NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: tamat
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Pencarian Tanpa Henti

#

Hari pertama.

Arkan keliling Jakarta. Dari pagi sampe malem. Nggak pulang. Nggak makan. Cuma... cuma nyari.

Dia ke pasar-pasar tempat Zahra biasa ambil cucian. Tanya ke ibu-ibu penjual sayur, tukang daging, pedagang asongan. Nunjukin foto Zahra di telepon genggamnya.

"Bu, pernah liat cewek ini? Namanya Zahra. Dia... dia buruh cuci. Biasa lewat sini."

Ibu-ibu itu geleng-geleng kepala. "Nggak pernah liat nak. Maaf ya."

Arkan ke warung-warung kecil di pinggir jalan. Ke tukang gorengan. Ke penjual es teh. Ke mana aja yang mungkin Zahra pernah lewat.

"Mas, ini cewek berjilbab. Tinggi nya segini. Kurus. Mata nya... mata nya bening. Pernah liat?"

"Waduh mas, cewek berjilbab mah banyak lewat sini. Nggak inget yang mana."

Arkan ke masjid-masjid. Tanya ke pengurus. Ke jamaah yang lagi ngaji. Ke siapa aja.

"Pak Ustadz, ini... ini temen saya. Dia suka sholat disini. Zahra namanya. Apa... apa Bapak tau dia sekarang dimana?"

"Maaf nak. Banyak jamaah disini. Saya nggak hapal satu-satu."

Satu tempat. Dua tempat. Sepuluh tempat. Dua puluh tempat.

Nggak ada yang tau.

Nggak ada yang kenal.

Kayak Zahra... kayak Zahra beneran menghilang dari dunia.

"Zahra... dimana kamu... please... kasih aku petunjuk... apa aja..."

---

Hari kedua.

Arkan inget Siti. Sahabat Zahra. Kalau ada yang tau... pasti Siti.

Dia cari info tentang Siti. Tanya ke Bu Ria yang masih di kontrakan sebelah rumah Zahra yang lama.

"Bu, Zahra punya temen deket namanya Siti. Apa Ibu tau dimana dia tinggal?"

Bu Ria mikir sebentar. "Oh Siti yang jualan gorengan di pasar itu ya? Coba ke Pasar Minggu nak. Dia biasa jualan di sana. Deket pintu masuk sebelah kiri."

"Makasih Bu!"

Arkan langsung ngebut ke Pasar Minggu. Parkir sembarangan. Lari masuk pasar yang rame, panas, bau ikan campur sayur busuk.

Dia nyari. Nyari di antara lapak-lapak pedagang.

Sampe ketemu. Siti. Lagi goreng tahu di wajan gede. Minyak mendidih. Keringet ngucur di dahinya.

"Siti!"

Siti noleh. Kaget liat Arkan.

"Mas... Mas Arkan? Kok... kok kesini?"

Arkan langsung ke depan lapak. Napas ngos-ngosan. "Siti... Zahra... Zahra dimana? Kamu tau kan? Please... please kasih tau aku..."

Siti diem. Mukanya... mukanya jadi tegang.

"Maaf Mas. Saya... saya nggak tau."

"Jangan bohong!" Arkan naikkin suara. Beberapa pembeli ngeliatin. "Kamu sahabat nya! Pasti kamu tau! Dia... dia pasti bilang ke kamu! Please Siti... aku mohon... aku... aku harus ketemu dia..."

Siti ngeliatin Arkan. Mata Arkan merah. Wajah pucat. Baju kusut. Rambut acak-acakan. Kayak... kayak orang yang udah nggak waras.

"Mas... Mas pulang dulu. Mas... Mas keliatan nggak sehat. Mas—"

"AKU NGGAK PEDULI AKU SEHAT ATAU NGGAK!" Arkan teriak. "Yang penting aku... aku harus ketemu Zahra! Dimana dia Siti?! DIMANA?!"

Pembeli-pembeli yang tadi ngeliatin mulai bisik-bisik. Siti panik.

"Mas tolong... tolong kecilkan suara Mas. Nanti... nanti ganggu pembeli yang lain..."

"Aku nggak bakal kecil suara sampe kamu bilang dimana Zahra!" Arkan pegang tangan Siti. Erat. Napas nya berat. "Please Siti... kumohon... sebagai manusia... sebagai sesama yang pernah ngerasain cinta... please... kasih tau aku dimana dia..."

Siti... Siti nangis. Air mata keluar begitu aja.

"Mas... Zahra... Zahra minta saya nggak boleh kasih tau siapa pun. Termasuk Mas. Dia... dia bilang kalau Mas cari dia... saya harus bilang nggak tau. Dia... dia minta tolong saya... dan saya... saya nggak bisa ngecewain dia..."

"Tapi kamu ngecewain aku!" Arkan nangis. "Kamu... kamu tau nggak gimana sakit nya aku?! Gimana... gimana rasanya kehilangan orang yang paling kamu cinta tanpa tau dia dimana?! Kamu... kamu pernah ngerasain itu?!"

"Saya ngerasain Mas... saya ngerasain... tapi saya juga ngerasain gimana sakit nya Zahra waktu mutusin pergi. Dia... dia nangis tiap malem. Nggak bisa tidur. Nggak bisa makan. Dia... dia sakit Mas. Sakit banget. Tapi dia tetep pergi... karena dia sayang Mas. Karena dia... dia nggak mau jadi beban Mas."

"Dia bukan beban!" Arkan teriak lagi. "Dia... dia nggak pernah jadi beban! Kenapa... kenapa dia nggak ngerti?!"

"Karena Mas dari dunia yang beda!" Siti balik teriak. Semua orang di pasar sekarang ngeliatin mereka. "Mas kaya! Zahra miskin! Mas punya keluarga! Zahra cuma punya Bapak yang sakit! Mas... Mas nggak ngerti gimana rasanya jadi Zahra! Nggak ngerti gimana... gimana susah nya dia bertahan hidup tiap hari sambil... sambil cinta sama orang yang dunia nya berbeda jauh!"

Arkan diem. Kata-kata Siti... kata-kata Siti kayak tamparan.

"Saya... saya ngerti Mas cinta Zahra. Saya ngerti Mas berjuang. Tapi... tapi kadang cinta itu nggak cukup Mas. Kadang... kadang kita harus rela lepas orang yang kita sayang. Biar mereka... biar mereka bisa bahagia dengan cara mereka sendiri."

"Tapi Zahra nggak bakal bahagia tanpa aku..." Arkan bisik. Suara nya pecah. "Sama kayak aku... aku nggak bakal bahagia tanpa dia..."

Siti ngelap air mata. "Maaf Mas. Saya... saya nggak bisa kasih tau. Saya... saya udah janji sama Zahra. Dan saya... saya nggak mau ngecewain dia. Dia... dia udah cukup kecewa sama hidup."

Arkan diem lama. Natap Siti. Terus... terus lepas pegangan tangan Siti.

"...oke. Aku ngerti. Maafin aku udah maksa kamu. Maafin aku udah... udah teriak-teriak. Aku cuma... aku cuma desperate. Aku... aku nggak tau harus gimana lagi..."

"Saya ngerti Mas. Dan... dan saya doain Mas. Doain Mas bisa... bisa ikhlas. Bisa... bisa move on."

"Aku nggak bakal pernah move on." Arkan senyum sedih. "Zahra itu... dia satu-satu nya. Dan aku... aku bakal nunggu dia. Sampe kapanpun. Sampe... sampe dia balik."

Siti diem. Nggak tau harus bilang apa.

Arkan berbalik. Jalan keluar pasar. Langkah berat. Kayak kaki nya nggak ada tenaga.

"Zahra... even sahabat kamu nggak mau kasih tau... kamu... kamu beneran nggak mau ketemu aku ya..."

---

Hari ketiga.

Arkan keliling lagi. Ke kampung-kampung miskin di Jakarta. Ke kontrakan-kontrakan kumuh. Ke tempat-tempat yang mungkin Zahra pindah.

Dia nanya ke satpam komplek. Ke tukang parkir. Ke pedagang kaki lima.

"Ada keluarga baru pindah kesini? Bapak tua sama anak perempuan berjilbab?"

"Nggak ada mas."

"Ada yang nyewa kontrakan baru? Cewek namanya Zahra?"

"Nggak ada."

"Tolong inget-inget. Cewek nya kurus. Pendek. Mukanya polos. Mata nya bening. Please... please bantu aku..."

Tapi semua jawaban sama.

Nggak ada.

Nggak tau.

Nggak kenal.

Arkan mulai kehilangan harapan. Tapi dia nggak berhenti. Nggak bisa berhenti.

Karena berhenti berarti... berarti dia menyerah.

Dan dia nggak bakal pernah menyerah soal Zahra.

---

Hari keempat.

Arkan nggak tidur. Sama sekali. Dari tiga hari lalu dia cuma... cuma jalan. Nyari. Nanya. Jalan lagi.

Makan juga cuma... cuma kalau ada yang ngasih. Atau kalau Alisha maksa suruh makan.

Badan nya mulai lemah. Kepala pusing. Penglihatan kadang kabur.

Tapi dia tetep jalan.

"Zahra... aku janji... aku janji bakal cari kamu... nggak peduli berapa lama... nggak peduli seberapa susah... aku... aku bakal cari..."

Siang itu dia ke rumah sakit tempat Bapak Zahra dulu dirawat. Pikir mungkin... mungkin ada rekam medis atau alamat baru.

"Permisi suster, saya cari data pasien. Nama nya Haji Ahmad Fauzi. Dia... dia pernah dirawat disini beberapa bulan lalu."

Suster ngecek komputer. "Maaf pak. Data pasien itu rahasia. Nggak bisa dikasih ke sembarang orang kecuali keluarga."

"Tapi saya... saya temen keluarga. Anak nya... anak nya temen saya. Please... ini penting..."

"Tetep nggak bisa pak. Peraturan rumah sakit."

Arkan frustrasi. Pukul meja resepsionis. BRAK!

"TOLONG! AKU CUMA BUTUH ALAMAT! AKU... AKU HARUS KETEMU MEREKA!"

Satpam langsung dateng. "Pak tolong tenang. Kalau Bapak tetep ribut, kami terpaksa suruh Bapak keluar."

Arkan napas berat. Gemetar. "M-maaf... maaf saya... saya cuma... saya desperate... saya... saya nggak tau harus gimana lagi..."

"Saya ngerti pak. Tapi peraturan tetep peraturan. Silakan pulang pak."

Arkan keluar rumah sakit dengan tangan kosong. Lagi.

"Kenapa... kenapa semua jalan buntu... kenapa..."

---

Hari kelima.

Arkan mulai halusinasi. Beberapa kali dia liat Zahra di kejauhan. Di pasar. Di jalan. Di halte bus.

"ZAHRA!"

Dia lari. Kejar. Tapi pas sampe... ternyata bukan Zahra. Cuma... cuma cewek lain yang mirip dari belakang.

"Maaf... maaf saya salah orang..."

Cewek itu ngeliatin Arkan aneh terus pergi.

Arkan jatuh duduk di trotoar. Tutup muka. Nangis.

"Zahra... aku... aku udah gila... aku... aku ngeliat kamu dimana-mana padahal kamu nggak ada... aku... aku nggak kuat lagi..."

Telepon genggam nya bunyi. Alisha.

Arkan angkat. "Halo..."

"Arkan kamu dimana?! Kamu... kamu nggak pulang dari kemarin! Kakak khawatir! Kamu—"

"Kak... aku lelah... aku... aku udah cari kemana-mana... tapi... tapi nggak ketemu... Zahra... Zahra hilang Kak... dia... dia beneran hilang..."

"Arkan dengar Kakak. Kamu harus pulang. Sekarang. Kamu... kamu keliatan nggak sehat di foto yang Siti kirim ke Kakak. Kamu... kamu kurusan. Pucat. Kamu harus—"

"Aku nggak bisa pulang Kak... aku harus... harus cari Zahra... harus..."

"ARKAN!" Alisha teriak. "Kamu nggak bakal bisa cari Zahra kalau kamu sakit! Kalau kamu mati! Pulang sekarang! Kakak... Kakak jemput kamu. Kamu dimana?"

"Aku... aku di... di..."

Pandangan Arkan tiba-tiba gelap. Badan nya limbung.

"Kak... aku... aku pusing... aku..."

BRUK!

Arkan jatuh. Pingsan di trotoar. Telepon genggam jatuh di samping nya.

Dari speaker masih kedengeran suara Alisha. "ARKAN?! ARKAN JAWAB KAKAK! ARKAN!"

Orang-orang mulai berkumpul. "Eh ada yang pingsan!"

"Telepon ambulans!"

"Cepet tolong angkat dia ke pinggir jalan!"

Tapi Arkan nggak denger apa-apa. Dia... dia udah nggak sadar.

Di dalam kegelapan, dia cuma... cuma ngeliat wajah Zahra. Senyum nya. Mata nya yang bening.

"Zahra... tunggu aku... aku... aku belum selesai cari kamu... aku... aku janji bakal ketemu kamu... janji..."

---

Arkan terbangun di rumah sakit. Ruangan putih. Bau obat. Suara mesin monitor jantung yang berbunyi pip... pip... pip...

Kepala nya berat. Badan lemah. Ada selang infus di tangan kanan.

"Arkan! Syukurlah kamu bangun!"

Alisha duduk di samping kasur. Mata merah. Kayak habis nangis.

"K-kak... aku... aku dimana..."

"Kamu di rumah sakit. Kamu pingsan di jalan. Dehidrasi berat. Kurang gizi. Kelelahan akut. Dokter bilang... bilang kalau telat dikit lagi kamu bisa kena serangan jantung! Arkan... kamu sadar nggak?! Kamu... kamu nyaris mati!"

Arkan diem. Natap langit-langit.

"Mungkin... mungkin lebih baik kalau aku mati..."

"JANGAN NGOMONG KAYAK GITU!" Alisha pegang tangan Arkan. Erat. "Kamu... kamu nggak boleh menyerah! Kamu... kamu harus hidup! Buat Zahra! Kalau kamu mati... gimana kamu bisa ketemu dia lagi?!"

"Tapi aku udah cari kemana-mana Kak... udah... udah nggak ada tempat lagi... dia... dia hilang... kayak... kayak ditelan bumi..."

"Arkan... dengerin Kakak. Kamu butuh istirahat. Butuh... butuh pikiran jernih. Setelah kamu sembuh... kita cari bareng. Kakak janji bakal bantuin. Tapi sekarang... sekarang kamu harus sembuh dulu. Oke?"

Arkan diem lama. Air mata keluar pelan dari ujung mata.

"Aku kangen dia Kak... kangen banget... rasanya... rasanya kayak ada bagian dari diri ku yang hilang... kayak... kayak aku nggak lengkap... aku... aku nggak bisa hidup kayak gini..."

Alisha peluk Arkan. "Kakak tau... Kakak tau sakit nya kamu... tapi kamu harus kuat... harus... harus bertahan..."

"Buat apa bertahan kalau Zahra nggak ada..."

"Bertahan karena... karena suatu hari kamu bakal ketemu dia lagi. Kakak yakin. Kalian... kalian punya takdir. Dan takdir... takdir nggak bakal pisahin kalian selamanya."

Arkan pengen percaya. Pengen... pengen yakin.

Tapi sekarang... sekarang dia cuma ngerasa kosong.

Kosong dan... dan sendirian.

"Zahra... dimana kamu... please... please balik... aku... aku nggak kuat tanpa kamu... please..."

Tapi doa nya cuma bergema di ruangan rumah sakit yang sepi.

Nggak ada yang jawab.

Cuma... cuma suara mesin monitor jantung.

Pip... pip... pip...

Detakan jantung yang masih berdetak.

Meskipun... meskipun rasanya udah mati.

---

**BERSAMBUNG KE BAB 33...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!