Kumpulan cerita horror yang tak pernah dialami oleh orang awam.
Cover by Mpuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V a L L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sanggar Tari 3
Tokoh
Hana
Sari
Dita
Niyan
Farhan
Julius
Udin
Dug....
Dug ....
Dug ....
Menegang sesaat ...
Cepat
Cepat
Come on, Baby ...
Niyan menutup mata dan telinganya, aku dan Dita berusaha untuk menenangkan Sari bahkan antara kami berdua membantu untuk menutup mata dan telinga.
Farhan pun mengucapkan basmallah saking paniknya.
Julius dan Udin bersembunyi di joke belakang agar tak melihat pemandangan itu.
Sedetik...
2....
3....
Mobil pun dapat menyala, tanpa berlama-lama lagi, Farhan menarik tuas dan menginjak pedal gas untuk melaju selaju-lajunya.
Kreeekkkk...
Bunyi sesuatu yang terlindas oleh ban mobil.
Alhamdulillah.... Tegang pun berlalu. Sari masih menjerit menangis sejadinya. Aku panik yang tidak dapat menghentikan Sari. Aku takut Sari kesurupan. Sedangkan Dita pun bingung dan tetap berusaha untuk menenangkan Sari.
"Han, tadi bunyi apa?" Julius yang takut tiba-tiba menampilkan kepalanya sambil dagu diletakkan di bangku kursi tepat di belakang Dita.
"Kepala..." Bukan Farhan yang menjawab, melainkan Niyan.
"Jangan bercanda lu, Yan ... kita lagi ditengah hutan ini!" Udin menyambar pembicaraan mereka.
"Justru ditengah hutan begini gak boleh boong, Din!" Ucapnya lagi.
Udin dan Julius saling pandang, dan "aaaaaarrrgggghhhhhhhh.... mobil gueee...." teriak Udin seketika.
"Putar arah yuk, kita batalin aja ini percampingan kita!" ujarku yang melihat Sari seperti orang kesurupan.
"Hana, lu Jan ngaco ya .. kita udah hampir sampai." Jelas Niyan.
Farhan hanya berdiam dan melajukan mobil dengan jalan yang berkrikil, pusing mendengar perdebatan kaum wanita.
"Lu gak liat kondisi Sari? Mulai kita masuk jalan pertigaan itu gue udah punya rasa gak enak, Yan. Lu gak kasian temen lu? Nih Sari masih jerit-jerit!" ucapanku tak sadar meninggi. Rasa kesalku mulai mendominasi. Mereka terdiam hanya aku dan Niyan yang beradu.
aaaaarrrghhhh...
Kondisi sangat kacau saat itu, dimana posisi mereka belum sampai ditempat tujuan. Sari mengamuk. Kerasukan. Cekcok hal-hal sepele sana sini diantara mereka semua. Dan akhirnya mereka pun balik arah di saat tengah malam tiba.
Dan sialnya, ban mobil mereka mengalami kebocoran.
"Astagfirullah, apa lagi sih ini?" celetuk Farhan.
"Kenapa, Han?" Julius bertanya dan mulai merinding.
Udin menunggu kepastian dari percakapan dua manusia itu.
"Bentar, gua turun dulu deh..." ucap Farhan.
Farhan pun membuka pintu dengan keadaan kesal. Dan perlahan turun dari kursi kemudi, keluar berjalan melihat sekitar apa yang telah terjadi. Setelah dilihat, benar dugaannya, ban mobil kempes. Kemungkinan mengalami kebocoran. Untung hanya satu ban di sisi kiri yang menjorok langsung dengan semak-semak dan hutan. Farhan pun kembali ke posisinya semula.
"Gimana nih guys... Ban bocor nih!" kesal Farhan.
"Terpaksa kita turun" ucap Udin. "Gua ada bawa ban serep. Tenang. kita perbaiki sama-sama." lanjutnya lagi.
Sebelum itu terjadi, Sari mengamuk sampai tak sadarkan diri dan ia pun pingsan. Dita yang sudah terengah-engah tak bertenaga untuk menenangkan Sari akhirnya bernafas dengan lega. Hanya kata hamdallah yang dapat diucapkan oleh Dita. Sementara Hana pun ikut mengucap syukur. Dia yang sedari tadi membacakan lafaz Allah untuk menyadarkan Sari pun akhirnya dapat menghembuskan nafas seperti Dita. Lain halnya dengan Nayan. Wanita satu ini masih dalam mode dinginnya yang selalu waspada seolah-olah ada makhluk tak kasat mata mendekat dan selalu bergumam sendirian seolah sedang berbicara dengan seseorang.
Kembali di kejadian mobil mengalami kebocoran.
Akhirnya mereka semua pun turun dari mobil itu, begitupun dengan Sari yang pingsan belum sadarkan diri. Dita dan Hana menggotong Sari keluar. Dan meletakkannya di atas paha Dita.
Dita yang selalu menatap Sari dan sambil berdoa agar Sari cepat tersadar dari pingsannya.
Nayan yang memegang sebuah senter ditangannya, menyoroti seluruh tempat itu dengan memfokuskan pandangannya ke suatu tempat. Tempat yang seperti rumah tua, tetapi bangunan yang masih terlihat kokoh dan berarsitektur Jawa kuno itupun menarik perhatiannya. Terlintas dipikirannya ia ingin sendiri mengecek bangunan tua itu, namun ia melihat teman-temannya yang sibuk pontang-panting bahkan ia melihat kearah Sari yang masih memejamkan mata. Ia pun mengusulkan,
"Guys... lebih aman kita bawa aja Sari kesana yuk. Buat istirahat. Kebetulan gua liat ada rumah disebelah sana," usul Nayan.
"Jangan, Yan. Gua gak mau ke pisah," ucap Hana.
"Kita gak pisah, Hana. Itu jaraknya Deket sama pinggir jalan ini. palingan juga 500 meter dari sana, daripada Dita kek gitu. Lu gak liat Dita udah pegel?" sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Dita.
"Kita harus rembuk dulu ini ... kasian para lelaki," ucap Hana.
"Udah percaya sama gua..." ucap Nayan meyakinkan.
Tak lama, Hana mempercepat langkah kakinya meninggalkan mereka sejenak dan berpindah tempat ingin memberitahukan kalau mereka akan ke rumah tua itu kepada Farhan, Julius dan Udin, agar mereka setelah selesai menyusul kemudian.
Farhan, Julius, dan Udin menganggukkan tanda setuju.
...----------------...
thanks yang udah baca novel ini sampai sini (:
cheers
Vall