak terkendali, berdehem keras untuk menekan emosi Arkan. “Arkan, bukankah Anggun cocok menjadi ibu sambungnya Leon? Dia cantik, berpendidikan, dan keluarganya sangat terhormat. Apa lagi yang kau cari?” tanya Rangga Pradipa dengan nada yang lebih mirip perintah daripada pertanyaan.

Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru menyadarkan punggungnya dengan santai, sebelah tangannya terangkat untuk mengelus dagunya yang mulus, menunjukkan bahwa ia sedang memegang kendali penuh atas percakapan ini.

“Hem!” Arkan mengeluarkan suara gumaman yang dingin. “Kalau aku bilang tidak cocok, kalian pasti tetap memaksaku untuk menikah dengannya, kan?”

Mata Arkan beralih menatap Sofia yang kini tampak mulai gelisah, lalu beralih ke Rangga Pradipa yang bola matanya seolah ingin keluar karena menahan kesal.

“Dengar,” lanjut Arkan sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat seluruh orang di meja itu ikut mendekat secara refleks. “Kalian bicara soal kecocokan seolah sedang memilih barang di katalog. Tapi bagi Leon, kecocokan itu bukan soal gelar atau baju mahal. Kecocokan itu soal kasih sayang yang tulus, soal siapa yang tetap mendekapnya saat dia menangis di tengah malam.”

Arkan melirik Anggun dengan senyum sinis. “Pertanyaannya, Anggun… apakah kau siap jika bajumu yang mahal itu terkena muntahan bayi? Atau apakah kau siap jika waktumu di salon berkurang drastis karena harus mengurus putraku?”

Anggun terdiam seribu bahasa, ia hanya mampu melirik orang tuanya dengan tatapan meminta tolong.

“Jika kalian ingin mencari istri untukku agar bisnis kalian lancar, silakan cari wanita lain,” tegas Arkan. “Tapi jika kalian mencari ibu untuk Leon, orangnya bukan yang duduk di depanku ini.”

Tawa lebar Arkan pecah, menggema di sudut restoran ekslusif itu, membuat beberapa tamu di meja lain sempat menoleh. Namun, tawa itu bukanlah tawa bahagia, melainkan tawa yang membuat bulu kuduk Sofia dan Rangga Pradipa meremang.

Anggun semakin erat meremas pinggiran roknya. Wajahnya yang cantik kini terlihat kaku karena menahan malu dan emosi. “Sial! Masih mending aku mau datang memenuhi perjodohan ini. Dasar pria sombong!” gerutunya dalam hati, meski bibirnya masih terkunci.

“Arkan! Jaga bicaramu di depan orang tua!” bentak Rangga Pradipa, wajahnya sudah gelap karena malu yang luar biasa.

Arkan menghentikan tawanya secara medadak. “Aku menjaga bicaraku, Pa. Aku hanya sedang menyelamatkan masa depan putraku,” sahut Arkan tenang. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda yang membuat semua orang di meja itu terkejut.

“Leon sudah memiliki sosok ibu. Seseorang yang tidak peduli kulitnya kusam karena kurang tidur demi menenangkan Leon. Seseorang yang tidak peduli bajunya basah karena memberikan kehidupan untuk putraku,” ucap Arkan mantap.

Ia menatap Anggun untuk terakhir kalinya. “Maaf, Anggun. Kau terlalu berkelas untuk kehidupan kami yang penuh dengan air mata. Cari saja pria lain yang tidak memiliki buntut seperti aku.”

BRAAK!!

Gebrakan meja itu menciptakan dentuman keras yang membuat suasana restoran yang elegan seketika mencekam. Beberapa alat makan perak terpental, dan air di dalam gelas tumpah membasahi taplak meja yang putih bersih.

Rangga Pradipa berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah padam menahan murka yang sudah sampai ke ubun-ubun. “Arkan! Kau sudah berani!” kalimat Rangga Pradipa terputus oleh amarah yang menyesakkan dadanya.

Namun, Arkan tidak gentar sedikit pun. Ia justru berdiri tegak, membalas tatapan tajam Papanya dengan sorot mata yang penuh determinasi. Kesabrannya telah habis.

“Papa mau bilang apa?” Arkan menunjuk dadanya sendiri dengan telunjuknya, suaranya naik namun tetap terkendali. “Pa, aku sudah memiliki kehidupanku sendiri! Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kalian atur dan urus sesuai ambisi kalian!”

Pandangan Arkan beralih sejenak ke arah Anggun yang kini wajahnya pucat pasi karena ketakutan sekaligus terhina. “Aku tahu niat Papa dan Mama menjodohkanku dengan wanita ini. Di mata kalian, wanita yang berpura-pura manis ini adalah sosok yang sempurna karena status dan kelasnya. Tapi kalian salah!”

Arkan menggelengkan kepala dengan raut kecewa yang mendalam. Ia teringat bagaimana Maya dengan tulus merawat Leon. “Aku lebih tahu siapa sosok wanita yang pantas menjadi ibu bagi Leon. Bukan kalian, dan jelas bukan pilihan kalian!” tegas Arkan.

Kalimat itu menjadi titik akhir. Tanpa menunggu balasan dari Sofia yang mulai menangis atau Wahyu Sudrajat yang tampak hendak membalas makiannya, Arkan memutar tubuhnya. Ia melangkah lebar, sepatu kulitnya berbunyi tegas di atas lantai marmer, meninggalkan ruangan itu.

Keadaan di dalam restoran itu benar-benar menjadi ajang penghinaan yang berbalik arah. Wahyu Sudrajat, yang merasa harga diri keluarganya baru saja diinjak-injak oleh seorang pria yang mereka anggap pria duda biasa, tidak bisa lagi menahan kemarahannya.

“Anggun, ayo! Kita pergi dari sini!” geram Wahyu Sudrajat sambil menyambar pergelangan tangan putrinya.

Rangga Pradipa, yang takut kehilangan relasi bisnis dan koneksi sosialnya, panic. Ia bergegas mengejar langkah keluarga Sudrajat yang sudah sampai di ambang pintu ruangan.

“Pak… Pak Wahyu, tunggu sebentar, Pak!”

Wahyu menghentikan langkahnya secara mendadak, memutar tubuh dengan tatapan yang bisa membakar siapa saja. “Apa lagi yang ingin Bapak katakan?!”

Rangga Pradipa sedikit menunduk, sebuah gesture memohon yang sangat jarang ia tunjukkan. “Maafkan atas sikap kasar putra kami. Dia sedang lelah, dia tidak bermaksud—”

“Tidak ada kata maaf untuk keluarga kalian!” potong Ningsih dengan suara melengking penuh emosi. Ia berdiri di samping suaminya dengan dagu terangkat tinggi. “Kalian sudah menghina putri kami di depan muka kami sendiri! Kalian pikir siapa putra kalian?”

Ningsih menunjuk ke arah lorong tempat Arkan pergi. “Putra kalian itu hanya seorang pria yang pernah kehilangan istrinya. Duda! Bahkan statusnya saja hanya seorang dokter biasa yang menghamba pada gaji rumah sakit!”

Ningsih kemudian merangkul bahu Anggun yang masih memasang wajah pura-pura sedih dan terluka. “Lihat Anggun! Dia adalah seorang Dermatologist terkenal, pemilik Glow Aesthetic Clinic yang sudah memiliki 10 cabang utama di masing-masing kota besar, belum lagi 10 lagi cabang pembantunya! Dia miliarder muda! Sedangkan anak kalian? Dia masih bekerja di bawah perintah orang lain di rumah sakit!”

Mendengar itu, Sofia lemas. Lututnya seolah kehilangan tulang. Harapannya untuk berbesanan dengan konglomerat itu sirna dalam sekejap.

“Mulai sekarang, kita putus hubungan! Jangan pernah hubungi kami lagi!” tutup Ningsih dengan ketus. Ia, Wahyu, dan Anggun berbalik dan melangkah lebar meninggalkan restoran dengan penuh kebencian.

Sofia yang sudah tidak berdaya akhrinya menjatuhkan tubuhnya ke pelukan sang suami. “Sayang… hancur sudah semua harapan kita,” isaknya dengan suara parau.

Rangga Pradipa tidak menjawab, namun jemarinya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam ke arah lorong.

“Arkan, dia benar-benar berniat menjatuhkan martabat keluarga Pradipa di depan semua orang,” desis Rangga Pradipa dengan nada mengancam. “Karena dia sudah berani bermain-main dengan kehormatan kita, maka Papa sendiri yang akan memberinya perhitungan!”

...❌ Bersambung ❌...

1
meimei
ayo kak semangat aku mendukung mu
Dewi Payang
Dokter Arkan memang beda🤭
Dewi Payang
Dan jaman dulu banyak pula bu yh mati karena beranak.....😭
Dewi Payang
Dua²nya pak dokter, mungkin juha karena oak dokter sudah tua🤣🤣🤣 ups🤭
Mita Paramita
semangat Thor nulisnya 🔥🔥🔥aku selalu kasih like👍
Dewi Payang
Gimana rasanya Dina, bobok sama pria kumuh, ups🤭🤭🤭🤭
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
~~N..M~~~
/Casual/ mataku dan otakku mulai ternodai oleh arkan
~~N..M~~~
Jangan sedih Yudha.
Chici👑👑
Like + nonton iklan
sari. trg: makasih /Smile/, kk
total 1 replies
Chici👑👑
mokondo emang mesti di sleding kanyutt nya/Doubt/
Chici👑👑
sungguh berat jadi maya🤧.. maaf thor aku baru baca lagi
Chici👑👑: Kaka author mampir juga yuk di novel kedua ku judul nya GADIS POLOS UNTUK DOKTER KULKAS
total 2 replies
~~N..M~~~
jaga maya, ya yudha
~~N..M~~~
harta, martabat menggelapkan pikiran seseorang
~~N..M~~~
sabar ya, may. aku yakin semuanya akan berakhir
~~N..M~~~
kau pikir bagus kali tuh anggun
~~N..M~~~
jngan kasih kendor. jngan takut juga may
~~N..M~~~
pingin peluk yudha
~~N..M~~~
sofia kejam sekali kau pada yudha. Ternyata, masa kecil yudha menyedihkan
~~N..M~~~
syukurnya arkan dan yudha tak memiliki sifat yg sama dgn mama dan ppanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!